Tag Archive | Monkeyman

Episode 7 – Ian, The Charmeleon Boy

Di dunia ini, ada sebuah ikatan yang tercipta dari ketidak sengajaan. Ikatan itu tercipta bukan karena hubungan darah. Ikatan itu tidak dipengaruhi oleh persamaan ras. Ras yang berbeda, dari darah yang berbeda, bahkan mungkin makhluk yang berbeda, dapat bersatu dalam satu ikatan. Keluarga.

 

“Mutan?” Kyta bertanya dengan wajah penuh harapan.

“Iya. Aku adalah mutan ciptaan….”

Belum selesai manusia bunglon itu berbicara, Kyta memeluk makhluk itu dengan erat. Seraya meneteskan sedikit air mata, Kyta berkata, “Lalu mengapa kau menyerangku?” Pelukan itu makin erat. “Bukankah mungkin hanya kita berdua mutan yang ada di dunia ini. Mengapa kita tidak jadi teman saja?”

“Teman?” Ian terdiam.

 

Sejenak dalam pikirannya, terlintas kata-kata dari seorang pria tua yang pernah menasihatinya, “Ian, bagi Vincent kau tak lebih dari sebuah eksperimen yang gagal.” Dan satu kalimat lain, “Jadilah teman yang baik untuknya.”

Lalu bayangan di otaknya berubah menjadi seorang pemuda dengan tangan kiri yang terbuat dari besi dan kabel yang berkata, “Aku yang menciptakanmu! Jadilah sesuatu yang berguna untukku!”

 

Kyta masih memeluk makhluk bersisik itu. Kyta berkata lagi, “Bahkan mungkin kita bisa jadi satu keluarga!”

“Keluarga?”

 

Dalam pikirannya, pria tua itu berkata lagi, “Vincent terluka karena satu-satunya keluarga miliknya direnggut oleh Justice. Dan itu terjadi di depan matanya sendiri.”

Beralih ke memori yang lain, pemuda berkacamata berkata padanya, “Ian, mulai hari ini kau akan membantuku mewujudkan cita-cita ayahku. Ayahku adalah satu-satunya keluargaku.”

 

Tersadar dari lamunannya, Ian mendorong Kyta seraya berkata, “Apa yang kau lakukan?”

Ian menodongkan senjatanya pada Kyta. Posisinya adalah posisi siap menembak. “Jangan halangi aku!” Kyta yang ketakutan oleh senjata itu mulai mundur mendekati jendela besar. Ian berkata lagi, “Kau tidak tahu apa-apa tentang keluarga! Bahkan mungkin kau tak punya!”

Telinga Kyta bereaksi karena mendengar sesuatu. Kyta tersenyum. Ia menegakkan tubuhnya, lalu berdiri sambil menggenggam erat tonfanya. Ia berkata, “Aku sudah punya. Dan aku bahagia karenanya.”

Ian berkata dalam hati, “Bahagia?”

Kyta memanfaatkan kelengahan Ian. Kyta menembakkan tonfanya pada jendela yang ada di belakangnya. Dari jendela yang pecah itu, tampak sebuah pesawat terbang rendah di samping jendela. Pintu pesawat itu terbuka dan ada sebuah tangga tali menggantung dari pintu itu. Angin berhembus dengan kencang melalui jendela itu. Debu memaksa Ian menutup matanya dengan lengannya.

Kyta berseru, “Mungkin tidak sekarang, tapi aku yakin bahwa kita bisa jadi keluarga suatu saat nanti.” Setelah menyelesaikan kalimatnya, Kyta melompat keluar dan naik ke pesawat itu. Sedangkan Ian mencoba mengejar Kyta namun terlambat. Kyta sudah pergi dan membawa Grafiti di pesawat itu.

 

Pria dengan syal belang warna hitam putih terduduk di dekat pintu gerbang sebuah kota. Penduduk kota itu menamai kota mereka Bunker City. Salju turun dengan lembut, namun tidak menghapus ketakutan yang berada di wajah pria itu. Dalam hatinya ia berbisik, “Raphael.”

Seorang wanita membawakannya coklat panas dan menepuk bahunya, “Ini untukmu.”

“Terima kasih.” Pandangan pria itu masih kosong.

Wanita itu menatapnya dengan halus. “Seluruh penduduk bertanya-tanya, itu tadi apa pak walikota?”

Beberapa saat sebelumnya, sebuah robot berbentuk tabung memasuki kota itu. Sang walikota yang mengenali benda itu langsung mengambil rocket launcher dan menembakkannya ke robot itu. Setelah peluru mengenai sang robot, ia mengarahkan pelurunya agar terbang ke atas. Robot itu melayang jauh dan hancur. Setelah di ketinggian cukup jauh, robot itu meledak dengan ledakan yang sangat kuat.

Wanita itu menyadarkan pria itu dengan sebuah guncangan seraya berkata, “Pak walikota?”

Pria itu merasa terganggu dan berkata, “Bukankah aku sudah memintamu untuk memanggilku dengan nama?”

“Maaf. Sebab semua orang di sini menghormatimu. Walaupun kau yang diselamatkan oleh mereka tujuh tahun lalu.” Wanita itu menghela nafas panjang. “Baiklah, kuulangi lagi pertanyaanku. Tadi itu apa? Lucius.”

 

“Kyta pegang tanganku.”

Kyta yang masih bergelantungan di tangga tali itu menggenggam erat tangan Chad. Kyta naik ke dalam pesawat dan berkata, “Akhirnya. Aku merindukan pesawat ini.”

Hawk dengan dingin berkata, “Jangan senang dulu Kyta. Kau harus menjelaskan siapa gadis itu.” Kyta langsung menatap Grafiti yang tertunduk di belakangnya. Grafiti tampak ketakutan.

Dengan maksud menenangkan Grafiti, Kyta menggenggam halus tangan Grafiti. Sambil menunjuk satu-satu, Kyta berkata, “Miss GR, yang mengemudi itu Miss Hawk, dan ini Chad. Semua, ini Miss GR.”

Chad dengan polos menjabat tangan Grafiti. “Aku Chad. Kalau boleh tahu, GR itu singkatan dari apa?”

Grafiti membalas jabat tangan itu dengan ramah dan menjawab, “GR itu karangan Kyta. Namaku Grafiti, Grafiti Ruppert.”

Hawk terkejut dan berseru, “Ruppert!?” Ia mengalihkan pandangan ke arah Kyta. “Kyta, kau tahu orang macam apa yang kau bawa?”

“Gadis biasa yang tidak bisa mencari makan sendiri?”

“Bukan hanya itu! Ia adalah anak dari Susan Ruppert, Presiden Metropolis. Ayahnya Gregory Ruppert, pemimpin Ruppert-tech Corporation. Dia sandera yang berharga.” Hawk tersenyum.

Senyumnya membuat seluruh pesawat ketakutan. Terutama Grafiti, ia menekuk lututnya sambil tetap berharap untuk diselamatkan. Chad berusaha mencairkan suasana dengan berkata, “Tapi Miss Hawk, ke mana kita akan pergi?”

“Saat kita mengejar Kyta, aku merasakan sebuah ledakan lain. Kita ke arah ledakan itu. Aku yakin ada seseorang di sana.”

 

Jauh dari pesawat itu, Ian mengendarai motornya dan mencoba meraih pesawatnya yang ia tinggalkan jauh dari sana. Ia bergumam, “Tunggulah Grafiti, aku akan menjemputmu.”

Episode 6 – Chaser

Sebuah kendaraan tanpa roda melayang dengan pelan di jalan yang lurus. Di kendaraan berwarna hitam itu terdapat satu makhluk yang dari tadi memandang ke arah bawah. Dengan alat yang ada di matanya, ia berusaha mencari jejak ban di tengah-tengah jalan yang sudah hancur. Ia bersama kendaraannya berjalan pelan karena jejak yang susah dibaca.

Setelah beberapa puluh meter, ia berhenti. Ia bergumam, “Jejaknya berhenti di sini…..” Lalu ia melihat sekeliling, “Dengan tidak wajar.”

Ia mematikan alat yang menyerupai kaca mata itu. Pandangannya mulai normal. Di sebelah kanannya ia melihat ada sebuah kendaraan.yang tergeletak dengan tidak wajar. Ia berjalan kea rah kendaraan itu. Ia membaca tulisan yang ada di bagian depan. “Vespa.” Ia kembali menyalakan alat yang ada di matanya. Ia melihat roda yang ada pada kendaraan itu.

“Cocok.” Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. “Mereka pasti tidak jauh dari sini.”

 

“Sudah. Aku tak kuat lagi.” Grafiti menghentikan usahanya untuk menyeret Kyta lebih jauh. Kini mereka berada di sebuah bangunan. Bangunan itu tampak seperti sebuah kantor. Kini mereka berada di salah satu ruang kerja. Grafiti meletakkan tubuh Kyta di belakang sebuah meja.

Grafiti mengambil nafas panjang. Tubuh kecilnya kelelahan setelah menyeret tubuh Kyta yang cukup besar untuk jarak yang jauh. Helaan nafasnya makin tak teratur. Ia tak bisa melakukan apa-apa. Ia melipat kakinya. Ia bergumam, “Vincent, aku takut.”

 

Sementara itu, di belahan dunia yang lain ledakan kembali terjadi. Sebuah robot yang rusak menyebabkan bumi kembali harus mendapat luka. Vincent, sang perancang robot, tak mengerti siapa yang bisa merusak robot buatannya. Yang ia yakini, itu bukanlah Kyta si manusia kera. Dan memang benar, perusak yang kali ini bukanlah Kyta. Seorang pria yang menggunakan syal warna hitam di lehernya dan sebuah kacamata pada matanya, orang itulah yang mampu merusakkan robot itu.

Dari kejauhan, pria berbadan tinggi itu menikmati ledakan yang baru saja ia ciptakan. Tangan kirinya menahan syalnya agar tidak menghalangi mulut. Ia bergumam sendiri, “Hawk, semoga kau melihat ini.”

 

Grafiti makin ketakutan. Langkah kaki yang tadi hanya samar-samar terdengar, kini makin keras. Grafiti mencengkram kakinya dengan erat. Keringatnya menetes dengan deras. Berulang kali ia menoleh ke arah Kyta, berharap monyet itu bangun. Namun Kyta masih tak sadarkan diri dengan wajah penuh kesakitan.

Kini bukan hanya suara ketukan kaki, namun juga cahaya kecil yang berusaha mencari sesuatu. Cahaya itu makin terang. “Ia mendekat!” gumam Grafiti dalam hati. Matanya mulai meneteskan air mata. Saat cahaya itu sudah semakin dekat, Grafiti yang panik langsung memeluk Kyta sambil berteriak, “Kyta!”

“Jangan bergerak!” Teriak seorang wanita pada Grafiti. “Menjauh dari monyet itu nona.”

Grafiti melepaskan pelukannya dan mundur sedikit. Wanita itu mengarahkan senjatanya pada Grafiti. Seorang pria dari belakang wanita itu langsung berlari menuju Kyta. Ia terduduk di hadapan Kyta dan berusaha menyadarkan Kyta, “Kyta. Kau dengar aku? Kyta!”

Si wanita berkata, “Percuma Chad! Ia tak sadarkan diri.” Ia mengambil sesuatu dari saku belakang celananya, lalu melemparkan benda berbentuk tabung itu pada Chad. “Suntikkan itu pada Kyta.”

“Apa ini Miss Hawk?”

“Percayalah padaku, aku dulu pakarnya obat. Itu akan membuatnya berlari.”

Chad menyuntikkan tabung itu ke lengan Kyta. Perhatian mereka bertiga kini teralih pada Kyta. Setelah tabung itu dilepas dari lengan Kyta, perlahan Kyta mulai membuka matanya. Mulutnya terbuka seakan ingin mengatakan sesuatu.

Suara lirih mengalir dari mulut Kyta, “Tia…..”

Chad menyela, “Kyta, jangan habiskan energimu untuk bicara. Istirahatlah sebentar…”

“Tiara….” Suara Kyta masih lemah.

“Sudahlah! Kau ini!”

Kyta langsung berteriak, “Tiarap sekarang!”

Serempak mereka berempat tiarap. Benarlah, sebuah peluru melesat tepat di mana kepala Kyta tadi berada. Seseorang dari kejauhan telah menembakkannya. Namun ruangan itu gelap, tak satu pun dari mereka berempat yang sanggup melihat sang penembak.

Hawk tidak menyerah, ia menodongkan senjatanya ke arah peluru berasal. Matanya berusaha mencari keberadaan sang penembak. Namun matanya tidak menyadari apapun.

Kyta mulai mendapatkan nafasnya kembali. Mata mereka berempat tak mampu menemukan sosok sang penembak. Namun penciuman Kyta mampu mengikuti pergerakannya. Tangan Kyta menunjuk ke arah kiri. Hawk menembakkan senjatanya ke arah yang ditunjukkan Kyta. Sekilas terlihat sosok sang penembak, namun sosok itu kembali hilang.

Hawk berkata, “Kita harus pergi dari sini.”

Chad menyela, “Bagaimana caranya? Kita sedang diserang oleh orang yang tak terlihat”

Kyta yang mulai bisa bicara berkata, “Chad, berikan senjataku. Aku tahu kau membawanya. Bawa gadis itu pergi dari sini. Hanya aku yang bisa melawan penyerang kita yang satu ini.”

Chad berkata, “Tapi Kyta, kondisimu….”

“Aku tidak tahu suntikan apa yang kalian berikan padaku. Namun kini aku merasa sangat sehat.” Kyta menoleh ke arah Hawk, “Miss Hawk, mari kita lakukan ‘hal itu’ lagi.”

Hawk menjawab, “Huh. Hanya itu caranya kan?” Hawk menoleh ke arah Chad, “Berikan tonfa itu Chad. Percayalah padanya.”

Chad  melemparkan tonfa yang berada di tasnya pada Kyta. Kyta menangkapnya dan langsung mengambil posisi kuda-kuda. Kyta mengalihkan pandangannya pada Grafiti, “Miss GR, lari!”

Mereka bertiga berlari menuju sebuah pintu yang ada di hadapan mereka. Sementara itu, Kyta berlari ke arah yang berbeda. Kyta mengejar sesuatu yang sulit terlihat. Namun semakin dekat, apa yang Kyta cari makin terlihat. Sebuah sosok hitam dan menggenggam sebuah senjata. Sosok itu mengarahkan senjatanya pada tiga orang yang sedang berlari menuju pintu. Sebelum senjata ditembakkan, Kyta memukul tangan sosok itu hingga senjata itu terjatuh.

Kyta berseru, “Lari! Biar aku yang menghadapinya!”

Tiga orang itu berlari. Kini mereka berhasil keluar dari ruangan itu. Namun Kyta masih berada di dalam ruangan itu bersama dengan seseorang yang kini bersiap untuk memukul Kyta. Kyta segera melompat ke belakang. Kyta berhasil menghindari pukulannya.

Kyta berkata, “Kamu siapa?”

Sosok itu menunjukkan gejala yang aneh. Kyta ketakutan melihat kulit sosok itu yang berubah perlahan dari hitam menjadi biru. “Awalnya aku percaya bahwa tak ada mutan lain selain kami. Namun setelah penyeranganmu di pusat keamanan, aku jadi ingin sekali bertemu kamu. Kyta, The Monkeyman.”

Kini wajah sosok itu terlihat jelas. Seluruh kulitnya menjadi biru. Wajahnya bukan wajah manusia. Seperti yang ia katakan, ia juga mutan. Wajahnya menyerupai seekor bunglon. Matanya pun besar. Kulitnya yang bersisik dan mengkilap membuat penampilannya makin menakutkan. Ia membuka mulutnya dan terjulurlah lidah yang kecil dan panjang.

“Namaku Ian. Bila kau The Monkeyman, biarkan aku menyebut diriku The Charmeleon Boy.”

Episode 5 – An Explosion

“Awas!!!!” Kyta berseru sambil menundukkan kepala Grafiti. Sebuah tembakan melesat ke arah mereka. Suasana yang menyenangkan seketika berubah menjadi menakutkan.

“Membawa dia pulang? Bagaimana caranya?” Tanya Krouger pada Vincent.
Vincent melipat telapak tangannya dan berkata“Cara paksa tentunya. Tanpa ia sadari, ia sudah berada di Metropolis.” Matanya terarah pada sebuah monitor. Monitor itu menunjukkan sebuah pemandangan dalam sudut pandang sebuah robot. Pemandangan itu berisi gedung-gedung yang sudah hampir hancur. Robot itu mendekati sebuah perempatan. Di perempatan itu tampak sesosok gadis kecil yang sedang memakan coklat ditemani dengan seekor kera yang bertubuh mirip manusia.

Tembakan itu meleset. Mata Kyta mencari ke mana peluru itu tertancap. Setelah menemukannya, Kyta menyadari bahwa itu adalah peluru pelumpuh yang setipe dengan yang mengenainya sebelum ini. Kyta segera bertanya pada Grafiti, “Miss G.R, kau tidak apa-apa?”
Grafiti tak sanggup menjawab. Jantungnya berdegup sangat kencang seiring dengan wajahnya yang berubah menjadi sangat pucat. Ini pertama kalinya sebuah peluru mengincar dirinya. Tangan kiri grafiti mencengkram dadanya seraya menenangkan jantungnya. Tangan kanannya memegangi kepalanya untuk mengurangi ketakutannya.
Namun semuanya sia-sia. Robot itu makin mendekat. Kyta memukulkan tangannya ke tanah. Lalu Kyta mengambil katananya dan berlari menuju robot itu.
“Heaaaa….!”
Teriakan Kyta menggema di telinga Grafiti. Kyta menggenggam katana dengan kedua tangannya. Sensor pada robot itu mengisyaratkan tanda bahaya. Robot itu dalam sekejap mengganti sasarannya. Matanya mulai diarahkan pada manusia kera yang berlari ke arahnya. Sekali lagi ia menembakkan peluru pelumpuh.
“Haah! Heeaaaa….!!”
Dengan katana yang sejak tadi dipegangnya dengan erat, Kyta berhasil menangkis peluru itu. Teriakannya makin keras. Katananya kini telah menghantam kepala robot itu. Namun seperti yang sudah diperkirakan Kyta, tak sedikitpun robot itu rusak. Bahkan lecet pun tidak. Robot ini terlalu kuat untuk katana yang sudah bertahun-tahun tak terpakai.
Kyta segera membuat pengamatan. Ia mencari titik kelemahan robot itu. “Di sana!” Kyta melihat bahwa satu bagian yang tak terlapisi besi adalah bagian leher yang hanya selebar sekitar 1 cm. Bagian itu dibuat longgar agar si robot dapat menengokkan kepalanya dengan cepat.
Belum sempat Kyta mundur si robot sudah menjulurkan lengannya yang mengandung arus listrik ke arah perut Kyta. Sengatan listrik yang cukup kuat memasuki tubuh Kyta. Kyta terjatuh. Ia tak bisa menggerakkan kakinya. Bahkan mulutnya pun terlalu kaku untuk mengaduh kesakitan.
Dari kejauhan, Grafiti menangis. Ia menghadap ke langit dan berseru, “Apa yang kau lakukan Ayah!? Vincent! Selamatkan aku!” Grafiti tidak bisa berbuat apa-apa.  Ia tahu bahwa robot itu dikirim untuk mencarinya, namun justru Kyta yang babak belur dihajar robot itu. Ia berseru, “Kyta! Lari dari sana! Bukan kamu yang ia cari, tapi aku! Pergi Kyta! Pergi!”
Kyta berdiri perlahan. Sang robot yang sudah menganggapnya lumpuh tidak mempedulikannya dan mulai berjalan pelan menuju Grafiti. Setelah tegak berdiri, Kyta mengacungkan jari tengahnya pada Grafiti. Tangan kirinya yang ia angkat itu mengeluarkan darah yang cukup banyak.
“Lalu aku harus meninggalkan wanita sendirian melawan robot tidak jelas ini?!” Seru Kyta.
Kyta membangkitkan kesadarannya dengan cara mengiris tangan kirinya dengan katana di tangan kanannya. Segera, dari belakang, Kyta mengayunkan katananya ke leher robot itu. Seketika itu juga, kepala robot itu terpisah dari tubuhnya. Robot itu berhenti bergerak.

“Apa yang terjadi!?” Vincent keheranan melihat monitor yang ia pandangi sejak tadi tiba-tiba tidak lagi mengirimkan gambar.
Krouger yang sejak tadi mengamati manusia setengah kera yang muncul di monitor bertanya, “Monyet itu, spesimen ayahmu kan?”
Vincent hanya mengangguk dan menjawab singkat, “Dan seorang Justice.”
Krouger tertawa, “Hahaha… dia dilindungi oleh buatan ayahmu sendiri.”
“Cukup! Bukan itu yang kutakutkan sekarang!” Vincent menoleh ke arah Krouger, “Grafiti akan mati dalam waktu sepuluh menit.”

“Lari anakku. Lari.”
“Siapa itu?” Sebuah suara memasuki kepala Kyta.
“Lari!”
Walaupun tidak yakin datang dari mana suara itu, Kyta berusaha mengikuti suara itu. Ia kembali masuk ke bangunan tua tempat ia menemukan katana. Ia menemukan sebuah kendaraan yang sering muncul di majalah lama yang dimiliki oleh Jacques. Sebuah kendaraan bermotor beroda dua. Kyta berusaha menaiki kendaraan itu.
Kyta ingat bagaimana Jacques mengajarkan untuk menyalakan mesin itu. “Tendang itu ke bawah!” Kyta mencoba menendang sekeras mungkin tongkat besi pendek yang ada di sebelah kiri kendaraan itu. Namun beberapa kali ia mencoba, tidak nyala juga.
“Oh iya! Kunci!” Segera Kyta membuat pengamatan. Ia mencari kunci dari kendaraan itu. Ia melihat tembok sebelah kirinya. Di sana tergantung beberapa kunci. Di atas kunci-kunci itu ada label-label yang melengkapinya. Akhirnya ia menemukan nama yang ia cari.
“Itu dia! Vespa!”
Ya. Setelah mengambil kunci dan memasukkan kunci itu pada Vespa, Kyta menyalakan mesin itu. Mesin berwarna biru itu pun menyala dengan suaranya yang khas. Kyta mengenakan helm yang ada di kursi belakang vespa itu. Helm berwarna hitam itu dilengkapi dengan sebuah goggle. Ia mengenakan juga goggle itu dengan benar.
Grafiti yang masih terkejut atas apa yang ia lihat hanya terbujur kaku di tempatnya. Sampai akhirnya Kyta keluar dari bangunan tua itu sambil membawa sebuah kendaraan. Kyta sampai di hadapan Grafiti. Ia melemparkan sebuah helm pada gadis itu. “Naik! Cepat!”
Tanpa pikir panjang, Grafiti naik ke kursi belakang vespa itu. Mereka pergi meninggalkan tempat itu. Jalan yang mereka tempuh hanya lurus. Tak berbelok sedikit pun. Lurus, hanya lurus dengan kecepatan paling maksimal dari kendaraan yang sudah mulai rusak itu.

Sekitar sepuluh menit kemudian, di sebuah perempatan, sebuah robot yang rusak meledak. Cadangan energi yang ia miliki sudah tak mampu menahan ledakan itu. Ledakannya sangat besar. Efek ledakannya masih bisa dirasakan dalam radius sepuluh kilometer. Bangunan tua, vending machine, dan semua yang tadi ada di sana kini rata dengan tanah.

“Kau kehilangan keseimbangan? Kau tak apa-apa Miss Hawk?”
“Itu sebuah ledakan Chad!”
“Kau tahu arahnya?”
“Sangat jelas! Kita ke sana. Pasti ada seseorang di sana.”

Seorang gadis berdiri. Ia baru saja terlempar dari sebuah vespa. Tubuhnya tidak begitu terluka karena ada seekor manusia setengah kera yang melindunginya. “Ledakan itu. Apa ayahku berusaha membunuhku?”
Sedangkan manusia kera itu sedang tak sadarkan diri di sebelahnya. Terbaring, terlentang, dan tertidur di tengah-tengah hembusan angin yang sangat kencang. Angin yang tidak alami karena disebabkan oleh ledakan besar yang baru saja mereka hindari.

“Mereka selamat. Tampaknya mereka menggunakan sebuah kendaraan untuk menghindari ledakan itu. Aku sedang mengikuti jejak ban mereka.
-Ian-”
Itulah teks yang baru saja diterima Vincent dari salah seorang bawahannya. Perjuangan Vincent memulangkan Grafiti belum berakhir.

Episode 4 – A Little Girl Named Miss GR

Buat yang baca judulnya pasti berkata dalam hati, “Miss GR? cie… pasti ada hubungannya ama Miss GR yang biasanya dipost.” Pingin tahu hubungannya bagaimana? Baca dulu ceritanya! This is it, The Monkeyman episode 4: A Little Girl Named GR

 

“Hiaaa…..” Kyta memaksakan kakinya yang sudah kelelahan untuk berlari. Walaupun kali ini, ia tidak yakin untuk apa ia lari. Namun kakinya mengisyaratkan untuk tetap melangkah, menjauhi tempat pertama ia dijatuhkan.

Mungkin ini efek dari bertemu gadis kecil itu. Ini pertama kalinya Kyta bertemu dengan wanita seumurannya. Walau gadis itu berumur lebih tua dari Kyta, namun sifat mutan Kyta membuat pertumbuhannya lebih cepat daripada manusia biasa. Bisa dibilang umur mereka sekarang tidak jauh berbeda.

Sedangkan gadis kecil itu masih terbujur kaku di tempatnya dijatuhkan. Ini juga pertama kali dalam hidupnya melihat seekor kera yang bisa bicara. Ketakutannya semakin menjadi. Ia berkata dalam hati, “Sial, aku terjebak di tempat yang aneh bersama seekor makhluk aneh. Tidak bisakah hari ini menjadi hari yang lebih buruk?”

Gadis itu mengamati sekelilingnya. Rupanya ia dijatuhkan di tengah-tengah sebuah perempatan. Ia menatap jalan yang ada di hadapannya. Ke sanalah si manusia kera berlari secara tiba-tiba setelah melihat dirinya. Di kanan-kiri jalan itu terdapat gedung-gedung yang sudah hancur dan ditinggalkan. Namun kondisinya masih lebih baik daripada bangunan yang ada di sebelah kirinya.

Selagi gadis itu masih melamun, si manusia kera tampak sedang berlari dari jalan sebelah kanan. Setelah sampai di tengah perempatan, ia menjatuhkan diri dan berkata, “Ini sudah ketiga kalinya! Mengapa aku selalu kembali ke tempat ini?”

“Kera ini memang bodoh.” Ujar gadis itu dalam hati. Seketika itu, keheningan tercipta di antara mereka.

 

Sementara di tempat lain, Vincent tampak kebingungan. Ia berjalan tak tentu arah dalam ruangannya sendiri sambil menunggu hasil pencarian para mecha-police yang sedang menelusuri Metropolis.

Dari samping, Krouger membawakan coklat panas kesukaan Vincent sambil berkata, “Kau menemukannya?”

“Belum.” Kata Vincent sambil memegangi kepalanya.

Krouger tersenyum, “Huh. Dunia tidak hanya seluas Metropolis, Vincent.”

Vincent terkejut, “Jangan bilang! Death Cities?”

“Tidak ada salahnya kan mencari di sana juga. Aku tahu kau bisa mencari anak itu di Death Cities dalam waktu kurang dari 1 jam.” Ia menepuk pundak Vincent, “Saat memperbaiki monitor utama, aku menyadari sesuatu yang aneh. Aku tahu rencanamu Vincent.”

 

Kini Kyta makin liar. Setelah beberapa menit yang lalu bunyi perut keroncongan mereka berhasil memecah keheningan. Kyta berlari memutari perempatan itu sambil melompat lompat. Lalu ia berhenti. Ia menyadari sesuatu yang barusan ia lihat. Ia terduduk dan menengok ke kiri.

Pandangannya semakin fokus. Sepanjang hidupnya di Metropolis, ia tak pernah melihat alat itu. Kyta hanya mendengar cerita bahwa di dunia sebelumnya alat seperti yang ia lihat begitu banyak tersebar. Berbentuk balok raksasa yang terbuat dari logam yang dilapisi ruang hampa udara yang berisi makanan, vending machine.

Kyta berlari menuju alat itu. Ia memandangi makanan yang terpajang di vending machine. Vending machine itu berdiri kokoh walaupun lapisan catnya sudah luntur. Beruntungnya, vending machine itu berhasil mengawetkan makanan paling digemari oleh remaja pada waktu itu. Ya, makanan yang sering diberikan Jacques pada Kyta. Coklat.

Kyta memandangi bungkusan coklat itu sambil ditemani suara perutnya yang keroncongan. Suara itu menyulut otak Kyta untuk mengirimkan rangsang pada otot agar bekerja lebih kuat dari biasanya. Kyta memasukkan tangannya ke tempat di mana semestinya coklat itu keluar. Namun katupnya tertutup, bersamaan dengan matinya mesin itu. Kini mesin itu hanya balok raksasa dengan ruang hampa untuk menjaga suhu di dalamnya. Mesin itu tak bisa dimasuki apapun.

Kyta yang putus asa mulai memukul-mukul mesin itu. Sedangkan gadis kecil itu masih terduduk dan melihat Kyta dari kejauhan. Ia melihat seekor manusia kera yang sedang menendang-nendang sebuah vending machine. Kyta yang mulai kelelahan akhirnya terjatuh dan terlentang di jalanan yang panas.

Namun Kyta belum menyerah untuk mengambil coklat itu. Mata Kyta tak berhenti melakukan observasi. Sebuah bangunan yang hampir hancur seakan mengundang Kyta untuk masuk ke dalamnya. Kyta membaca palang yang sudah hampir hancur di atas pintunya, “Nnnn…..T…… sepertinya hilang satu atau dua huruf. Lalu U…….. terserah! Aku masuk!”

Kyta berlari mengikuti instingnya untuk masuk ke bangunan itu. Dalam bangunan sederhana itu, Kyta menjumpai barang-barang antik dari dunia sebelumnya. Banyak benda yang tidak dikenali oleh Kyta. Namun Kyta akhirnya menemukan satu benda yang ia tahu dan ia yakin akan berguna. “Benda ini…. Sama seperti milik paman N.K.”

Ia mengambil benda itu dan membawanya keluar. Ia segera membawanya ke depan vending machine dan memukul-mukulkannya ke mesin itu. Sambil tidak berhenti memukul ia berseru, “Sial! Bagaimana cara memakai benda ini?”

Seketika itu juga satu bagian dari benda itu lepas. Kyta hanya termangu. Lalu ia berkata, “Oh. Rupanya harus dilepas dulu.” Ia melihat benda yang dipegangnya sekali lagi. “Ini baru benda milik paman N.K.” Sampai saat itu pun Kyta masih belum tahu bila benda yang dipeganya adalah sebuah katana.

 

“Apa yang akan kau lakukan sekarang nak? Membunuhku?” Kata Krouger pada Vincent. “ Walau aku tahu rencanamu, aku tak akan mengatakannya pada siapapun. Dan aku tak akan berusaha menghalangimu.”

Vincent sejenak mengalihkan pandangannya yang serius ke arah monitor utama menuju wajah Krouger. Lalu Krouger melanjutkan perkataanya, “Aku tak peduli bila aku harus mati. Toh aku juga sudah tua. Hanya masalah waktu…..”

Selagi Krouger berbicara, sebuah bunyi terdengar dari monitor utama. Vincent menghadap monitor utama sambil berkata, “Ketemu!” segera ia memasukkan perintah pada monitor itu. Lalu ia berkata pada Krouger, “Aku tak mungkin membunuhmu. Bagaimanapun juga, kau adalah ayahku sekarang. Dan kau tidak bisa menghalangiku dalam rencanaku.” Ia mengangkat lengan kirinya yang terbuat dari mesin. “Kontrolnya ada di sini.”

Vincent meninggalkan monitor utama dan duduk di kursinya. Sejenak ia meminum coklat yang sudah mulai dingin itu. Ia berkata dalam hati, “Semoga robot itu bisa membawanya dengan selamat.”

 

Kaca vending machine yang tebal itu sudah mulai retak. Dan berkat ayunan katana yang dilakukan Kyta sejak tadi, retakannya makin luas dan dalam. Kyta mengayunkan katananya sekali lagi. “Kraak…” kaca itu pecah dengan lubang yang hanya sebesar genggaman tangan tepat di hadapan coklat yang diincar Kyta sejak tadi.

Segera Kyta mengambil coklat itu dan membukanya. Ia mengangkat coklat itu dan berusaha memasukkannya ke mulutnya. Naun gerakan tangannya terhenti melihat seorang gadis yang menatapnya sejak tadi dengan penuh tanya. Ia mengambil beberapa buah coklat lagi di tangannya dan berjalan ke arah gadis itu.

Setelah mereka berdua berhadap-hadapan, Kyta duduk di depan gadis itu, menyodorkan coklat yang sudah terbuka sambil berkata, “Makanlah. Ini untukmu.” Gadis itu langsung mengambil coklat yang sudah mulai lembek itu dan memakannya.

Kyta bertanya, “Kau ini wanita kan?” gadis itu langsung tersedak. Ia merasa itu adalah pertanyaan bodoh sampai-sampai tak tahu harus menjawab apa. Ini pertama kalinya seekor hewan berbicara padanya. Dan pertama kalinya seseorang bertanya seperti itu padanya. Menyadari bahwa gadis itu kebingungan, Kyta berkata lagi, “Ini pertama kalinya aku melihat wanita yang masih muda. Yang setiap hari kulihat adalah wanita tua yang mengerikan dan membawa pisau ke mana-mana. Apa setiap wanita juga membawa pisau ke mana-mana? Kau membawa pisau?”

 

Di sebuah pesawat, seorang pilot tiba-tiba bersin. “Acchoo…. Ada yang sedang membicarakanku.”

Di belakangnya, duduk seorang pemuda. Pemuda itu berkata, “Tidak mungkin miss Hawk. Semua orang yang mengenalmu kini sudah mati.” Pemuda itu menyelesaikan kalimatnya dengan menangis.

Wanita itu marah dan berseru, “Diam Chad! Kita pasti bisa menemukan mereka. Mereka tidak mati! Mereka hanya dibuang ke Death Cities. Beruntunglah aku dan kamu bisa kabur dengan pesawat ini.”

Chad memandangi sepasang tonfa yang dipeluknya dari tadi. Tonfa itu ia temukan di sebuah atap di Metropolis. Ia berkata dalam hati, “Kyta, semuanya… kalian di mana?”

 

Gadis itu tertawa terbahak-bahak. Kyta merasa lega, sebab sebelumnya ia takut pada gadis itu. Kyta langsung memberikan tangannya sambil berkata, “Aku Kyta. Kamu?”

Gadis itu menjabat tangan Kyta sambil berkata, “Grafiti, Grafiti Ruppert.”

Kyta memiringkan kepalanya dan berkata, “Nama yang aneh.”

Gadis itu langsung berseru, “Ini nama pemberian ibuku!”

Kyta menjawab, “Bagaimana bila aku memanggilmu GR? itu akan menutupi bagian namamu yang aneh. Nama asli paman N.K juga aneh, dan kami tidak memanggilnya dengan nama aslinya. Berapa umurmu?”

“Terserah! Aku lima belas tahun.”

“Kau lebih tua dari aku. Aku masih tujuh tahun. Namun kata paman Jacques, pertumbuhanku dua kali lebih cepat dari manusia, berarti aku sekarang empat belas tahun. Tetap saja kau lebih tua! Karena kau lebih tua, aku akan memanggilmu dengan awalan Miss. Bagaimana? Miss GR?”

Gadis itu tersenyum sambil berkata, “Kau ini aneh ya?”

Kyta hanya bisa tersenyum sambil melanjutkan memakan coklat. Mereka menghabiskan beberapa bungkus coklat bersama-sama. Saat itu, suasana menjadi lebih tenang. Mereka tidak tahu bahwa beberapa saat setelah itu, semua akan berubah. Sebuah robot dari kejauhan mendekati mereka berdua. Robot itu hanya punya satu tujuan: menangkap Miss GR.

Episode 3 – Death City

Buat yang ngikuti cerbung ini, MKM proudly presents: The Monkeyman Episode 3: Death City

 

 

“Hah… hah… hah…” Manusia kera itu berlari. Ia terus berlari. Ia melompati satu bangunan ke bangunan yang lain. energinya sudah mulai habis. Langkahnya mulai terhuyung-huyung. Namun ekornya tetap bersikeras menyeimbangkan tubuhnya.

Kakinya sudah enggan berjalan. Sejenak ia menyandarkan diri pada sebuah tembok. Ia terduduk, lalu menengadah ke atas. Ia memandang bulan purnama yang kuning dan cerah. Dalam hatinya ia berharap semua segera berakhir.

“Sial!” Insting hewannya kembali bekerja. Segera ia memiringkan kepalanya ke kanan. Benarlah, sebuah tembakan melesat ke kepalanya. Tembok yang hancur di sebelah kirinya melukiskan apa yang terjadi bila ia tidak menghindar. Dari kejauhan ia melihat sebuah pesawat yang mengejarnya.

Kyta kembali menegakkan kakinya. Ia condongkan badannya ke depan dan mulai berlari lagi. Dengan nafasnya yang terengal-engal, ia tiba di ujung jalannya. Di hadapannya sudah tidak terlihat atap yang dapat dilompati lagi. Sedangkan daratan masih 20 meter di bawahnya. Kyta tersudut. sedanDari gedung seberang yang berjarak sekitar 7 meter, tampak dua robot dan sebuah pesawat. Kedua robot itu tampak sudah mengunci senjata mereka ke arah Kyta. Kyta terdesak.

 

Seorang pemuda berkacamata yang tangan kirinya terbuat dari logam dan kabel memasuki sebuah ruangan. Di hadapannya, seorang pria yang cukup tua sedang memperbaiki sebuah monitor yang tampak rusak parah. Mereka sama-sama menggunakan setelan putih ala ilmuwan. Pria tua yang sadar akan kehadiran seorang cyborg di ruangan itu langsung meninggalkan pekerjaannya dan menyapa cyborg itu, “Vincent! Ke mana saja kamu?”

Cyborg yang memiliki nama Vincent Montiner itu menjawab, “Paman Krouger, mengapa paman di sini?”

Krouger berdiri, lalu menghampiri Vincent dan menjawab, “Bodoh!” Ia memukul kepala Vincent dengha halus. “Mecha-police sangat penting bagi Metropolis. Metropolis tidak boleh berlama-lama hidup tanpa mecha-police. Sedangkan ketika monitor utama dihancurkan dan mecha-police dalam keadaan lumpuh, kau menghilang! Maka aku dipanggil untuk segera memperbaiki monitor utama.”

Vincent terdiam. Karena rasa hormatnya pada Krouger yang sangat besar, ia tak berani menjawab. Krouger kembali berkata, “Apa yang kau lakukan pada Justice? Balas dendam? Lalu robot apa yang berkeliaran di Metropolis sekarang?”

Vincent yang merasa disalahkan membela dirinya, “Bukan balas dendam paman! Ini demi keamanan Metropolis. Demi menjalankan tugasku. Aku tahu bahwa Justice mengincar untuk menyerang monitor utama. Maka dari itu kubuat beberapa robot back up yang pusat kontrolnya ada padaku agar jika mecha-police lumpuh, aku bisa langsung menghabisi Justice.”

Vincent menunjuk tangan kirinya. Lalu ia menekan salah satu tombol di tangan kirinya. Seketika itu keluarlah sebuah proyeksi yang menampilkan posisi robot-robot back up itu. Lalu di sebelah kanan proyeksi itu terpampang perintah apa yang diberikan pada robot-robot itu. Tulisan itu berbunyi, “ATTACK.”

Krouger berseru, “Vincent! Segera ganti perintahmu. Kalau ketahuan bahwa kau membunuh seseorang di Metropolis, kau akan diasingkan ke Death City. Ingat peraturan itu!”

Vincent dengan lembut berkata, “Maaf. Aku terbawa suasana.” Ia segera mengganti perintah kerja robot-robot itu. Kini tulisan yang terpampang adalah, “CAPTURE.” Setelah itu Vincent menutup proyeksi itu.

Krouger berkata, “Kini, apakah kau tega membiarkan pria tua berumur hampir 70 tahun membungkuk sendirian untuk memperbaiki mesin ini?” Vincent pun membantu Krouger memperbaiki monitor utama.

