Siluman yang Ingin Tahu (cerpen)

Rupogeni adalah seorang siluman yang selalu ingin tahu. Ia suka bertanya tentang hal-hal yang ia tidak mengerti. Setiap kali bertanya, wajahnya selalu menyala-nyala bagai api. Itulah semangatnya dalam mengerti kehidupan ini.

Seseorang yang biasanya ditanyainya adalah Lembuijo. Umurnya ribuan tahun lebih tua dari Rupogeni. Lembuijo memang terkenal bijaksana dari banyak siluman. Berbeda dengan siluman tua yang lain, Lembuijo tidak membiarkan dirinya bermalas-malasan. Ia selalu rajin bekerja untuk memberikan teladan pada para siluman muda.

Suatu hari, mereka dipanggil oleh seorang pemuda bernama Sangkuriang. Dengan upah yang cukup besar, ratusan siluman dipanggil untuk membuat sebuah danau dan perahu sampai sebelum matahari terbit. Itu adalah syarat dari calon istri Sangkuriang. Bila Sangkuriang tak sanggup memenuhinya, maka pernikahan mereka akan batal. Sungguh pekerjaan yang besar. Rupogeni tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk berbakti. Ia dan Lembuijo datang untuk membantu menyelesaikan pekerjaan besar itu.

Seorang siluman, Panjiwesi, siluman yang katanya paling kuat, dipercaya si pemuda untuk memimpin pekerjaan itu. Panjiwesi yang sudah terlatih di medan perang langsung membagi tugas. Pembagian tugas yang ia berikan sangat rapi. Dalam sekejap, setiap siluman yang ada di situ sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.

Rupogeni dan Lembuijo berada di tempat yang berdekatan. Tugas mereka dan puluhan siluman yang lain adalah menggali tanah sedalam mungkin untuk dijadikan danau. Lembuijo dengan tangan kosong mulai mengeruk tanah yang ada di hadapannya. Rupogeni mengikuti Lembuijo dengan segala gerakannya.

Setelah beberapa jam mengeruk tanah, daerah itu mulai menunjukkan bentuknya sebagai danau. Tangan Rupogeni sudah mulai menghitam karena lama mengangkut tanah. Sambil tetap mengeruk tanah, dengan nafas yang terengal-engal, ia bertanya pada Lembuijo, “Lembuijo, mengapa manusia itu meminta hal yang berat seperti ini? Maksudku, bukankah menciptakan danau adalah pekerjaan Tuhan?”

Lembuijo berhenti sejenak dari pekerjaannya. Ia menepuk tangannya, lalu keluarlah debu berwarna hitam. Ia menjawab, “Seorang wanita memintanya untuk membuat ini.”

“Jadi karena wanita itu?” Wajah Rupogeni makin menyala.

“Hahaha.” Lembuijo tertawa, “Bukan nak. Karena cinta.”

“Cinta?!” Rupogeni berseru seakan tak percaya. Lalu dengan terbata-bata ia menimpali, “Memangya… cinta lebih tinggi dari Tuhan? Mengapa cinta boleh mencipta danau?”

“Siapa bilang boleh?”

“Loh? Jadi tidak boleh?”

“Siapa bilang tidak boleh?”

Rupogeni semakin bingung. Nyala wajahnya meredup sejenak, lalu kembali menyala dengan nyala yang lebih terang. “Lalu apa yang sebenarnya terjadi?”

Lembuijo melanjutkan mengeruk tanah yang ada di hadapannya. “Yang terjadi adalah manusia menggunakan kebebasannya dalam mencinta lalu menjadikannya alasan untuk melawan Tuhan.”

Rupogeni menggaruk kepalanya yang merah itu, “Jadi kita sekarang membantu manusia yang sedang melawan Tuhan dengan cinta?”

Lembuijo memukul kepala Rupogeni, “Hush! Jangan bertanya begitu! Kita ini siluman! Kita tak punya kebebasan seperti manusia, apalagi cinta! Ayo keruk lagi sebelah sana!” Lembuijo menunjuk bagian yang masih harus dikeruk. Rupogeni pun mulai mengeruk tanah di sana dengan tangan kosong.

Sang pemimpin, si Panjiwesi berseru pada semua siluman, “Kalian semua, naik ke atas! Kita akan memindahkan air ke dalam danau!” Suaranya sungguh kencang sehingga setiap sudut danau bisa mendengarnya.

Rupogeni dan Lembuijo naik ke atas. Mereka menjaga jarak agar cukup jauh dari danau dan agar mereka tidak tenggelam ketika air dimasukkan. Mereka pun duduk beristirahat. Rupogeni kembali bertanya pada lembu ijo, “Ia harus melakukan hal berat ini hanya untuk cintanya? Mengapa ia tidak menyerah saja?”

Lembuijo mengelus-elus perutnya yang buncit sambil menjawab, “Seorang pujangga menulis.” Ia menatap langit lalu berkata, “Bagaimana mungkin seseorang memiliki keinginan untuk mengurai kembali benang yang tak terkirakan jumlahnya dalam selembar saputangan yang ditenunnya sendiri.”

Rupogeni mendekatkan diri pada Lembuijo, “Maksudnya?”

“Mereka sudah terlalu tenggelam dalam cinta. Sudah tidak mungkin untuk menyerah.” Lembuijo tertawa lagi, “Hahaha. Bersyukurlah kita tidak bisa merasakan cinta. Kita tak perlu bingung, sakit, atau bersusah payah berjuang untuk cinta.”

Mereka berdua tertawa bersama mensyukuri keadaan mereka sebagai siluman. Selagi mereka tertawa, sepasukan siluman sudah tiba dengan air yang mereka bawa dari utara. Mereka menuangkan air itu di danau. Rupogeni dan Lembuijo menatap guyuran air yang indah itu.

Cahaya tiba-tiba menyinari seluruh danau.

Danau sudah tergali. Air tinggal beberapa tetes. Kapal sudah hampir jadi. Namun waktu mereka telah habis. “Bagaimana mungkin?” Tanya Panjiwesi mempertanyakan perhitungannya yang sempurna.

“Semuanya! Kita pulang!” Panjiwesi mengisyaratkan semua siluman untuk mundur karena waktu sudah pagi. Setidaknya itulah yang Panjiwesi pikirkan melihat cahaya yang sangat terang.

Semua siluman berlarian. Mereka menyebar ke segala arah. Rupogeni berusaha mencari tempat yang gelap yang terlindung dari cahaya. “Lembuijo! Lembuijo!” Ia tak mau lari sendirian. “Lembuijo! Lembu…”

“Ayo lari!” Lembuijo entah dari mana menggenggam tangan Rupogeni dan lari. Mereka berdua lari hingga akhirnya mereka berhenti di sebuah goa tak jauh dari tempat itu.

“Kita aman di sini Rupogeni.”

“Terimakasih Lembuijo.”

Mereka berdua mengintip suasana danau dari sela-sela goa. Yang tampak di hadapan mereka adalah Sangkuriang mengamuk dan menghancurkan banyak hal. Kapal yang hampir jadi itu ia tendang sampai terbalik. Ia menyerahkan dirinya pada murka.

Lembuijo menghela nafas panjang lalu berkata, “Untunglah kita tidak di sana.”

Rupogeni menjawab, “Iya Lembuijo. Tetapi, bagaimana seorang manusia bisa menjadi sekuat itu?”

Lembuijo tersenyum. “Sebaliknya. Ia lemah. Dia tak cukup kuat, untuk mengatakan cukup, untuk mengatakan tidak, untuk membiarkan cahaya hidupnya pergi ke arah sebaliknya dan meninggalkannya sendirian dalam kegelapan.”

-Terinspirasi oleh teman-teman Sunda dan Puisi Saputangan dari Sapardi Djoko Damono-

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: