Tag Archive | Natal

Liburan sudah mau habis

Menyadari bahwa Libur udah mau abis itu emang susah diterima. Sama susah diterimanya kayak menyadari bahwa Dj Butterfly 36 adalah wanita sexy dari Thailand. Ya. Thailand. menyesallah kalian lelaki yang suka mesumin dia di Instagram.

Kita menyesal karena apa yang kita lakukan. salah. Kita menyesal karena apa yang tidak kita lakukan. Atau mungkin keduanya. Ribet ya? ya emang gitu. Kayak matematika, teorinya ribet. Baru jelasnya kalo udah masuk ke contoh soal.

Maka MKM akan kasih contoh. Liburan.  Liburan kita sesali karena apa yang kita lakukan hanya bobo manis di rumah (which is sebenarnya perlu karena kerja, kuliah, sekolah, susah banget dapetin itu). Liburan kita sesali karena kita belum sempat nyobain wisata alam yang lagi hits di Instagram.

MKM paling gak bisa paham sama orang yang mau buang duit, tenaga, waktu buat ke pantai. Kamu berjuang segitu hebatnya cuma buat liat air. dan kerumunan orang. Udah gitu airnya asin. Makin asin karena ketumpahan keringet orang-orang yang kepanasan di situ.

Gimana? Udah ngerti karena contoh di atas? Masih belum? Coba cari bacaan lain. Blog ini kayaknya terlalu cerdas untukmu. Coba baca bobo.

Pemerintah kasih fasilitas cuti bersama agar rakyat bisa libur. Libur harus digunakan semaksimal mungkin. Jangan cari liburan yang bikin kamu tambah capek dan bete. Sebenarnya hal paling baik untuk dilakukan pada saat liburan adalah pergi pijit. atau yang lebih ekstrim, cobain Chiropractic (gini kalo gak salah nulisnya), terapi yang bisa bikin tulangmu bunyi semua. semacam ngebenerin letak persendian.

Well, MKM pernah potong rambut yang menawarkan jasa pijit. di ending pijitannya, mas-mas berperawakan bak preman yang mijit MKM mulai melakukan chiropractic pada leher MKM. Pernah lihat adegan film action di mana jagoannya matahin leher kroco-kroco penjahat? Nah. Itu dia. MKM takut banget. Dia putar sedikit leher MKM. “KRAK” Oooooh….. MKM ketagihan chiropractic!!!!!

Kalau memang kamu bingung harus habisin liburanmu dengan apa. coba ganti pertanyaannya dengan ini: “Dengan siapa kamu harus habiskan liburanmu?”

Liburan akan berkesan ketika kamu bersama orang yang kamu cintai.

Tapi liburan akan lebih berkesan lagi ketika kamu bisa berbagi kasih ke banyak orang. Dengan apapun yang telah Tuhan kasih ke kamu.

MKM Dikira Teroris

Hi readers. Tahukah kalian bahwa Indonesia termasuk penghasil terbesar makanan khas natal. Yang dari namanya aja udah natal banget. Yak! Natal de coco.

*Kalo MKM begini terus bercandanya, apakah blog ini masih akan dibaca netizen?

Natal tahun ini adalah natal paling berkesan buat MKM. Yak. Ini adalah natal pertama MKM setelah di-DO. Sengaja natal tahun ini menghindari keluarga besar karena takut ditanya, “gimana kuliahnya?”

MKM memilih untuk menutup diri di natal tahun ini. MKM pergi misa natal sendirian. Sengaja ke gereja yang lain dari biasanya biar gak ada yang kenal MKM dan sok nanya kabar. Orang lain pake baju baru yang rapi, MKM cuma pake jaket item. Ah. Yang penting hatinya.

MKM sudah dapet tempat duduk di gereja. Ibadah sudah mulai beberapa menit. Tiba-tiba seorang polisi datang menghampiri MKM. Dia tanya, “Mas, bukan orang sini ya? Boleh kami cek tasnya?”

FAAAK!!!! MKM DIKIRA TERORIS!!!!!!!

MKM sadar sih rupanya dandanan MKM emang kayak teroris. Bawa ransel item gede, pake jaket item, brewok ke mana-mana. Mungkin ini alasan utama kenapa MKM dulu Drop Out dari Universitas Kristen.

Awalnya MKM malu. Tapi lihat orang-orang mulai panik, MKM menikmati ketakutan mereka. Tiba-tiba orang-orang ibadahnya jadi lebih khusuk. Mereka merasa itu ibadah terakhir mereka.

Di sebelah MKM ada anak kecil. Awalnya dia main PSP, gak merhatikan misanya. Ketika MKM digrebek polisi, anak itu langsung matiin PSPnya. Dan dia gak berani lihat MKM. Akhirnya MKM duduk, deketin kepala sedikit ke arah anak itu. Terus, MKM doa pake Bahasa Arab.

“Allahuma lakasumtu, wabika amantu, al maida lima satu….”

Semua orang takut lihat MKM. Padahal polisi udah balikin tas MKM yang rupanya isinya cuma Al-Kitab. Mungkin karena MKM pake jaket. Orang-orang kayaknya takut kalau di balik jaket MKM ada bom. Ya udah, pelan-pelan MKM lepas resleting jaket MKM sambil pura-pura kepanasan.

Setelah misa, MKM sempatkan diri untuk ngobrol dengan pasukan keamanan di depan gereja. Kami ngobrol tentang sistem keamanan di gereja, juga Indonesia secara luas mengingat kegiatan terorisme yang marak. Lalu ada orang gereja yang nyeletuk begini, “Masnya ini tadi bikin tanda salibnya lancar. Nyanyi juga hafal. Kami merasa aman.” SIAL… SEJAK TADI RUPANYA MKM DIAWASI!!!!!

Ah. Setidaknya, orang-orang ini tadi benar-benar memikirkan keselamatan jemaat. Apalah kami yang memikirkan natal hanya masalah mau wisata ke mana dan pakai baju apa. ini bentuk natal yang benar. Memberikan semangat natal untuk melayani orang lain.

Selamat Natal.

img_20161224_183019

Ini Pak Tri Andoko, yang hampir “nangkep” MKM. Semoga anaknya sekeren bapaknya dan gak serandom MKM.

kalian tau gak sih kalau MKM punya ig:@aditmkm? Kenapa kalian tidak follow?

When She Came Home for Christmas, I am Waiting

scene 5

“Udah sampe mana?” Tanya pria itu pada calon istrinya lewat telepon. “Masih jauh? Aku udah di terminal.”

Pria itu bernama Yudha, seorang pengusaha muda yang sedang mempersiapkan pernikahannya. Ia sedang menunggu calon istrinya yang baru saja selesai melakukan pelayanan sosial ke sebuah daerah. Ia berkata pada calon istrinya, “I love you.”

Pria itu menyudahi teleponnya. Ia kembali memasukkan handphonenya ke dalam saku celananya. Ia menatap arloji yang ada di tangan kirinya. Ia bergumam, “Masih lama ya…” Ia sangat tidak sabar. Kakinya mengetuk-ngetuk tanah.

Hari sudah sangat malam. Hampir tidak ada siapa-siapa di terminal yang besar itu. Semua kios sudah tutup. Para supir dan kuli panggul sudah banyak yang pulang. Beberapa lampu sudah dimatikan. Suasana menjadi cukup mencekam.

Yudha berusaha mencari tempat duduk. Ia duduk di sebuah bangku. Di sebelah kanannya, duduk seorang pria tua berkemeja lusuh. Yang dilakukan pria ini sejak tadi hanyalah menatap jalur bus masuk dengan tatapan penuh harap. Sesekali pria tua ini memejamkan matanya seakan berdoa pada Yang Kuasa agar ia menemukan apa yang ia cari.

Namun Yudha tak peduli. Ia duduk dan membuka handphonenya. Ada foto calon istrinya di sana. Yudha sangat menyayanginya. Namun sebuah luapan emosi tak tertahankan tiba-tiba merasuk dan memaksa Yudha menengadah ke atas sambil berkata, “Buat apa sih kamu jauh-jauh ke sana? Bener-bener nyusahin ya!”

Seruan Yudha membuat pria tua di sebelahnya menghentikan lamunannya dan menoleh pada Yudha. Ia tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya. Setelah itu ia kembali menatap tempat yang sebelumnya.

Yudha yang merasa tidak enak, spontan berkata, “Maaf pak.”

Pria tua itu tanpa menoleh pada Yudha menjawab, “Minta maaflah pada dirimu sendiri dan pada Tuhan karena kau kurang bersyukur, nak.”

Sekejap memori Yudha teringat pada kata-kata calon istrinya.

 

“Kamu ini kurang bersyukur, Yudha.”

“Aku bukan kurang bersyukur! Aku justru mau peduli padamu, Ratna! Untuk apa kau pergi pelayanan jauh-jauh? Bahaya! Mending kamu cari pekerjaan di sini!”

“Apa salahnya memberi diri untuk Tuhan dan sesama? Lagipula, untuk apa aku kerja kalau ujung-ujungnya aku memilih untuk menjadi ibu rumah tangga untukmu?”

Yudha tidak bisa menjawab apa-apa.

 

Yudha semakin penasaran pada pria tua itu. Ia bertanya, “Bapak tidak pulang?”

“Saya menunggu.” Jawab pria itu halus. Sekali lagi tanpa memandang Yudha.

Yudha berusaha menerka apa arti jawaban itu. Ia bertanya sekali lagi, “Ehm… Bapak punya toko di sini? Atau kerja? Atau…”

Namun kali ini pria itu hanya tersenyum.

Yudha sedikit kebingungan, tetapi ia tidak menyerah. Ia mengulurkan tangannya sambil berkata, “Saya Yudha pak. Bapak?”

Pria tua itu menjawab, “Orang-orang sini akrab memanggil saya, Win.” Ia menoleh pada Yudha, menjabat tangannya, sambil berkata, “Lain kali, kau harus lebih bijaksana nak.”

Teguran itu masih belum bisa dicerna oleh Yudha. Tujuan Yudha hanya satu, mencairkan suasana sambil menunggu datangnya calon istri. Yudha berusaha mengangkat topik, “Win itu kalau dalam bahasa Inggris, artinya…”

“Menang. Victory! Am I right, kiddo?” Jawab pria itu. Yudha tersentak kaget. Pria itu tersenyum sambil berkata, “Ah. Bahasa Inggrisku juga tidak sejelek itu, nak.”

Kini Yudha benar-benar tersipu malu. Tetapi Yudha tidak berhenti di situ. Gengsinya yang tinggi membuatnya tetap tenang. Ia berkata, “Wah, bahasa Inggris bapak bagus juga.”

“Saya dulu juga orang terpelajar sama sepertimu, nak. Tetapi nanti semakin tua, kau akan semakin sadar bahwa percuma kau mengerti semua tanpa…”

“Tanpa?”

“Cinta.” Pak Win menoleh pada Yudha sejenak sambil berkata, “Cinta yang membuat kita sanggup melakukan segalanya.”

“Ehm… Saya makin tidak mengerti.”

Setelah itu, Pak Win mulai menceritakan kisahnya.

 

Dulu sekali, mungkin sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu, Win muda pergi ke terminal yang sama. Menunggu, tetapi kali ini ia menunggu bus yang akan menjemputnya. Mulai hari itu, ia akan meninggalkan kampung halamannya dan merantau ke kota.

Ia duduk di tempat yang sama seperti tempat dia hari ini duduk. Waktu itu, lengkap dengan ransel dan koper. Ia sendiri, tak diantar oleh siapapun. Ibunya telah tiada. Adiknya satu-satunya ada di tempat ayahnya. Ayahnya sedang terbaring kaku karena sakit. Ia pergi, adalah petuah ayahnya. Berat hatinya untuk meninggalkan keluarganya, namun itulah pesan dari ayahnya.

Win muda masih meyakinkan diri sendiri saat seorang wanita muda datang dan duduk di sebelahnya. Wanita muda itu sama-sama membawa koper dan ransel. Berawal dari sebuah senyuman sederhana, pertemuan mereka berubahmenjadi sebuah obrolan yang menyenangkan.

“Oh kamu mau ke sana juga?” Tanya Win muda.

“Iya. Kuliah.” Jawab wanita berpakaian merah muda itu.

Gelak tawa mereka membuat Win lupa akan beban pikirannya. Karena satu senyuman, bahagia memenuhi hati Win. Iya. Ini jatuh cinta pada pandangan pertama. Satu hal yang pasti, nanti di kota, wanita inilah yang akan sering ia kunjungi. Belum pernah ia jumpai kenyamanan seperti ini.

Ia masih di tengah-tengah surga dunia itu sampai ia mendengar suara derap langkah kaki. “KAK WIN!”

Raut muka bahagia Win muda berubah menjadi panik. Ia menoleh pada adiknya yang sedang berlari. Ia pun menghampiri adiknya, “Ada apa dik?”

Dengan nafas terengal-engal sang adik mulai berkata-kata, “Kak, Ayah… ayah sudah…”

Win muda tahu kata-kata apa yang selanjutnya akan keluar. Ia segera berlari mengambil barang-barangnya. Tak kuasa ia menatap mata wanita muda itu. Ia berlari bersama adiknya pulang ke rumah.

Hari itu adalah hari pertama dan terakhir Win bertemu cintanya. Setelah hari itu, Win tak pernah pergi ke kota. Win tetap di kampung halamannya, mengurus adiknya. Win tak pernah bertemu lagi dengan wanita muda itu. Namun wajah dan pakaian merah mudanya tetap teringat di hati Win. Sejak hari itu, setiap libur natal, Win pergi ke terminal untuk menunggu wanitanya. Berharap ia akan pulang untuk natal.

 

“Lalu apa Pak Win sudah bertemu dia?” Tanya Yudha. Win hanya menggeleng halus.

Wajah Win berubah menjadi lebih penuh harap. Sebuah bus datang ke terminal itu. Bus itu berhenti. Penumpang keluar satu per satu. Sekejap Yudha ingat kalau dia juga sedang menunggu seseorang.

Akhirnya, calon istri Yudha keluar. Yudha berlari menyusulnya. Ia membantu sang calon istri mengeluarkan koper dari bus. Mereka berpelukan, lalu mereka berjalan ke arah pintu keluar.

Yudha berhenti sejenak. Yudha menoleh ke belakang. Kini Win berada di dekat bus itu, menanti seseorang untuk keluar. Ia mengamati satu per satu penumpang yang keluar. Sampai akhirnya tinggal satu penumpang yang masih ada di dalam bus.

Dari dalam bus, terdengar suara wanita tua berkata, “Aduh kopernya ini berat.”

Win tanpa pikir panjang langsung masuk ke dalam bus itu. Di hadapannya kini ada wanita berpakaian merah muda. Wanita itu berkata, “Tolong ini mas..” Win berjalan pelan ke arahnya, mengambil kopernya dan membawanya turun.

Setelah turun dari bus, Win berteriak pada temannya yang sedang tidur di atas becak, “Jon! Becak Jon!” Tukang becak itu langsung berlari ke arah Win. Ia mengambil koper yang berat itu, lalu berkata pada wanita itu, “Mari bu, saya antar.”

Bus itu berlalu, becak itu pergi, Win kembali duduk di kursinya, menatap arah yang sama. Yudha menatap wajah calon istrinya, membelai rambutnya, lalu ia berkata, “Aku bersyukur sudah ketemu kamu.”

Mereka pergi dari terminal itu. Meninggalkan Win dan harapan akan penantiannya.

 

Ilustrasi oleh: Celine A. – Instagram: @sei_nyaan

Ayo cepat difollow, keburu kena Internet positif tuh instanya.

When She Came Home for Christmas, Nice Clock

scene 4

“Duduk mana ya?”

Anto bicara pada dirinya sendiri. Pandangannya mencari tempat kosong di ruang tunggu itu. Ia di sana untuk menunggu kepulangan seseorang yang sudah meninggalkannya selama setahun belakangan ini.

Setelah berjalan beberapa langkah, ia memutuskan untuk duduk di salah satu bangku. Ia mengaktifkan handphonenya. Dari layarnya, ia menatap foto dua orang sedang berpelukan. Itu fotonya dengan pacarnya. “Akhirnya kamu pulang.” Katanya lirih.

Di sebelah kirinya, duduk seorang wanita paruh baya. Wanita ini duduk dengan ekspresi muka yang resah. Beberapa kali wanita ini menatap arloji di tangan kirinya. Wanita ini jauh lebih tidak sabar daripada Anto.

Anto tersenyum pada wanita ini, namun ia hanya mengangguk. “Dia benar-benar resah.” Pikir Anto.

Anto berusaha mengabaikannya. Ia melihat ke arah lain. Namun hal itu hanya membuat dirinya semakin penasaran. Ia mengintip perlahan. Kini kaki wanita itu mengayun-ayun tak tenang. Anto menatap wajah wanita itu. Keringat menetes di pipinya.

Sebagai seorang laki-laki yang tidak bisa melihat wanita bersedih, Anto bertanya, “Ibu tidak apa-apa?”

Seketika itu wanita ini tersentak. Hampir saja ia menjatuhkan paper bag yang ia bawa. Ia menggenggamnya semakin erat. Ia menoleh kepada Anto, lalu memberikan anggukan yang lebih keras daripada yang pertama. Dia tidak mau diganggu.

Di pihak lain, hal itu justru membuat Anto penasaran. “Siapa yang ditunggu oleh ibu ini?”

Anto melipat tangannya, meletakkan sikunya di paha, lalu meletakkan kepalanya di dekat tangannya. Ia membiarkan pikirannya melayang ke mana-mana. Di samping itu, ia tak punya apa-apa untuk dipikirkan. Ia juga sedang menunggu seseorang yang masih agak lama datangnya.

“Hm… Susah untuk berpikir tentang siapa ibu ini. Mungkin lebih mudah untuk menebak apa yang ada di dalam tasnya. Tapi apa?! Aku intip saja…”

Perlahan anto mulai menegakkan duduknya. Ia berpura-pura meregangkan ototnya, namun isi dari tas itu tak juga terlihat. “Yaaah. Sedikit lagi.” Pikirnya.

Anto tak mau menyerah. Ia tetap berjuang untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Sedikit demi sedikit ia menggeser pantatnya ke kiri. Semakin lama semakin dekat dengan wanita ini. “Sedikit lagi… sedikiiit lagi…”

Sadar bahwa dirinya sedang diamati, wanita ini menggeser duduknya dan makin memeluk tasnya lebih erat lagi. Anto pun jengkel. Akhirnya Anto memberanikan diri untuk bicara, “Itu apa sih?”

Wanita ini memberikan tatapan yang cukup tajam. “Bukan apa-apa.” Jawabnya dengan culas.

Ini adalah pertama kali wanita ini mengeluarkan suaranya. Suaranya cukup tegas, mirip suara pembawa berita di TV yang membawakan berita duka. Walaupun nada bicaranya cukup keras, tetapi Anto bahagia. Anto menganggap ini sebagai sebuah kemajuan, karena akhirnya wanita ini mau berbicara.

Anto pun bertanya lagi, “Itu hadiah natal ya?” Ia memikirkan pertanyaan berikutnya, “Untuk seseorang yang ditunggu?”

Wanita ini masih menunjukkan muka tidak suka. Kendati demikian, ia mengangguk. Melihat tanggapan positif itu, Anto pun melanjutkan pertanyaannya, “Boleh lihat?”

Wajah wanita ini menjadi lebih jahat dari sebelumnya. Ia menatap Anto dengan tatapan yang sangat tajam. Ia tidak suka dengan pertanyaan itu. Namun Anto tetap mencoba ramah. Anto justru mendekatkan diri sambil berkata, “Ah sudah, tidak apa-apa. Saya cuma mau lihat kog. Bukan mencuri.”

Wanita itu memutar badannya agak ke kiri membelakangi Anto. Ia memastikan Anto tidak bisa melihat tasnya.

Di sebelahnya, Anto masih berpikir bagaimana caranya agar ia bisa mengetahui isi dari tas itu. Ia memegangi dagunya. Lalu Anto tersenyum karena mendapatkan ide. Ia melepas jaket ungunya, lalu meletakkannya di antara dia dan wanita ini. Anto berkata, “Kalau tidak percaya, jaket saya di sini, ini jaket kesayangan saya. Saya tidak akan mencuri hadiah itu. Masih kurang? Saya tambah handphone.” Ia meletakkan handphonenya di atas jaketnya.

Wanita ini tidak mempedulikan apa yang dilakukan Anto. Anto pun makin jengkel atas ketidak ramahan wanita ini. Ia berdiri lalu duduk di sebelah kiri wanita itu. Anto berkata pada wanita ini, “Lihat ya….”

Wanita ini berkata dengan tegas, “Tidak boleh!”

Anto kehilangan kesabarannya, lantas ia berusaha merebut tas itu dari tangan wanita ini, “Sudahlah. Sebentar saja!”

Wanita ini hampir saja berteriak, tetapi ia menahannya karena tidak mau membuat orang lain panik. Wanita ini mempertahankan tasnya sekuat tenaga. Anto juga tak mau kalah. Ia makin kuat merebut tas ini sambil berkata, “Saya bukan pencuri!”

Tak sengaja, tas itu jatuh dan mengakhiri perebutan mereka. Sedikit dari isi tas itu mencuat keluar. Wanita ini segera mengambilnya dan memeluk lagi tas itu. Tatapannya begitu marah pada Anto, tetapi ia tak mau mengeluarkan amarahnya.

Kini Anto sadar bahwa wanita ini benar-benar marah. Anto berusaha mencairkan keadaan. Ia berkata, “Jam yang di tas itu bagus.” Ia tidak digubris. Ia menggaruk-garuk kepalanya. Ia tidak menyerah, “Buat diletakkan di meja ya?” Tetap tidak ada respon. Kini wanita ini tak mau memperlihatkan mukanya pada Anto. Nafasnya tak karuan menahan emosi.

Tiba-tiba fokus Anto berubah. Kini ia melihat rombongan orang keluar dari pintu keluar. Nampaknya penerbangan yang ia tunggu sudah mendarat. Matanya dengan cermat mencari orang yang ia tunggu. “Ah! Itu dia!” Serunya.

Anto berlari, berlari meninggalkan wanita ini sendirian dengan tasnya. Ia menghampiri seorang wanita berkacamata yang baru saja keluar dari pintu itu. Ia memanggil wanita itu, “Siti!”

Siti, wanita yang dinanti Anto, tanpa pikir panjang ikut berlari lalu memeluk Anto. Siti berkata, “Anto. Aku kangen.”

Anto menjawab, “Aku juga, Siti.”

Siti melepaskan pelukan itu. Lalu memukul Anto dengan pelan sambil berkata, “Aku tadi diikutin orang aneh sejak dari bandara! Ayo cepat pulang. Sebelum kita ketemu orang itu lagi!”

“Iya. Aku ambil jaket dan handphone aku dulu ya.”

Anto berlari lagi ke bangku yang tadi ia duduki. Sudah cukup dekat dengan bangku itu, Ia berhenti karena melihat wanita yang tadi pergi bersama seseorang berseragam militer. Dalam hati Anto berpikir, “Wah, itu pasti suami yang dia tunggu. Pantas saja dia resah. Suaminya pergi membela Negara. Pasti suaminya suka dengan jam yang tadi.”

Anto berjalan perlahan ke bangku itu. Ia mengambil jaketnya dan handphonenya. Lalu Anto berjalan kembali pada Siti. Belum ada tiga langkah, seseorang berseragam militer menepuk pundaknya. Anto berpaling. Orang itu menjabat tangan Anto sambil berkata, “Terima kasih. Berkat anda, kami tahu di mana letak bomnya.”

Anto tidak paham dengan apa yang terjadi. Ia segera pulang bersama Siti dan menikmati Natal.

 

Ilustrasi oleh: Celine A. – Instagram: @sei_nyaan

Dia ini desainer sibuk. Katanya dia lagi ngegarap revisi desain Garuda Pancasila. (mau bikin negara sendiri dia)

When She Came Home for Christmas, Calling

scene 3

“Hari ini sudah tidak ada lagi. Untuk apa kita kemari?”

“Ah gak apa-apa. Siapa tahu Ratna lagi beres-beres. Kita bantuin.”

Mereka berjalan menuju pondok yang terletak di seberang gereja. Mereka, Dimas dan Kornel, adalah dua biarawan dari gereja tersebut. Mereka masih muda, masih frater. Kurang lebih setahun lagi, mereka akan menerima sakramen imamat dan menjadi seorang pastor.

Selama sebulan belakangan ini, gereja mereka kedatangan seorang tamu. Ratna, putri dari salah seorang donatur keuskupan. Ratna yang masih menganggur, menghabiskan satu bulan terakhirnya untuk mengajar di tempat ini. Ia mengajar baca tulis pada para lansia di tempat ini. Tempat ini adalah daerah yang cukup terbelakang, maklum jika banyak orang belum bisa baca tulis. Dengan adanya Ratna, diharapkan para lansia bisa membaca kitab suci dan dokumen gereja lainnya sendiri.

“Hush! Jangan sampai keinginanmu untuk membantu Ratna menjadi hasrat yang lebih! Ingat kaulmu! Ingat janji sucimu!” Tegur Dimas pada sahabatnya.

“Apasih kau ini, Dim?” Timpal Kornel, “Membantu ya membantu. Udah. Gak ada lagi. Hasrat lebih? Haha… Parno ah!”

Mereka masuk ke dalam pondok tersebut. “Loh sudah rapi?” Gumam Dimas. Tempat itu sudah sangat rapi. Barang-barang yang dipakai Ratna mengajar pun sudah bersih. Ratna sudah membereskannya.

“Yaah. Telat.” Kata Kornel. Tangannya yang coklat menggaruk kepalanya.

Dimas pun geram, “Kornel! Sudahlah! Tidak baik seperti ini. Ayo kembali!”

“Ah… iya, iya…” Kornel menyerah. Mereka pun akhirnya berjalan kembali ke biara. Dimas menghabiskan waktunya di jalan bersama dengan Kornel untuk menceramahi Kornel tentang panggilan dan tanggung jawab.

Tak disangka, di teras depan biara itu mereka menjumpai orang yang mereka cari. Ratna, gadis berambut pendek dan berparas cantik yang sudah membantu mereka selama sebulan belakangan ini. Ratna sedang duduk di salah satu kursi dan di sekelilingnya terdapat ada koper, ransel, dan tas kecil. Ratna sudah mau pulang, tetapi untuk sebuah alasan ia menyempatkan diri ke biara itu.

Melihat itu, kornel langsung dengan sigap menghampiri Ratna dan bertanya, “Ratna, Cari siapa?”

Ratna menjawab, “Mau pamitan sama Romo Leo.” Kini mereka bertiga sudah berada di teras itu. Ratna melanjutkan, “By the way, thanks ya buat bantuannya selama ini.  Kalau gak ada kalian, saya pasti sudah kewalahan.” Ratna menjabat tangan para frater itu.

Dimas berkata dengan dingin seakan mencari alasan untuk segera masuk ke biara, “Sudah dipanggilkan Romo Leonya?”

“Oh sudah. Sudah.” Kata Ratna.

“Duduk sini dulu aja, Dim!” Kata Kornel sambil menarik salah satu kursi. Dimas langsung memegang kepalanya seraya kecewa dengan keputusan Kornel yang tidak segera masuk ke dalam.

Kornel dengan penuh senyum bertanya pada Ratna, “Kog buru-buru pulang? Di sini aja sampai natal. Natal di sini perayaannya seru.”

Ratna menimpali, “Pinginnya gitu sih. Tapi udah disuruh pulang sama calon suami.”

“Calon suami?” Tanya Dimas dengan agak terkejut. Kini mata Dimas terarah tajam pada Kornel. “Jadi Ratna sudah mau menikah?”

Ratna tersipu malu, “Iya. Tahun depan saya akan menikah.”

Kornel tidak memahami kode dari kawannya. Dengan penuh semangat, ia berkata pada Ratna, “Siapapun pasti bahagia punya istri seperti Ratna!”

Ratna tiba-tiba tertunduk, “Sejujurnya….” Kini Ratna menunjukkan tatapan yang benar-benar melas. “Aku gak yakin aku pantas buat dia.”

Dimas langsung angkat bicara, “Ratna!” Mata mereka berdua bertatapan. “Kalau dia berkata kamulah calon istrinya, itu berarti dia sangat yakin denganmu. Tidak ada satupun dari dirimu yang membuatnya ragu. Yang harus kamu gumulkan sekarang bukanlah bagaimana kamu pantas untuknya, tapi bagaimana kamu pantas untuk Tuhan. Karena sesungguhnya tidak ada yang lebih bahagia bagi lelaki selain menikahi wanita yang takut akan Tuhan.”

Ratna tersenyum. Baru saja Ratna mau menjawab, pintu di dekat mereka terbuka. Seorang pria berbadan hitam dan besar keluar dari pintu itu. Itu adalah Romo Leo, Pastur Leonard Barry, kepala paroki setempat sekaligus pemimpin biara tempat Kornel dan Dimas tinggal.

Romo Leo berkata, “Kornel, Dimas, ke mana kalian tadi setelah devosi?”

Kornel kebingungan menjawab. Dimas angkat bicara, “Kami tadi pergi ke pondok. Kami berniat membantu Ratna beres-beres. Tetapi ternyata dia sudah terlebih dahulu siap.”

Ternyata Romo Leo tidak marah, “Hahaha… Ternyata pemikiran kita sama, Dimas. Saya juga tadi berniat menyuruh kalian hal yang sama. Tetapi saya justru bertemu Ratna duluan daripada kalian.”

Kornel menyahut, “Iya Romo. Habisnya kita bingung. Biasanya kan habis devosi kita langsung ke pondok bantuin Ratna.”

“Nanti siang waktu makan kita diskusikan jadwal kita, Kornel.” Timpal Romo Leo.

Ratna menyela perbincangan mereka, “Romo. Kita jadi kan?”

“Iya Ratna.” Romo Leo tertawa lalu mengelus kepala Ratna. “Saya sudah janji kan mau antar kamu sampai terminal?” Romo Leo melihat ke arah dua fraternya, “Frater Kornel, Frater Dimas, tolong bawa masuk barang-barang Ratna ke mobil saya. Saya mau panasi mobilnya.”

Mereka pun membawa koper dan tas Ratna masuk ke dalam mobil. Romo Leo masuk di kursi depan dan memanaskan mobilnya. Di luar mobil itu, kini ada Ratna, Kornel, dan Dimas. Kornel berkata, “Ratna, tunjukin foto calon suamimu dong.”

Ratna mengeluarkan handphonenya, lalu menunjukkan wallpaper handphonenya pada mereka berdua. Kornel bertanya lagi, “Kapan nikahnya?”

“Sekitar tahun depan.”

“Nikah di sini aja…” Sahut Kornel.

Melihat kawannya sudah melewati batas, Dimas memukul lengan Kornel. Dimas angkat bicara, “Tolong kabari Romo Leo bila kamu sudah akan menikah. Kami akan doakan dari sini.”

Sekali lagi Ratna dibuat termotivasi oleh kata-kata Dimas. Dengan spontan Ratna bergerak memeluk Dimas sambil berkata, “Makasih ya Frater…”

Tetapi Dimas mencegah pelukan itu sambil berkata, “Iya…” Lalu berbisik, “Saya frater…” Dimas menatap Kornel dengan tajam, “Ayo masuk, kita kerjakan sesuatu di dalam.”

Dimas dan Kornel akhirnya mundur. Ratna masuk ke mobil. Mereka saling melambaikan tangan. Setelah mobil keluar dari area biara, Dimas menegur Kornel, “Kornel! Kamu ini frater lo! Saya sudah bilang tadi di jalan! Jangan begitu! Kamu harus lebih bijaksana!”

Kornel memandang Dimas, “Dim! Sudahlah! Gak tiap hari kan kita ada tamu seperti ini! Toh juga gak mungkin aku pacaran sama dia! Dia udah punya suami! Aku juga tau aku ini frater!”

Dimas menyudahi pertengkaran ini, “Sudahlah! Ayo kita opus! Saya akan bersih-bersih dari mulai ruang musik. Mea culpa.”

“Mea culpa.” Jawab Kornel. Mereka saling menebah dada dan membungkukkan badan. Lalu mereka berjalan masing-masing.

Dimas sampai di ruang musik, lengkap dengan sapu dan pel. Ia menyalakan lampu ruang itu. Ia meletakkan sapu dan pel di dekat piano, lalu mulai membuka piano tersebut. Ia memejamkan matanya, membuat tanda salib, lalu memainkan sebuah instrument.

Ia bersajak,

“Tuhan, aku ingin mencintai-Mu lebih dari apapun

Bila kini aku mencintainya, aku tahu rasa ini datangnya dari-Mu

Aku tak mengerti, ya Bapa, mengapa aku harus sakit hati

Namun biarlah kehendakmu yang terjadi

Bantu aku agar aku makin setia pada-Mu, bukan pada manusia.”

Ia menyelesaikan instrumennya, membereskan piano itu, lalu mulai menyapu.

 

Ilustrasi oleh: Celine A. – Instagram: @sei_nyaan

pelukis yang tergila-gila sama dunia 2D. hampir jadian ama Kobo-Chan.