 

Kurang lebih satu jam sebelum ini, mecha-police di seluruh Metropolis tak bergerak. Termasuk dua mecha-police yang berada di depan pintu kamar seorang gadis kecil. Gadis tersebut mencoba memukul-mukul mecha-police itu. “Sungguh tak bergerak!” ujarnya. Segera ia berlari meninggalkan kamarnya. Ia berlari, walau ia tak tahu akan ke mana.

 

Kyta yang tersudut akhirnya memberanikan diri untuk melawan robot-robot itu. Ia mengeluarkan kedua tonfanya. Ia menggumam, “Mungkin ini adalah kali terakhir aku menggunakan kalian. Sebelum itu, kalian akan kuberi nama. Mulai saat ini nama kalian adalah…” Kyta mengarahkan tonfanya ke arah kedua robot itu. Lalu dari ujung yang bisa mengeluarkan tembakan, keluarlah tekanan udara yang bertubi-tubi menuju robot-robot di seberang Kyta. Kyta melanjutkan kata-katanya, “Tonfa Gun! TonGun!!!!”

Sebuah tembakan melesat dari sebuah robot ke arah kepala Kyta. Namun tembakan Kyta berhasil membelah tembakan itu menjadi dua. Kini lantai di belakang Kyta terbakar di dua tempat yang berbeda, sebelah kanan dan kiri. Kyta semakin brutal, ia melangkahkan kakinya mendekati robot-robot itu. Sambil tetap menembak, ia berseru, “Aku Kyta!!!!”

 

Gadis kecil itu tersesat. Rupanya gedung ini terlalu besar bila hanya diisi manusia. namun semua robot di sana mati. Ia sampai di sebuah tempat yang penuh dengan pesawat. Ia mendekati salah satu pesawat. Pesawat itu tidak terlalu besar, namun cukup untuk menampuk selusin orang.

Pesawat itu memiliki sebuah lubang yang terbuka di bawahnya, tepat di antara roda belakangnya. Tanpa pikir panjang, gadis itu masuk ke dalam pesawat lewat lubang itu. Tak ada apa-apa di dalam pesawat itu. Hanya sebuah ruangan yang sempit. Gadis itu memutuskan untuk keluar dari situ.

Namun terlambat. Lubang itu kini tertutup. Terasa perlahan bahwa pesawat itu bergerak. Pesawat itu terbang. Tak ada yang tahu bahwa pesawat itu terbang sambil membawa seorang gadis kecil. Dan gadis kecil itu pun tak tahu ke mana pesawat ini akan membawanya.

 

Kyta tetap menembaki robot-robot itu. Walaupun Kyta tahu, sejak beberapa detik yang lalu, tampak robot-robot itu mengganti senjata mereka. Tanpa pikir panjang, Kyta meningkatkan frekuensi tembakannya. Ia tetap meneriakkan kata-kata yang terlintas di otaknya.

Robot-robot itu siap dengan senjata baru mereka. Mereka menembakkannya ke Kyta. Rupanya yang mereka tembakkan adalah gelombang listrik yang sudah difokuskan untuk mengenai Kyta. Kali ini, Kyta tak bisa menghindar. Ia berteriak kesakitan sejenak. Lalu ia menjatuhkan kedua tonfanya. Ia jatuh pingsan.

 

Setelah sekian lama menunggu, akhirnya lubang itu terbuka kembali. Namun ia belum mendapatkan kesempatan keluar. Lubang yang cukup sempit itu diisi penuh oleh lengan-lengan robot yang menjulur dari atap ruangan itu. Tak lama berselang, lengan-lengan itu menarik seekor makhluk aneh yang baru pertama kali dilihat oleh gadis itu. Dengan cepat lubang itu tertutup. Lengan-lengan itu menjatuhkan si makhluk aneh berbulu lebat itu tepat di atas katup lubang itu.

Dengan rasa penasaran yang tinggi gadis itu mendekati makhluk aneh itu. Makhluk itu menggunakan baju warna hitam, sama dengan baju yang ia pakai. Ia menyentuh bulunya yang halus. Sejenak ia lupa bahwa ia harus keluar dari pesawat itu.

 

“Vincent!” Seorang pria berpakaian rapi langsung mendobrak masuk dan memanggil Vincent.

Vincent yang terkejut menjawab, “Tuan Ruppert, ada apa?”

“Lihat apa yang telah kau perbuat!”

Krouger menyela, “Maaf tuan, Vincent sudah saya tegur, ia sudah menyesali….”

“Diam kau Krouger! Bukan itu yang kumaksud! Anakku….”

Vincent bertanya, “Ada apa dengan…..”

“Karena robot penjaganya mati, sekarang ia menghilang!”

 

Entah sudah berapa lama gadis itu menjadikan makhluk berekor itu mainan sementaranya. Sejak tadi ia memainkan jari dan ekor makhluk aneh itu. Selagi asyik bermain, lubang yang terletak tepat di bawah mereka terbuka. Mereka terjatuh.

Mereka kini berada di tempat yang tak pernah mereka lihat sebelumnya. Sedangkan pesawat yang menangkap mereka sudah menjauhi tempat itu. Di tempat itu hanya terlihat gedung-gedung yang sudah hancur. Suhunya sangat panas. Pandangan gadis itu mulai kabur.

Namun makhluk berwujud manusia setengah kera itu mulai mendapatkan kesadarannya kembali. Ia menatap gadis kecil yang ada di hadapannya. Ia terkejut, “Hah?!”

Gadis itu berteriak, “Aaaaaaaaaaa……!!!!!!”

Makhluk itu terkejut dan berteriak juga, “Aaaaaaaaa……!!!!!!?????”

Lalu mereka berteriak bersamaan, “Waaaaaaaaaaaa!!!!!!!”

Teriakan mereka adalah satu-satunya suara yang ada di sana. Tanpa mereka sadar, mereka kini berada di Death City.