When She Came Home for Christmas, Nice Clock

scene 4

“Duduk mana ya?”

Anto bicara pada dirinya sendiri. Pandangannya mencari tempat kosong di ruang tunggu itu. Ia di sana untuk menunggu kepulangan seseorang yang sudah meninggalkannya selama setahun belakangan ini.

Setelah berjalan beberapa langkah, ia memutuskan untuk duduk di salah satu bangku. Ia mengaktifkan handphonenya. Dari layarnya, ia menatap foto dua orang sedang berpelukan. Itu fotonya dengan pacarnya. “Akhirnya kamu pulang.” Katanya lirih.

Di sebelah kirinya, duduk seorang wanita paruh baya. Wanita ini duduk dengan ekspresi muka yang resah. Beberapa kali wanita ini menatap arloji di tangan kirinya. Wanita ini jauh lebih tidak sabar daripada Anto.

Anto tersenyum pada wanita ini, namun ia hanya mengangguk. “Dia benar-benar resah.” Pikir Anto.

Anto berusaha mengabaikannya. Ia melihat ke arah lain. Namun hal itu hanya membuat dirinya semakin penasaran. Ia mengintip perlahan. Kini kaki wanita itu mengayun-ayun tak tenang. Anto menatap wajah wanita itu. Keringat menetes di pipinya.

Sebagai seorang laki-laki yang tidak bisa melihat wanita bersedih, Anto bertanya, “Ibu tidak apa-apa?”

Seketika itu wanita ini tersentak. Hampir saja ia menjatuhkan paper bag yang ia bawa. Ia menggenggamnya semakin erat. Ia menoleh kepada Anto, lalu memberikan anggukan yang lebih keras daripada yang pertama. Dia tidak mau diganggu.

Di pihak lain, hal itu justru membuat Anto penasaran. “Siapa yang ditunggu oleh ibu ini?”

Anto melipat tangannya, meletakkan sikunya di paha, lalu meletakkan kepalanya di dekat tangannya. Ia membiarkan pikirannya melayang ke mana-mana. Di samping itu, ia tak punya apa-apa untuk dipikirkan. Ia juga sedang menunggu seseorang yang masih agak lama datangnya.

“Hm… Susah untuk berpikir tentang siapa ibu ini. Mungkin lebih mudah untuk menebak apa yang ada di dalam tasnya. Tapi apa?! Aku intip saja…”

Perlahan anto mulai menegakkan duduknya. Ia berpura-pura meregangkan ototnya, namun isi dari tas itu tak juga terlihat. “Yaaah. Sedikit lagi.” Pikirnya.

Anto tak mau menyerah. Ia tetap berjuang untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Sedikit demi sedikit ia menggeser pantatnya ke kiri. Semakin lama semakin dekat dengan wanita ini. “Sedikit lagi… sedikiiit lagi…”

Sadar bahwa dirinya sedang diamati, wanita ini menggeser duduknya dan makin memeluk tasnya lebih erat lagi. Anto pun jengkel. Akhirnya Anto memberanikan diri untuk bicara, “Itu apa sih?”

Wanita ini memberikan tatapan yang cukup tajam. “Bukan apa-apa.” Jawabnya dengan culas.

Ini adalah pertama kali wanita ini mengeluarkan suaranya. Suaranya cukup tegas, mirip suara pembawa berita di TV yang membawakan berita duka. Walaupun nada bicaranya cukup keras, tetapi Anto bahagia. Anto menganggap ini sebagai sebuah kemajuan, karena akhirnya wanita ini mau berbicara.

Anto pun bertanya lagi, “Itu hadiah natal ya?” Ia memikirkan pertanyaan berikutnya, “Untuk seseorang yang ditunggu?”

Wanita ini masih menunjukkan muka tidak suka. Kendati demikian, ia mengangguk. Melihat tanggapan positif itu, Anto pun melanjutkan pertanyaannya, “Boleh lihat?”

Wajah wanita ini menjadi lebih jahat dari sebelumnya. Ia menatap Anto dengan tatapan yang sangat tajam. Ia tidak suka dengan pertanyaan itu. Namun Anto tetap mencoba ramah. Anto justru mendekatkan diri sambil berkata, “Ah sudah, tidak apa-apa. Saya cuma mau lihat kog. Bukan mencuri.”

Wanita itu memutar badannya agak ke kiri membelakangi Anto. Ia memastikan Anto tidak bisa melihat tasnya.

Di sebelahnya, Anto masih berpikir bagaimana caranya agar ia bisa mengetahui isi dari tas itu. Ia memegangi dagunya. Lalu Anto tersenyum karena mendapatkan ide. Ia melepas jaket ungunya, lalu meletakkannya di antara dia dan wanita ini. Anto berkata, “Kalau tidak percaya, jaket saya di sini, ini jaket kesayangan saya. Saya tidak akan mencuri hadiah itu. Masih kurang? Saya tambah handphone.” Ia meletakkan handphonenya di atas jaketnya.

Wanita ini tidak mempedulikan apa yang dilakukan Anto. Anto pun makin jengkel atas ketidak ramahan wanita ini. Ia berdiri lalu duduk di sebelah kiri wanita itu. Anto berkata pada wanita ini, “Lihat ya….”

Wanita ini berkata dengan tegas, “Tidak boleh!”

Anto kehilangan kesabarannya, lantas ia berusaha merebut tas itu dari tangan wanita ini, “Sudahlah. Sebentar saja!”

Wanita ini hampir saja berteriak, tetapi ia menahannya karena tidak mau membuat orang lain panik. Wanita ini mempertahankan tasnya sekuat tenaga. Anto juga tak mau kalah. Ia makin kuat merebut tas ini sambil berkata, “Saya bukan pencuri!”

Tak sengaja, tas itu jatuh dan mengakhiri perebutan mereka. Sedikit dari isi tas itu mencuat keluar. Wanita ini segera mengambilnya dan memeluk lagi tas itu. Tatapannya begitu marah pada Anto, tetapi ia tak mau mengeluarkan amarahnya.

Kini Anto sadar bahwa wanita ini benar-benar marah. Anto berusaha mencairkan keadaan. Ia berkata, “Jam yang di tas itu bagus.” Ia tidak digubris. Ia menggaruk-garuk kepalanya. Ia tidak menyerah, “Buat diletakkan di meja ya?” Tetap tidak ada respon. Kini wanita ini tak mau memperlihatkan mukanya pada Anto. Nafasnya tak karuan menahan emosi.

Tiba-tiba fokus Anto berubah. Kini ia melihat rombongan orang keluar dari pintu keluar. Nampaknya penerbangan yang ia tunggu sudah mendarat. Matanya dengan cermat mencari orang yang ia tunggu. “Ah! Itu dia!” Serunya.

Anto berlari, berlari meninggalkan wanita ini sendirian dengan tasnya. Ia menghampiri seorang wanita berkacamata yang baru saja keluar dari pintu itu. Ia memanggil wanita itu, “Siti!”

Siti, wanita yang dinanti Anto, tanpa pikir panjang ikut berlari lalu memeluk Anto. Siti berkata, “Anto. Aku kangen.”

Anto menjawab, “Aku juga, Siti.”

Siti melepaskan pelukan itu. Lalu memukul Anto dengan pelan sambil berkata, “Aku tadi diikutin orang aneh sejak dari bandara! Ayo cepat pulang. Sebelum kita ketemu orang itu lagi!”

“Iya. Aku ambil jaket dan handphone aku dulu ya.”

Anto berlari lagi ke bangku yang tadi ia duduki. Sudah cukup dekat dengan bangku itu, Ia berhenti karena melihat wanita yang tadi pergi bersama seseorang berseragam militer. Dalam hati Anto berpikir, “Wah, itu pasti suami yang dia tunggu. Pantas saja dia resah. Suaminya pergi membela Negara. Pasti suaminya suka dengan jam yang tadi.”

Anto berjalan perlahan ke bangku itu. Ia mengambil jaketnya dan handphonenya. Lalu Anto berjalan kembali pada Siti. Belum ada tiga langkah, seseorang berseragam militer menepuk pundaknya. Anto berpaling. Orang itu menjabat tangan Anto sambil berkata, “Terima kasih. Berkat anda, kami tahu di mana letak bomnya.”

Anto tidak paham dengan apa yang terjadi. Ia segera pulang bersama Siti dan menikmati Natal.

 

Ilustrasi oleh: Celine A. – Instagram: @sei_nyaan

Dia ini desainer sibuk. Katanya dia lagi ngegarap revisi desain Garuda Pancasila. (mau bikin negara sendiri dia)

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: