When She Came Home for Christmas, Calling

scene 3

“Hari ini sudah tidak ada lagi. Untuk apa kita kemari?”

“Ah gak apa-apa. Siapa tahu Ratna lagi beres-beres. Kita bantuin.”

Mereka berjalan menuju pondok yang terletak di seberang gereja. Mereka, Dimas dan Kornel, adalah dua biarawan dari gereja tersebut. Mereka masih muda, masih frater. Kurang lebih setahun lagi, mereka akan menerima sakramen imamat dan menjadi seorang pastor.

Selama sebulan belakangan ini, gereja mereka kedatangan seorang tamu. Ratna, putri dari salah seorang donatur keuskupan. Ratna yang masih menganggur, menghabiskan satu bulan terakhirnya untuk mengajar di tempat ini. Ia mengajar baca tulis pada para lansia di tempat ini. Tempat ini adalah daerah yang cukup terbelakang, maklum jika banyak orang belum bisa baca tulis. Dengan adanya Ratna, diharapkan para lansia bisa membaca kitab suci dan dokumen gereja lainnya sendiri.

“Hush! Jangan sampai keinginanmu untuk membantu Ratna menjadi hasrat yang lebih! Ingat kaulmu! Ingat janji sucimu!” Tegur Dimas pada sahabatnya.

“Apasih kau ini, Dim?” Timpal Kornel, “Membantu ya membantu. Udah. Gak ada lagi. Hasrat lebih? Haha… Parno ah!”

Mereka masuk ke dalam pondok tersebut. “Loh sudah rapi?” Gumam Dimas. Tempat itu sudah sangat rapi. Barang-barang yang dipakai Ratna mengajar pun sudah bersih. Ratna sudah membereskannya.

“Yaah. Telat.” Kata Kornel. Tangannya yang coklat menggaruk kepalanya.

Dimas pun geram, “Kornel! Sudahlah! Tidak baik seperti ini. Ayo kembali!”

“Ah… iya, iya…” Kornel menyerah. Mereka pun akhirnya berjalan kembali ke biara. Dimas menghabiskan waktunya di jalan bersama dengan Kornel untuk menceramahi Kornel tentang panggilan dan tanggung jawab.

Tak disangka, di teras depan biara itu mereka menjumpai orang yang mereka cari. Ratna, gadis berambut pendek dan berparas cantik yang sudah membantu mereka selama sebulan belakangan ini. Ratna sedang duduk di salah satu kursi dan di sekelilingnya terdapat ada koper, ransel, dan tas kecil. Ratna sudah mau pulang, tetapi untuk sebuah alasan ia menyempatkan diri ke biara itu.

Melihat itu, kornel langsung dengan sigap menghampiri Ratna dan bertanya, “Ratna, Cari siapa?”

Ratna menjawab, “Mau pamitan sama Romo Leo.” Kini mereka bertiga sudah berada di teras itu. Ratna melanjutkan, “By the way, thanks ya buat bantuannya selama ini.  Kalau gak ada kalian, saya pasti sudah kewalahan.” Ratna menjabat tangan para frater itu.

Dimas berkata dengan dingin seakan mencari alasan untuk segera masuk ke biara, “Sudah dipanggilkan Romo Leonya?”

“Oh sudah. Sudah.” Kata Ratna.

“Duduk sini dulu aja, Dim!” Kata Kornel sambil menarik salah satu kursi. Dimas langsung memegang kepalanya seraya kecewa dengan keputusan Kornel yang tidak segera masuk ke dalam.

Kornel dengan penuh senyum bertanya pada Ratna, “Kog buru-buru pulang? Di sini aja sampai natal. Natal di sini perayaannya seru.”

Ratna menimpali, “Pinginnya gitu sih. Tapi udah disuruh pulang sama calon suami.”

“Calon suami?” Tanya Dimas dengan agak terkejut. Kini mata Dimas terarah tajam pada Kornel. “Jadi Ratna sudah mau menikah?”

Ratna tersipu malu, “Iya. Tahun depan saya akan menikah.”

Kornel tidak memahami kode dari kawannya. Dengan penuh semangat, ia berkata pada Ratna, “Siapapun pasti bahagia punya istri seperti Ratna!”

Ratna tiba-tiba tertunduk, “Sejujurnya….” Kini Ratna menunjukkan tatapan yang benar-benar melas. “Aku gak yakin aku pantas buat dia.”

Dimas langsung angkat bicara, “Ratna!” Mata mereka berdua bertatapan. “Kalau dia berkata kamulah calon istrinya, itu berarti dia sangat yakin denganmu. Tidak ada satupun dari dirimu yang membuatnya ragu. Yang harus kamu gumulkan sekarang bukanlah bagaimana kamu pantas untuknya, tapi bagaimana kamu pantas untuk Tuhan. Karena sesungguhnya tidak ada yang lebih bahagia bagi lelaki selain menikahi wanita yang takut akan Tuhan.”

Ratna tersenyum. Baru saja Ratna mau menjawab, pintu di dekat mereka terbuka. Seorang pria berbadan hitam dan besar keluar dari pintu itu. Itu adalah Romo Leo, Pastur Leonard Barry, kepala paroki setempat sekaligus pemimpin biara tempat Kornel dan Dimas tinggal.

Romo Leo berkata, “Kornel, Dimas, ke mana kalian tadi setelah devosi?”

Kornel kebingungan menjawab. Dimas angkat bicara, “Kami tadi pergi ke pondok. Kami berniat membantu Ratna beres-beres. Tetapi ternyata dia sudah terlebih dahulu siap.”

Ternyata Romo Leo tidak marah, “Hahaha… Ternyata pemikiran kita sama, Dimas. Saya juga tadi berniat menyuruh kalian hal yang sama. Tetapi saya justru bertemu Ratna duluan daripada kalian.”

Kornel menyahut, “Iya Romo. Habisnya kita bingung. Biasanya kan habis devosi kita langsung ke pondok bantuin Ratna.”

“Nanti siang waktu makan kita diskusikan jadwal kita, Kornel.” Timpal Romo Leo.

Ratna menyela perbincangan mereka, “Romo. Kita jadi kan?”

“Iya Ratna.” Romo Leo tertawa lalu mengelus kepala Ratna. “Saya sudah janji kan mau antar kamu sampai terminal?” Romo Leo melihat ke arah dua fraternya, “Frater Kornel, Frater Dimas, tolong bawa masuk barang-barang Ratna ke mobil saya. Saya mau panasi mobilnya.”

Mereka pun membawa koper dan tas Ratna masuk ke dalam mobil. Romo Leo masuk di kursi depan dan memanaskan mobilnya. Di luar mobil itu, kini ada Ratna, Kornel, dan Dimas. Kornel berkata, “Ratna, tunjukin foto calon suamimu dong.”

Ratna mengeluarkan handphonenya, lalu menunjukkan wallpaper handphonenya pada mereka berdua. Kornel bertanya lagi, “Kapan nikahnya?”

“Sekitar tahun depan.”

“Nikah di sini aja…” Sahut Kornel.

Melihat kawannya sudah melewati batas, Dimas memukul lengan Kornel. Dimas angkat bicara, “Tolong kabari Romo Leo bila kamu sudah akan menikah. Kami akan doakan dari sini.”

Sekali lagi Ratna dibuat termotivasi oleh kata-kata Dimas. Dengan spontan Ratna bergerak memeluk Dimas sambil berkata, “Makasih ya Frater…”

Tetapi Dimas mencegah pelukan itu sambil berkata, “Iya…” Lalu berbisik, “Saya frater…” Dimas menatap Kornel dengan tajam, “Ayo masuk, kita kerjakan sesuatu di dalam.”

Dimas dan Kornel akhirnya mundur. Ratna masuk ke mobil. Mereka saling melambaikan tangan. Setelah mobil keluar dari area biara, Dimas menegur Kornel, “Kornel! Kamu ini frater lo! Saya sudah bilang tadi di jalan! Jangan begitu! Kamu harus lebih bijaksana!”

Kornel memandang Dimas, “Dim! Sudahlah! Gak tiap hari kan kita ada tamu seperti ini! Toh juga gak mungkin aku pacaran sama dia! Dia udah punya suami! Aku juga tau aku ini frater!”

Dimas menyudahi pertengkaran ini, “Sudahlah! Ayo kita opus! Saya akan bersih-bersih dari mulai ruang musik. Mea culpa.”

“Mea culpa.” Jawab Kornel. Mereka saling menebah dada dan membungkukkan badan. Lalu mereka berjalan masing-masing.

Dimas sampai di ruang musik, lengkap dengan sapu dan pel. Ia menyalakan lampu ruang itu. Ia meletakkan sapu dan pel di dekat piano, lalu mulai membuka piano tersebut. Ia memejamkan matanya, membuat tanda salib, lalu memainkan sebuah instrument.

Ia bersajak,

“Tuhan, aku ingin mencintai-Mu lebih dari apapun

Bila kini aku mencintainya, aku tahu rasa ini datangnya dari-Mu

Aku tak mengerti, ya Bapa, mengapa aku harus sakit hati

Namun biarlah kehendakmu yang terjadi

Bantu aku agar aku makin setia pada-Mu, bukan pada manusia.”

Ia menyelesaikan instrumennya, membereskan piano itu, lalu mulai menyapu.

 

Ilustrasi oleh: Celine A. – Instagram: @sei_nyaan

pelukis yang tergila-gila sama dunia 2D. hampir jadian ama Kobo-Chan.

Tags: , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: