Mawar di Hari Senin (Cerpen)

Wanita itu terpaku sejenak di depan meja kantornya. Di sana terpampang sebuah kalender yang menunjukkan kalau hari ini adalah hari senin. Di sebelah kalender itu ada komputer yang masih belum menyala. Di sekitarnya juga ada beberapa fotonya bersama teman-temannya. Namun itu tidak aneh. Yang janggal adalah, lagi-lagi, setangkai mawar tergeletak di meja itu diiringi kertas warna merah jambu. Ada tulisan dalam kertas itu.

punya kak adit si satpam (1)

“Simpan secarik kertas ini agar kau selalu ingat padaku.”

Sudah beberapa minggu terakhir, setiap hari senin, selalu ada setangkai mawar dan sepucuk puisi tergeletak di mejanya, seakan meminta hatinya untuk tetap tersenyum selama seminggu. Namun gundah sudah mengusiknya. Ia perlu tahu siapa yang memberinya bunga dan surat ini.

“Gaby!” Tepukan mengagetkan itu menyadarkannya dari lamunannya. “Ngelamun lo jelek banget tau!” Kata pria yang baru saja menepuk pundaknya itu. Rambut gondrong dan setelan yang lusuh sudah menjadi ciri khas sahabat sekaligus partner kreatifnya, Ares. Namanya diambil dari nama dewa perang, namun jiwanya sungguh cinta damai.

“Kaget tau!” Gaby memukul pelan kawannya. Sejenak ia membenarkan rambutnya yang berponi. “Ada mawar lagi, res.”

“Cieee….” Sorak Ares spontan.

“Ares! Serius nih gue!”

Ares menarik tangan temannya itu lalu menyuruhnya melihat sekitar, “Lihat kantor jasa advertising ini? Kantor penuh stress dan deadline. Lo mestinya bersyukur bisa dapet penghiburan tiap minggu. Gue sih mau ada yang begitu juga. Tapi jangan bunga. Coklat boleh. Minimal kacang lah.”

“Tapi tetep penasaran gue. Lo bayangin deh, res. Momennya itu pas banget. Senin pertama gue dapet mawar, minggu lalunya gue baru aja kena marah ama si Bos. Mawar-mawar ini bener-bener ngebantu gua buat gak bête sama kantor.”

“Ciieee….” Ares makin girang.

Gaby kembali duduk di mejanya. “Ah, kesel gua cerita ama lo. Gak pernah serius nanggepinnya.” Gaby menyalakan komputernya.

Ares duduk di kursinya lalu menggeser kursinya yang beroda itu ke dekat kursi Gaby. “Gini deh, jam kantor efektif mulai masih 15 menit lagi. Ayo kita jadi Conan.”

Kegemarannya pada komik memang sangat terasa. Di meja Ares, bertebaran beberapa action figure. Wallpaper komputernya pun ia ganti dengan gambar seorang superhero berambut botak berbaju kuning. Berbeda dengan Gaby yang mejanya penuh notes dan foto-fotonya yang sedang berlibur.

“Apaan sih?” Sahut Gaby.

“Lu gak paham Conan? Aduh. Gaby! Masa kecilmu harusnya diterangi dengan tontonan penuh aksi dan penuh gizi seperti Conan!” Ia kembali menarik Gaby untuk berdiri dari kursinya. “Udah, sekarang lo ikut gua.”

Mereka berdua berjalan keluar kantor. Mereka masuk ke pos satpam. Seorang satpam tua menyambut mereka. Ares masuk dan langsung duduk di sebelah satpam itu. “Pak Darso!” Sapanya.

Pak Darso yang rambut dan jenggotnya sudah mulai memutih itu pun menyapa balik. “Ini Mas Ares kalau ke sini pasti ada maunya. Minta tolong dicegatin tukang gado-gado lagi?”

“Enggak pak.” Ia berdiri dan merangkul Gaby yang masih menunggu di pinggir pintu. “Kami sedang main detektif-detektifan.”

“Tuh kan. Emang satu kantor ini yang paling aneh ya Mas Ares.”

“Enggak aneh, Pak Darso. Kami memang sedang mencari tahu sesuatu.” Ia mendorong Gaby untuk duduk di sebelah Pak Darso. Bagi Gaby yang tidak mudah bergaul, ini adalah pertama kali ia berbincang dekat dengan Pak Darso. “Mbak Gaby yang satu ini, pak, sedang ada kasus. Pencurian, tapi bukan diambil barangnya, tapi diberi barang. It is not a theft, it is a reverse-theft. Pencurian berbalik.”

Pak Darso hanya tertawa kecil melihat tingkah aneh Ares. Gaby langsung berkata pada Pak Darso, “Maaf ya pak. Dia emang begitu.”

“Ah, sudah biasa dia begitu, apalagi kalau sudah stres sama kerjaannya.”

“Begini pak, bapak tahu siapa yang ke sini paling pagi?”

Pak Darso tertawa, “Hahaha… ya saya, non.”

“Setelah bapak?” Sela Gaby.

Pak Darso berpikir sejenak. “Hm.. Non coba tanya Aryo. Dia biasanya datang pagi.”

“Mas Aryo CS?”

“Iya.”

Gaby mencoba mengingat wajah Aryo karena ada beberapa cleaning service yang bekerja di kantor itu dan tidak semua ia ingat wajahnya.

“Oke!” Ares memecah keheningan dengan teriakannya. “Masih ada waktu beberapa menit untuk menyelesaikan kasus ini. Ayo Watson! Duluan ya, Pak Darso.” Ares menarik tangan Gaby sambil berpamitan pada Pak Darso.

Mereka berjalan meninggalkan pos satpam. Sesampainya di pintu kantor, Ares berhenti. Beberapa detik ia melamun, lalu ia berkata pada Gaby, “Gua kayaknya punya clue lain. Lo pergi tanya si Aryo sendiri ya. Gua susul di kantor.” Ares langsung pergi ke arah belakang kantor.

“Ares! Ares! Yaah…” Teriakan Gaby tak sanggup menghentikan Ares. Akhirnya Gaby menyerah dan masuk ke kantor. Ia langsung berjalan ke ruangan CS. Ia mengetuk pintu sambil bertanya, “Mas Aryo ada di sini?”

Seorang wanita dengan suara yang cukup melengking berteriak, “Yo! Dicariin yo!”

Pemuda bernama Aryo pun berjalan dari kedalam ruangan ke arah pintu. “Ada apa ya, neng?” Tanya Aryo pada Gaby.

“Mas Aryo?”

“Iya, neng.”

Keduanya mulai canggung karena itu adalah kali pertama mereka bercakap-cakap. “Gini mas.” Gaby bertanya dengan sopan, “Mas Aryo tahu ada bunga di meja saya?”

“Mejanya yang….”

Gaby menyela, “Sebelahnya Ares!”

Aryo tersenyum, “Oh iya. Tahu, neng. Ada apa? Hilang?”

Gaby kaget, “Ah enggak, mas. Saya cuma mau nanya, mas tahu siapa yang naruh bunga di situ?”

Aryo menjawab spontan. “Waduh, neng. Enggak tahu. Saya bersih-bersih, bunganya sudah di situ.”

Gaby mengangguk. “Oh, begitu? Makasih ya, mas. Mari.” Gaby berpamitan pada semua cleaning service yang berada di sana. Ia kembali ke meja kerjanya.

Sekembalinya ia, ia duduk dan menatap lagi bunga dan surat yang ia terima pagi itu. Pikirnya melayang pada pertanyaan, “Siapa ya?”

“Itu dari gua!” Seru Ares dari belakang Gaby.

Sekali lagi Gaby terkaget. “Kalau jantung gua copot gimana!?”

“Gua ganti pake jantung ayam.” Ares pun duduk di kursinya.

Gaby bertanya, “Ini beneran dari lo?”

Ares tertawa, “Hahahaha… ya gak mungkin lah! Oke, gini. Lo cantik, cerdas, baik. tapi…” Ares mengangkat tangannya membuat tanda kutip. “Aset lo kecil. Itu penting buat gua dan gua gak mungkin suka ama lo.”

Gaby sekali lagi memukul Ares. Yang kali ini, lebih keras. “Otak lo ke mana sih?”

“Gua jual buat nyicil motor.”

Gaby melipat tangannya, “Lo tadi ke mana?”

“Ssst….” Tangan Ares secara simbolis mendiamkan Gaby. Lalu ia membetulkan rambutnya yang berantakan secara arogan sambil berkata, “Gua udah tau pelakunya.”

“Siapa!?”

“Sssttt….” Sekali lagi Ares membuat gestur yang menyebalkan. “Gua tadi ke ruang CCTV, trus gua liat, sebenarnya siapa yang naruh bunga itu. Surprising, but you have to know.”

“Cepetan ah”

Wajah Ares berubah serius. “Tapi sebelumnya gua mau tanya.”

“Apa?”

Ia mendekatkan wajahnya pada Gaby, “Gini. Siapapun yang bikin ini semua ke lo, dia super romantis. Dia pasti sayang sama lo. Sayangnya udah kritis, parah! Ketika gua sebutin namanya siapa, apa yang akan dilakukan Gaby? Membiarkannya terus terjadi? Menyuruhnya berhenti? Apa? Menurutku, dia pun gak mau Gaby tahu kalau dia yang ngasih bunga dan puisi. Dia lakukan ini ikhlas, tanpa berharap apapun. Jangankan memilikimu, dikenal saja dia gak mau.”

Gaby terdiam. Gaby berpikir bahwa kata-kata temannya kini layak untuk didengarkan dan benar adanya. Ares bertanya, “Lo yakin mau tahu siapa?”

Gaby mengangguk. Ares berkata, “Sini kubisikin.”

 

Sorenya, pria itu pulang dari kantornya. Ia mengendarai sebuah sepeda motor yang sederhana. Tidak baru, tidak lama, hanya sederhana. Rumahnya terletak di dalam sebuah gang yang memiliki aturan, “Motor matikan mesin.” Di ujung gang, ia mematikan mesinnya dan bersiap mendorong masuk sepeda motornya.

Belum sempat masuk ke dalam gang, seorang penjual bunga yang berjarak 2 rumah dari sudut jalan menyapanya. “Waaah… Tumben pulang cepet?”

“Ah iya. Memang jam pulang harusnya jam segini. Mari…” Jawab pria itu halus.

Penjual bunga itu berseru pada pria yang bersama sepeda motornya mulai masuk ke dalam gang yang sempit, “Jaga kesehatanmu, Pak Darso!”

-Inspirasi dari Puisi Sapardi Djoko Damono, Secarik Kertas-

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: