Tag Archive | cerpen

Cerpen: Ibu

Ben menekan handphone-nya dengan geram. Ia sungguh marah pada ayahnya. Ibunya, yang selama ini ia puja sebagai penyelamat, teladan, dan inspirasi, yang selalu diceritakan sang Ayah telah meninggal saat melahirkan Ben, rupanya masih hidup. Baru saja Ben tak sengaja bertemu dengan seorang wanita yang secara fisik dan sejarah, mirip dengan ibunya.

Telepon tersambung “Daddy! Jawab! Jelaskan! Ben baru aja bertemu… orang yang… mirip… bukan.. Ben baru aja bertemu.. Mommy! Mommy? Mommy Sheila yang selalu Daddy ceritakan! Kog bisa…” Ia secara tak tenang mondar-mandir di kamar kosnya. Air mata keluar membasahi pipi Ben. Akhirnya ia terduduk di kasurnya.

Sang Ayah di ujung sana juga menangis, “Jadi kamu bertemu Sheila? Apa kabar dia? Sehat?”

“Siapa dia, Daddy?”

Di dalam rumah, sang Ayah mencoba meraih satu pigura kecil di atas meja yang berisi foto Sheila, wanita yang mereka permasalahkan. Ia duduk lalu berkata pada anaknya di telepon, “Dia… Ah. Daddy tidak ingin membicarakannya di telepon. Kita bicarakan minggu depan aja waktu kamu pulang, ya?”

Ben semakin marah. Ia membentak ayahnya, “Tidak Daddy! Jelaskan sekarang! Ben marah!”

“Ya udah. Ben. Daddy cerita, tapi Ben harus siap terima kenyataannya ya.”

Ben diam saja. Menunggu pertanyaannya dijawab.

Daddy sebenarnya mau nunggu Ben sudah lebih dewasa. Tapi karena sudah ketahuan, ya apa boleh buat. So, Ben, you were adopted.

Ben yang semula duduk, kini membaringkan tubuhnya di kasur sambil tetap menempelkan handphonenya ke telinga. “I was adopted?” tanya Ben pada suara ayahnya yang semakin mengecil karena rasa bersalah.

“Ya. Daddy ambil kamu dari panti asuhan. Tidak ada yang tahu siapa dan di mana orang tua kamu yang asli. Pertama kali Daddy lihat bayi kamu…..”

“Tapi Daddy,” Ben menyela “Siapa Sheila?”

I am sorry. Tapi dia bukan mommy kamu.”

Kata-kata itu begitu menusuk Ben. Sejenak ia meletakkan handphonenya di samping kepalanya. Ia menangis. Segera ia mencerna semua yang terjadi lalu mengusap air matanya.

Bagi Ben, sosok Sheila adalah segalanya. Cerita-cerita tentang Sheila yang sering dicerittakan oleh ayahnya adalah inspirasi untuk Ben. Cerita favorit Ben adalah ketika Sheila memilih untuk meninggalkan keluarga demi meneruskan studinya ke luar negeri.

Kini terbayang di kepala Ben, sang ayah di rumahnya yang sederhana, yang penuh dengan foto Sheila di tembok-temboknya. Ben mengambil handphonenya lalu bertanya, “Daddy, daddy, jadi Sheila tidak pernah jadi bagian keluarga kita?”

Sang Ayah segera menjawab, “Waktu daddy mengadopsi kamu. daddy sadar kamu butuh figur seorang ibu. Daddy tidak punya istri. Tapi daddy tahu satu orang wanita yang bisa kamu idolakan….”

Lagi-lagi Ben menyela, “Tapi semua itu bohong!”

“Satu-satunya kebohongan adalah bahwa dia mommy kamu! Semua cerita daddy tentang perjuangan hidup Sheila adalah kenyataan!” Jawab sang Ayah.

“Lalu Sheila ini siapa?”

“Sheila adalah……” Sang Ayah terdiam sejenak lalu mengurangi volume bicaranya. “Sheila adalah wanita yang daddy sayangi”

Ben menjadi lebih geram dari sebelumnya. “Haruskah Daddy melakukan kebohongan ini? Apakah daddy mengerti perasaan Ben? Ben yang selama sembilan belas tahun hidup selalu mendambakan sosok mommy. Ben yang hidup dari percaya bahwa ada mommy yang mendoakan Ben dari surga. Ben yang kini harus menghadapi kenyataan bahwa mommy Sheila masih hidup, dan ternyata bukan mommy-nya Ben sama sekali, karena semuanya hanyalah imajinasi fiktif dari…”

“Itu bukan fiktif!”

Daddy egois! Kalau daddy pikir ini semua karena daddy sayang sama Sheila, daddy salah. Daddy cuma kesal karena tidak bisa mendapatkan Sheila, lalu menjadikan Ben yang tidak tahu apa-apa untuk hidup dalam ilusi daddy bahwa daddy bisa menikah sama Sheila!”

“Sudah daddy bilang! Ini bukan demi daddy, tapi demi kamu! Daddy ingin kamu punya orang tua yang bisa kamu idolakan. Daddy sadar, daddy ini cuma laki-laki sampah yang tidak bisa dibanggakan. Daddy…

Enough Dad! Ben tidak pernah menganggap daddy sampah. Sebelum hari ini, Ben selalu bangga sama daddy. Tapi…”

Kedua orang itu menangis di tempat yang berbeda. Wajah Ben sudah memerah dipenuhi air mata kemarahan dan kebingungan. Sedangkan sang Ayah terduduk di kursi sambil memegangi kepalanya.

Ben berkata, “I hate you, dad.” Lalu sambungan telepon terputus.

Sang ayah membanting pigura berisi foto Sheila ke tembok. Pigura itu pecah. Bantingan itu menyebabkan cat tembok itu terkelupas sedikit. Di atas bekas bantingan itu, tergantung foto ukuran jumbo, Ben dan sang Ayah.

Sedangkan Ben di kamarnya sedang melihat daftar kontak di handphone-nya. Sambil menahan amarah, dilihatnya satu nama pada daftar kontak itu:

Sheila

Sejenak Ben terpikir untuk menelepon wanita itu. Namun belum sempat ia menekan tombol “panggil”, Ben memilih untuk mematikan handphone-nya dan tidur.

 

 

Cerpen – Selingkuh Hati

Tidak ada yang bisa menutupi senyuman insan yang sedang jatuh cinta. Itulah mengapa Karina memilih untuk berhenti menutupi wajahnya dengan buku menu, lalu menunjukkan senyumannya pada pria itu. “Ini hanya ngobrol antar teman.” Katanya pada diri sendiri untuk menenangkan hatinya. Tidak ada hubungan yang khusus di antara mereka. Itulah yang diyakini Karina walaupun matanya berbinar ketika menatap pria itu. Andai Karina punya ekor, ia pasti sudah mengayunkan ekornya berkali-kali di setiap kata yang ia dengar.

“Rudy butuh tempat kos, aku bantu carikan, lalu ia membalasnya dengan traktir makan. Hanya itu.” Berulang kali itu yang ia ucapkan pada hati nuraninya. Walaupun secara sadar sebenarnya sudah sering Karina mencuri kesempatan untuk bisa bersama dengan Rudy selain hari ini.

Apakah ini selingkuh? Rudy baru beberapa bulan yang lalu bercerai. Sebuah kejadian yang sering dipertanyakan oleh Karina di kepalanya, “Mengapa ada wanita yang bisa meninggalkan Rudy yang sungguh sempurna ini?” Biasanya pertanyaan ini berlanjut pada pengandaian, “Harusnya aku yang kau nikahi pertama kali.” Sayangnya itu pun tidak mungkin terjadi. Jauh sebelum Karina bertemu dengan Rudy. Karina sudah mengikat janji dengan Hartono. Sebuah pernikahan yang agaknya ia sesali setiap hari, terutama saat bersama Rudy.

“Ini cuma selingkuh hati. Tak berujung ke mana-mana.” Itulah pembelaan terakhir Karina pada hati nuraninya. Setelah berdamai dengan hati nuraninya, Karina lanjut memilih makanan dari buku menu.

Rudy dengan suaranya yang berat layaknya lelaki yang kuat bertanya, “Jangan malu ya. Pesen aja. Aku yang bayar.”

“Aku sih gak pernah malu kalo dibayarin!” Karina meletakkan buku menunya. “Aku pesen yang porsinya keliatannya banyak.” Karina kini menjadi diri sendiri. Tak seperti ketika bersama dengan suaminya. Ia selalu menahan diri.

Rudy memanggil pelayan dan mulai memesan. Mereka berdua pun melanjutkan perbincangan seputar pekerjaan. Bagi Karina, apapun topiknya asalkan dengan Rudy, tidak akan jadi topik yang membosankan.

Pesanan mereka akhirnya datang. Salah satu yang dipesan Rudy adalah chocolate cake. Melihat chocolate cake yang ia pesan begitu menggoda, Rudy berkata, “Aku selalu suka cake dari sejak kecil.” Rudy memotong cake itu lalu memakannya satu gigitan. “Karina, bukankah suamimu juga bikin cake?

Karina terkejut. Bahkan di dalam benaknya sekarang, tidak ada bayangan tentang sang suami. “Dia memang kadang terima pesanan bikin kue dari tetangga.” Jawabnya.

Suami Karina tidak bisa dibandingkan dengan Rudy. Hartono tidak punya pekerjaan tetap. Kini ia hanya mengurus rumah sambil membantu tetangga mengerjakan apapun yang bisa ia kerjakan. Ia pria tipe pria pekerja keras, namun memang belum ada pekerjaan tetap yang ia miliki.

Rudy berkata lagi, “Dia tampaknya pria baik-baik. Kamu cinta sama dia?”

Karina sendiri kadang bingung dengan pernikahannya. Ia selalu tidak bisa menjawab pertanyaan “Kamu cinta sama Hartono?” dengan baik. Kewajiban seorang istri adalah menjawab ya. Tetapi sekujur tubuhnya tak bisa mengelak perasaannya yang begitu besar pada Rudy. “Kalau bukan cinta, lalu perasaanku ke Rudy ini apa?” “Apakah mungkin seseorang bisa mencintai dua orang yang berbeda?”

Karina yakin bahwa ia tidak lagi mencintai Hartono. Karina yakin bahwa hatinya sudah sepenuhnya dimiliki oleh Rudy. Ada suara dalam kepalanya yang selalu berseru, “Ceraikan saja Hartono!” Tetapi Karina tidak bisa menjadi sejahat itu.

“Iyalah! Gimanapun dia, dia suamiku!” Jawab Karina. Sekali lagi ia harus berbohong dalam menjawab pertanyaan itu. Baginya, berbohong ke orang lain tidak sesakit berbohong pada diri sendiri. Kini perasaan Karina tersayat.

Rudy meneguk minumannya lalu berkata, “Baik-baik ya sama dia. Jangan kayak aku.”

Karina membalas dengan sedikit kesal, “Kamu sendiri? Kamu cinta sama istrimu?”

Rudy tersenyum dan mengangguk.

Karina kembali menimpali, “Lalu kenapa kamu setuju dengan perceraian yang ia ajukan?”

Rudy menjawab, “Mencintai itu membuat orang lain bahagia. Kalau memang dia lebih bahagia bercerai, aku harus memberikannya.” Ia mendekatkan wajahnya sedikit. “Aku sakit hati, adalah harga yang mau kubayar untuk memberinya kebahagiaan, untuk mencintainya.”

Karina memakan nasi dan sayap ayam yang ada di hadapannya dengan tetap kesal. Setelah selesai menelan, Karina lanjut bertanya, “Memangnya, menurutmu cinta itu apa?”

Rudy mengiris cake yang ada di hadapannya sambil menerangkan pendapatnya tentang cinta. Begitulah obrolan fana mereka tentang cinta terhenti dan lanjut ke topik yang lain.

Karina sampai di rumahnya yang sederhana sekitar pukul 9 malam. Ia masuk dengan wajah yang sedih layaknya orang yang patah hati. Pemandangan rumah begitu kosong. Ia berseru, “Haarr…!”

Tak lama kemudian, Hartono keluar dari kamar, “Ssssttt….” Pria kurus itu mendekat, “Sophie lagi tidur. Kayaknya emang dia gak mau tidur kalau enggak sama mamanya. Kog baru pulang?”

“Ada rapat dadakan.” Karina berbohong lagi pada Hartono, entah sudah yang ke berapa.

“Ya udah. Makan deh, aku udah masakin. Aku mau cuci botolnya Sophie dulu.”

Karina terdiam sambil menatap suaminya. Di kepalanya segera terdengar kata-kata Rudy.

Apalah manusia ini sok ngomongin cinta.

Karina meletakkan tasnya di meja makan. Ia mendekat pada Hartono.

Kita sering lupa kalau cinta itu kata kerja. Cinta itu bukan sekedar perasaan atau pikiran.

Hartono sambil mencuci botol-botol bayi dengan air panas berkata, “Bu Ratih besok minta kebunnya diberesin. Kata beliau, perusahaan anaknya lagi mau buka cabang di sini. Siapa tahu aku bisa, ya kan?”

Itu artinya, orang yang kita cintai bukanlah orang yang kita pikirkan setiap hari.

Hartono menghadap Karina, “Aku mungkin bukan pria yang kamu harapkan. Tapi aku mau berusaha. Jadi tolong, jangan tinggalkan aku.”

Orang yang kita cintai adalah orang yang membuat kita mau merelakan segalanya dari kita hanya untuk membuatnya lega dan bahagia.

Karina tak membalasnya dengan kata-kata apapun. Karina mendekat dan mencium Hartono. Sebuah ciuman yang hangat dan lama, yang sudah lama tidak mereka lakukan.

Sang Pria Basah Kuyup (Cerpen)

Malam itu tidak hujan, tetapi pria itu basah kuyup berjalan sendiri. Air matanya menetes deras dan tak kunjung henti. Derai air mata itu selaras dengan dinginnya tubuhnya, seakan matanya sendiri yang membasahi sekujur tubuhnya.

Di ujung jalan itu, tidurlah seorang gelandangan. Tidak, belum sampai ia pada alam mimpi. Ia baru saja akan berangkat ke sana diantarkan bentangan bintang yang ia pandangi sejak tadi. Lamunannya terusik oleh bunyi tetesan air yang menetes ke tanah dari tubuh sang pria basah kuyup.

“Permisi.” Kata pria itu sambil tetap menangis.

Si gelandangan terkejut melihat pria yang tak pernah ia lihat sebelumnya tiba-tiba berduka di sebelahnya. Malam seakan memberi kesempatan orang paling tidak berbahagia ini untuk menghapus beberapa titik air mata. “Bung. Kau kenapa?” Tanyanya peduli.

“Entahlah. Aku tak tahu. Sejak tadi aku tak bisa berhenti menangis. Dan, kepalaku sakit. Aku tak bisa ingat apa-apa.” Kata pria itu sambil menyeka pipinya yang tentu saja akan segera basah lagi.

“Ah! Kau sakit!” Seru si gelandangan agak senang karena mengetahui akar masalahnya di mana. “Begini, kusarankan agar kau pergi ke dokter. Beberapa blok dari sini, ada seorang dokter yang sangat baik. Ia mau menolong siapa saja yang datang padanya. Ia selalu terbuka sepanjang hari. Ketuk saja pintunya maka ia akan menolongmu.”

Setelah mengucapkan terimakasih, Pria basah kuyup pergi ke tempat dokter baik hati, meninggalkan si gelandangan yang kembali tidur di posisinya sebelumnya. Rupanya ia berhutang beberapa kalimat syukur pada langit sebelum ia tidur. Sedangkan Pria basah kuyup itu tak tahu apa yang harus ia syukuri. Sebaliknya, ia terus menangis di sepanjang jalan remang-remang itu.

Namun perjalanannya ia hentikan di sebuah pintu dengan tulisan yang terpampang sangat jelas, “Dokter.” Sesuai panduan yang baru saja ia dengarkan, ia mengetuk pintu kayu itu beberapa kali. Pintu itu terbuka dan mulai tampak wajah tampan si dokter baik hati.

“Wah, kau basah. Ayo masuk. Akan kuberikan kau handuk.” Atas anjuran dokter, si pria basah kuyup masuk ke ruangan itu. Ia duduk di sebuah kursi yang menghadap meja dan kursi si dokter baik hati.

Si dokter kembali dari belakang kantornya lalu memberikan handuk pada pria basah kuyup. Pria itu mulai menggosok-gosokkannya pada tubuhnya. Si dokter pun duduk lalu bertanya, “Kau kenapa?”

Pria basah kuyup menjawab, “Entahlah dok. Mataku tidak bisa berhenti menangis. Kepalaku sakit. Kini perutku pun mual.”

Dokter beranjak dari tempat duduknya. Ia mendekat pada pria basah kuyup itu. Tangannya membuka mata pria itu. Dilihatnya kondisi matanya. Dokter tahu bahwa mata itu mata yang sehat. Tetapi tak ada yang tahu penyakit apa yang sebenarnya dideritanya.

Dokter itu memberi saran, “Yang perlu kau lakukan kini adalah berhenti menangis. Ah. Aku tidak punya obatnya. Tetapi aku tahu seseorang. Ada seorang badut di kota ini. Siapapun yang bertemu dia pasti tertawa. Cobalah kau ke sana. Saat air matamu sudah berhenti, kembalilah untuk kuperiksa lagi.”

Dokter itu memberi alamat sang badut. Pria basah kuyup keluar sambil membawa kertas berisi alamat. Tak butuh semenit untuk membuat kertas itu ikut basah seperti tangannya. Handuk yang diberikan sang dokter sama sekali tak mengeringkannya.

Alamat itu tidak terlalu jauh. Kini Pria basah kuyup sudah berada di hadapan pintu yang lain. Di pintu itu juga terdapat papan yang sangat jelas tertulis, “Badut.” Tangannya bersiap mengetuk.

Tak jadi diketuknya pintu itu. Sebaliknya, segera dipegangnya gagangnya secara hati-hati lalu dibukanya pintu itu karena ia tahu bahwa pintu itu tidak dikunci. Tak ada siapa-siapa di sana. Pria basah kuyup masuk ke dalam ruangan itu dan segera menemukan lawakan pertama yang tersedia baginya. Sebuah cermin. Di dalam cermin itu terpantul wajah pria basah kuyup itu. Wajah itu sama dengan wajah yang ada di foto dekat cermin itu.

Ia menangis. Lebih keras. Hingga pagi datang di kota itu.

-Terinspirasi dari I Pagliacci karangan Ruggero Leoncavallo-

Mawar di Hari Senin (Cerpen)

Wanita itu terpaku sejenak di depan meja kantornya. Di sana terpampang sebuah kalender yang menunjukkan kalau hari ini adalah hari senin. Di sebelah kalender itu ada komputer yang masih belum menyala. Di sekitarnya juga ada beberapa fotonya bersama teman-temannya. Namun itu tidak aneh. Yang janggal adalah, lagi-lagi, setangkai mawar tergeletak di meja itu diiringi kertas warna merah jambu. Ada tulisan dalam kertas itu.

punya kak adit si satpam (1)

“Simpan secarik kertas ini agar kau selalu ingat padaku.”

Sudah beberapa minggu terakhir, setiap hari senin, selalu ada setangkai mawar dan sepucuk puisi tergeletak di mejanya, seakan meminta hatinya untuk tetap tersenyum selama seminggu. Namun gundah sudah mengusiknya. Ia perlu tahu siapa yang memberinya bunga dan surat ini.

“Gaby!” Tepukan mengagetkan itu menyadarkannya dari lamunannya. “Ngelamun lo jelek banget tau!” Kata pria yang baru saja menepuk pundaknya itu. Rambut gondrong dan setelan yang lusuh sudah menjadi ciri khas sahabat sekaligus partner kreatifnya, Ares. Namanya diambil dari nama dewa perang, namun jiwanya sungguh cinta damai.

“Kaget tau!” Gaby memukul pelan kawannya. Sejenak ia membenarkan rambutnya yang berponi. “Ada mawar lagi, res.”

“Cieee….” Sorak Ares spontan.

“Ares! Serius nih gue!”

Ares menarik tangan temannya itu lalu menyuruhnya melihat sekitar, “Lihat kantor jasa advertising ini? Kantor penuh stress dan deadline. Lo mestinya bersyukur bisa dapet penghiburan tiap minggu. Gue sih mau ada yang begitu juga. Tapi jangan bunga. Coklat boleh. Minimal kacang lah.”

“Tapi tetep penasaran gue. Lo bayangin deh, res. Momennya itu pas banget. Senin pertama gue dapet mawar, minggu lalunya gue baru aja kena marah ama si Bos. Mawar-mawar ini bener-bener ngebantu gua buat gak bête sama kantor.”

“Ciieee….” Ares makin girang.

Gaby kembali duduk di mejanya. “Ah, kesel gua cerita ama lo. Gak pernah serius nanggepinnya.” Gaby menyalakan komputernya.

Ares duduk di kursinya lalu menggeser kursinya yang beroda itu ke dekat kursi Gaby. “Gini deh, jam kantor efektif mulai masih 15 menit lagi. Ayo kita jadi Conan.”

Kegemarannya pada komik memang sangat terasa. Di meja Ares, bertebaran beberapa action figure. Wallpaper komputernya pun ia ganti dengan gambar seorang superhero berambut botak berbaju kuning. Berbeda dengan Gaby yang mejanya penuh notes dan foto-fotonya yang sedang berlibur.

“Apaan sih?” Sahut Gaby.

“Lu gak paham Conan? Aduh. Gaby! Masa kecilmu harusnya diterangi dengan tontonan penuh aksi dan penuh gizi seperti Conan!” Ia kembali menarik Gaby untuk berdiri dari kursinya. “Udah, sekarang lo ikut gua.”

Mereka berdua berjalan keluar kantor. Mereka masuk ke pos satpam. Seorang satpam tua menyambut mereka. Ares masuk dan langsung duduk di sebelah satpam itu. “Pak Darso!” Sapanya.

Pak Darso yang rambut dan jenggotnya sudah mulai memutih itu pun menyapa balik. “Ini Mas Ares kalau ke sini pasti ada maunya. Minta tolong dicegatin tukang gado-gado lagi?”

“Enggak pak.” Ia berdiri dan merangkul Gaby yang masih menunggu di pinggir pintu. “Kami sedang main detektif-detektifan.”

“Tuh kan. Emang satu kantor ini yang paling aneh ya Mas Ares.”

“Enggak aneh, Pak Darso. Kami memang sedang mencari tahu sesuatu.” Ia mendorong Gaby untuk duduk di sebelah Pak Darso. Bagi Gaby yang tidak mudah bergaul, ini adalah pertama kali ia berbincang dekat dengan Pak Darso. “Mbak Gaby yang satu ini, pak, sedang ada kasus. Pencurian, tapi bukan diambil barangnya, tapi diberi barang. It is not a theft, it is a reverse-theft. Pencurian berbalik.”

Pak Darso hanya tertawa kecil melihat tingkah aneh Ares. Gaby langsung berkata pada Pak Darso, “Maaf ya pak. Dia emang begitu.”

“Ah, sudah biasa dia begitu, apalagi kalau sudah stres sama kerjaannya.”

“Begini pak, bapak tahu siapa yang ke sini paling pagi?”

Pak Darso tertawa, “Hahaha… ya saya, non.”

“Setelah bapak?” Sela Gaby.

Pak Darso berpikir sejenak. “Hm.. Non coba tanya Aryo. Dia biasanya datang pagi.”

“Mas Aryo CS?”

“Iya.”

Gaby mencoba mengingat wajah Aryo karena ada beberapa cleaning service yang bekerja di kantor itu dan tidak semua ia ingat wajahnya.

“Oke!” Ares memecah keheningan dengan teriakannya. “Masih ada waktu beberapa menit untuk menyelesaikan kasus ini. Ayo Watson! Duluan ya, Pak Darso.” Ares menarik tangan Gaby sambil berpamitan pada Pak Darso.

Mereka berjalan meninggalkan pos satpam. Sesampainya di pintu kantor, Ares berhenti. Beberapa detik ia melamun, lalu ia berkata pada Gaby, “Gua kayaknya punya clue lain. Lo pergi tanya si Aryo sendiri ya. Gua susul di kantor.” Ares langsung pergi ke arah belakang kantor.

“Ares! Ares! Yaah…” Teriakan Gaby tak sanggup menghentikan Ares. Akhirnya Gaby menyerah dan masuk ke kantor. Ia langsung berjalan ke ruangan CS. Ia mengetuk pintu sambil bertanya, “Mas Aryo ada di sini?”

Seorang wanita dengan suara yang cukup melengking berteriak, “Yo! Dicariin yo!”

Pemuda bernama Aryo pun berjalan dari kedalam ruangan ke arah pintu. “Ada apa ya, neng?” Tanya Aryo pada Gaby.

“Mas Aryo?”

“Iya, neng.”

Keduanya mulai canggung karena itu adalah kali pertama mereka bercakap-cakap. “Gini mas.” Gaby bertanya dengan sopan, “Mas Aryo tahu ada bunga di meja saya?”

“Mejanya yang….”

Gaby menyela, “Sebelahnya Ares!”

Aryo tersenyum, “Oh iya. Tahu, neng. Ada apa? Hilang?”

Gaby kaget, “Ah enggak, mas. Saya cuma mau nanya, mas tahu siapa yang naruh bunga di situ?”

Aryo menjawab spontan. “Waduh, neng. Enggak tahu. Saya bersih-bersih, bunganya sudah di situ.”

Gaby mengangguk. “Oh, begitu? Makasih ya, mas. Mari.” Gaby berpamitan pada semua cleaning service yang berada di sana. Ia kembali ke meja kerjanya.

Sekembalinya ia, ia duduk dan menatap lagi bunga dan surat yang ia terima pagi itu. Pikirnya melayang pada pertanyaan, “Siapa ya?”

“Itu dari gua!” Seru Ares dari belakang Gaby.

Sekali lagi Gaby terkaget. “Kalau jantung gua copot gimana!?”

“Gua ganti pake jantung ayam.” Ares pun duduk di kursinya.

Gaby bertanya, “Ini beneran dari lo?”

Ares tertawa, “Hahahaha… ya gak mungkin lah! Oke, gini. Lo cantik, cerdas, baik. tapi…” Ares mengangkat tangannya membuat tanda kutip. “Aset lo kecil. Itu penting buat gua dan gua gak mungkin suka ama lo.”

Gaby sekali lagi memukul Ares. Yang kali ini, lebih keras. “Otak lo ke mana sih?”

“Gua jual buat nyicil motor.”

Gaby melipat tangannya, “Lo tadi ke mana?”

“Ssst….” Tangan Ares secara simbolis mendiamkan Gaby. Lalu ia membetulkan rambutnya yang berantakan secara arogan sambil berkata, “Gua udah tau pelakunya.”

“Siapa!?”

“Sssttt….” Sekali lagi Ares membuat gestur yang menyebalkan. “Gua tadi ke ruang CCTV, trus gua liat, sebenarnya siapa yang naruh bunga itu. Surprising, but you have to know.”

“Cepetan ah”

Wajah Ares berubah serius. “Tapi sebelumnya gua mau tanya.”

“Apa?”

Ia mendekatkan wajahnya pada Gaby, “Gini. Siapapun yang bikin ini semua ke lo, dia super romantis. Dia pasti sayang sama lo. Sayangnya udah kritis, parah! Ketika gua sebutin namanya siapa, apa yang akan dilakukan Gaby? Membiarkannya terus terjadi? Menyuruhnya berhenti? Apa? Menurutku, dia pun gak mau Gaby tahu kalau dia yang ngasih bunga dan puisi. Dia lakukan ini ikhlas, tanpa berharap apapun. Jangankan memilikimu, dikenal saja dia gak mau.”

Gaby terdiam. Gaby berpikir bahwa kata-kata temannya kini layak untuk didengarkan dan benar adanya. Ares bertanya, “Lo yakin mau tahu siapa?”

Gaby mengangguk. Ares berkata, “Sini kubisikin.”

 

Sorenya, pria itu pulang dari kantornya. Ia mengendarai sebuah sepeda motor yang sederhana. Tidak baru, tidak lama, hanya sederhana. Rumahnya terletak di dalam sebuah gang yang memiliki aturan, “Motor matikan mesin.” Di ujung gang, ia mematikan mesinnya dan bersiap mendorong masuk sepeda motornya.

Belum sempat masuk ke dalam gang, seorang penjual bunga yang berjarak 2 rumah dari sudut jalan menyapanya. “Waaah… Tumben pulang cepet?”

“Ah iya. Memang jam pulang harusnya jam segini. Mari…” Jawab pria itu halus.

Penjual bunga itu berseru pada pria yang bersama sepeda motornya mulai masuk ke dalam gang yang sempit, “Jaga kesehatanmu, Pak Darso!”

-Inspirasi dari Puisi Sapardi Djoko Damono, Secarik Kertas-

Sang Nelayan

Galilea tak pernah sedingin ini. Langitnya biru padam. Pantainya begitu pasrah dipijaki Anak Manusia. Alam pun tahu kunjungan Tuannya. Kini Anak Manusia duduk di atas sebuah batu karang. Mata-Nya memandang pantai dengan seksama.

Beberapa nelayan sedang membersihkan jaring mereka. Tak ada ikan yang mereka dapat. Wajah sedih mereka mewarnai pagi yang biru itu. Satu dari mereka menatap jauh ke laut, mengutuki ombak dan garam lautan. Dalam hatinya yakin bahwa Allahnya tak akan membiarkannya dan keluarganya kelaparan.

Siapa dia?

Simon, batu karang-Ku.

Mau Kau apakan dia?

Dia yang akan Kupilih. Aku yakin padanya.

Dia? Dia hanya nelayan. Bisa apa dia? Ilmu tauratnya tidak cukup tinggi untuk memahami, apalagi mengajar.

Aku yang akan mengajarinya. Dia akan menjadi guru yang besar, menyerupai-Ku.

Dia keras kepala. Apakah orang seperti itu bisa diajari?

Tak ada yang mustahil bila Bapa menghendaki.

Sekeras apapun Kau mengajarinya, Kau hanya punya waktu tiga tahun. Kau tahu itu. Kau tak akan sempat….

Tiga tahun cukup. Bahkan hanya butuh tiga hari bagi Bapa untuk membangun Bait-Nya.

Imannya akan goyah!

Tetapi dia akan bangkit.

Dia akan tenggelam!

Dan Aku akan menariknya kembali.

Dia tak tahu apa-apa! Dia hanya tahu cara menjala ikan dan menebas pedang! DIA TAK PUNYA IMAN!

Anak Manusia terdiam. Anak Manusia bangkit dari duduknya, lalu berjalan ke arah pantai. Jauh di hadapannya, sang nelayan berlutut di dalam kapalnya dan berdoa. “Kau yang empunya kehidupan, ampunilah hamba-Mu yang berdosa ini.”

Aku tahu dia punya iman. Sedikit saja cukup.

Dia akan membuat banyak masalah untuk-Mu.

Tidak masalah.

Anak Manusia tetap berjalan. Ia semakin dekat dengan kapal yang sejak tadi Ia amati.

Dia lebih mencintai dirinya sendiri daripada-Mu.

Tetap Aku akan mencintainya.

Dia akan menyangka-Mu!

Aku tahu.

Tiga kali!

Aku tahu!

Dia akan meninggalkan-Mu!

Aku tak akan meninggalkannya.

Bahkan di saat terburuk-Mu! Di sakratul maut-Mu! Ujung derita-Mu! Dia akan berpaling dari-Mu!

Anak manusia sampai di kapal itu. Ia memanjat naik, lalu duduk di hadapan sang nelayan. Mata mereka beradu. Sang Anak Manusia, mengetahui segala kelemahan sang nelayan, hari itu memberikan kesempatan besar pada sang nelayan untuk merubah hidupnya selamanya. Sang nelayan, seorang pria biasa yang tidak layak mendapat penghargaan apapun, telah ditetapkan untuk berhenti menjala ikan, dan beralih menjala manusia.

“Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam.” Kata-Nya.

 

 

-Hi readers, sekarang MKM lagi keranjingan bikin cerpen. Ini sih hasil dari seminar2 yang MKM jalani beberapa minggu ini. semoga kalian suka.-