Archive | May 2017

Pentol Korea

Hi readers, sampe sekarang Habib Rizieq belum diadili. Tapi menurut MKM, itu gak urgent. Yang urgent adalah mengadili pembuat Pentol Korea. Di Malang ada jajanan baru bernama Pentol Korea. Pentol ini kenapa harus namanya Pentol Korea? Apakah saat beli, kita harus panggil mamangnya tidak lagi dengan “bang”, “mas”, atau “lek”, tapi dengan panggilan “oppa”

“Oppa! Beli Pentol Oppa! Banyakin micinnya oppa!”

Sungguh tidak pantas penjual pentol dipanggil Oppa. Tapi jika benar ada pentol di Korea, maka memanggil penjual pentol di korea dengan panggilan Oppa jadi sah-sah saja. memanggil oppa tidak cocok karena dia orang Indonesia.

Sama halnya orang Kristen tidak cocok masuk surga secara hukum islam. Orang Islam juga tidak cocok masuk surga menurut ajaran Kristen. Mungkin memang tidak ada orang yang cocok masuk surga. Kalau semua orang merasa dirinya tidak cocok masuk surga, mungkin kita tak perlu bertengkar dan saling melabeli kafir, karena kita sadar kalau kita semua dibenci Tuhan.

Orang-orang lebih cocok masuk distro baju daripada masuk surga. Agaknya orang-orang lebih sering menganggap agama itu baju yang kita pakai buat ke surga. Padahal pertama kali manusia dibikin, manusia gak pake baju apa-apa. Manusia juga gak beragama apa-apa.

Upil melekat lebih dulu pada diri manusia daripada agama. Upil jadi bagian proses bernafas. Agama harusnya juga jadi semangat dan nafas hidup manusia. lalu ingat, kalau hidung sudah penuh upil, buang upilnya. kalau kamu penuh dengan agama, jangan salahkan MKM kalau hidupmu sesak dan tak bisa bernafas.

terserah kalian mau bagaimana dengan agama kalian. MKM sih mau memberi porsi agama pada MKM secukupnya.

Tapi MKM juga bukan orang toleran. Level toleran tertinggi adalah ketika kamu membiarkan anakmu memilih agamanya sendiri. Jika kamu mampu hidup dengan kondisi anakmu berbeda agama dengan kamu, yang mana kayaknya setiap agama mengajarkan bahwa anak harus diarahkan ikut agama orang tua, baru kamu benar-benar toleran.

Tapi kalo orang tuanya bisa mengamalkan ajaran agamanya dengan baik dan jadi berkat buat anaknya, kayaknya si anak gak punya alasan buat cari agama lain.

kalo baca ini, jadi toleran rasanya salah secara agama. Ya udah. anggap saja toleran adalah salah satu kesalahan dalam hidup kita yang kita perbuat. Nanti dicatat malaikat bareng: iri, dengki, benci, marah, malas, nafsu, dan serakah. Ah nambah satu ini kayaknya hidup MKM gak akan lebih baik atau lebih buruk.

Maka MKM memutuskan untuk tetap membeli Pentol Korea tersebut. Memberi nama adalah kreatifitas dari penjual. Jika tak bisa apresiasi, setidaknya toleransi. Selama ini MKM diam saja ketika ada Malang Strudel, padahal Strudel bukan dari malang. Lalu kenapa MKM harus sewot sama Pentol Korea?

Joyful Catholic – Mencintai lebih penting daripada sekedar Beragama

Hi readers. Buat kalian yang gemar nonton stand up comedy, minggu ini setidaknya ada tiga pertunjukan stand up comedy yang keren yang menjadi tonggak sejarah stand up comedy. Pertama adalah Final Setengah Jalan Tour by Ernest Prakasa di Jakarta, yang merupakan stand up tour paling kontroversial karena sang Ernest Prakasa ditolak di beberapa kota karena kasus penistaan agama. Lalu ada Gasgasan oleh Wawan Saktiawan di Malang yang bisa meraih jumlah penonton hingga 4100 penonton lebih. Dan yang terakhir, Joyful Catholic oleh Yudhit Ciphardian yang merupakan stand up comedy show pertama di Indonesia yang bertema Katolik. Kali ini, MKM akan kasih review tentang Joyful Catholic.

18222192_10155261586104817_30471806258386769_n

Joyful Catholic ini diselenggarakan pada 13 Mei 2017 di Universitas Katolik Widya Mandala, Surabaya. Acara ini ada karena dua hal: pertama, memberikan panggung bagi UKM Stand Up Comedy dari Universitas Katolik Widya Mandala; kedua sesuai dengan take linenya yaitu “beragama dengan sukacita, tidak dengan marah-marah” keresahan Mas Yudhit terhadap kasus Ahok adalah pendorong utama stand up comedy show ini.

Sebelum MKM ngomongin Mas Yudhit, MKM akan ngomongin tentang enam opener dari UKWM dan satu dari Stand Up Indo Surabaya. Well, setiap opener punya potensi luar biasa untuk menjadi lucu, sayangnya beberapa dari mereka butuh bimbingan dan pengalaman yang lebih sebelum mampu menghibur orang secara penuh. Dan sayangnya, tidak ada satu pun dari opener yang membawakan materi sesuai dengan tema. Walaupun akhirnya terobati oleh ocehan Mas Yudhit di akhir, tapi sebenarnya MKM masih penasaran bagaimana sudut pandang mahasiswa-mahasiswa UKWM tentang kehidupan beragama mereka.

Kini MKM akan bahas tentang mas Yudhit. Buat kalian yang cuma tau Yudhit dari youtube, MKM berani bilang kalau kalian belum lihat Mas Yudhit yang sebenarnya. Mas Yudhit di show ini sama sekali berbeda dengan Mas Yudhit sewaktu di SUCI. Di Joyful Catholic, materi yang dibawakan Mas Yudhit jauh lebih jujur dan deliverynya juga tidak begitu deadpan seperti waktu di SUCI Kompas TV.

Dalam sekitar hampir satu jam performance Mas Yudhit, materi Mas Yudhit bisa dirangkum dalam 3 bagian. Bagian pertama adalah materinya sehubungan dengan penyakit jantung yang dideritanya. Bagian kedua adalah materinya tentang orang katolik dan dia sebagai orang katolik. Bagian ketiga adalah materinya tentang kasus Ahok.

Pada bagian pertama, Mas Yudhit berhasil membuat penonton tertawa di atas penderitaannya yang hampir meninggal karena penyakit jantung. Menulis materi seperti ini menurut MKM tidaklah mudah dan beresiko, karena yang dibahas adalah sebuah tragedi dan komika berusaha mengajak penonton mentertawakan ironi di dalamnya. Salah satu komika yang selalu menggunakan pola seperti ini adalah Dani Aditya (juara 4 SUCI 4 yang cacat fisik). Bentuk komedi yang dark seperti ini biasanya diletakkan komika-komika lain di tengah show karena beresiko, namun Mas Yudhit berani meletakkannya sebagai pembuka dan tetap lucu.

Materi yang dibawakan Mas Yudhit pada bagian kedua secara penulisan sangat rapi. Tampak sekali materi ini bukan materi yang benar-benar baru. Cara penggalian materi Mas Yudhit berbeda sekali dengan Aldes (salah satu pemeran di Cek Toko Sebelah) yang kebanyakan menggunakan Yesus, Bunda Maria, dan Tuhan sebagai bahan bercandaan. Mas Yudhit sama sekali tidak menggunakan keanehan-keanehan pada Yesus, melainkan yang ia kritisi adalah kelakuan-kelakuan umat Katolik. Mas Yudhit membahas tingkah aneh mereka seperti yang ke gereja cuma natal-paskah, yang main HP di gereja, dan yang tidak tahu ajaran agama katolik sendiri.

Satu hal yang baik ditekankan oleh Mas Yudhit di bagian kedua, “Saya ini orang Katolik yang biasa-biasa saja.” Hal ini membuat Mas Yudhit dan penonton bisa merasa sama berdosanya sehingga Mas Yudhit tidak di posisi menggurui, melainkan hanya berpendapat, yang mana metode ini sangat berhasil. Selain itu, kalimat ini juga mau menekankan tema sekali lagi, “beragamalah dengan sukacita, tidak perlu terlalu ekstrim.”

Bagian kedua ini adalah bagian terlucu buat MKM. Namun sangat beresiko jika materi di bagian kedua ini dibawakan ke panggung yang sedikit orang katolik yang nonton. Referensi yang digunakan Mas Yudhit begitu dekat dengan orang katolik sendiri. Mungkin, bila Mas Yudhit mau membawakan materi ini ke luar, Mas Yudhit harus menjelaskan dengan ekstra.

Mas Yudhit menutup show ini dengan pembahasan tentang Ahok. Buat Mas Yudhit, Ahok bukanlah penista agama. Untuk membantunya menjelaskan tentang kesalahan umat beragama di Indonesia, Mas Yudhit menggunakan pembagian beragama yang ia peroleh dari Presiden ke empat Indonesia, Gus Dur. Ada 4 level beragama: beragama, beriman, spiritualitas, cinta pada kemanusiaan. Mas Yudhit mengarahkan penonton untuk meraih tingkatan terakhir yaitu cinta pada kemanusiaan, yaitu di mana kita tak lagi peduli pada agama seseorang namun mau mengasihi siapapun.

Bagian ketiga ini secara LPM (Laugh Per Minute) sungguh rendah. Namun pembahasannya tentang Ahok sungguh detil dan logis sehingga penonton tetap mau mendengarkan. Satu kalimat yang menjadi kunci pembahasan Mas Yudhit tentang Ahok: “Ahok itu cangkeme bosok (mulutnya busuk), tapi dia orang baik.” Walaupun tidak begitu menuai tawa, agaknya bagian ini cukup menegur penonton tentang apa yang harus mereka lakukan ke depannya.

Buat MKM sendiri, show ini menegur MKM dalam banyak hal. Pertama, sebagai komika yang ingin berkarya, penting sekali untuk nekad mengadakan panggung sendiri sebagai batu loncatan dan mencari pasar baru. Mas Yudhit berniat merengkuh pasar orang-orang katolik. Hal serupa sudah dilakukan juga oleh Firman Singa, yang tahun lalu membuat Stand Up Comedy Show featuring Begundal Lowokwaru yang adalah band punk.

Hal kedua yang jauh lebih penting, Mas Yudhit membuat MKM dan penonton yang lain berkaca melalui Ahok. Ahok adalah pribadi yang baik dan patut dibela. Namun, momen dipenjaranya Ahok harusnya bisa menjadi titik balik setiap dari kita untuk berani melawan. Apa yang dilawan? Kebencian. Indonesia sedang dipenuhi oleh kebencian, dan sekali lagi untuk mampu mengalahkan kebencian, kita harus mampu mencintai. Yesus juga mengajarkan untuk mengasihi siapapun, termasuk musuhmu.

Beranikah kalian pendukung Ahok, mengasihi, mengampuni orang-orang yang membenci Ahok dan membuat Ahok dipenjara? Beranikah kalian menjadi Ahok-Ahok selanjutnya? Makanya, kalo kalian beragama, gak perlu beragama sambil marah-marah. Tuhan gak suka, orang-orang di sekelilingmu juga gak suka.

Sukses terus buat Mas Yudhit, Stand Up Indo Surabaya, dan semua penggiat Stand Up Comedy terutama yang mau berjuang buat kemajuan Indonesia

IMG_8046

Cerpen: Ibu

Ben menekan handphone-nya dengan geram. Ia sungguh marah pada ayahnya. Ibunya, yang selama ini ia puja sebagai penyelamat, teladan, dan inspirasi, yang selalu diceritakan sang Ayah telah meninggal saat melahirkan Ben, rupanya masih hidup. Baru saja Ben tak sengaja bertemu dengan seorang wanita yang secara fisik dan sejarah, mirip dengan ibunya.

Telepon tersambung “Daddy! Jawab! Jelaskan! Ben baru aja bertemu… orang yang… mirip… bukan.. Ben baru aja bertemu.. Mommy! Mommy? Mommy Sheila yang selalu Daddy ceritakan! Kog bisa…” Ia secara tak tenang mondar-mandir di kamar kosnya. Air mata keluar membasahi pipi Ben. Akhirnya ia terduduk di kasurnya.

Sang Ayah di ujung sana juga menangis, “Jadi kamu bertemu Sheila? Apa kabar dia? Sehat?”

“Siapa dia, Daddy?”

Di dalam rumah, sang Ayah mencoba meraih satu pigura kecil di atas meja yang berisi foto Sheila, wanita yang mereka permasalahkan. Ia duduk lalu berkata pada anaknya di telepon, “Dia… Ah. Daddy tidak ingin membicarakannya di telepon. Kita bicarakan minggu depan aja waktu kamu pulang, ya?”

Ben semakin marah. Ia membentak ayahnya, “Tidak Daddy! Jelaskan sekarang! Ben marah!”

“Ya udah. Ben. Daddy cerita, tapi Ben harus siap terima kenyataannya ya.”

Ben diam saja. Menunggu pertanyaannya dijawab.

Daddy sebenarnya mau nunggu Ben sudah lebih dewasa. Tapi karena sudah ketahuan, ya apa boleh buat. So, Ben, you were adopted.

Ben yang semula duduk, kini membaringkan tubuhnya di kasur sambil tetap menempelkan handphonenya ke telinga. “I was adopted?” tanya Ben pada suara ayahnya yang semakin mengecil karena rasa bersalah.

“Ya. Daddy ambil kamu dari panti asuhan. Tidak ada yang tahu siapa dan di mana orang tua kamu yang asli. Pertama kali Daddy lihat bayi kamu…..”

“Tapi Daddy,” Ben menyela “Siapa Sheila?”

I am sorry. Tapi dia bukan mommy kamu.”

Kata-kata itu begitu menusuk Ben. Sejenak ia meletakkan handphonenya di samping kepalanya. Ia menangis. Segera ia mencerna semua yang terjadi lalu mengusap air matanya.

Bagi Ben, sosok Sheila adalah segalanya. Cerita-cerita tentang Sheila yang sering dicerittakan oleh ayahnya adalah inspirasi untuk Ben. Cerita favorit Ben adalah ketika Sheila memilih untuk meninggalkan keluarga demi meneruskan studinya ke luar negeri.

Kini terbayang di kepala Ben, sang ayah di rumahnya yang sederhana, yang penuh dengan foto Sheila di tembok-temboknya. Ben mengambil handphonenya lalu bertanya, “Daddy, daddy, jadi Sheila tidak pernah jadi bagian keluarga kita?”

Sang Ayah segera menjawab, “Waktu daddy mengadopsi kamu. daddy sadar kamu butuh figur seorang ibu. Daddy tidak punya istri. Tapi daddy tahu satu orang wanita yang bisa kamu idolakan….”

Lagi-lagi Ben menyela, “Tapi semua itu bohong!”

“Satu-satunya kebohongan adalah bahwa dia mommy kamu! Semua cerita daddy tentang perjuangan hidup Sheila adalah kenyataan!” Jawab sang Ayah.

“Lalu Sheila ini siapa?”

“Sheila adalah……” Sang Ayah terdiam sejenak lalu mengurangi volume bicaranya. “Sheila adalah wanita yang daddy sayangi”

Ben menjadi lebih geram dari sebelumnya. “Haruskah Daddy melakukan kebohongan ini? Apakah daddy mengerti perasaan Ben? Ben yang selama sembilan belas tahun hidup selalu mendambakan sosok mommy. Ben yang hidup dari percaya bahwa ada mommy yang mendoakan Ben dari surga. Ben yang kini harus menghadapi kenyataan bahwa mommy Sheila masih hidup, dan ternyata bukan mommy-nya Ben sama sekali, karena semuanya hanyalah imajinasi fiktif dari…”

“Itu bukan fiktif!”

Daddy egois! Kalau daddy pikir ini semua karena daddy sayang sama Sheila, daddy salah. Daddy cuma kesal karena tidak bisa mendapatkan Sheila, lalu menjadikan Ben yang tidak tahu apa-apa untuk hidup dalam ilusi daddy bahwa daddy bisa menikah sama Sheila!”

“Sudah daddy bilang! Ini bukan demi daddy, tapi demi kamu! Daddy ingin kamu punya orang tua yang bisa kamu idolakan. Daddy sadar, daddy ini cuma laki-laki sampah yang tidak bisa dibanggakan. Daddy…

Enough Dad! Ben tidak pernah menganggap daddy sampah. Sebelum hari ini, Ben selalu bangga sama daddy. Tapi…”

Kedua orang itu menangis di tempat yang berbeda. Wajah Ben sudah memerah dipenuhi air mata kemarahan dan kebingungan. Sedangkan sang Ayah terduduk di kursi sambil memegangi kepalanya.

Ben berkata, “I hate you, dad.” Lalu sambungan telepon terputus.

Sang ayah membanting pigura berisi foto Sheila ke tembok. Pigura itu pecah. Bantingan itu menyebabkan cat tembok itu terkelupas sedikit. Di atas bekas bantingan itu, tergantung foto ukuran jumbo, Ben dan sang Ayah.

Sedangkan Ben di kamarnya sedang melihat daftar kontak di handphone-nya. Sambil menahan amarah, dilihatnya satu nama pada daftar kontak itu:

Sheila

Sejenak Ben terpikir untuk menelepon wanita itu. Namun belum sempat ia menekan tombol “panggil”, Ben memilih untuk mematikan handphone-nya dan tidur.