Joyful Catholic – Mencintai lebih penting daripada sekedar Beragama

Hi readers. Buat kalian yang gemar nonton stand up comedy, minggu ini setidaknya ada tiga pertunjukan stand up comedy yang keren yang menjadi tonggak sejarah stand up comedy. Pertama adalah Final Setengah Jalan Tour by Ernest Prakasa di Jakarta, yang merupakan stand up tour paling kontroversial karena sang Ernest Prakasa ditolak di beberapa kota karena kasus penistaan agama. Lalu ada Gasgasan oleh Wawan Saktiawan di Malang yang bisa meraih jumlah penonton hingga 4100 penonton lebih. Dan yang terakhir, Joyful Catholic oleh Yudhit Ciphardian yang merupakan stand up comedy show pertama di Indonesia yang bertema Katolik. Kali ini, MKM akan kasih review tentang Joyful Catholic.

18222192_10155261586104817_30471806258386769_n

Joyful Catholic ini diselenggarakan pada 13 Mei 2017 di Universitas Katolik Widya Mandala, Surabaya. Acara ini ada karena dua hal: pertama, memberikan panggung bagi UKM Stand Up Comedy dari Universitas Katolik Widya Mandala; kedua sesuai dengan take linenya yaitu “beragama dengan sukacita, tidak dengan marah-marah” keresahan Mas Yudhit terhadap kasus Ahok adalah pendorong utama stand up comedy show ini.

Sebelum MKM ngomongin Mas Yudhit, MKM akan ngomongin tentang enam opener dari UKWM dan satu dari Stand Up Indo Surabaya. Well, setiap opener punya potensi luar biasa untuk menjadi lucu, sayangnya beberapa dari mereka butuh bimbingan dan pengalaman yang lebih sebelum mampu menghibur orang secara penuh. Dan sayangnya, tidak ada satu pun dari opener yang membawakan materi sesuai dengan tema. Walaupun akhirnya terobati oleh ocehan Mas Yudhit di akhir, tapi sebenarnya MKM masih penasaran bagaimana sudut pandang mahasiswa-mahasiswa UKWM tentang kehidupan beragama mereka.

Kini MKM akan bahas tentang mas Yudhit. Buat kalian yang cuma tau Yudhit dari youtube, MKM berani bilang kalau kalian belum lihat Mas Yudhit yang sebenarnya. Mas Yudhit di show ini sama sekali berbeda dengan Mas Yudhit sewaktu di SUCI. Di Joyful Catholic, materi yang dibawakan Mas Yudhit jauh lebih jujur dan deliverynya juga tidak begitu deadpan seperti waktu di SUCI Kompas TV.

Dalam sekitar hampir satu jam performance Mas Yudhit, materi Mas Yudhit bisa dirangkum dalam 3 bagian. Bagian pertama adalah materinya sehubungan dengan penyakit jantung yang dideritanya. Bagian kedua adalah materinya tentang orang katolik dan dia sebagai orang katolik. Bagian ketiga adalah materinya tentang kasus Ahok.

Pada bagian pertama, Mas Yudhit berhasil membuat penonton tertawa di atas penderitaannya yang hampir meninggal karena penyakit jantung. Menulis materi seperti ini menurut MKM tidaklah mudah dan beresiko, karena yang dibahas adalah sebuah tragedi dan komika berusaha mengajak penonton mentertawakan ironi di dalamnya. Salah satu komika yang selalu menggunakan pola seperti ini adalah Dani Aditya (juara 4 SUCI 4 yang cacat fisik). Bentuk komedi yang dark seperti ini biasanya diletakkan komika-komika lain di tengah show karena beresiko, namun Mas Yudhit berani meletakkannya sebagai pembuka dan tetap lucu.

Materi yang dibawakan Mas Yudhit pada bagian kedua secara penulisan sangat rapi. Tampak sekali materi ini bukan materi yang benar-benar baru. Cara penggalian materi Mas Yudhit berbeda sekali dengan Aldes (salah satu pemeran di Cek Toko Sebelah) yang kebanyakan menggunakan Yesus, Bunda Maria, dan Tuhan sebagai bahan bercandaan. Mas Yudhit sama sekali tidak menggunakan keanehan-keanehan pada Yesus, melainkan yang ia kritisi adalah kelakuan-kelakuan umat Katolik. Mas Yudhit membahas tingkah aneh mereka seperti yang ke gereja cuma natal-paskah, yang main HP di gereja, dan yang tidak tahu ajaran agama katolik sendiri.

Satu hal yang baik ditekankan oleh Mas Yudhit di bagian kedua, “Saya ini orang Katolik yang biasa-biasa saja.” Hal ini membuat Mas Yudhit dan penonton bisa merasa sama berdosanya sehingga Mas Yudhit tidak di posisi menggurui, melainkan hanya berpendapat, yang mana metode ini sangat berhasil. Selain itu, kalimat ini juga mau menekankan tema sekali lagi, “beragamalah dengan sukacita, tidak perlu terlalu ekstrim.”

Bagian kedua ini adalah bagian terlucu buat MKM. Namun sangat beresiko jika materi di bagian kedua ini dibawakan ke panggung yang sedikit orang katolik yang nonton. Referensi yang digunakan Mas Yudhit begitu dekat dengan orang katolik sendiri. Mungkin, bila Mas Yudhit mau membawakan materi ini ke luar, Mas Yudhit harus menjelaskan dengan ekstra.

Mas Yudhit menutup show ini dengan pembahasan tentang Ahok. Buat Mas Yudhit, Ahok bukanlah penista agama. Untuk membantunya menjelaskan tentang kesalahan umat beragama di Indonesia, Mas Yudhit menggunakan pembagian beragama yang ia peroleh dari Presiden ke empat Indonesia, Gus Dur. Ada 4 level beragama: beragama, beriman, spiritualitas, cinta pada kemanusiaan. Mas Yudhit mengarahkan penonton untuk meraih tingkatan terakhir yaitu cinta pada kemanusiaan, yaitu di mana kita tak lagi peduli pada agama seseorang namun mau mengasihi siapapun.

Bagian ketiga ini secara LPM (Laugh Per Minute) sungguh rendah. Namun pembahasannya tentang Ahok sungguh detil dan logis sehingga penonton tetap mau mendengarkan. Satu kalimat yang menjadi kunci pembahasan Mas Yudhit tentang Ahok: “Ahok itu cangkeme bosok (mulutnya busuk), tapi dia orang baik.” Walaupun tidak begitu menuai tawa, agaknya bagian ini cukup menegur penonton tentang apa yang harus mereka lakukan ke depannya.

Buat MKM sendiri, show ini menegur MKM dalam banyak hal. Pertama, sebagai komika yang ingin berkarya, penting sekali untuk nekad mengadakan panggung sendiri sebagai batu loncatan dan mencari pasar baru. Mas Yudhit berniat merengkuh pasar orang-orang katolik. Hal serupa sudah dilakukan juga oleh Firman Singa, yang tahun lalu membuat Stand Up Comedy Show featuring Begundal Lowokwaru yang adalah band punk.

Hal kedua yang jauh lebih penting, Mas Yudhit membuat MKM dan penonton yang lain berkaca melalui Ahok. Ahok adalah pribadi yang baik dan patut dibela. Namun, momen dipenjaranya Ahok harusnya bisa menjadi titik balik setiap dari kita untuk berani melawan. Apa yang dilawan? Kebencian. Indonesia sedang dipenuhi oleh kebencian, dan sekali lagi untuk mampu mengalahkan kebencian, kita harus mampu mencintai. Yesus juga mengajarkan untuk mengasihi siapapun, termasuk musuhmu.

Beranikah kalian pendukung Ahok, mengasihi, mengampuni orang-orang yang membenci Ahok dan membuat Ahok dipenjara? Beranikah kalian menjadi Ahok-Ahok selanjutnya? Makanya, kalo kalian beragama, gak perlu beragama sambil marah-marah. Tuhan gak suka, orang-orang di sekelilingmu juga gak suka.

Sukses terus buat Mas Yudhit, Stand Up Indo Surabaya, dan semua penggiat Stand Up Comedy terutama yang mau berjuang buat kemajuan Indonesia

IMG_8046

Advertisements

Tags: , ,

10 responses to “Joyful Catholic – Mencintai lebih penting daripada sekedar Beragama”

  1. joshuarezkiel says :

    Well done! Extremely systematic in writing and I got all the points clearly!
    👍👍👍

  2. kunudhani says :

    Sukanya sm panji sih jd gk trlalu ngikutiin yg laain

  3. Subadra says :

    Hai kak MKM…. salam kenal, saya ini bukan pembenci ahok tapi bukan juga pembelanya, saya mu numpanh sharing aja sih terkait kasus ahok seperti yg sudah dibahas dalam tulisan ini. Saya mencoba memandang kasus ahok ini dari perspektif saya. Benar, ahok adalah orang baik, tapi bukankah dia juga bersalah karena berani menyinggung umat beragama lain? Dan masalahnya yg dia bawa2 adalah kitab suci dari agama tersebut. Benar, mari beragama dengan sukacita, bukankah setiap agama tidak mengajarkan saling mencela?

    • aditmkm says :

      to be honest, MKM senang ada orang yang nyalahin Ahok dan mau sharing di blog ini.. Buat MKM mau Ahok menista agama atau gak, udah bukan waktunya lagi Ahok diomongin soalnya dia udah lewatin sidangnya dan udah masuk penjara.

      Ahok bersalah, iya. Ahok clearly bukan Tuhan yang ga punya dosa. MKM yakin orang kayak Ahok kalo kejebak macet juga bakalan bilang “Anjing!”

      Tapi yaudah la ya. Dia udah dipenjarain ini. coba menuntut keadilan buat orang yang belum masuk penjara. Habib Rizieq misalnya, dia juga itungannya menista agama. Well, tergantung putusan hakim sih, bukan tergantung pendapat MKM. tapi gimana mau kebukti Habib bersalah ato gak kalo dia gak dateng sidang mulu?

      sebenernya sih MKM males ngobrolin ini. toh MKM gak punya kuasa juga buat ngapa-ngapain. MKM cuma bisa berharap kasus Ahok ini cepat berlalu, terus kita bisa fokus menyelamatkan umat manusia dari kepunahan. (dan kebodohan)

      • Subadra says :

        Terima kasih MKM sudah menanggapi. Meskipun ga sepenuhnya sejalan dengan pendapat MKM ini, secara umun saya suka dengan tulisan2 anda. Once more, thank you ☺

      • aditmkm says :

        coba kita semua yang ga sependapat bisa ngobrol enak begini yak…

      • Subadra says :

        Harusnya bisa ya?
        Wong berbeda pendapat itu wajar 😶

  4. aditmkm says :

    terharu :,(

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: