Sekolah Full Day?

Hi readers. Blog ini goes viral sejak MKM Drop Out. Well, kayaknya emang MKM harus sering-sering DO biar kalian mau baca blog ini. Dan ini emang masa-masa yang jahat. Ada tiga berita duka bagi dunia pendidikan baru-baru ini. Pertama calon guru paling tampan yang bisa dimiliki Indonesia, Adit MKM harus Drop Out. Kedua Menteri Pendidikan, Anies Baswedan, diganti sama orang Malang. Tiga, Menteri yang baru mau bikin kebijakan sok asik yang namanya Sekolah Full Day.

Capek nih orang, butuh makan nih orang.

Mungkin dia dulu gak ngalamin masa sekolah, jadi dia lahir langsung jadi rektor.  Padahal, siswa normal manapun pasti akan merasakan yang namanya gejala, “pingin cepet pulang.” Murid, pingin cepet pulang itu wajar. Sekolah emang capek, itulah kenapa lulus itu nyenengin. Coba kalo sekolah gak capek dan semudah ngupil, lulus pun cuma berasa meperin upil ke tembok.

Kalo sekolah beneran mau dimentokin sampe jam 5an sore nih ya, siapa yang kasian? Selain murid, guru juga bakal megap-megap. Guru sekolah normal aja pulangnya udah sore. Yang ngoreksi nilai lah, bikin rencana buat minggu depan. Bikin soal ujian. Rapat sama guru lain. Kerjaan guru juga banyak. Kalo sekolah mau sampe sore, guru pulang kapan? Barengan sama mbak-mbak alf*mart nutup toko?

MKM niatnya mau bahas politik, dugaan MKM kenapa Anies diganti dan kenapa harus muncul kebijakan baru yang begini. Tapi capek. Jatuhnya cuma jadi zuudzon. Toh sebenarnya orang-orang udah tau tapi memilih tidak peduli. Capek sama Negara Indonesia. Pemerintahnya korupsi dan rakyatnya jarang yang peduli.

Gini deh, kalo jam kerja guru naik, otomatis guru harus diberi tunjangan lebih. Nah, “tunjangan lebih” ini celah banget buat dipermainkan oleh pemerintah. Ya MKM gak bilang pemerintah pasti korupsi. Tapi gak ada jaminan mereka gak korupsi kan?

Udah. MKM gak mau suudzon lagi. Yang jelas, alasan pak Menteri bikin beginian salah satunya adalah “memperkuat pendidikan karakter.” Ini bukti nyata buat kita semua kalo orang tua dan keluarga gagal menanamkan karakter yang baik pada anak sehingga harus sekolah yang menanamkannya. Ya gak apa sih, emang udah tugas sekolah. Tapi sebobrok apa keluarga sehingga peran itu harus diambil alih sekolah seutuhnya?

Kalau sekolah emang harus menggantikan tugas orang tua, lama-lama tugas reproduksi juga digantiin sekolah. Hm… kita lihat saja kelanjutan edukasi di Indonesia ini. Tapi sementara, kita dukung program pemerintah dengan jadi guru dan orang tua yang baik buat anak-anak kita.

Tags: , , , ,

4 responses to “Sekolah Full Day?”

  1. harapan says :

    analisis yang bagus banget. artikel ini bisa membuat wawasan kita (khususny aku) bertambah luas (y)……
    kakak memang terbaiklah…
    bolehlah dicalonin aja jadi kepala menteri pendidikan…..

  2. Winner says :

    Lah kamu drop out ta. Ndek mana saiki? Ndek malang ta?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: