#PPL_Challenge Day 10 – Haruskah guru bercanda?

Hi readers. Kalian pingin punya guru kayak gimana sih? Mana yang lebih kalian suka? Guru yang killer banget, atau yang lucu banget. MKM tentu akan jawab yang lucu banget. Tapi ternyata ada beberapa orang yang malah memilih guru yang serius banget karena baginya itu lebih jelas menyampaikan pelajaran.

Biasanya orang memilih untuk jadi guru killer/serius/gak banyak bercanda adalah untuk menjaga wibawa di hadapan murid-muridnya. Atau sebaliknya, guru pingin jadi seru supaya dekat sama muridnya. Lalu muncullah dua ekstrim, guru yang pingin mengendalikan kelasnya  dengan ketat dan dihormati sehingga pelajaran kondusif, juga guru yang ingin begitu dekat dengan muridnya sehingga bisa menjelaskan dengan lebih menyeluruh, santai, dan mendalam.

Lalu mana yang harus diambil?

Banyak guru yang dengan mudahnya berkata, “Ya kita ambil tengah-tengahnya aja lah… Ada kalanya serius, ada kalanya bercanda..” Itu bener sih. Tapi salah kalau fokus kita ke sana. Fokus seorang guru harusnya bukan melulu memikirkan komposisi bercanda dan serius yang seimbang. Karena itu emang gak ada rumus matematikanya. ex: 1/2 lucu + 1/2 serius (kuadrat) = – Ln capek. kan gak gitu.

Menurut MKM, lebih penting untuk memberikan diri sendiri yang terbaik. Ya kalo emang orangnya ga lucu ya gak usah ngelucu. Kalo orangnya asik ya jangan ditahan-tahan. Pada dasarnya, kalau kalian mencintai murid kalian, bercandaan/marah-marah kalian juga harusnya tidak akan sampai jadi batu sandungan, tapi justru menjadi ungkapan kasih kalian pada mereka.

Curcol sejenak: Kayaknya sih emang impian MKM buat jadi tipe guru yang jenius banget selesaikan soal matematika dan pulang sekolah masih bisa main werewolf sama murid-murid emang gak akan bisa diguncang lagi.

“Tapi nanti kalo terlalu santai, anak-anak gak respek”

Orang yang mikir begini, adalah orang yang masih mikir dengan pola pikir kalau harus ada komposisi seimbang antara serius dan santai. Kata Palmer (salah satu pengarang buku pegangan wajib di kampus MKM), kita mengajarkan siapa diri kita. Maka MKM tekankan sekali lagi: kuncinya adalah Memberi diri sendiri yang terbaik.

Sesungguhnya, guru yang memaksakan diri untuk menjadi guru ideal sesuai buku hanya akan melahirkan koruptor-koruptor sesungguhnya. Bagaimana ia bisa mengajarkan anak didiknya untuk jujur kalau ia sendiri bohong pada dirinya sendiri.

Perbaiki diri! Dan jadilah dirimu sendiri yang terbaik.

(kalimat terakhir diambil dari puisi kesayangan Romo Sixtus O.Carm)

Tags: , ,

Trackbacks / Pingbacks

  1. #PPL_Challenge Day 15 – Gaya Mengajar | MKM's World - 11 August 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: