Tag Archive | LDR

When She Came Home for Christmas, Nice Clock

scene 4

“Duduk mana ya?”

Anto bicara pada dirinya sendiri. Pandangannya mencari tempat kosong di ruang tunggu itu. Ia di sana untuk menunggu kepulangan seseorang yang sudah meninggalkannya selama setahun belakangan ini.

Setelah berjalan beberapa langkah, ia memutuskan untuk duduk di salah satu bangku. Ia mengaktifkan handphonenya. Dari layarnya, ia menatap foto dua orang sedang berpelukan. Itu fotonya dengan pacarnya. “Akhirnya kamu pulang.” Katanya lirih.

Di sebelah kirinya, duduk seorang wanita paruh baya. Wanita ini duduk dengan ekspresi muka yang resah. Beberapa kali wanita ini menatap arloji di tangan kirinya. Wanita ini jauh lebih tidak sabar daripada Anto.

Anto tersenyum pada wanita ini, namun ia hanya mengangguk. “Dia benar-benar resah.” Pikir Anto.

Anto berusaha mengabaikannya. Ia melihat ke arah lain. Namun hal itu hanya membuat dirinya semakin penasaran. Ia mengintip perlahan. Kini kaki wanita itu mengayun-ayun tak tenang. Anto menatap wajah wanita itu. Keringat menetes di pipinya.

Sebagai seorang laki-laki yang tidak bisa melihat wanita bersedih, Anto bertanya, “Ibu tidak apa-apa?”

Seketika itu wanita ini tersentak. Hampir saja ia menjatuhkan paper bag yang ia bawa. Ia menggenggamnya semakin erat. Ia menoleh kepada Anto, lalu memberikan anggukan yang lebih keras daripada yang pertama. Dia tidak mau diganggu.

Di pihak lain, hal itu justru membuat Anto penasaran. “Siapa yang ditunggu oleh ibu ini?”

Anto melipat tangannya, meletakkan sikunya di paha, lalu meletakkan kepalanya di dekat tangannya. Ia membiarkan pikirannya melayang ke mana-mana. Di samping itu, ia tak punya apa-apa untuk dipikirkan. Ia juga sedang menunggu seseorang yang masih agak lama datangnya.

“Hm… Susah untuk berpikir tentang siapa ibu ini. Mungkin lebih mudah untuk menebak apa yang ada di dalam tasnya. Tapi apa?! Aku intip saja…”

Perlahan anto mulai menegakkan duduknya. Ia berpura-pura meregangkan ototnya, namun isi dari tas itu tak juga terlihat. “Yaaah. Sedikit lagi.” Pikirnya.

Anto tak mau menyerah. Ia tetap berjuang untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Sedikit demi sedikit ia menggeser pantatnya ke kiri. Semakin lama semakin dekat dengan wanita ini. “Sedikit lagi… sedikiiit lagi…”

Sadar bahwa dirinya sedang diamati, wanita ini menggeser duduknya dan makin memeluk tasnya lebih erat lagi. Anto pun jengkel. Akhirnya Anto memberanikan diri untuk bicara, “Itu apa sih?”

Wanita ini memberikan tatapan yang cukup tajam. “Bukan apa-apa.” Jawabnya dengan culas.

Ini adalah pertama kali wanita ini mengeluarkan suaranya. Suaranya cukup tegas, mirip suara pembawa berita di TV yang membawakan berita duka. Walaupun nada bicaranya cukup keras, tetapi Anto bahagia. Anto menganggap ini sebagai sebuah kemajuan, karena akhirnya wanita ini mau berbicara.

Anto pun bertanya lagi, “Itu hadiah natal ya?” Ia memikirkan pertanyaan berikutnya, “Untuk seseorang yang ditunggu?”

Wanita ini masih menunjukkan muka tidak suka. Kendati demikian, ia mengangguk. Melihat tanggapan positif itu, Anto pun melanjutkan pertanyaannya, “Boleh lihat?”

Wajah wanita ini menjadi lebih jahat dari sebelumnya. Ia menatap Anto dengan tatapan yang sangat tajam. Ia tidak suka dengan pertanyaan itu. Namun Anto tetap mencoba ramah. Anto justru mendekatkan diri sambil berkata, “Ah sudah, tidak apa-apa. Saya cuma mau lihat kog. Bukan mencuri.”

Wanita itu memutar badannya agak ke kiri membelakangi Anto. Ia memastikan Anto tidak bisa melihat tasnya.

Di sebelahnya, Anto masih berpikir bagaimana caranya agar ia bisa mengetahui isi dari tas itu. Ia memegangi dagunya. Lalu Anto tersenyum karena mendapatkan ide. Ia melepas jaket ungunya, lalu meletakkannya di antara dia dan wanita ini. Anto berkata, “Kalau tidak percaya, jaket saya di sini, ini jaket kesayangan saya. Saya tidak akan mencuri hadiah itu. Masih kurang? Saya tambah handphone.” Ia meletakkan handphonenya di atas jaketnya.

Wanita ini tidak mempedulikan apa yang dilakukan Anto. Anto pun makin jengkel atas ketidak ramahan wanita ini. Ia berdiri lalu duduk di sebelah kiri wanita itu. Anto berkata pada wanita ini, “Lihat ya….”

Wanita ini berkata dengan tegas, “Tidak boleh!”

Anto kehilangan kesabarannya, lantas ia berusaha merebut tas itu dari tangan wanita ini, “Sudahlah. Sebentar saja!”

Wanita ini hampir saja berteriak, tetapi ia menahannya karena tidak mau membuat orang lain panik. Wanita ini mempertahankan tasnya sekuat tenaga. Anto juga tak mau kalah. Ia makin kuat merebut tas ini sambil berkata, “Saya bukan pencuri!”

Tak sengaja, tas itu jatuh dan mengakhiri perebutan mereka. Sedikit dari isi tas itu mencuat keluar. Wanita ini segera mengambilnya dan memeluk lagi tas itu. Tatapannya begitu marah pada Anto, tetapi ia tak mau mengeluarkan amarahnya.

Kini Anto sadar bahwa wanita ini benar-benar marah. Anto berusaha mencairkan keadaan. Ia berkata, “Jam yang di tas itu bagus.” Ia tidak digubris. Ia menggaruk-garuk kepalanya. Ia tidak menyerah, “Buat diletakkan di meja ya?” Tetap tidak ada respon. Kini wanita ini tak mau memperlihatkan mukanya pada Anto. Nafasnya tak karuan menahan emosi.

Tiba-tiba fokus Anto berubah. Kini ia melihat rombongan orang keluar dari pintu keluar. Nampaknya penerbangan yang ia tunggu sudah mendarat. Matanya dengan cermat mencari orang yang ia tunggu. “Ah! Itu dia!” Serunya.

Anto berlari, berlari meninggalkan wanita ini sendirian dengan tasnya. Ia menghampiri seorang wanita berkacamata yang baru saja keluar dari pintu itu. Ia memanggil wanita itu, “Siti!”

Siti, wanita yang dinanti Anto, tanpa pikir panjang ikut berlari lalu memeluk Anto. Siti berkata, “Anto. Aku kangen.”

Anto menjawab, “Aku juga, Siti.”

Siti melepaskan pelukan itu. Lalu memukul Anto dengan pelan sambil berkata, “Aku tadi diikutin orang aneh sejak dari bandara! Ayo cepat pulang. Sebelum kita ketemu orang itu lagi!”

“Iya. Aku ambil jaket dan handphone aku dulu ya.”

Anto berlari lagi ke bangku yang tadi ia duduki. Sudah cukup dekat dengan bangku itu, Ia berhenti karena melihat wanita yang tadi pergi bersama seseorang berseragam militer. Dalam hati Anto berpikir, “Wah, itu pasti suami yang dia tunggu. Pantas saja dia resah. Suaminya pergi membela Negara. Pasti suaminya suka dengan jam yang tadi.”

Anto berjalan perlahan ke bangku itu. Ia mengambil jaketnya dan handphonenya. Lalu Anto berjalan kembali pada Siti. Belum ada tiga langkah, seseorang berseragam militer menepuk pundaknya. Anto berpaling. Orang itu menjabat tangan Anto sambil berkata, “Terima kasih. Berkat anda, kami tahu di mana letak bomnya.”

Anto tidak paham dengan apa yang terjadi. Ia segera pulang bersama Siti dan menikmati Natal.

 

Ilustrasi oleh: Celine A. – Instagram: @sei_nyaan

Dia ini desainer sibuk. Katanya dia lagi ngegarap revisi desain Garuda Pancasila. (mau bikin negara sendiri dia)

When She Came Home for Christmas, Calling

scene 3

“Hari ini sudah tidak ada lagi. Untuk apa kita kemari?”

“Ah gak apa-apa. Siapa tahu Ratna lagi beres-beres. Kita bantuin.”

Mereka berjalan menuju pondok yang terletak di seberang gereja. Mereka, Dimas dan Kornel, adalah dua biarawan dari gereja tersebut. Mereka masih muda, masih frater. Kurang lebih setahun lagi, mereka akan menerima sakramen imamat dan menjadi seorang pastor.

Selama sebulan belakangan ini, gereja mereka kedatangan seorang tamu. Ratna, putri dari salah seorang donatur keuskupan. Ratna yang masih menganggur, menghabiskan satu bulan terakhirnya untuk mengajar di tempat ini. Ia mengajar baca tulis pada para lansia di tempat ini. Tempat ini adalah daerah yang cukup terbelakang, maklum jika banyak orang belum bisa baca tulis. Dengan adanya Ratna, diharapkan para lansia bisa membaca kitab suci dan dokumen gereja lainnya sendiri.

“Hush! Jangan sampai keinginanmu untuk membantu Ratna menjadi hasrat yang lebih! Ingat kaulmu! Ingat janji sucimu!” Tegur Dimas pada sahabatnya.

“Apasih kau ini, Dim?” Timpal Kornel, “Membantu ya membantu. Udah. Gak ada lagi. Hasrat lebih? Haha… Parno ah!”

Mereka masuk ke dalam pondok tersebut. “Loh sudah rapi?” Gumam Dimas. Tempat itu sudah sangat rapi. Barang-barang yang dipakai Ratna mengajar pun sudah bersih. Ratna sudah membereskannya.

“Yaah. Telat.” Kata Kornel. Tangannya yang coklat menggaruk kepalanya.

Dimas pun geram, “Kornel! Sudahlah! Tidak baik seperti ini. Ayo kembali!”

“Ah… iya, iya…” Kornel menyerah. Mereka pun akhirnya berjalan kembali ke biara. Dimas menghabiskan waktunya di jalan bersama dengan Kornel untuk menceramahi Kornel tentang panggilan dan tanggung jawab.

Tak disangka, di teras depan biara itu mereka menjumpai orang yang mereka cari. Ratna, gadis berambut pendek dan berparas cantik yang sudah membantu mereka selama sebulan belakangan ini. Ratna sedang duduk di salah satu kursi dan di sekelilingnya terdapat ada koper, ransel, dan tas kecil. Ratna sudah mau pulang, tetapi untuk sebuah alasan ia menyempatkan diri ke biara itu.

Melihat itu, kornel langsung dengan sigap menghampiri Ratna dan bertanya, “Ratna, Cari siapa?”

Ratna menjawab, “Mau pamitan sama Romo Leo.” Kini mereka bertiga sudah berada di teras itu. Ratna melanjutkan, “By the way, thanks ya buat bantuannya selama ini.  Kalau gak ada kalian, saya pasti sudah kewalahan.” Ratna menjabat tangan para frater itu.

Dimas berkata dengan dingin seakan mencari alasan untuk segera masuk ke biara, “Sudah dipanggilkan Romo Leonya?”

“Oh sudah. Sudah.” Kata Ratna.

“Duduk sini dulu aja, Dim!” Kata Kornel sambil menarik salah satu kursi. Dimas langsung memegang kepalanya seraya kecewa dengan keputusan Kornel yang tidak segera masuk ke dalam.

Kornel dengan penuh senyum bertanya pada Ratna, “Kog buru-buru pulang? Di sini aja sampai natal. Natal di sini perayaannya seru.”

Ratna menimpali, “Pinginnya gitu sih. Tapi udah disuruh pulang sama calon suami.”

“Calon suami?” Tanya Dimas dengan agak terkejut. Kini mata Dimas terarah tajam pada Kornel. “Jadi Ratna sudah mau menikah?”

Ratna tersipu malu, “Iya. Tahun depan saya akan menikah.”

Kornel tidak memahami kode dari kawannya. Dengan penuh semangat, ia berkata pada Ratna, “Siapapun pasti bahagia punya istri seperti Ratna!”

Ratna tiba-tiba tertunduk, “Sejujurnya….” Kini Ratna menunjukkan tatapan yang benar-benar melas. “Aku gak yakin aku pantas buat dia.”

Dimas langsung angkat bicara, “Ratna!” Mata mereka berdua bertatapan. “Kalau dia berkata kamulah calon istrinya, itu berarti dia sangat yakin denganmu. Tidak ada satupun dari dirimu yang membuatnya ragu. Yang harus kamu gumulkan sekarang bukanlah bagaimana kamu pantas untuknya, tapi bagaimana kamu pantas untuk Tuhan. Karena sesungguhnya tidak ada yang lebih bahagia bagi lelaki selain menikahi wanita yang takut akan Tuhan.”

Ratna tersenyum. Baru saja Ratna mau menjawab, pintu di dekat mereka terbuka. Seorang pria berbadan hitam dan besar keluar dari pintu itu. Itu adalah Romo Leo, Pastur Leonard Barry, kepala paroki setempat sekaligus pemimpin biara tempat Kornel dan Dimas tinggal.

Romo Leo berkata, “Kornel, Dimas, ke mana kalian tadi setelah devosi?”

Kornel kebingungan menjawab. Dimas angkat bicara, “Kami tadi pergi ke pondok. Kami berniat membantu Ratna beres-beres. Tetapi ternyata dia sudah terlebih dahulu siap.”

Ternyata Romo Leo tidak marah, “Hahaha… Ternyata pemikiran kita sama, Dimas. Saya juga tadi berniat menyuruh kalian hal yang sama. Tetapi saya justru bertemu Ratna duluan daripada kalian.”

Kornel menyahut, “Iya Romo. Habisnya kita bingung. Biasanya kan habis devosi kita langsung ke pondok bantuin Ratna.”

“Nanti siang waktu makan kita diskusikan jadwal kita, Kornel.” Timpal Romo Leo.

Ratna menyela perbincangan mereka, “Romo. Kita jadi kan?”

“Iya Ratna.” Romo Leo tertawa lalu mengelus kepala Ratna. “Saya sudah janji kan mau antar kamu sampai terminal?” Romo Leo melihat ke arah dua fraternya, “Frater Kornel, Frater Dimas, tolong bawa masuk barang-barang Ratna ke mobil saya. Saya mau panasi mobilnya.”

Mereka pun membawa koper dan tas Ratna masuk ke dalam mobil. Romo Leo masuk di kursi depan dan memanaskan mobilnya. Di luar mobil itu, kini ada Ratna, Kornel, dan Dimas. Kornel berkata, “Ratna, tunjukin foto calon suamimu dong.”

Ratna mengeluarkan handphonenya, lalu menunjukkan wallpaper handphonenya pada mereka berdua. Kornel bertanya lagi, “Kapan nikahnya?”

“Sekitar tahun depan.”

“Nikah di sini aja…” Sahut Kornel.

Melihat kawannya sudah melewati batas, Dimas memukul lengan Kornel. Dimas angkat bicara, “Tolong kabari Romo Leo bila kamu sudah akan menikah. Kami akan doakan dari sini.”

Sekali lagi Ratna dibuat termotivasi oleh kata-kata Dimas. Dengan spontan Ratna bergerak memeluk Dimas sambil berkata, “Makasih ya Frater…”

Tetapi Dimas mencegah pelukan itu sambil berkata, “Iya…” Lalu berbisik, “Saya frater…” Dimas menatap Kornel dengan tajam, “Ayo masuk, kita kerjakan sesuatu di dalam.”

Dimas dan Kornel akhirnya mundur. Ratna masuk ke mobil. Mereka saling melambaikan tangan. Setelah mobil keluar dari area biara, Dimas menegur Kornel, “Kornel! Kamu ini frater lo! Saya sudah bilang tadi di jalan! Jangan begitu! Kamu harus lebih bijaksana!”

Kornel memandang Dimas, “Dim! Sudahlah! Gak tiap hari kan kita ada tamu seperti ini! Toh juga gak mungkin aku pacaran sama dia! Dia udah punya suami! Aku juga tau aku ini frater!”

Dimas menyudahi pertengkaran ini, “Sudahlah! Ayo kita opus! Saya akan bersih-bersih dari mulai ruang musik. Mea culpa.”

“Mea culpa.” Jawab Kornel. Mereka saling menebah dada dan membungkukkan badan. Lalu mereka berjalan masing-masing.

Dimas sampai di ruang musik, lengkap dengan sapu dan pel. Ia menyalakan lampu ruang itu. Ia meletakkan sapu dan pel di dekat piano, lalu mulai membuka piano tersebut. Ia memejamkan matanya, membuat tanda salib, lalu memainkan sebuah instrument.

Ia bersajak,

“Tuhan, aku ingin mencintai-Mu lebih dari apapun

Bila kini aku mencintainya, aku tahu rasa ini datangnya dari-Mu

Aku tak mengerti, ya Bapa, mengapa aku harus sakit hati

Namun biarlah kehendakmu yang terjadi

Bantu aku agar aku makin setia pada-Mu, bukan pada manusia.”

Ia menyelesaikan instrumennya, membereskan piano itu, lalu mulai menyapu.

 

Ilustrasi oleh: Celine A. – Instagram: @sei_nyaan

pelukis yang tergila-gila sama dunia 2D. hampir jadian ama Kobo-Chan.

When She Came Home for Christmas, prolog

scene 1

Kadang yang kita butuhkan saat natal bukanlah hadiah dalam kaus kaki, tapi sesuatu yang lebih. Natal adalah tentang cinta, cinta Tuhan kepada manusia. Cinta yang terpisah jauh dan akhirnya didamaikan. Allah sendiri datang dan melawat umat-Nya.

Mau diumpamakan apa kasih-Nya ini? Ah! LDR! Long Distance Relationship. Bagaikan Kekasih yang pulang saat natal. Adven menjadi seperti masa menanti Kekasih pulang dari petualangannya. Dan ketika Sang Kekasih tiba, begitulah sukacita Natal. Hati yang dingin tak lagi hampa. Allah sendiri mengisinya dengan cinta.

Natal adalah waktu bagi kebahagiaan. Kebahagiaan bagimu, bagiku, dan bagi mereka. Ya, mereka yang kisahnya akan kutuliskan. Kisah tentang seorang gadis yang mengejar ilmu di kota dan kekasihnya yang menunggu dengan setia. Lalu kisah gadis yang memberi diri melayani di pedesaan dan calon suaminya yang resah dalam penantian.

ah, bukan kisah yang besar. Namun setiap kisah, mewakili satu hati. Hati yang takut, hati yang terluka, hati yang penuh harap, hati yang ingin tertawa. MKM mempersembahkan, When She Came Home for Christmas. 4 cerita pendek tentang hati yang menyatu dan jarak yang memisahkan. Mulai hari ini, sampai Christmas eve, setiap jam 12 siang MKM akan menerbitkan kisah-kisah sederhana. Mungkin kisah ini adalah komedi, atau kisah ini adalah tragedi. Tetapi dengan membaca kisah ini, kalian telah mendengarkan satu lagi jeritan hati. Hati yang ingin didengar sebelum natal tiba.

#ShareTheLove #Shalom1Jiwa

Terinspirasi dari Yesus, Pohon Natal, dan Jonas Bjerre.

Ilustrasi oleh: Celine A.  – instagram: @sei_nyaan

MKM gak pake insta. MKM emang terbelakang, yang lain udah chat pake iphone, MKM masih smsan pake tamagochi.

VFAR (Very Far Away Relationship)

Hal yang paling geli adalah saat kamu tidur di kasur bagian atas, dan orang yang tidur di bawahmu lagi nelpon pacarnya. Seakan-akan dia ngomong ke kamu, “Sayang, udah malem. Tidur sana. Ntar sakit.” Sejak kapan gak tidur bisa sakit, gak tidur itu ngantuk!

Pasti mereka yang menjalani LDR (Long Distance Relationship) ini sangat galau. Tiap malem mereka cuma bisa menerka-nerka sedang apa pasangannya di sana, ke mana, selingkuh sama siapa. MKM gak bisa ngerasain. #JombloSih

Saat yang menjalani LDR ini galau, mereka akan mudah percaya sama mitos. Mitos yang paling sering adalah: kalo ngecek jam dan angkanya sama (contoh: 14:14) berarti yang di sana lagi kangen. MKM juga sering ngecek jam seperti itu. Yang terakhir MKM lihat jam menunjukkan pukul 14:41. Ya mungkin kangen MKM bertepuk sebelah tangan. #Nyesek #JombloSih

Kata mitos, kalo bulu mata ada yang rontok, berarti ada yang kangen. Terus kalo bulu yang rontok tadi diambil dan ditiup, harapan kita bisa terkabul. Gara-gara mitos ini, temen MKM jadi rusak. Dia sering banget guntingin bulu matanya sendiri, terus ditiup-tiup. MKM tanya, “Harapanmu apa sih bro?” Dia jawab, “Semoga aku bisa lulus tanpa bikin paper.”

MKM sekarang jomblo, tapi banyak gosip beredar kalo MKM sedang menjalani LDR sama seseorang. Gosip itu tidak benar. Dan tolong diingat, digosipkan punya pacar saat kamu jomblo lebih sakit daripada digosipkan homo. kenapa? karena saat kamu ditanya, “Cie… udah punya pacar baru ya?” MKM gak bisa jawab. Jawab “Iya…” faktanya enggak. Jawab “Enggak…” tapi pinginnya iya…. Akhirnya cuma bisa berandai kalo itu bukan sekedar gosip, tapi MKM bisa beneran punya pacar. #GaraGaraGosip #JombloSih

MKM sebenarnya juga menjalin sebuah hubungan. VFAR (Very Far Away Relationship). Bukan sekedar hubungan jarak jauh. Ini hubungan jarak jauh dengan wanita yang ada di tempat yang sangat jauh dan waktu yang sangat jauh. Ya, MKM percaya bahwa MKM akan pacaran lagi di masa depan yang masih lama. Jomblo tapi optimis.

Seenggaknya, MKM gak galau seperti teman-teman yang LDR. Kenapa? Karena MKM percaya cewe MKM gak akan berkhianat. MKM percaya bahwa apapun yang terjadi, MKM dan dia ditakdirkan suatu saat untuk bersama. MKM juga gak perlu buang-buang pulsa buat nelpon dia. Orangnya aja gak tau yang mana, apalagi nomer HPnya.

Buat yang lagi LDR, percaya aja bahwa akan ada masa di mana kalian akan bersama. Buat yang lagi menantikan jodohnya (seperti MKM), optimis aja. sambil cek gender, kamu itu cewe/cowo/atau kamu punya gender sendiri yang akhirnya gender lain gak mau pacaran sama kamu. Ingatlah bahwa setiap cowo ditakdirkan punya satu cewe (minimal). Syalom Satu Jiwa.

MKM Nekad Jadian

Adit MKM, 18 tahun, sebagai generasi arema (anti rempong dan mainstream), punya caranya sendiri untuk menyikapi masalah cinta. Jadi jomblo itu enak. Saking enaknya, butuh sesuatu yang sangat besar untuk membuat MKM rela melepaskan title jomblo. Sesuatu yang besar itu adalah gadis kecil bernama Venny Apriliani.

Jadi jomblo membuat MKM memiliki banyak keresahan yang akhirnya bisa dituangkan di blog menjadi tulisan yang lucu. Jadi jomblo membuat MKM punya alasan untuk berteriak memaki orang-orang yang pacaran. Namun keresahan tetaplah keresahan. Keresahan adalah sesuatu yang harus diselesaikan.

MKM memang belum lama kenal dengan Venny. MKM juga gak tau perasaan apa yang timbul antara MKM dan Venny. Tetapi makin dipikir, makin MKM menyerupai anak-anak alay. Ya, anak-anak alay selalu mengklasifikasikan cinta dengan klasifikasi yang aneh (ada tingkatan-tingkatannya, yang indikatornya juga tidak jelas apa). Cukup! MKM gak mau seperti itu. MKM ingin membuat ini sederhana.

“Aku punya rasa ke kamu. Kamu juga begitu ke aku. Dan kita sama-sama gak ngerti ini perasaan apa. Ya udah, kita nekad pacaran aja. Biar waktu yang menjawab semua tanya.”

Kurang lebih begitulah cara MKM mengajak Venny pacaran. Gak romantis. Tapi apa ada dari antara pembaca yang mampu membayangkan kalo MKM jadi romantis?

Ini emang jadian paling nekad bagi MKM. Resiko putusnya banyak sekali. Pertama, kami akan VFAR (Very Far Away Relationship, karena LDR udah terlalu mainstream). Kedua, kami juga beda ras (MKM sejenis Doberman, Venny sejenis Chihuahua). Tapi ini justru harus menjadi semangat. Bila kami mampu melampaui ini, masa depan kami pasti akan bahagia.

Jadi, MKM sekarang punya pacar. Dalam pacaran yang kali ini MKM berniat melakukan sedikit perbaikan.

  1. Cukup Aku dan Kamu

Jangan ada tokoh-tokoh lain dalam kisah cinta yang ini. Cukup MKM dan Venny. Jangan ada orang ketiga, keempat, ke tujuh puluh satu, dan kesekian kalinya. Jalani semua berdua. Jangan ada yang ditutup-tutupi. Seperti yang diungkapkan parpol2 sebelum pemilu, Bersama Kita Bisa.

2. Percaya

Karena tantangan yang terlalu banyak, percaya itu penting. Percaya bahwa MKM gak gigit. Percaya bahwa Venny bisa tumbuh lebih tinggi saat nanti MKM kembali dari perantauan. Dan yang penting percaya bahwa hati kami sedang menyatu dan saling menjaga.

3. Saling mengerti

Minyak dan Urin gak akan pernah bisa menyatu walaupun diaduk seperti apapun. Itu karena minyak dan urin sama-sama keras kepala mempertahankan massa jenisnya. Warna yang sama tidak mencerminkan bahwa mereka menyatu. Memang susah mengubah massa jenis, hampir gak mungkin. Tapi seiring waktu berjalan, mereka berdua pasti bisa menyatu menjadi minuman yang enak.

Buat pembaca, optimislah terhadap hubungan yang sedang kalian jalani. Ingat, cinta bagai bikin martabak, makin dibanting makin besar.