Sang Pria Basah Kuyup (Cerpen)

Malam itu tidak hujan, tetapi pria itu basah kuyup berjalan sendiri. Air matanya menetes deras dan tak kunjung henti. Derai air mata itu selaras dengan dinginnya tubuhnya, seakan matanya sendiri yang membasahi sekujur tubuhnya.

Di ujung jalan itu, tidurlah seorang gelandangan. Tidak, belum sampai ia pada alam mimpi. Ia baru saja akan berangkat ke sana diantarkan bentangan bintang yang ia pandangi sejak tadi. Lamunannya terusik oleh bunyi tetesan air yang menetes ke tanah dari tubuh sang pria basah kuyup.

“Permisi.” Kata pria itu sambil tetap menangis.

Si gelandangan terkejut melihat pria yang tak pernah ia lihat sebelumnya tiba-tiba berduka di sebelahnya. Malam seakan memberi kesempatan orang paling tidak berbahagia ini untuk menghapus beberapa titik air mata. “Bung. Kau kenapa?” Tanyanya peduli.

“Entahlah. Aku tak tahu. Sejak tadi aku tak bisa berhenti menangis. Dan, kepalaku sakit. Aku tak bisa ingat apa-apa.” Kata pria itu sambil menyeka pipinya yang tentu saja akan segera basah lagi.

“Ah! Kau sakit!” Seru si gelandangan agak senang karena mengetahui akar masalahnya di mana. “Begini, kusarankan agar kau pergi ke dokter. Beberapa blok dari sini, ada seorang dokter yang sangat baik. Ia mau menolong siapa saja yang datang padanya. Ia selalu terbuka sepanjang hari. Ketuk saja pintunya maka ia akan menolongmu.”

Setelah mengucapkan terimakasih, Pria basah kuyup pergi ke tempat dokter baik hati, meninggalkan si gelandangan yang kembali tidur di posisinya sebelumnya. Rupanya ia berhutang beberapa kalimat syukur pada langit sebelum ia tidur. Sedangkan Pria basah kuyup itu tak tahu apa yang harus ia syukuri. Sebaliknya, ia terus menangis di sepanjang jalan remang-remang itu.

Namun perjalanannya ia hentikan di sebuah pintu dengan tulisan yang terpampang sangat jelas, “Dokter.” Sesuai panduan yang baru saja ia dengarkan, ia mengetuk pintu kayu itu beberapa kali. Pintu itu terbuka dan mulai tampak wajah tampan si dokter baik hati.

“Wah, kau basah. Ayo masuk. Akan kuberikan kau handuk.” Atas anjuran dokter, si pria basah kuyup masuk ke ruangan itu. Ia duduk di sebuah kursi yang menghadap meja dan kursi si dokter baik hati.

Si dokter kembali dari belakang kantornya lalu memberikan handuk pada pria basah kuyup. Pria itu mulai menggosok-gosokkannya pada tubuhnya. Si dokter pun duduk lalu bertanya, “Kau kenapa?”

Pria basah kuyup menjawab, “Entahlah dok. Mataku tidak bisa berhenti menangis. Kepalaku sakit. Kini perutku pun mual.”

Dokter beranjak dari tempat duduknya. Ia mendekat pada pria basah kuyup itu. Tangannya membuka mata pria itu. Dilihatnya kondisi matanya. Dokter tahu bahwa mata itu mata yang sehat. Tetapi tak ada yang tahu penyakit apa yang sebenarnya dideritanya.

Dokter itu memberi saran, “Yang perlu kau lakukan kini adalah berhenti menangis. Ah. Aku tidak punya obatnya. Tetapi aku tahu seseorang. Ada seorang badut di kota ini. Siapapun yang bertemu dia pasti tertawa. Cobalah kau ke sana. Saat air matamu sudah berhenti, kembalilah untuk kuperiksa lagi.”

Dokter itu memberi alamat sang badut. Pria basah kuyup keluar sambil membawa kertas berisi alamat. Tak butuh semenit untuk membuat kertas itu ikut basah seperti tangannya. Handuk yang diberikan sang dokter sama sekali tak mengeringkannya.

Alamat itu tidak terlalu jauh. Kini Pria basah kuyup sudah berada di hadapan pintu yang lain. Di pintu itu juga terdapat papan yang sangat jelas tertulis, “Badut.” Tangannya bersiap mengetuk.

Tak jadi diketuknya pintu itu. Sebaliknya, segera dipegangnya gagangnya secara hati-hati lalu dibukanya pintu itu karena ia tahu bahwa pintu itu tidak dikunci. Tak ada siapa-siapa di sana. Pria basah kuyup masuk ke dalam ruangan itu dan segera menemukan lawakan pertama yang tersedia baginya. Sebuah cermin. Di dalam cermin itu terpantul wajah pria basah kuyup itu. Wajah itu sama dengan wajah yang ada di foto dekat cermin itu.

Ia menangis. Lebih keras. Hingga pagi datang di kota itu.

-Terinspirasi dari I Pagliacci karangan Ruggero Leoncavallo-

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: