Tag Archive | When she came home for christmas

When She Came Home for Christmas, I am Waiting

scene 5

“Udah sampe mana?” Tanya pria itu pada calon istrinya lewat telepon. “Masih jauh? Aku udah di terminal.”

Pria itu bernama Yudha, seorang pengusaha muda yang sedang mempersiapkan pernikahannya. Ia sedang menunggu calon istrinya yang baru saja selesai melakukan pelayanan sosial ke sebuah daerah. Ia berkata pada calon istrinya, “I love you.”

Pria itu menyudahi teleponnya. Ia kembali memasukkan handphonenya ke dalam saku celananya. Ia menatap arloji yang ada di tangan kirinya. Ia bergumam, “Masih lama ya…” Ia sangat tidak sabar. Kakinya mengetuk-ngetuk tanah.

Hari sudah sangat malam. Hampir tidak ada siapa-siapa di terminal yang besar itu. Semua kios sudah tutup. Para supir dan kuli panggul sudah banyak yang pulang. Beberapa lampu sudah dimatikan. Suasana menjadi cukup mencekam.

Yudha berusaha mencari tempat duduk. Ia duduk di sebuah bangku. Di sebelah kanannya, duduk seorang pria tua berkemeja lusuh. Yang dilakukan pria ini sejak tadi hanyalah menatap jalur bus masuk dengan tatapan penuh harap. Sesekali pria tua ini memejamkan matanya seakan berdoa pada Yang Kuasa agar ia menemukan apa yang ia cari.

Namun Yudha tak peduli. Ia duduk dan membuka handphonenya. Ada foto calon istrinya di sana. Yudha sangat menyayanginya. Namun sebuah luapan emosi tak tertahankan tiba-tiba merasuk dan memaksa Yudha menengadah ke atas sambil berkata, “Buat apa sih kamu jauh-jauh ke sana? Bener-bener nyusahin ya!”

Seruan Yudha membuat pria tua di sebelahnya menghentikan lamunannya dan menoleh pada Yudha. Ia tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya. Setelah itu ia kembali menatap tempat yang sebelumnya.

Yudha yang merasa tidak enak, spontan berkata, “Maaf pak.”

Pria tua itu tanpa menoleh pada Yudha menjawab, “Minta maaflah pada dirimu sendiri dan pada Tuhan karena kau kurang bersyukur, nak.”

Sekejap memori Yudha teringat pada kata-kata calon istrinya.

 

“Kamu ini kurang bersyukur, Yudha.”

“Aku bukan kurang bersyukur! Aku justru mau peduli padamu, Ratna! Untuk apa kau pergi pelayanan jauh-jauh? Bahaya! Mending kamu cari pekerjaan di sini!”

“Apa salahnya memberi diri untuk Tuhan dan sesama? Lagipula, untuk apa aku kerja kalau ujung-ujungnya aku memilih untuk menjadi ibu rumah tangga untukmu?”

Yudha tidak bisa menjawab apa-apa.

 

Yudha semakin penasaran pada pria tua itu. Ia bertanya, “Bapak tidak pulang?”

“Saya menunggu.” Jawab pria itu halus. Sekali lagi tanpa memandang Yudha.

Yudha berusaha menerka apa arti jawaban itu. Ia bertanya sekali lagi, “Ehm… Bapak punya toko di sini? Atau kerja? Atau…”

Namun kali ini pria itu hanya tersenyum.

Yudha sedikit kebingungan, tetapi ia tidak menyerah. Ia mengulurkan tangannya sambil berkata, “Saya Yudha pak. Bapak?”

Pria tua itu menjawab, “Orang-orang sini akrab memanggil saya, Win.” Ia menoleh pada Yudha, menjabat tangannya, sambil berkata, “Lain kali, kau harus lebih bijaksana nak.”

Teguran itu masih belum bisa dicerna oleh Yudha. Tujuan Yudha hanya satu, mencairkan suasana sambil menunggu datangnya calon istri. Yudha berusaha mengangkat topik, “Win itu kalau dalam bahasa Inggris, artinya…”

“Menang. Victory! Am I right, kiddo?” Jawab pria itu. Yudha tersentak kaget. Pria itu tersenyum sambil berkata, “Ah. Bahasa Inggrisku juga tidak sejelek itu, nak.”

Kini Yudha benar-benar tersipu malu. Tetapi Yudha tidak berhenti di situ. Gengsinya yang tinggi membuatnya tetap tenang. Ia berkata, “Wah, bahasa Inggris bapak bagus juga.”

“Saya dulu juga orang terpelajar sama sepertimu, nak. Tetapi nanti semakin tua, kau akan semakin sadar bahwa percuma kau mengerti semua tanpa…”

“Tanpa?”

“Cinta.” Pak Win menoleh pada Yudha sejenak sambil berkata, “Cinta yang membuat kita sanggup melakukan segalanya.”

“Ehm… Saya makin tidak mengerti.”

Setelah itu, Pak Win mulai menceritakan kisahnya.

 

Dulu sekali, mungkin sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu, Win muda pergi ke terminal yang sama. Menunggu, tetapi kali ini ia menunggu bus yang akan menjemputnya. Mulai hari itu, ia akan meninggalkan kampung halamannya dan merantau ke kota.

Ia duduk di tempat yang sama seperti tempat dia hari ini duduk. Waktu itu, lengkap dengan ransel dan koper. Ia sendiri, tak diantar oleh siapapun. Ibunya telah tiada. Adiknya satu-satunya ada di tempat ayahnya. Ayahnya sedang terbaring kaku karena sakit. Ia pergi, adalah petuah ayahnya. Berat hatinya untuk meninggalkan keluarganya, namun itulah pesan dari ayahnya.

Win muda masih meyakinkan diri sendiri saat seorang wanita muda datang dan duduk di sebelahnya. Wanita muda itu sama-sama membawa koper dan ransel. Berawal dari sebuah senyuman sederhana, pertemuan mereka berubahmenjadi sebuah obrolan yang menyenangkan.

“Oh kamu mau ke sana juga?” Tanya Win muda.

“Iya. Kuliah.” Jawab wanita berpakaian merah muda itu.

Gelak tawa mereka membuat Win lupa akan beban pikirannya. Karena satu senyuman, bahagia memenuhi hati Win. Iya. Ini jatuh cinta pada pandangan pertama. Satu hal yang pasti, nanti di kota, wanita inilah yang akan sering ia kunjungi. Belum pernah ia jumpai kenyamanan seperti ini.

Ia masih di tengah-tengah surga dunia itu sampai ia mendengar suara derap langkah kaki. “KAK WIN!”

Raut muka bahagia Win muda berubah menjadi panik. Ia menoleh pada adiknya yang sedang berlari. Ia pun menghampiri adiknya, “Ada apa dik?”

Dengan nafas terengal-engal sang adik mulai berkata-kata, “Kak, Ayah… ayah sudah…”

Win muda tahu kata-kata apa yang selanjutnya akan keluar. Ia segera berlari mengambil barang-barangnya. Tak kuasa ia menatap mata wanita muda itu. Ia berlari bersama adiknya pulang ke rumah.

Hari itu adalah hari pertama dan terakhir Win bertemu cintanya. Setelah hari itu, Win tak pernah pergi ke kota. Win tetap di kampung halamannya, mengurus adiknya. Win tak pernah bertemu lagi dengan wanita muda itu. Namun wajah dan pakaian merah mudanya tetap teringat di hati Win. Sejak hari itu, setiap libur natal, Win pergi ke terminal untuk menunggu wanitanya. Berharap ia akan pulang untuk natal.

 

“Lalu apa Pak Win sudah bertemu dia?” Tanya Yudha. Win hanya menggeleng halus.

Wajah Win berubah menjadi lebih penuh harap. Sebuah bus datang ke terminal itu. Bus itu berhenti. Penumpang keluar satu per satu. Sekejap Yudha ingat kalau dia juga sedang menunggu seseorang.

Akhirnya, calon istri Yudha keluar. Yudha berlari menyusulnya. Ia membantu sang calon istri mengeluarkan koper dari bus. Mereka berpelukan, lalu mereka berjalan ke arah pintu keluar.

Yudha berhenti sejenak. Yudha menoleh ke belakang. Kini Win berada di dekat bus itu, menanti seseorang untuk keluar. Ia mengamati satu per satu penumpang yang keluar. Sampai akhirnya tinggal satu penumpang yang masih ada di dalam bus.

Dari dalam bus, terdengar suara wanita tua berkata, “Aduh kopernya ini berat.”

Win tanpa pikir panjang langsung masuk ke dalam bus itu. Di hadapannya kini ada wanita berpakaian merah muda. Wanita itu berkata, “Tolong ini mas..” Win berjalan pelan ke arahnya, mengambil kopernya dan membawanya turun.

Setelah turun dari bus, Win berteriak pada temannya yang sedang tidur di atas becak, “Jon! Becak Jon!” Tukang becak itu langsung berlari ke arah Win. Ia mengambil koper yang berat itu, lalu berkata pada wanita itu, “Mari bu, saya antar.”

Bus itu berlalu, becak itu pergi, Win kembali duduk di kursinya, menatap arah yang sama. Yudha menatap wajah calon istrinya, membelai rambutnya, lalu ia berkata, “Aku bersyukur sudah ketemu kamu.”

Mereka pergi dari terminal itu. Meninggalkan Win dan harapan akan penantiannya.

 

Ilustrasi oleh: Celine A. – Instagram: @sei_nyaan

Ayo cepat difollow, keburu kena Internet positif tuh instanya.

When She Came Home for Christmas, Nice Clock

scene 4

“Duduk mana ya?”

Anto bicara pada dirinya sendiri. Pandangannya mencari tempat kosong di ruang tunggu itu. Ia di sana untuk menunggu kepulangan seseorang yang sudah meninggalkannya selama setahun belakangan ini.

Setelah berjalan beberapa langkah, ia memutuskan untuk duduk di salah satu bangku. Ia mengaktifkan handphonenya. Dari layarnya, ia menatap foto dua orang sedang berpelukan. Itu fotonya dengan pacarnya. “Akhirnya kamu pulang.” Katanya lirih.

Di sebelah kirinya, duduk seorang wanita paruh baya. Wanita ini duduk dengan ekspresi muka yang resah. Beberapa kali wanita ini menatap arloji di tangan kirinya. Wanita ini jauh lebih tidak sabar daripada Anto.

Anto tersenyum pada wanita ini, namun ia hanya mengangguk. “Dia benar-benar resah.” Pikir Anto.

Anto berusaha mengabaikannya. Ia melihat ke arah lain. Namun hal itu hanya membuat dirinya semakin penasaran. Ia mengintip perlahan. Kini kaki wanita itu mengayun-ayun tak tenang. Anto menatap wajah wanita itu. Keringat menetes di pipinya.

Sebagai seorang laki-laki yang tidak bisa melihat wanita bersedih, Anto bertanya, “Ibu tidak apa-apa?”

Seketika itu wanita ini tersentak. Hampir saja ia menjatuhkan paper bag yang ia bawa. Ia menggenggamnya semakin erat. Ia menoleh kepada Anto, lalu memberikan anggukan yang lebih keras daripada yang pertama. Dia tidak mau diganggu.

Di pihak lain, hal itu justru membuat Anto penasaran. “Siapa yang ditunggu oleh ibu ini?”

Anto melipat tangannya, meletakkan sikunya di paha, lalu meletakkan kepalanya di dekat tangannya. Ia membiarkan pikirannya melayang ke mana-mana. Di samping itu, ia tak punya apa-apa untuk dipikirkan. Ia juga sedang menunggu seseorang yang masih agak lama datangnya.

“Hm… Susah untuk berpikir tentang siapa ibu ini. Mungkin lebih mudah untuk menebak apa yang ada di dalam tasnya. Tapi apa?! Aku intip saja…”

Perlahan anto mulai menegakkan duduknya. Ia berpura-pura meregangkan ototnya, namun isi dari tas itu tak juga terlihat. “Yaaah. Sedikit lagi.” Pikirnya.

Anto tak mau menyerah. Ia tetap berjuang untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Sedikit demi sedikit ia menggeser pantatnya ke kiri. Semakin lama semakin dekat dengan wanita ini. “Sedikit lagi… sedikiiit lagi…”

Sadar bahwa dirinya sedang diamati, wanita ini menggeser duduknya dan makin memeluk tasnya lebih erat lagi. Anto pun jengkel. Akhirnya Anto memberanikan diri untuk bicara, “Itu apa sih?”

Wanita ini memberikan tatapan yang cukup tajam. “Bukan apa-apa.” Jawabnya dengan culas.

Ini adalah pertama kali wanita ini mengeluarkan suaranya. Suaranya cukup tegas, mirip suara pembawa berita di TV yang membawakan berita duka. Walaupun nada bicaranya cukup keras, tetapi Anto bahagia. Anto menganggap ini sebagai sebuah kemajuan, karena akhirnya wanita ini mau berbicara.

Anto pun bertanya lagi, “Itu hadiah natal ya?” Ia memikirkan pertanyaan berikutnya, “Untuk seseorang yang ditunggu?”

Wanita ini masih menunjukkan muka tidak suka. Kendati demikian, ia mengangguk. Melihat tanggapan positif itu, Anto pun melanjutkan pertanyaannya, “Boleh lihat?”

Wajah wanita ini menjadi lebih jahat dari sebelumnya. Ia menatap Anto dengan tatapan yang sangat tajam. Ia tidak suka dengan pertanyaan itu. Namun Anto tetap mencoba ramah. Anto justru mendekatkan diri sambil berkata, “Ah sudah, tidak apa-apa. Saya cuma mau lihat kog. Bukan mencuri.”

Wanita itu memutar badannya agak ke kiri membelakangi Anto. Ia memastikan Anto tidak bisa melihat tasnya.

Di sebelahnya, Anto masih berpikir bagaimana caranya agar ia bisa mengetahui isi dari tas itu. Ia memegangi dagunya. Lalu Anto tersenyum karena mendapatkan ide. Ia melepas jaket ungunya, lalu meletakkannya di antara dia dan wanita ini. Anto berkata, “Kalau tidak percaya, jaket saya di sini, ini jaket kesayangan saya. Saya tidak akan mencuri hadiah itu. Masih kurang? Saya tambah handphone.” Ia meletakkan handphonenya di atas jaketnya.

Wanita ini tidak mempedulikan apa yang dilakukan Anto. Anto pun makin jengkel atas ketidak ramahan wanita ini. Ia berdiri lalu duduk di sebelah kiri wanita itu. Anto berkata pada wanita ini, “Lihat ya….”

Wanita ini berkata dengan tegas, “Tidak boleh!”

Anto kehilangan kesabarannya, lantas ia berusaha merebut tas itu dari tangan wanita ini, “Sudahlah. Sebentar saja!”

Wanita ini hampir saja berteriak, tetapi ia menahannya karena tidak mau membuat orang lain panik. Wanita ini mempertahankan tasnya sekuat tenaga. Anto juga tak mau kalah. Ia makin kuat merebut tas ini sambil berkata, “Saya bukan pencuri!”

Tak sengaja, tas itu jatuh dan mengakhiri perebutan mereka. Sedikit dari isi tas itu mencuat keluar. Wanita ini segera mengambilnya dan memeluk lagi tas itu. Tatapannya begitu marah pada Anto, tetapi ia tak mau mengeluarkan amarahnya.

Kini Anto sadar bahwa wanita ini benar-benar marah. Anto berusaha mencairkan keadaan. Ia berkata, “Jam yang di tas itu bagus.” Ia tidak digubris. Ia menggaruk-garuk kepalanya. Ia tidak menyerah, “Buat diletakkan di meja ya?” Tetap tidak ada respon. Kini wanita ini tak mau memperlihatkan mukanya pada Anto. Nafasnya tak karuan menahan emosi.

Tiba-tiba fokus Anto berubah. Kini ia melihat rombongan orang keluar dari pintu keluar. Nampaknya penerbangan yang ia tunggu sudah mendarat. Matanya dengan cermat mencari orang yang ia tunggu. “Ah! Itu dia!” Serunya.

Anto berlari, berlari meninggalkan wanita ini sendirian dengan tasnya. Ia menghampiri seorang wanita berkacamata yang baru saja keluar dari pintu itu. Ia memanggil wanita itu, “Siti!”

Siti, wanita yang dinanti Anto, tanpa pikir panjang ikut berlari lalu memeluk Anto. Siti berkata, “Anto. Aku kangen.”

Anto menjawab, “Aku juga, Siti.”

Siti melepaskan pelukan itu. Lalu memukul Anto dengan pelan sambil berkata, “Aku tadi diikutin orang aneh sejak dari bandara! Ayo cepat pulang. Sebelum kita ketemu orang itu lagi!”

“Iya. Aku ambil jaket dan handphone aku dulu ya.”

Anto berlari lagi ke bangku yang tadi ia duduki. Sudah cukup dekat dengan bangku itu, Ia berhenti karena melihat wanita yang tadi pergi bersama seseorang berseragam militer. Dalam hati Anto berpikir, “Wah, itu pasti suami yang dia tunggu. Pantas saja dia resah. Suaminya pergi membela Negara. Pasti suaminya suka dengan jam yang tadi.”

Anto berjalan perlahan ke bangku itu. Ia mengambil jaketnya dan handphonenya. Lalu Anto berjalan kembali pada Siti. Belum ada tiga langkah, seseorang berseragam militer menepuk pundaknya. Anto berpaling. Orang itu menjabat tangan Anto sambil berkata, “Terima kasih. Berkat anda, kami tahu di mana letak bomnya.”

Anto tidak paham dengan apa yang terjadi. Ia segera pulang bersama Siti dan menikmati Natal.

 

Ilustrasi oleh: Celine A. – Instagram: @sei_nyaan

Dia ini desainer sibuk. Katanya dia lagi ngegarap revisi desain Garuda Pancasila. (mau bikin negara sendiri dia)

When She Came Home for Christmas, Calling

scene 3

“Hari ini sudah tidak ada lagi. Untuk apa kita kemari?”

“Ah gak apa-apa. Siapa tahu Ratna lagi beres-beres. Kita bantuin.”

Mereka berjalan menuju pondok yang terletak di seberang gereja. Mereka, Dimas dan Kornel, adalah dua biarawan dari gereja tersebut. Mereka masih muda, masih frater. Kurang lebih setahun lagi, mereka akan menerima sakramen imamat dan menjadi seorang pastor.

Selama sebulan belakangan ini, gereja mereka kedatangan seorang tamu. Ratna, putri dari salah seorang donatur keuskupan. Ratna yang masih menganggur, menghabiskan satu bulan terakhirnya untuk mengajar di tempat ini. Ia mengajar baca tulis pada para lansia di tempat ini. Tempat ini adalah daerah yang cukup terbelakang, maklum jika banyak orang belum bisa baca tulis. Dengan adanya Ratna, diharapkan para lansia bisa membaca kitab suci dan dokumen gereja lainnya sendiri.

“Hush! Jangan sampai keinginanmu untuk membantu Ratna menjadi hasrat yang lebih! Ingat kaulmu! Ingat janji sucimu!” Tegur Dimas pada sahabatnya.

“Apasih kau ini, Dim?” Timpal Kornel, “Membantu ya membantu. Udah. Gak ada lagi. Hasrat lebih? Haha… Parno ah!”

Mereka masuk ke dalam pondok tersebut. “Loh sudah rapi?” Gumam Dimas. Tempat itu sudah sangat rapi. Barang-barang yang dipakai Ratna mengajar pun sudah bersih. Ratna sudah membereskannya.

“Yaah. Telat.” Kata Kornel. Tangannya yang coklat menggaruk kepalanya.

Dimas pun geram, “Kornel! Sudahlah! Tidak baik seperti ini. Ayo kembali!”

“Ah… iya, iya…” Kornel menyerah. Mereka pun akhirnya berjalan kembali ke biara. Dimas menghabiskan waktunya di jalan bersama dengan Kornel untuk menceramahi Kornel tentang panggilan dan tanggung jawab.

Tak disangka, di teras depan biara itu mereka menjumpai orang yang mereka cari. Ratna, gadis berambut pendek dan berparas cantik yang sudah membantu mereka selama sebulan belakangan ini. Ratna sedang duduk di salah satu kursi dan di sekelilingnya terdapat ada koper, ransel, dan tas kecil. Ratna sudah mau pulang, tetapi untuk sebuah alasan ia menyempatkan diri ke biara itu.

Melihat itu, kornel langsung dengan sigap menghampiri Ratna dan bertanya, “Ratna, Cari siapa?”

Ratna menjawab, “Mau pamitan sama Romo Leo.” Kini mereka bertiga sudah berada di teras itu. Ratna melanjutkan, “By the way, thanks ya buat bantuannya selama ini.  Kalau gak ada kalian, saya pasti sudah kewalahan.” Ratna menjabat tangan para frater itu.

Dimas berkata dengan dingin seakan mencari alasan untuk segera masuk ke biara, “Sudah dipanggilkan Romo Leonya?”

“Oh sudah. Sudah.” Kata Ratna.

“Duduk sini dulu aja, Dim!” Kata Kornel sambil menarik salah satu kursi. Dimas langsung memegang kepalanya seraya kecewa dengan keputusan Kornel yang tidak segera masuk ke dalam.

Kornel dengan penuh senyum bertanya pada Ratna, “Kog buru-buru pulang? Di sini aja sampai natal. Natal di sini perayaannya seru.”

Ratna menimpali, “Pinginnya gitu sih. Tapi udah disuruh pulang sama calon suami.”

“Calon suami?” Tanya Dimas dengan agak terkejut. Kini mata Dimas terarah tajam pada Kornel. “Jadi Ratna sudah mau menikah?”

Ratna tersipu malu, “Iya. Tahun depan saya akan menikah.”

Kornel tidak memahami kode dari kawannya. Dengan penuh semangat, ia berkata pada Ratna, “Siapapun pasti bahagia punya istri seperti Ratna!”

Ratna tiba-tiba tertunduk, “Sejujurnya….” Kini Ratna menunjukkan tatapan yang benar-benar melas. “Aku gak yakin aku pantas buat dia.”

Dimas langsung angkat bicara, “Ratna!” Mata mereka berdua bertatapan. “Kalau dia berkata kamulah calon istrinya, itu berarti dia sangat yakin denganmu. Tidak ada satupun dari dirimu yang membuatnya ragu. Yang harus kamu gumulkan sekarang bukanlah bagaimana kamu pantas untuknya, tapi bagaimana kamu pantas untuk Tuhan. Karena sesungguhnya tidak ada yang lebih bahagia bagi lelaki selain menikahi wanita yang takut akan Tuhan.”

Ratna tersenyum. Baru saja Ratna mau menjawab, pintu di dekat mereka terbuka. Seorang pria berbadan hitam dan besar keluar dari pintu itu. Itu adalah Romo Leo, Pastur Leonard Barry, kepala paroki setempat sekaligus pemimpin biara tempat Kornel dan Dimas tinggal.

Romo Leo berkata, “Kornel, Dimas, ke mana kalian tadi setelah devosi?”

Kornel kebingungan menjawab. Dimas angkat bicara, “Kami tadi pergi ke pondok. Kami berniat membantu Ratna beres-beres. Tetapi ternyata dia sudah terlebih dahulu siap.”

Ternyata Romo Leo tidak marah, “Hahaha… Ternyata pemikiran kita sama, Dimas. Saya juga tadi berniat menyuruh kalian hal yang sama. Tetapi saya justru bertemu Ratna duluan daripada kalian.”

Kornel menyahut, “Iya Romo. Habisnya kita bingung. Biasanya kan habis devosi kita langsung ke pondok bantuin Ratna.”

“Nanti siang waktu makan kita diskusikan jadwal kita, Kornel.” Timpal Romo Leo.

Ratna menyela perbincangan mereka, “Romo. Kita jadi kan?”

“Iya Ratna.” Romo Leo tertawa lalu mengelus kepala Ratna. “Saya sudah janji kan mau antar kamu sampai terminal?” Romo Leo melihat ke arah dua fraternya, “Frater Kornel, Frater Dimas, tolong bawa masuk barang-barang Ratna ke mobil saya. Saya mau panasi mobilnya.”

Mereka pun membawa koper dan tas Ratna masuk ke dalam mobil. Romo Leo masuk di kursi depan dan memanaskan mobilnya. Di luar mobil itu, kini ada Ratna, Kornel, dan Dimas. Kornel berkata, “Ratna, tunjukin foto calon suamimu dong.”

Ratna mengeluarkan handphonenya, lalu menunjukkan wallpaper handphonenya pada mereka berdua. Kornel bertanya lagi, “Kapan nikahnya?”

“Sekitar tahun depan.”

“Nikah di sini aja…” Sahut Kornel.

Melihat kawannya sudah melewati batas, Dimas memukul lengan Kornel. Dimas angkat bicara, “Tolong kabari Romo Leo bila kamu sudah akan menikah. Kami akan doakan dari sini.”

Sekali lagi Ratna dibuat termotivasi oleh kata-kata Dimas. Dengan spontan Ratna bergerak memeluk Dimas sambil berkata, “Makasih ya Frater…”

Tetapi Dimas mencegah pelukan itu sambil berkata, “Iya…” Lalu berbisik, “Saya frater…” Dimas menatap Kornel dengan tajam, “Ayo masuk, kita kerjakan sesuatu di dalam.”

Dimas dan Kornel akhirnya mundur. Ratna masuk ke mobil. Mereka saling melambaikan tangan. Setelah mobil keluar dari area biara, Dimas menegur Kornel, “Kornel! Kamu ini frater lo! Saya sudah bilang tadi di jalan! Jangan begitu! Kamu harus lebih bijaksana!”

Kornel memandang Dimas, “Dim! Sudahlah! Gak tiap hari kan kita ada tamu seperti ini! Toh juga gak mungkin aku pacaran sama dia! Dia udah punya suami! Aku juga tau aku ini frater!”

Dimas menyudahi pertengkaran ini, “Sudahlah! Ayo kita opus! Saya akan bersih-bersih dari mulai ruang musik. Mea culpa.”

“Mea culpa.” Jawab Kornel. Mereka saling menebah dada dan membungkukkan badan. Lalu mereka berjalan masing-masing.

Dimas sampai di ruang musik, lengkap dengan sapu dan pel. Ia menyalakan lampu ruang itu. Ia meletakkan sapu dan pel di dekat piano, lalu mulai membuka piano tersebut. Ia memejamkan matanya, membuat tanda salib, lalu memainkan sebuah instrument.

Ia bersajak,

“Tuhan, aku ingin mencintai-Mu lebih dari apapun

Bila kini aku mencintainya, aku tahu rasa ini datangnya dari-Mu

Aku tak mengerti, ya Bapa, mengapa aku harus sakit hati

Namun biarlah kehendakmu yang terjadi

Bantu aku agar aku makin setia pada-Mu, bukan pada manusia.”

Ia menyelesaikan instrumennya, membereskan piano itu, lalu mulai menyapu.

 

Ilustrasi oleh: Celine A. – Instagram: @sei_nyaan

pelukis yang tergila-gila sama dunia 2D. hampir jadian ama Kobo-Chan.

When She Came Home for Christmas, A little gift from Santa

scene 2

“Kesel ya sama Indonesia! Pesawat gak delay itu mukjizat! Lebih gampang sembuhin kanker daripada bikin penerbangan di Indonesia on time! Huh!”

Ia terus bergumam, mengutuki pesawat, bandara, bahkan penjual air minum di dalam bandara yang harganya dua kali lipat daripada harga asli. Namanya Siti, gadis sederhana yang sedang menempuh program beasiswa di kota. Ini adalah tahun kedua baginya. Kalau dipikir, ia pasti merindukan kampung halamannya. Sudah setahun dia tidak pulang. Natal tahun lalu adalah kepulangan terakhirnya. Sepanjang tahun dihabiskannya untuk belajar dan mencari uang tambahan.

“Haah. Bete!” Katanya sambil duduk di ruang tunggu. Ia berusaha mengisi kekosongan pikirannya. Ia menatap handphone-nya. Ada foto selfie-nya bersama dengan kekasihnya, mereka berpelukan. “Setengah jam lagi. Iya kalo gak delay lagi!”

Ia mencari kegiatan lain. Ia mulai memandangi orang-orang di sekitarnya. Dalam hati ia berpikir, “Orang-orang ini pasti juga bete.”

Hingga akhirnya pandangannya terpaku pada seseorang. Santa Claus. Santa tidak nyata, jadi itu pasti orang yang berpura-pura menjadi Santa. Tapi hatinya nampaknya sama seperti Santa. Terlihat pria dengan jenggot putih palsu itu sedang membagikan sesuatu pada pengunjung. Di seberang pria itu, di sebuah kursi, tampak seorang anak kecil memegang bingkisan yang sama dengan yang diterima orang-orang. Sebuah coklat.

Dan sekarang mata mereka saling memandang, Siti dan Santa. Sang Santa tersenyum. Dengan membawa karung coklat kecil di tangannya, ia berjalan ke arah Siti. Siti berpikir dalam hati, “Dia ke sini? Oke… Pura-pura gak liat. Eh dia beneran ke sini? Pura-pura buka hp. unlock, lock lagi. Ini si orang aneh makin deket lagi. Aduuh. Oke fix dia beneran ke sini. Senyumin aja. Senyumin.”

Sang Santa sudah ada di sebelah Siti. Ia menyapa Siti, “Merry Christmas, cantik!” Ia berkata demikian sambil memberikan sebungkus coklat kepada siti.

“Maaf. Saya non-Kristen.” Kata Siti menolak halus.

Sang Santa mengeluarkan tertawa khasnya, “Hohoho….. Memang Natal hanya milik Kristen? Yesus datang buat semua orang, kog. Ini, berkat sukacita natal.” Ia masih menawarkan coklat itu pada Siti.

Hati Siti mulai tak tenang, “Orang ini ngeyel ya? Lagian, ni coklat aman gak?” Ia melihat sekeliling. Ada petugas keamanan yang dari tadi berjaga-jaga dan tidak juga menangkap orang ini. Rupanya memang Sang Santa sudah izin pada pihak bandara untuk melakukan ini. “Aman la yaa. Kalo keracunan, aku keracunannya bareng sama dedek lucu yang tadi.”

Sang Santa tersenyum manis. Siti pun membalas senyumannya sambil berkata, “Terima kasih.” Siti mengambil coklat itu dari tangan Santa.

Sang Santa mulai kelelahan berdiri. Ia pun memutuskan untuk duduk di sebelah Siti. “Hohoho… Memang kalau sudah tua begini ya… tidak kuat berdiri lama-lama.”

“LAH DIA NGAPAIN DUDUK SINI!!?” Jerit Siti dalam hati. Ia ketakutan. Perlahan ia menggeser duduknya menjauh.

“Adek cantik kerja di mana?” Tanya Santa dengan ramah sambil tersenyum ke arah Siti.

Siti pun semakin jengkel. “Kepo!” pikirnya. “Ahm… Saya masih kuliah.”

“Oh kuliah! Di mana?!” Wajah Sang Santa semakin girang.

“Di…..”

“Hohoho….” Sang Santa menyela, “Dulu Santa juga pernah kuliah. Kuliah mengemudi rusa terbang. Hohohoo!”

Siti pun semakin geram. Ia berbisik pelan, “Bodo amat!”

“Tadi adek cantik bilang apa?”

“Gak ada! gak ada apa-apa!” Siti memalingkan muka.

Sang Santa kembali tersenyum, “Dimakan dek, coklatnya.”

Siti menyadari bahwa coklat yang sudah sejak tadi ia buka belum juga ia makan. Ada sebuah keraguan untuk memakan coklat itu.

“Ayo..” kata Sang Santa halus.

“Oke..” bisik Siti sambil mengarahkan coklat itu ke mulutnya.

Sang Santa bertanya, “Enak?”

“Belom masuk!” Sontak Siti, “Belom juga nyentuh lidah!”

“Oiya… Hohohooho…..” Sang Santa tertawa.

Siti makin curiga pada Santa Claus aneh ini. Keringatnya mulai menetes. Ia berpikir, “Kayaknya aku harus pergi dari sini. Udah mulai ngeselin nih orang.” Akhirnya ia memutuskan untuk menyimpan coklatnya. Ia membuat tertawa palsu dan berkata, “Hehe… Kayaknya saya harus ke toilet. Permisi…” Ia pun membawa ranselnya lalu lari ke toilet, meninggalkan Santa aneh duduk sendirian.

Siti segera masuk ke sebuah bilik di dalam toilet. Ia menarik nafas panjang, “Phew….. Orang aneh! Lama-lama ikutan bego aku kalo ngobrol kelamaan sama dia! Gak ngerti lah sama orang-orang zaman sekarang. Otaknya gak ada kali ya?”

Siti keluar, lalu mencuci mukanya di wastafel. Ia berkata pada pantulannya di cermin. “Abis ini, pergi, cari tempat yang agak jauhan ama si Santa Claus gak jelas itu!” Ia berjalan keluar dari toilet itu.

Di saat yang bersamaan, Sang Santa sedang berjalan menuju toilet pria yang bersebelahan dengan toilet wanita. Sang Santa langsung berseru, “Hai adek cantik. Gimana ke toiletnya? Enak? Lega?”

“TIDAAAK!” Jerit Siti dalam hati. Bahkan yang kali ini Siti sudah tidak tahu mau menjawab apalagi.

Sang Santa di sisi lain justru mengangkat topik pembicaraan, “Toilet di sini bagus. Perawatannya baik. Gak kayak kota asal saya. Bandaranya jorok. banyak toiletnya udah gak keluar airnya….” Santa tetap berbicara panjang lebar. Siti terdiam sambil mengeluarkan senyum palsu.

“Ehm…” Siti mencoba menyela. “Santa gak jadi ke toilet?”

“HOHOHO…. Santa bisa tahan! Lebih penting menemani kamu kan? HOHOHO…..”

Pikir Siti, “Gak! Pergi aja sana!” Tetapi kata-kata itu tak bisa keluar karena Sang Santa kembali berkata-kata.

“Ini harus diperbaiki! Kalau dalam hal membersihkan toilet saja tidak becus, bagaimana mau menyediakan pelayanan yang maksimal? Indonesia tidak akan maju kalau orang………”

“Perhatian, perhatian!” Suara itu terdengar dari speaker yang ada di atas mereka. “Penumpang dengan kode penerbangan XXXX diharapkan menuju ke pintu dua.”

“HORE! YES! Ada alasan buat kabur dari orang aneh ini.” Pikir Siti. Siti pun berkata pada Sang Santa, “Wah! Itu pesawat saya! Saya duluan ya Santa!” Siti kembali berjalan cepat meninggalkan Santa. Siti berjalan sambil menggumam, “Akhirnya berangkat juga. Lama-lama di sini, aku bisa berubah jadi manusia salju!”

Siti pun sampai di pesawatnya. Ia menata barangnya, lalu duduk di kursinya, di tepi jendela. “Rumah, aku datang.” gumamnya sambil menatap jendela.

Saat ia berpaling, rupanya sudah ada orang yang duduk di sampingnya. Mereka saling memandang. Orang ini menyapa Siti, “Hai adek cantik!”

“TIDAAAAAK!!!!”

Perjalanan memakan waktu dua jam. Dalam kepulangan ini, Siti harus menderita kuping gatal dan nyeri pipi karena terlalu lama membuat senyum palsu.

Ilustrasi oleh: Celine A.  – instagram: @sei_nyaan

tolong instagram itu difollow, pelukisnya desperate followers.

When She Came Home for Christmas, prolog

scene 1

Kadang yang kita butuhkan saat natal bukanlah hadiah dalam kaus kaki, tapi sesuatu yang lebih. Natal adalah tentang cinta, cinta Tuhan kepada manusia. Cinta yang terpisah jauh dan akhirnya didamaikan. Allah sendiri datang dan melawat umat-Nya.

Mau diumpamakan apa kasih-Nya ini? Ah! LDR! Long Distance Relationship. Bagaikan Kekasih yang pulang saat natal. Adven menjadi seperti masa menanti Kekasih pulang dari petualangannya. Dan ketika Sang Kekasih tiba, begitulah sukacita Natal. Hati yang dingin tak lagi hampa. Allah sendiri mengisinya dengan cinta.

Natal adalah waktu bagi kebahagiaan. Kebahagiaan bagimu, bagiku, dan bagi mereka. Ya, mereka yang kisahnya akan kutuliskan. Kisah tentang seorang gadis yang mengejar ilmu di kota dan kekasihnya yang menunggu dengan setia. Lalu kisah gadis yang memberi diri melayani di pedesaan dan calon suaminya yang resah dalam penantian.

ah, bukan kisah yang besar. Namun setiap kisah, mewakili satu hati. Hati yang takut, hati yang terluka, hati yang penuh harap, hati yang ingin tertawa. MKM mempersembahkan, When She Came Home for Christmas. 4 cerita pendek tentang hati yang menyatu dan jarak yang memisahkan. Mulai hari ini, sampai Christmas eve, setiap jam 12 siang MKM akan menerbitkan kisah-kisah sederhana. Mungkin kisah ini adalah komedi, atau kisah ini adalah tragedi. Tetapi dengan membaca kisah ini, kalian telah mendengarkan satu lagi jeritan hati. Hati yang ingin didengar sebelum natal tiba.

#ShareTheLove #Shalom1Jiwa

Terinspirasi dari Yesus, Pohon Natal, dan Jonas Bjerre.

Ilustrasi oleh: Celine A.  – instagram: @sei_nyaan

MKM gak pake insta. MKM emang terbelakang, yang lain udah chat pake iphone, MKM masih smsan pake tamagochi.