Archive | October 2016

Logika berbasis Bahasa Indonesia

Hi readers. MKM baru aja ikut bantu-bantu sebuah olimpiade matematika. Cuma bantu motret doang pake kamera orang. Bayarannya juga cuma nasi. Tapi gapapa. Yang penting hidup MKM berguna buat orang lain.

Di olimpiade itu ada sebuah perdebatan tentang sebuah soal matematika. Begini soalnya: Sebuah lomba lari diikuti 5 orang pelari, A, B, C, D, E. berapakah kemungkinan urutan finish ketika A tidak berada di posisi terdepan dan D tidak berada di posisi terbelakang?

Jadi kurang lebih cara menghitungnya adalah kemungkinan urutan semuanya dikurangi dengan kemungkinan prasyarat yang disebutkan. Kemungkinan kejadian seluruhnya adalah 5! = 120. Yang jadi masalah kemaren adalah prasyarat yang disebutkan. Begini, “kalau A di depan, tapi D nya di tengah-tengah, dihitung gak sih?” maka ada dua versi jawaban pertama, kalau dihitung, maka yang tidak boleh dihitung hanya yang ketika A di depan dan D di belakang. Tetapi kalau tidak dihitung, maka yang tidak boleh dihitung A di depan, D di manapun, sekaligus D di belakang, A di manapun. Yang mana dalam kejadian itu, ada A di depan dan D di belakang.

MKM berpihak di mana? Waktu pertama kali MKM baca soalnya, MKM udah yakin kalau A di depan, dan D di tengah-tengah juga gak boleh dihitung. Kenapa? Ya itu kesan pertama MKM. MKM sering baca bacaan Bahasa Indonesia dan itulah penafsiran pertama yang muncul di kepala MKM.

MKM gak akan menerangkan argumen jawaban yang satunya (karena bakal panjang) tapi MKM akan terangkan jawaban yang MKM yakin adalah jawaban yang benar.

Selain secara sastra kita akan menafsirkan seperti itu. Rupanya secara logika matematika, jawaban MKM juga benar. Mari kita ubah pernyataannya. Misalkan semua kejadian adalah S, kejadian A di depan adalah P, dan kejadian D di belakang adalah Q. maka soal kita kurang lebih secara matematika jawabannya seperti ini:

Syaratnya adalah: –P ^(dan) –Q

Menurut ekuivalensi logika matematika, persamaan di atas ekuivalen dengan: -(P v(atau) Q)

Nah, sekarang artinya jawabannya adalah kemungkinan semua kejadian dikurangi dengan kemungkinan terjadi P atau Q.

Di dalam logika matematika, atau memiliki sifat salah satu saja terpenuhi, maka benar. Jadi kalau A nya di depan tapi D nya di tengah, kejadian ini masih masuk kejadian prasyarat yang tidak boleh dihitung.

Maka soalnya juga bisa diterjemahkan seperti ini: berapa kemungkinan urutan finish tanpa menghitung kejadian A berada di paling depan atau D berada di paling belakang.

Salahnya di mana? Apakah soalnya? Atau yang ngoreksi? Atau muridnya yang bloon? Menurut MKM, semua balik lagi ke kurikulum. Salah satu kesalahan Indonesia (yang hopefully akan segera diperbaiki) adalah semua mata pelajaran berdiri sendiri. Kita gak pernah belajar logika matematika di Bahasa Indonesia saat bikin kalimat majemuk, atau sebaliknya, kita gak pernah belajar klausa saat belajar logika matematika. Well, akhirnya otak anak jadi terpecah-pecah. Pengetahuan yang ada di kepalanya tidak bisa holistik dan komprehensif.

Intinya, guru matematika gak boleh Cuma bisa matematika, guru Bahasa Indonesia juga kudu ngerti dikit-dikit fisika. Guru kimia harus paham sedikit tentang sejarah. Afterall, kalian mengharapkan murid kalian dapet bagus di semua mata pelajaran itu kan?

Semoga Pendidikan Indonesia getting better.

Freedom to Hate

Hi readers, di sela-sela nganggurnya MKM di Malang, MKM sempat melewati sekumpulan orang yang demo buat tolak Ahok jadi gubernur Jakarta karena pelecehan Al-Quran. Well, bebas sih kalian demo, cuma kan ini Malang. Malang-Jakarta itu jauh. Kamu demo sampe Lucifer bangkit juga Lucifer bangkitnya di Malang, bukan di Jakarta. gak akan ngefek sama Ahok.

Satu fenomena yang menarik di Indonesia adalah, kita sepakat (setidaknya most of us sepakat) kalo demonya mereka itu gak penting. Kita benci orang yang gak suka sama Ahok. Kita menolak orang untuk gak suka sama Ahok. Orang harus suka sama Ahok.

Padahal terserah dong kita mau suka sama siapa. Kalo orang-orang boleh benci sama FPI, kenapa orang-orang gak boleh benci sama Ahok. Kita punya Freedom to Hate. Ya suka-suka kita mau benci sama siapa.

Dan memang freedom to Hate ini udah banyak diaplikasikan di negara lain. Lihat hasil googling ini:

attach-2

Kita bebas mau benci sama apapun, ke ikan hiu sekalipun. MKM pingin banget benci sama yang ngasih regulasi mbak-mbak alfamart buat nanyain “gak sekalian pulsanya, mas?” Ini kan buang-buang waktu dan gak menarik. kalo kita butuh pulsa pasti ngomong kog. Mending diganti, “Mas gak sekalian pingin tahu apa yang ada di balik jilbab saya?” Nah ini bikin penasaran banget. alfamart pasti laris kalo gini caranya.

Menurut MKM, kita gak perlu risau kalo ada orang yang gak suka sama Ahok. mereka sedang menjalankan hak demokrasinya. Nah, yang perlu kita risaukan adalah kalo media mengheboh-hebohkan peristiwa ini hingga lupa memberitakan hal yang lain. Yang perlu diberitakan itu kerja aparat apa aja, bukan siapa aja yang gak suka sama aparat.

AYo kita menggunakan hak benci kita untuk sesuatu yang baik. misalnya benci sama orang yang ngutang gak cepet dibalikin.

Resolution

Hi readers, the hardest part of being expelled is admitting that you are expelled. It is a shame. And yes. I was ashamed. But now, I can be proud of it. Why? Because believe it or not, history is written by Drop Out people.

Thomas Alva Edison, Albert Einstein, Steve Jobs, Sujiwo Tejo. Those people were expelled. But look at what they did to the world. They change the world. SO I strongly believe that my drop out experience is like an open gate…..

(from my family. My dad will be like, “You are expelled?! Such a shame! Get out from my house!” “But daddy… this is not even your house! Remember, your salary can’t afford a house!” “Come back here you son of a bitch!” “So that’s the reason you divorce?”)

Well. Not exactly like that, but let me emphasize once again: my experience is an open gate. I can be like them. Basically by drop out, I accomplished the first step to change the world. What I need next are just determination, hard work, and funny materials.

My dream was to be a great teacher. But now, I change my mind. I don’t want to be a great teacher. I want to be a legend. I want people to weep on my death. I want to have a movie about my biography. And I want that movie get some Oscars in best picture and best actress. Because in the story, I was marrying Scarlet Johansen. And my death make her a real widow.

Did I dream too much? NO! this is why I want to change Indonesian’s Educations. We killed a lot of dreams. We told our kids to be realistic. But we don’t teach them how to be themselves. We push them to be rich and survive in world no matter what they want. Share this article if you think you took a wrong college major.

Don’t blame your parents. It is on us. Our balls is too small to have a dream.

Anyway, It is not just me. You too can change the world. Have a big dream! Have a big determination! Have a courage to take the path! Start with a simple thing. Try D.O!

Cerpen – Selingkuh Hati

Tidak ada yang bisa menutupi senyuman insan yang sedang jatuh cinta. Itulah mengapa Karina memilih untuk berhenti menutupi wajahnya dengan buku menu, lalu menunjukkan senyumannya pada pria itu. “Ini hanya ngobrol antar teman.” Katanya pada diri sendiri untuk menenangkan hatinya. Tidak ada hubungan yang khusus di antara mereka. Itulah yang diyakini Karina walaupun matanya berbinar ketika menatap pria itu. Andai Karina punya ekor, ia pasti sudah mengayunkan ekornya berkali-kali di setiap kata yang ia dengar.

“Rudy butuh tempat kos, aku bantu carikan, lalu ia membalasnya dengan traktir makan. Hanya itu.” Berulang kali itu yang ia ucapkan pada hati nuraninya. Walaupun secara sadar sebenarnya sudah sering Karina mencuri kesempatan untuk bisa bersama dengan Rudy selain hari ini.

Apakah ini selingkuh? Rudy baru beberapa bulan yang lalu bercerai. Sebuah kejadian yang sering dipertanyakan oleh Karina di kepalanya, “Mengapa ada wanita yang bisa meninggalkan Rudy yang sungguh sempurna ini?” Biasanya pertanyaan ini berlanjut pada pengandaian, “Harusnya aku yang kau nikahi pertama kali.” Sayangnya itu pun tidak mungkin terjadi. Jauh sebelum Karina bertemu dengan Rudy. Karina sudah mengikat janji dengan Hartono. Sebuah pernikahan yang agaknya ia sesali setiap hari, terutama saat bersama Rudy.

“Ini cuma selingkuh hati. Tak berujung ke mana-mana.” Itulah pembelaan terakhir Karina pada hati nuraninya. Setelah berdamai dengan hati nuraninya, Karina lanjut memilih makanan dari buku menu.

Rudy dengan suaranya yang berat layaknya lelaki yang kuat bertanya, “Jangan malu ya. Pesen aja. Aku yang bayar.”

“Aku sih gak pernah malu kalo dibayarin!” Karina meletakkan buku menunya. “Aku pesen yang porsinya keliatannya banyak.” Karina kini menjadi diri sendiri. Tak seperti ketika bersama dengan suaminya. Ia selalu menahan diri.

Rudy memanggil pelayan dan mulai memesan. Mereka berdua pun melanjutkan perbincangan seputar pekerjaan. Bagi Karina, apapun topiknya asalkan dengan Rudy, tidak akan jadi topik yang membosankan.

Pesanan mereka akhirnya datang. Salah satu yang dipesan Rudy adalah chocolate cake. Melihat chocolate cake yang ia pesan begitu menggoda, Rudy berkata, “Aku selalu suka cake dari sejak kecil.” Rudy memotong cake itu lalu memakannya satu gigitan. “Karina, bukankah suamimu juga bikin cake?

Karina terkejut. Bahkan di dalam benaknya sekarang, tidak ada bayangan tentang sang suami. “Dia memang kadang terima pesanan bikin kue dari tetangga.” Jawabnya.

Suami Karina tidak bisa dibandingkan dengan Rudy. Hartono tidak punya pekerjaan tetap. Kini ia hanya mengurus rumah sambil membantu tetangga mengerjakan apapun yang bisa ia kerjakan. Ia pria tipe pria pekerja keras, namun memang belum ada pekerjaan tetap yang ia miliki.

Rudy berkata lagi, “Dia tampaknya pria baik-baik. Kamu cinta sama dia?”

Karina sendiri kadang bingung dengan pernikahannya. Ia selalu tidak bisa menjawab pertanyaan “Kamu cinta sama Hartono?” dengan baik. Kewajiban seorang istri adalah menjawab ya. Tetapi sekujur tubuhnya tak bisa mengelak perasaannya yang begitu besar pada Rudy. “Kalau bukan cinta, lalu perasaanku ke Rudy ini apa?” “Apakah mungkin seseorang bisa mencintai dua orang yang berbeda?”

Karina yakin bahwa ia tidak lagi mencintai Hartono. Karina yakin bahwa hatinya sudah sepenuhnya dimiliki oleh Rudy. Ada suara dalam kepalanya yang selalu berseru, “Ceraikan saja Hartono!” Tetapi Karina tidak bisa menjadi sejahat itu.

“Iyalah! Gimanapun dia, dia suamiku!” Jawab Karina. Sekali lagi ia harus berbohong dalam menjawab pertanyaan itu. Baginya, berbohong ke orang lain tidak sesakit berbohong pada diri sendiri. Kini perasaan Karina tersayat.

Rudy meneguk minumannya lalu berkata, “Baik-baik ya sama dia. Jangan kayak aku.”

Karina membalas dengan sedikit kesal, “Kamu sendiri? Kamu cinta sama istrimu?”

Rudy tersenyum dan mengangguk.

Karina kembali menimpali, “Lalu kenapa kamu setuju dengan perceraian yang ia ajukan?”

Rudy menjawab, “Mencintai itu membuat orang lain bahagia. Kalau memang dia lebih bahagia bercerai, aku harus memberikannya.” Ia mendekatkan wajahnya sedikit. “Aku sakit hati, adalah harga yang mau kubayar untuk memberinya kebahagiaan, untuk mencintainya.”

Karina memakan nasi dan sayap ayam yang ada di hadapannya dengan tetap kesal. Setelah selesai menelan, Karina lanjut bertanya, “Memangnya, menurutmu cinta itu apa?”

Rudy mengiris cake yang ada di hadapannya sambil menerangkan pendapatnya tentang cinta. Begitulah obrolan fana mereka tentang cinta terhenti dan lanjut ke topik yang lain.

Karina sampai di rumahnya yang sederhana sekitar pukul 9 malam. Ia masuk dengan wajah yang sedih layaknya orang yang patah hati. Pemandangan rumah begitu kosong. Ia berseru, “Haarr…!”

Tak lama kemudian, Hartono keluar dari kamar, “Ssssttt….” Pria kurus itu mendekat, “Sophie lagi tidur. Kayaknya emang dia gak mau tidur kalau enggak sama mamanya. Kog baru pulang?”

“Ada rapat dadakan.” Karina berbohong lagi pada Hartono, entah sudah yang ke berapa.

“Ya udah. Makan deh, aku udah masakin. Aku mau cuci botolnya Sophie dulu.”

Karina terdiam sambil menatap suaminya. Di kepalanya segera terdengar kata-kata Rudy.

Apalah manusia ini sok ngomongin cinta.

Karina meletakkan tasnya di meja makan. Ia mendekat pada Hartono.

Kita sering lupa kalau cinta itu kata kerja. Cinta itu bukan sekedar perasaan atau pikiran.

Hartono sambil mencuci botol-botol bayi dengan air panas berkata, “Bu Ratih besok minta kebunnya diberesin. Kata beliau, perusahaan anaknya lagi mau buka cabang di sini. Siapa tahu aku bisa, ya kan?”

Itu artinya, orang yang kita cintai bukanlah orang yang kita pikirkan setiap hari.

Hartono menghadap Karina, “Aku mungkin bukan pria yang kamu harapkan. Tapi aku mau berusaha. Jadi tolong, jangan tinggalkan aku.”

Orang yang kita cintai adalah orang yang membuat kita mau merelakan segalanya dari kita hanya untuk membuatnya lega dan bahagia.

Karina tak membalasnya dengan kata-kata apapun. Karina mendekat dan mencium Hartono. Sebuah ciuman yang hangat dan lama, yang sudah lama tidak mereka lakukan.