Cerpen – Selingkuh Hati

Tidak ada yang bisa menutupi senyuman insan yang sedang jatuh cinta. Itulah mengapa Karina memilih untuk berhenti menutupi wajahnya dengan buku menu, lalu menunjukkan senyumannya pada pria itu. “Ini hanya ngobrol antar teman.” Katanya pada diri sendiri untuk menenangkan hatinya. Tidak ada hubungan yang khusus di antara mereka. Itulah yang diyakini Karina walaupun matanya berbinar ketika menatap pria itu. Andai Karina punya ekor, ia pasti sudah mengayunkan ekornya berkali-kali di setiap kata yang ia dengar.

“Rudy butuh tempat kos, aku bantu carikan, lalu ia membalasnya dengan traktir makan. Hanya itu.” Berulang kali itu yang ia ucapkan pada hati nuraninya. Walaupun secara sadar sebenarnya sudah sering Karina mencuri kesempatan untuk bisa bersama dengan Rudy selain hari ini.

Apakah ini selingkuh? Rudy baru beberapa bulan yang lalu bercerai. Sebuah kejadian yang sering dipertanyakan oleh Karina di kepalanya, “Mengapa ada wanita yang bisa meninggalkan Rudy yang sungguh sempurna ini?” Biasanya pertanyaan ini berlanjut pada pengandaian, “Harusnya aku yang kau nikahi pertama kali.” Sayangnya itu pun tidak mungkin terjadi. Jauh sebelum Karina bertemu dengan Rudy. Karina sudah mengikat janji dengan Hartono. Sebuah pernikahan yang agaknya ia sesali setiap hari, terutama saat bersama Rudy.

“Ini cuma selingkuh hati. Tak berujung ke mana-mana.” Itulah pembelaan terakhir Karina pada hati nuraninya. Setelah berdamai dengan hati nuraninya, Karina lanjut memilih makanan dari buku menu.

Rudy dengan suaranya yang berat layaknya lelaki yang kuat bertanya, “Jangan malu ya. Pesen aja. Aku yang bayar.”

“Aku sih gak pernah malu kalo dibayarin!” Karina meletakkan buku menunya. “Aku pesen yang porsinya keliatannya banyak.” Karina kini menjadi diri sendiri. Tak seperti ketika bersama dengan suaminya. Ia selalu menahan diri.

Rudy memanggil pelayan dan mulai memesan. Mereka berdua pun melanjutkan perbincangan seputar pekerjaan. Bagi Karina, apapun topiknya asalkan dengan Rudy, tidak akan jadi topik yang membosankan.

Pesanan mereka akhirnya datang. Salah satu yang dipesan Rudy adalah chocolate cake. Melihat chocolate cake yang ia pesan begitu menggoda, Rudy berkata, “Aku selalu suka cake dari sejak kecil.” Rudy memotong cake itu lalu memakannya satu gigitan. “Karina, bukankah suamimu juga bikin cake?

Karina terkejut. Bahkan di dalam benaknya sekarang, tidak ada bayangan tentang sang suami. “Dia memang kadang terima pesanan bikin kue dari tetangga.” Jawabnya.

Suami Karina tidak bisa dibandingkan dengan Rudy. Hartono tidak punya pekerjaan tetap. Kini ia hanya mengurus rumah sambil membantu tetangga mengerjakan apapun yang bisa ia kerjakan. Ia pria tipe pria pekerja keras, namun memang belum ada pekerjaan tetap yang ia miliki.

Rudy berkata lagi, “Dia tampaknya pria baik-baik. Kamu cinta sama dia?”

Karina sendiri kadang bingung dengan pernikahannya. Ia selalu tidak bisa menjawab pertanyaan “Kamu cinta sama Hartono?” dengan baik. Kewajiban seorang istri adalah menjawab ya. Tetapi sekujur tubuhnya tak bisa mengelak perasaannya yang begitu besar pada Rudy. “Kalau bukan cinta, lalu perasaanku ke Rudy ini apa?” “Apakah mungkin seseorang bisa mencintai dua orang yang berbeda?”

Karina yakin bahwa ia tidak lagi mencintai Hartono. Karina yakin bahwa hatinya sudah sepenuhnya dimiliki oleh Rudy. Ada suara dalam kepalanya yang selalu berseru, “Ceraikan saja Hartono!” Tetapi Karina tidak bisa menjadi sejahat itu.

“Iyalah! Gimanapun dia, dia suamiku!” Jawab Karina. Sekali lagi ia harus berbohong dalam menjawab pertanyaan itu. Baginya, berbohong ke orang lain tidak sesakit berbohong pada diri sendiri. Kini perasaan Karina tersayat.

Rudy meneguk minumannya lalu berkata, “Baik-baik ya sama dia. Jangan kayak aku.”

Karina membalas dengan sedikit kesal, “Kamu sendiri? Kamu cinta sama istrimu?”

Rudy tersenyum dan mengangguk.

Karina kembali menimpali, “Lalu kenapa kamu setuju dengan perceraian yang ia ajukan?”

Rudy menjawab, “Mencintai itu membuat orang lain bahagia. Kalau memang dia lebih bahagia bercerai, aku harus memberikannya.” Ia mendekatkan wajahnya sedikit. “Aku sakit hati, adalah harga yang mau kubayar untuk memberinya kebahagiaan, untuk mencintainya.”

Karina memakan nasi dan sayap ayam yang ada di hadapannya dengan tetap kesal. Setelah selesai menelan, Karina lanjut bertanya, “Memangnya, menurutmu cinta itu apa?”

Rudy mengiris cake yang ada di hadapannya sambil menerangkan pendapatnya tentang cinta. Begitulah obrolan fana mereka tentang cinta terhenti dan lanjut ke topik yang lain.

Karina sampai di rumahnya yang sederhana sekitar pukul 9 malam. Ia masuk dengan wajah yang sedih layaknya orang yang patah hati. Pemandangan rumah begitu kosong. Ia berseru, “Haarr…!”

Tak lama kemudian, Hartono keluar dari kamar, “Ssssttt….” Pria kurus itu mendekat, “Sophie lagi tidur. Kayaknya emang dia gak mau tidur kalau enggak sama mamanya. Kog baru pulang?”

“Ada rapat dadakan.” Karina berbohong lagi pada Hartono, entah sudah yang ke berapa.

“Ya udah. Makan deh, aku udah masakin. Aku mau cuci botolnya Sophie dulu.”

Karina terdiam sambil menatap suaminya. Di kepalanya segera terdengar kata-kata Rudy.

Apalah manusia ini sok ngomongin cinta.

Karina meletakkan tasnya di meja makan. Ia mendekat pada Hartono.

Kita sering lupa kalau cinta itu kata kerja. Cinta itu bukan sekedar perasaan atau pikiran.

Hartono sambil mencuci botol-botol bayi dengan air panas berkata, “Bu Ratih besok minta kebunnya diberesin. Kata beliau, perusahaan anaknya lagi mau buka cabang di sini. Siapa tahu aku bisa, ya kan?”

Itu artinya, orang yang kita cintai bukanlah orang yang kita pikirkan setiap hari.

Hartono menghadap Karina, “Aku mungkin bukan pria yang kamu harapkan. Tapi aku mau berusaha. Jadi tolong, jangan tinggalkan aku.”

Orang yang kita cintai adalah orang yang membuat kita mau merelakan segalanya dari kita hanya untuk membuatnya lega dan bahagia.

Karina tak membalasnya dengan kata-kata apapun. Karina mendekat dan mencium Hartono. Sebuah ciuman yang hangat dan lama, yang sudah lama tidak mereka lakukan.

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: