Logika berbasis Bahasa Indonesia

Hi readers. MKM baru aja ikut bantu-bantu sebuah olimpiade matematika. Cuma bantu motret doang pake kamera orang. Bayarannya juga cuma nasi. Tapi gapapa. Yang penting hidup MKM berguna buat orang lain.

Di olimpiade itu ada sebuah perdebatan tentang sebuah soal matematika. Begini soalnya: Sebuah lomba lari diikuti 5 orang pelari, A, B, C, D, E. berapakah kemungkinan urutan finish ketika A tidak berada di posisi terdepan dan D tidak berada di posisi terbelakang?

Jadi kurang lebih cara menghitungnya adalah kemungkinan urutan semuanya dikurangi dengan kemungkinan prasyarat yang disebutkan. Kemungkinan kejadian seluruhnya adalah 5! = 120. Yang jadi masalah kemaren adalah prasyarat yang disebutkan. Begini, “kalau A di depan, tapi D nya di tengah-tengah, dihitung gak sih?” maka ada dua versi jawaban pertama, kalau dihitung, maka yang tidak boleh dihitung hanya yang ketika A di depan dan D di belakang. Tetapi kalau tidak dihitung, maka yang tidak boleh dihitung A di depan, D di manapun, sekaligus D di belakang, A di manapun. Yang mana dalam kejadian itu, ada A di depan dan D di belakang.

MKM berpihak di mana? Waktu pertama kali MKM baca soalnya, MKM udah yakin kalau A di depan, dan D di tengah-tengah juga gak boleh dihitung. Kenapa? Ya itu kesan pertama MKM. MKM sering baca bacaan Bahasa Indonesia dan itulah penafsiran pertama yang muncul di kepala MKM.

MKM gak akan menerangkan argumen jawaban yang satunya (karena bakal panjang) tapi MKM akan terangkan jawaban yang MKM yakin adalah jawaban yang benar.

Selain secara sastra kita akan menafsirkan seperti itu. Rupanya secara logika matematika, jawaban MKM juga benar. Mari kita ubah pernyataannya. Misalkan semua kejadian adalah S, kejadian A di depan adalah P, dan kejadian D di belakang adalah Q. maka soal kita kurang lebih secara matematika jawabannya seperti ini:

Syaratnya adalah: –P ^(dan) –Q

Menurut ekuivalensi logika matematika, persamaan di atas ekuivalen dengan: -(P v(atau) Q)

Nah, sekarang artinya jawabannya adalah kemungkinan semua kejadian dikurangi dengan kemungkinan terjadi P atau Q.

Di dalam logika matematika, atau memiliki sifat salah satu saja terpenuhi, maka benar. Jadi kalau A nya di depan tapi D nya di tengah, kejadian ini masih masuk kejadian prasyarat yang tidak boleh dihitung.

Maka soalnya juga bisa diterjemahkan seperti ini: berapa kemungkinan urutan finish tanpa menghitung kejadian A berada di paling depan atau D berada di paling belakang.

Salahnya di mana? Apakah soalnya? Atau yang ngoreksi? Atau muridnya yang bloon? Menurut MKM, semua balik lagi ke kurikulum. Salah satu kesalahan Indonesia (yang hopefully akan segera diperbaiki) adalah semua mata pelajaran berdiri sendiri. Kita gak pernah belajar logika matematika di Bahasa Indonesia saat bikin kalimat majemuk, atau sebaliknya, kita gak pernah belajar klausa saat belajar logika matematika. Well, akhirnya otak anak jadi terpecah-pecah. Pengetahuan yang ada di kepalanya tidak bisa holistik dan komprehensif.

Intinya, guru matematika gak boleh Cuma bisa matematika, guru Bahasa Indonesia juga kudu ngerti dikit-dikit fisika. Guru kimia harus paham sedikit tentang sejarah. Afterall, kalian mengharapkan murid kalian dapet bagus di semua mata pelajaran itu kan?

Semoga Pendidikan Indonesia getting better.

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: