Dilema Captain America

Hi readers, bentar lagi Pilkada. Sebenernya MKM males sih ngurusin Ahok dan lain-lain. MKM jujur gak peduli sama siapapun yang terpilih. Tapi sejak ada berita bahwa kalo Agus kalah, dia bakal jadi calon Gubernur Jawa Timur, MKM tahu ini harus berakhir gimana. Jadikan Ahok Gubernur DKI. Kembalikan Anies jadi Menteri Pendidikan. Kirim Agus ke Jawa Timur, biar dibully kami.

Alasan utama MKM males ngomongin pilkada sebenernya karena MKM gak suka sama pendukungnya Ahok. Soalnya pendukung Ahok sekarang kayak yakin banget kalau Ahok itu orang baik. Sadar atau enggak, Ahok udah jadi semacam nabi di banyak Gereja. Padahal Ahok juga manusia biasa. Dia juga bikin dosa. Kita aja gak tau dosanya apa.

Nah. MKM punya teori yang namanya Captain America Dilema. Orang akan selalu membenarkan apapun yang dilakukan Captain America. Seenggaknya itu terbukti di Captain America 1, 2, Avengers 1, 2, dan Civil War. MKM gak bahas Captain America di tempat lain, karena MKM gak nonton TV series marvel ataupun baca komik marvel.

Mari kita mulai dari Captain America 1, The First Avengers. Di sini dijelaskan bahwa Steve Rogers (Capt) adalah orang yang super baik. Ketika dia udah berhasil nangkep ilmuwan Hydra, dia cuma interogasi, gak dibunuh. padahal Captain America punya semua alasan untuk bunuh dia. Dia Hydra. Dia bunuh sahabatnya (Bucky). Dan kita menerima keputusan Captain America untuk tidak membunuhnya dengan “Captain America memang baik dan keputusannya tepat.”

Bayangkan jika sebaliknya yang terjadi. Captain America bunuh si ilmuwan. Kita tak akan menyalahkan Captain America. Sebelumnya pun kita tak menyalahkan Captain America yang nembakin banyak Hydra, kenapa kita harus salahkan yang satu ini? Hydra itu organisasi yang loyalitasnya gak bisa dibeli. Yakin kalo orang ini dilepas, dia gak balik lagi ke Hydra? Intinya, kita buta dengan hal-hal ini. Kita gak lagi menilai Captain America secara objektif. Kita menilai dia berdasarkan asumsi pertama bahwa Steve Rogers adalah orang yang super baik.

Itulah yang terjadi pada Ahok. Kita yakin banget kalau Ahok gak akan korupsi. Ya bagus kalau emang gak korupsi. tapi kalau nanti dia korupsi? Atau mungkin dia gak korupsi, tapi kalau ternyata dia punya maksud jahat lain? gimana kalau ternyata Ahok adalah anggota Hydra dan akan segera memusnahkan kita waktu dia punya kuasa? kita gak tau, karena kita terlalu percaya sama Ahok.

Sama seperti kita terlalu percaya sama Jokowi. Ayolah. Berapa banyak keputusan Jokowi yang sudah jelas-jelas dibuat untuk kepentingan politik dan partai, tapi kita tutupi dengan “Itu keputusan yang tepat”? Intinya. walaupun kita tau dia orang baik, kita gak boleh begitu aja percaya.

Contohlah Batman. Justice League adalah kumpulan orang-orang baik. Tapi Batman punya rencana untuk membunuh orang yang ada di Justice League bila nanti orang itu berbuat jahat. Semua orang termasuk dirinya sendiri. Batman tahu bahwa tidak ada manusia yang benar-benar baik. Superman di Injustice adalah buktinya. Begitu Louis Lane dibunuh, Superman jadi jahat.

Gimana kalau nanti FPI atau siapapun musuhnya Ahok berhasil bunuh istri Ahok trus Ahok jadi jahat? Kalian sekarang pasti bilang, “gak mungkin, Ahok imannya kuat. gak mungkin jahat.” Naif!

Curigalah pada Ahok. walaupun dia sudah berbuat yang benar, tetaplah curiga.

Hail Hydra!

captain-america-hydra-jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s