M.H. Thamrin

Nama yang satu ini berkesan banget buat MKM. Setidaknya untuk tiga tahun, jika ditanya alamat, nama ini yang MKM tulis. MKM baru tahu kalau beliau adalah pejuang kemerdekaan yang sangat dekat dengan rakyat walaupun dia sendiri memiliki darah Belanda. Tapi honestly, seberapa peduli kalian sama nama jalan yang sering kalian lewati. Bahkan mungkin kalian gak tau itu siapa.

MKM pernah tahu ada sekolah Katolik yang terletak di Jalan Ahmad Dahlan. Padahal Ahmad Dahlan adalah salah satu tokoh pembesar Islam di Indonesia. Tapi jarang orang yang peduli hal ini. Kerukunan antar umat beragama akhirnya hanya sebatas jalan, bangunan, dan prasasti yang tak terealisasi.

Jujur deh, seberapa sih kita mengenang, kagum sama pahlawan kemerdekaan? MKM dan pacar MKM adalah fans berat Serial Supernatural. Namun kami tidak menganggap Castiel keren. Castiel memang keren, tapi kalah keren dengan Jendral Soedirman. Jas Panjang Jendral Soedirman lebih epic daripada Jas panjang Castiel.

Rupanya gejala yang sama ada di umat Katolik. Nama orang Katolik itu pasti diawali dengan nama Babtis. Orang pikir itu cuma nama random yang pokoknya diakhiri “us” seperti Fransiskus, Gregorius Maximus, atau Vincentius. Itu tidak random! Buktinya gak ada orang Katolik yang namanya Lactobacillus Protectus.

Jarang ada orang Katolik yang ngerti apa arti nama babtisnya. Kenapa? Mungkin karena orang mulai berhenti untuk bertanya. Orang tidak mau tahu. Orang hanya mau tahu apa yang menguntungkan bagi mereka. Bagi mereka, nama pahlawan, nama babtis, dan nama jajaran Menteri tidak sepenting nama orang yang menyakiti mereka.

Orang yang benci Ahok bisa tau segala sepak terjangnya hingga merekam setiap kata-katanya. Begitu juga yang benci Buni Yani atau Ahmad Dhani. Kita mengenal yang kita benci, agar kita bisa tahu salahnya di mana. Rupanya kekuatan benci bisa membuat orang peduli.

Apa MKM juga perlu memprovokasi kalian untuk benci pada para pahlawan agar kita semua mau peduli pada para pahlawan. Mungkin setelah kita membenci mereka, baru kita bisa merayakan Upacara Bendera dengan benar, bukan secara terpaksa.

Ah, tapi bukankah kita sudah terlalu nyaman saling membenci?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: