Prostitusi Terselubung

Hi readers, tahukah kalian bahwa setiap lokalisasi yang digusur tidak pernah benar-benar hilang. karena nomor pelacur langganan akan tetap ada di HP om-om yang membutuhkan. Mucikari tak pernah mati.

MKM adalah satu dari sedikit orang yang berani bilang kalau prostitusi ini harusnya dilegalkan. Alasannya sederhana, karena setiap hari pun kita melakukan prostitusi terselubung dan tidak ada masalah. Ya kita sebenernya cuma kebentur norma lingkungan aja “oh, sex itu tabu.” tapi di belakang masyarakat kita main gila.

Prostitusi itu budaya. Kenapa di acara dangdut hampir selalu ada saweran? semakin banyak uang yang terbang, semakin liar si biduannya goyang. Isyana ini untung bodynya biasa aja, akhirnya dia ambil jalur pop. Coba kalo bodynya bohai ke mana-mana, udah dangdut dia. Jujur saja, saweran adalah prostitusi terselubung yang kita biarkan ada karena sesuai dengan budaya kita.

di sosial media, saweran juga ada. Ngasih gift di bigo adalah bentuk saweran digital. tapi banyak biduan-biduan di instagram yang bahkan sawerannya gak perlu buang duit, cukup like. Like jadi sebuah kebutuhan sehingga gak banyak cewe-cewe di instagram gak masalah pamer badan.

pertanyaannya, bener gak sih ini?

MKM gak judge orang-orang yang suka pamer badan dan pamer bikini di instagram, itu hak kalian. Yang mau MKM pertanyakan di sini adalah apakah kita cukup dewasa untuk mengakui bahwa prostitusi adalah bagian dari kultur kita? atau kita mau tetap pura-pura munafik anti prostitusi padahal nyimpen film bokep?

Mungkin prostitusi adalah kata yang konotasinya jahat. seakan-akan setiap wanita adalah bahan lacur bagi pria. Walaupun benar, tak ada pria yang tak bahagia lihat wanita cantik berbadan bagus.

kalian para penyanyi dangdut, para wanita endors kosmetik dan bikini di instagram, dan para pelacur, kalian tak perlu merefleksikan diri (untuk sekarang). Kini, MKM mau mengajak setiap pria yang menyawer wanita-wanita ini dengan uang ataupun like untuk berpikir: “Untuk apa kalian melakukan itu?” “Sudahkah kalian menghargai mereka sebagai seorang wanita?”

Hadiah terbesar yang harusnya diberikan pada wanita bukanlah sebuah pernikahan, melainkan emansipasi, sebuah penghargaan bahwa wanita juga punya harga dan martabat yang sama seperti pria, bukan hanya jajanan mata.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s