Tag Archive | Cinta

Kisah Cinta jus Alpukat

Jus-Alpukat-Indonesian-Avocado-Shake-Wide

Hi readers. Rasanya kita bisa sepakat kalau alpukat itu gak manis. Alpukat itu pahit. Alpukat juga warnanya hijau. Rasanya Alpukat lebih pantes dikategorikan sebagai sayur daripada buah.

Alpukat tapi gak enak kalo dijadikan sup. Alpukat ini lembek banget soalnya. Justru dia akan memberi warna pada sup. Jadi ijo gak wajar. Gak ada yang mau makan sup itu. Maka Alpukat itu gak boleh dimasukkan ke sup.

Sup merah enak. Tapi kalau sup hijau, MKM gak yakin. Biarkan kondisi politik sup seperti politik di Negara-Negara kebanyakan. hanya ada dua partai: sup bening dan sup merah.

Indonesia ini kebanyakan partai. Kebanyakan yang mau mimpin. Gak ada yang mau diatur.

Jus Alpukat yang enak itu yang kental, yang airnya dikit. Itu kalau tumpah di jalan, orang mungkin akan kira itu bekas muntah. Bentuknya ijo dan kental gak wajar. Gak wajar lagi karena kebanyakan orang Indo bikin jus alpukat airnya banyak. Ngirit. Apa-apa sekarang mahal.

Jus Alpukat ini bergizi, semua orang tahu itu. Tapi sedikit orang yang beneran tahu gizinya apa aja. Orang-orang males baca buat tahu isinya jus Alpukat ini apa. Yang mereka pedulikan hanya cari duit yang banyak sehingga bisa minum jus Alpukat tiap hari.

Kini kamu belajar banyak dari Jus Alpukat. Kamu sudah pinter. Tapi banyak orang bodoh di Internet. Mereka bodoh karena terus-terusan di depan monitor dan gak pernah ngobrol sama alam. mungkin mereka gak pernah mencicipi jus Alpukat. Coba kalo kamu kenal salah satu orang bodoh di internet itu, jangan dimarahin, traktir aja Jus Alpukat. Buat apa? ya dengan gitu akhirnya kalian bisa ngobrol banyak dari mulai agama, politik, alam, sampai masalah pribadi. Itu lebih baik daripada komen-komen jahat di sosmed.

Karena Jus Alpukat, kopi susu, dan gorengan adalah harapan terakhir dunia ini menuju perdamaian.

Cerpen: Ibu

Ben menekan handphone-nya dengan geram. Ia sungguh marah pada ayahnya. Ibunya, yang selama ini ia puja sebagai penyelamat, teladan, dan inspirasi, yang selalu diceritakan sang Ayah telah meninggal saat melahirkan Ben, rupanya masih hidup. Baru saja Ben tak sengaja bertemu dengan seorang wanita yang secara fisik dan sejarah, mirip dengan ibunya.

Telepon tersambung “Daddy! Jawab! Jelaskan! Ben baru aja bertemu… orang yang… mirip… bukan.. Ben baru aja bertemu.. Mommy! Mommy? Mommy Sheila yang selalu Daddy ceritakan! Kog bisa…” Ia secara tak tenang mondar-mandir di kamar kosnya. Air mata keluar membasahi pipi Ben. Akhirnya ia terduduk di kasurnya.

Sang Ayah di ujung sana juga menangis, “Jadi kamu bertemu Sheila? Apa kabar dia? Sehat?”

“Siapa dia, Daddy?”

Di dalam rumah, sang Ayah mencoba meraih satu pigura kecil di atas meja yang berisi foto Sheila, wanita yang mereka permasalahkan. Ia duduk lalu berkata pada anaknya di telepon, “Dia… Ah. Daddy tidak ingin membicarakannya di telepon. Kita bicarakan minggu depan aja waktu kamu pulang, ya?”

Ben semakin marah. Ia membentak ayahnya, “Tidak Daddy! Jelaskan sekarang! Ben marah!”

“Ya udah. Ben. Daddy cerita, tapi Ben harus siap terima kenyataannya ya.”

Ben diam saja. Menunggu pertanyaannya dijawab.

Daddy sebenarnya mau nunggu Ben sudah lebih dewasa. Tapi karena sudah ketahuan, ya apa boleh buat. So, Ben, you were adopted.

Ben yang semula duduk, kini membaringkan tubuhnya di kasur sambil tetap menempelkan handphonenya ke telinga. “I was adopted?” tanya Ben pada suara ayahnya yang semakin mengecil karena rasa bersalah.

“Ya. Daddy ambil kamu dari panti asuhan. Tidak ada yang tahu siapa dan di mana orang tua kamu yang asli. Pertama kali Daddy lihat bayi kamu…..”

“Tapi Daddy,” Ben menyela “Siapa Sheila?”

I am sorry. Tapi dia bukan mommy kamu.”

Kata-kata itu begitu menusuk Ben. Sejenak ia meletakkan handphonenya di samping kepalanya. Ia menangis. Segera ia mencerna semua yang terjadi lalu mengusap air matanya.

Bagi Ben, sosok Sheila adalah segalanya. Cerita-cerita tentang Sheila yang sering dicerittakan oleh ayahnya adalah inspirasi untuk Ben. Cerita favorit Ben adalah ketika Sheila memilih untuk meninggalkan keluarga demi meneruskan studinya ke luar negeri.

Kini terbayang di kepala Ben, sang ayah di rumahnya yang sederhana, yang penuh dengan foto Sheila di tembok-temboknya. Ben mengambil handphonenya lalu bertanya, “Daddy, daddy, jadi Sheila tidak pernah jadi bagian keluarga kita?”

Sang Ayah segera menjawab, “Waktu daddy mengadopsi kamu. daddy sadar kamu butuh figur seorang ibu. Daddy tidak punya istri. Tapi daddy tahu satu orang wanita yang bisa kamu idolakan….”

Lagi-lagi Ben menyela, “Tapi semua itu bohong!”

“Satu-satunya kebohongan adalah bahwa dia mommy kamu! Semua cerita daddy tentang perjuangan hidup Sheila adalah kenyataan!” Jawab sang Ayah.

“Lalu Sheila ini siapa?”

“Sheila adalah……” Sang Ayah terdiam sejenak lalu mengurangi volume bicaranya. “Sheila adalah wanita yang daddy sayangi”

Ben menjadi lebih geram dari sebelumnya. “Haruskah Daddy melakukan kebohongan ini? Apakah daddy mengerti perasaan Ben? Ben yang selama sembilan belas tahun hidup selalu mendambakan sosok mommy. Ben yang hidup dari percaya bahwa ada mommy yang mendoakan Ben dari surga. Ben yang kini harus menghadapi kenyataan bahwa mommy Sheila masih hidup, dan ternyata bukan mommy-nya Ben sama sekali, karena semuanya hanyalah imajinasi fiktif dari…”

“Itu bukan fiktif!”

Daddy egois! Kalau daddy pikir ini semua karena daddy sayang sama Sheila, daddy salah. Daddy cuma kesal karena tidak bisa mendapatkan Sheila, lalu menjadikan Ben yang tidak tahu apa-apa untuk hidup dalam ilusi daddy bahwa daddy bisa menikah sama Sheila!”

“Sudah daddy bilang! Ini bukan demi daddy, tapi demi kamu! Daddy ingin kamu punya orang tua yang bisa kamu idolakan. Daddy sadar, daddy ini cuma laki-laki sampah yang tidak bisa dibanggakan. Daddy…

Enough Dad! Ben tidak pernah menganggap daddy sampah. Sebelum hari ini, Ben selalu bangga sama daddy. Tapi…”

Kedua orang itu menangis di tempat yang berbeda. Wajah Ben sudah memerah dipenuhi air mata kemarahan dan kebingungan. Sedangkan sang Ayah terduduk di kursi sambil memegangi kepalanya.

Ben berkata, “I hate you, dad.” Lalu sambungan telepon terputus.

Sang ayah membanting pigura berisi foto Sheila ke tembok. Pigura itu pecah. Bantingan itu menyebabkan cat tembok itu terkelupas sedikit. Di atas bekas bantingan itu, tergantung foto ukuran jumbo, Ben dan sang Ayah.

Sedangkan Ben di kamarnya sedang melihat daftar kontak di handphone-nya. Sambil menahan amarah, dilihatnya satu nama pada daftar kontak itu:

Sheila

Sejenak Ben terpikir untuk menelepon wanita itu. Namun belum sempat ia menekan tombol “panggil”, Ben memilih untuk mematikan handphone-nya dan tidur.

 

 

Cerpen – Selingkuh Hati

Tidak ada yang bisa menutupi senyuman insan yang sedang jatuh cinta. Itulah mengapa Karina memilih untuk berhenti menutupi wajahnya dengan buku menu, lalu menunjukkan senyumannya pada pria itu. “Ini hanya ngobrol antar teman.” Katanya pada diri sendiri untuk menenangkan hatinya. Tidak ada hubungan yang khusus di antara mereka. Itulah yang diyakini Karina walaupun matanya berbinar ketika menatap pria itu. Andai Karina punya ekor, ia pasti sudah mengayunkan ekornya berkali-kali di setiap kata yang ia dengar.

“Rudy butuh tempat kos, aku bantu carikan, lalu ia membalasnya dengan traktir makan. Hanya itu.” Berulang kali itu yang ia ucapkan pada hati nuraninya. Walaupun secara sadar sebenarnya sudah sering Karina mencuri kesempatan untuk bisa bersama dengan Rudy selain hari ini.

Apakah ini selingkuh? Rudy baru beberapa bulan yang lalu bercerai. Sebuah kejadian yang sering dipertanyakan oleh Karina di kepalanya, “Mengapa ada wanita yang bisa meninggalkan Rudy yang sungguh sempurna ini?” Biasanya pertanyaan ini berlanjut pada pengandaian, “Harusnya aku yang kau nikahi pertama kali.” Sayangnya itu pun tidak mungkin terjadi. Jauh sebelum Karina bertemu dengan Rudy. Karina sudah mengikat janji dengan Hartono. Sebuah pernikahan yang agaknya ia sesali setiap hari, terutama saat bersama Rudy.

“Ini cuma selingkuh hati. Tak berujung ke mana-mana.” Itulah pembelaan terakhir Karina pada hati nuraninya. Setelah berdamai dengan hati nuraninya, Karina lanjut memilih makanan dari buku menu.

Rudy dengan suaranya yang berat layaknya lelaki yang kuat bertanya, “Jangan malu ya. Pesen aja. Aku yang bayar.”

“Aku sih gak pernah malu kalo dibayarin!” Karina meletakkan buku menunya. “Aku pesen yang porsinya keliatannya banyak.” Karina kini menjadi diri sendiri. Tak seperti ketika bersama dengan suaminya. Ia selalu menahan diri.

Rudy memanggil pelayan dan mulai memesan. Mereka berdua pun melanjutkan perbincangan seputar pekerjaan. Bagi Karina, apapun topiknya asalkan dengan Rudy, tidak akan jadi topik yang membosankan.

Pesanan mereka akhirnya datang. Salah satu yang dipesan Rudy adalah chocolate cake. Melihat chocolate cake yang ia pesan begitu menggoda, Rudy berkata, “Aku selalu suka cake dari sejak kecil.” Rudy memotong cake itu lalu memakannya satu gigitan. “Karina, bukankah suamimu juga bikin cake?

Karina terkejut. Bahkan di dalam benaknya sekarang, tidak ada bayangan tentang sang suami. “Dia memang kadang terima pesanan bikin kue dari tetangga.” Jawabnya.

Suami Karina tidak bisa dibandingkan dengan Rudy. Hartono tidak punya pekerjaan tetap. Kini ia hanya mengurus rumah sambil membantu tetangga mengerjakan apapun yang bisa ia kerjakan. Ia pria tipe pria pekerja keras, namun memang belum ada pekerjaan tetap yang ia miliki.

Rudy berkata lagi, “Dia tampaknya pria baik-baik. Kamu cinta sama dia?”

Karina sendiri kadang bingung dengan pernikahannya. Ia selalu tidak bisa menjawab pertanyaan “Kamu cinta sama Hartono?” dengan baik. Kewajiban seorang istri adalah menjawab ya. Tetapi sekujur tubuhnya tak bisa mengelak perasaannya yang begitu besar pada Rudy. “Kalau bukan cinta, lalu perasaanku ke Rudy ini apa?” “Apakah mungkin seseorang bisa mencintai dua orang yang berbeda?”

Karina yakin bahwa ia tidak lagi mencintai Hartono. Karina yakin bahwa hatinya sudah sepenuhnya dimiliki oleh Rudy. Ada suara dalam kepalanya yang selalu berseru, “Ceraikan saja Hartono!” Tetapi Karina tidak bisa menjadi sejahat itu.

“Iyalah! Gimanapun dia, dia suamiku!” Jawab Karina. Sekali lagi ia harus berbohong dalam menjawab pertanyaan itu. Baginya, berbohong ke orang lain tidak sesakit berbohong pada diri sendiri. Kini perasaan Karina tersayat.

Rudy meneguk minumannya lalu berkata, “Baik-baik ya sama dia. Jangan kayak aku.”

Karina membalas dengan sedikit kesal, “Kamu sendiri? Kamu cinta sama istrimu?”

Rudy tersenyum dan mengangguk.

Karina kembali menimpali, “Lalu kenapa kamu setuju dengan perceraian yang ia ajukan?”

Rudy menjawab, “Mencintai itu membuat orang lain bahagia. Kalau memang dia lebih bahagia bercerai, aku harus memberikannya.” Ia mendekatkan wajahnya sedikit. “Aku sakit hati, adalah harga yang mau kubayar untuk memberinya kebahagiaan, untuk mencintainya.”

Karina memakan nasi dan sayap ayam yang ada di hadapannya dengan tetap kesal. Setelah selesai menelan, Karina lanjut bertanya, “Memangnya, menurutmu cinta itu apa?”

Rudy mengiris cake yang ada di hadapannya sambil menerangkan pendapatnya tentang cinta. Begitulah obrolan fana mereka tentang cinta terhenti dan lanjut ke topik yang lain.

Karina sampai di rumahnya yang sederhana sekitar pukul 9 malam. Ia masuk dengan wajah yang sedih layaknya orang yang patah hati. Pemandangan rumah begitu kosong. Ia berseru, “Haarr…!”

Tak lama kemudian, Hartono keluar dari kamar, “Ssssttt….” Pria kurus itu mendekat, “Sophie lagi tidur. Kayaknya emang dia gak mau tidur kalau enggak sama mamanya. Kog baru pulang?”

“Ada rapat dadakan.” Karina berbohong lagi pada Hartono, entah sudah yang ke berapa.

“Ya udah. Makan deh, aku udah masakin. Aku mau cuci botolnya Sophie dulu.”

Karina terdiam sambil menatap suaminya. Di kepalanya segera terdengar kata-kata Rudy.

Apalah manusia ini sok ngomongin cinta.

Karina meletakkan tasnya di meja makan. Ia mendekat pada Hartono.

Kita sering lupa kalau cinta itu kata kerja. Cinta itu bukan sekedar perasaan atau pikiran.

Hartono sambil mencuci botol-botol bayi dengan air panas berkata, “Bu Ratih besok minta kebunnya diberesin. Kata beliau, perusahaan anaknya lagi mau buka cabang di sini. Siapa tahu aku bisa, ya kan?”

Itu artinya, orang yang kita cintai bukanlah orang yang kita pikirkan setiap hari.

Hartono menghadap Karina, “Aku mungkin bukan pria yang kamu harapkan. Tapi aku mau berusaha. Jadi tolong, jangan tinggalkan aku.”

Orang yang kita cintai adalah orang yang membuat kita mau merelakan segalanya dari kita hanya untuk membuatnya lega dan bahagia.

Karina tak membalasnya dengan kata-kata apapun. Karina mendekat dan mencium Hartono. Sebuah ciuman yang hangat dan lama, yang sudah lama tidak mereka lakukan.

Mood Booster

Hi readers, berapa orang dari kalian yang alasan pacarannya adalah, “Aku pingin cari orang buat mood booster.” Ups. Yang jomblo… ya… brapa dari kalian yang pingin banget punya pacar karena pacar adalah mood booster? MKM gak paham sama kalian. Kalian ini cari pacar atau power bank?

Sepanjang MKM pacaran ya, frekuensi pacar jadi moodbooster itu 30%. 70% bikin mood jatuh. Kalian yang ngira ber-romansa-ria itu menyenangkan, kayaknya kalian ketipu oleh bagian akhir dongeng-dongeng mainstream: Dan mereka akhirnya menikah dan bahagia selamanya. MKM kasih tau ya. Makin lama kalian sama seseorang artinya makin sering berantem. Dan kalo udah berantem ama pacar, mood itu ilang. mananya yang mood booster?

Jadi saran MKM, kalo kamu cari pacar cuma buat mood booster, mending beli snickers aja. modalnya lebih murah daripada pacaran. Snicker itu awet, murah, bisa didiemin lama. Pacar gak bisa!

Sekarang hakikat dan fungsi pacaran itu apakah hanya terbatas pada mood booster? Pacaran itu mencari orang yang tepat untuk diajak berumah tangga. Ada yang lebih penting daripada sekedar jadi mood booster, FOOD PROVIDER. karena FOOD means MOOD. FOOD means EVERYTHING.

Jangan mau pacaran sama orang yang PDKTnya, “Udah makan ato belum?” Pacaranlah sama orang yang, “Aku tau resto bagus, ke sana yuk. kubayarin.”

Jangan mau pacaran sama orang yang kalo kamu main ke rumahnya, kamu cuma dikasih air putih padahal dia nyimpen khong guan! DIA PELIT! belum jadi pacar aja udah pelit, gimana jadi istri.

Kenapa valentine orang kasih coklat? karena jauh d lubuk hati manusia, manusia itu tahu dan sadar kalau cinta itu omong kosong. Kata-kata bisa bohong, tapi coklat enggak. Coklat itu enak. Snickers is love.

MKM sih pacaran bukan buat mood booster. MKM pacaran ya karena MKM mau tau, MKM sanggup gak nanti kalo harus nikah sama orang ini. seenggaknya, MKM berusaha tahu nafsu makannya pasangannya seberapa jadi harus sedia beras berapa kilo per minggu.

Kamu? pacaran buat apa? kalo motivasi gak jelas, mending putus, trus jualan pentol. ingat. FOOD is LOVE

Agama Cinta

Hai readers. Jadi ceritanya MKM barusan ikut seminar wajib. Seminar wajib di sini itu bukan yang kalo gak ikut nilai dikurangin atau apa. Ini seminar wajib yang kalo gak dateng, di-DO. Maka seperti seminar-seminar wajib biasanya, MKM ikut dengan hati yang lari entah ke mana.

Tapi atas berkat rahmat Allah yang Mahakuasa (mirip pembukaan UUD), MKM dengerin semua isi seminarnya. Ada satu isi seminarnya yang kece banget: Budaya barat sekarang sebenarnya bukanlah Atheist, mereka memiliki agama, yaitu agama Eros.

Awalnya MKM yang setengah ngantuk berpikir kalau Sheila On 7 akhirnya bisa punya prestasi internasional selain bikin 9 album dan berhasil memiripkan muka vokalisnya dengan MKM. Tapi ternyata bukan Eros gitaris yang ia maksud. Maksud Eros di sini adalah Cinta. Budaya barat sekarang ternyata begitu mendewakan yang namanya Cinta.

Cinta membawa kebahagiaan, semua orang berhak bahagia, Maka pertanyaannya, apakah salah kalau kita mengutamakan Cinta di dalam hidup kita? Well, orang Kristen juga percaya kalo Tuhan itu Cinta. Lalu masalahnya apa? Ada apa dengan Cinta?

Rupanya Ada apa dengan Cinta 2 tidak sebagus yang pertama. Rangga tidak sepuitis Rangga SMA. Apakah itu karena Rangga memiliki huruf pertama R? Andai huruf pertamanya adalah T. Maka ia mungkin bisa konsisten puitis seperti grup vokal Tangga yang sekarang sudah bubar. Atau setidaknya lagu dan puisinya terkenang seperti peribahasa yang sering diucapkan orang kalau lagi sial. Sudah jatuh tertimpa Rangga.

Definisi Cinta itu membingungkan untuk dijadikan agama. Rasul Paulus menghabiskan satu pasal untuk menjelaskan Cinta di Bible. Anak SD yang mulai mencoba pacaran mendefinisikannya sebagai alasan untuk mendapatkan cie-cie. Rangga mendefinisikannya sebagai gebetan. Uya Kuya mendefinisikannya sebagai anaknya. Maka Uya Kuya kalau jadi orang Barat, ia bisa menyembah anaknya sendiri.

Capek kan jadi orang barat. Mending jadi orang Timur. Karena Timur adalah titik awal SunGoKong untuk mencari kitab suci. Lihat apa yang terjadi pada SunGoKong? Serialnya dibuat terus, filmnya ada terus, bahkan sekarang dia jadi Hero di Dota2. Ini bukti kalau budaya timur sebenarnya lebih berpotensi daripada budaya barat.

Maka kalau bukan cinta yang harus kita utamakan, Lalu apa? Utamakan Selamat.

(Jadi sebenernya isi seminarnya bagus, tapi itu sebenarnya seminar berbayar. Kalian bacanya gratisan minta lebih!)