Sang Nelayan

Galilea tak pernah sedingin ini. Langitnya biru padam. Pantainya begitu pasrah dipijaki Anak Manusia. Alam pun tahu kunjungan Tuannya. Kini Anak Manusia duduk di atas sebuah batu karang. Mata-Nya memandang pantai dengan seksama.

Beberapa nelayan sedang membersihkan jaring mereka. Tak ada ikan yang mereka dapat. Wajah sedih mereka mewarnai pagi yang biru itu. Satu dari mereka menatap jauh ke laut, mengutuki ombak dan garam lautan. Dalam hatinya yakin bahwa Allahnya tak akan membiarkannya dan keluarganya kelaparan.

Siapa dia?

Simon, batu karang-Ku.

Mau Kau apakan dia?

Dia yang akan Kupilih. Aku yakin padanya.

Dia? Dia hanya nelayan. Bisa apa dia? Ilmu tauratnya tidak cukup tinggi untuk memahami, apalagi mengajar.

Aku yang akan mengajarinya. Dia akan menjadi guru yang besar, menyerupai-Ku.

Dia keras kepala. Apakah orang seperti itu bisa diajari?

Tak ada yang mustahil bila Bapa menghendaki.

Sekeras apapun Kau mengajarinya, Kau hanya punya waktu tiga tahun. Kau tahu itu. Kau tak akan sempat….

Tiga tahun cukup. Bahkan hanya butuh tiga hari bagi Bapa untuk membangun Bait-Nya.

Imannya akan goyah!

Tetapi dia akan bangkit.

Dia akan tenggelam!

Dan Aku akan menariknya kembali.

Dia tak tahu apa-apa! Dia hanya tahu cara menjala ikan dan menebas pedang! DIA TAK PUNYA IMAN!

Anak Manusia terdiam. Anak Manusia bangkit dari duduknya, lalu berjalan ke arah pantai. Jauh di hadapannya, sang nelayan berlutut di dalam kapalnya dan berdoa. “Kau yang empunya kehidupan, ampunilah hamba-Mu yang berdosa ini.”

Aku tahu dia punya iman. Sedikit saja cukup.

Dia akan membuat banyak masalah untuk-Mu.

Tidak masalah.

Anak Manusia tetap berjalan. Ia semakin dekat dengan kapal yang sejak tadi Ia amati.

Dia lebih mencintai dirinya sendiri daripada-Mu.

Tetap Aku akan mencintainya.

Dia akan menyangka-Mu!

Aku tahu.

Tiga kali!

Aku tahu!

Dia akan meninggalkan-Mu!

Aku tak akan meninggalkannya.

Bahkan di saat terburuk-Mu! Di sakratul maut-Mu! Ujung derita-Mu! Dia akan berpaling dari-Mu!

Anak manusia sampai di kapal itu. Ia memanjat naik, lalu duduk di hadapan sang nelayan. Mata mereka beradu. Sang Anak Manusia, mengetahui segala kelemahan sang nelayan, hari itu memberikan kesempatan besar pada sang nelayan untuk merubah hidupnya selamanya. Sang nelayan, seorang pria biasa yang tidak layak mendapat penghargaan apapun, telah ditetapkan untuk berhenti menjala ikan, dan beralih menjala manusia.

“Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam.” Kata-Nya.

 

 

-Hi readers, sekarang MKM lagi keranjingan bikin cerpen. Ini sih hasil dari seminar2 yang MKM jalani beberapa minggu ini. semoga kalian suka.-

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: