When She Came Home for Christmas, A little gift from Santa

scene 2

“Kesel ya sama Indonesia! Pesawat gak delay itu mukjizat! Lebih gampang sembuhin kanker daripada bikin penerbangan di Indonesia on time! Huh!”

Ia terus bergumam, mengutuki pesawat, bandara, bahkan penjual air minum di dalam bandara yang harganya dua kali lipat daripada harga asli. Namanya Siti, gadis sederhana yang sedang menempuh program beasiswa di kota. Ini adalah tahun kedua baginya. Kalau dipikir, ia pasti merindukan kampung halamannya. Sudah setahun dia tidak pulang. Natal tahun lalu adalah kepulangan terakhirnya. Sepanjang tahun dihabiskannya untuk belajar dan mencari uang tambahan.

“Haah. Bete!” Katanya sambil duduk di ruang tunggu. Ia berusaha mengisi kekosongan pikirannya. Ia menatap handphone-nya. Ada foto selfie-nya bersama dengan kekasihnya, mereka berpelukan. “Setengah jam lagi. Iya kalo gak delay lagi!”

Ia mencari kegiatan lain. Ia mulai memandangi orang-orang di sekitarnya. Dalam hati ia berpikir, “Orang-orang ini pasti juga bete.”

Hingga akhirnya pandangannya terpaku pada seseorang. Santa Claus. Santa tidak nyata, jadi itu pasti orang yang berpura-pura menjadi Santa. Tapi hatinya nampaknya sama seperti Santa. Terlihat pria dengan jenggot putih palsu itu sedang membagikan sesuatu pada pengunjung. Di seberang pria itu, di sebuah kursi, tampak seorang anak kecil memegang bingkisan yang sama dengan yang diterima orang-orang. Sebuah coklat.

Dan sekarang mata mereka saling memandang, Siti dan Santa. Sang Santa tersenyum. Dengan membawa karung coklat kecil di tangannya, ia berjalan ke arah Siti. Siti berpikir dalam hati, “Dia ke sini? Oke… Pura-pura gak liat. Eh dia beneran ke sini? Pura-pura buka hp. unlock, lock lagi. Ini si orang aneh makin deket lagi. Aduuh. Oke fix dia beneran ke sini. Senyumin aja. Senyumin.”

Sang Santa sudah ada di sebelah Siti. Ia menyapa Siti, “Merry Christmas, cantik!” Ia berkata demikian sambil memberikan sebungkus coklat kepada siti.

“Maaf. Saya non-Kristen.” Kata Siti menolak halus.

Sang Santa mengeluarkan tertawa khasnya, “Hohoho….. Memang Natal hanya milik Kristen? Yesus datang buat semua orang, kog. Ini, berkat sukacita natal.” Ia masih menawarkan coklat itu pada Siti.

Hati Siti mulai tak tenang, “Orang ini ngeyel ya? Lagian, ni coklat aman gak?” Ia melihat sekeliling. Ada petugas keamanan yang dari tadi berjaga-jaga dan tidak juga menangkap orang ini. Rupanya memang Sang Santa sudah izin pada pihak bandara untuk melakukan ini. “Aman la yaa. Kalo keracunan, aku keracunannya bareng sama dedek lucu yang tadi.”

Sang Santa tersenyum manis. Siti pun membalas senyumannya sambil berkata, “Terima kasih.” Siti mengambil coklat itu dari tangan Santa.

Sang Santa mulai kelelahan berdiri. Ia pun memutuskan untuk duduk di sebelah Siti. “Hohoho… Memang kalau sudah tua begini ya… tidak kuat berdiri lama-lama.”

“LAH DIA NGAPAIN DUDUK SINI!!?” Jerit Siti dalam hati. Ia ketakutan. Perlahan ia menggeser duduknya menjauh.

“Adek cantik kerja di mana?” Tanya Santa dengan ramah sambil tersenyum ke arah Siti.

Siti pun semakin jengkel. “Kepo!” pikirnya. “Ahm… Saya masih kuliah.”

“Oh kuliah! Di mana?!” Wajah Sang Santa semakin girang.

“Di…..”

“Hohoho….” Sang Santa menyela, “Dulu Santa juga pernah kuliah. Kuliah mengemudi rusa terbang. Hohohoo!”

Siti pun semakin geram. Ia berbisik pelan, “Bodo amat!”

“Tadi adek cantik bilang apa?”

“Gak ada! gak ada apa-apa!” Siti memalingkan muka.

Sang Santa kembali tersenyum, “Dimakan dek, coklatnya.”

Siti menyadari bahwa coklat yang sudah sejak tadi ia buka belum juga ia makan. Ada sebuah keraguan untuk memakan coklat itu.

“Ayo..” kata Sang Santa halus.

“Oke..” bisik Siti sambil mengarahkan coklat itu ke mulutnya.

Sang Santa bertanya, “Enak?”

“Belom masuk!” Sontak Siti, “Belom juga nyentuh lidah!”

“Oiya… Hohohooho…..” Sang Santa tertawa.

Siti makin curiga pada Santa Claus aneh ini. Keringatnya mulai menetes. Ia berpikir, “Kayaknya aku harus pergi dari sini. Udah mulai ngeselin nih orang.” Akhirnya ia memutuskan untuk menyimpan coklatnya. Ia membuat tertawa palsu dan berkata, “Hehe… Kayaknya saya harus ke toilet. Permisi…” Ia pun membawa ranselnya lalu lari ke toilet, meninggalkan Santa aneh duduk sendirian.

Siti segera masuk ke sebuah bilik di dalam toilet. Ia menarik nafas panjang, “Phew….. Orang aneh! Lama-lama ikutan bego aku kalo ngobrol kelamaan sama dia! Gak ngerti lah sama orang-orang zaman sekarang. Otaknya gak ada kali ya?”

Siti keluar, lalu mencuci mukanya di wastafel. Ia berkata pada pantulannya di cermin. “Abis ini, pergi, cari tempat yang agak jauhan ama si Santa Claus gak jelas itu!” Ia berjalan keluar dari toilet itu.

Di saat yang bersamaan, Sang Santa sedang berjalan menuju toilet pria yang bersebelahan dengan toilet wanita. Sang Santa langsung berseru, “Hai adek cantik. Gimana ke toiletnya? Enak? Lega?”

“TIDAAAK!” Jerit Siti dalam hati. Bahkan yang kali ini Siti sudah tidak tahu mau menjawab apalagi.

Sang Santa di sisi lain justru mengangkat topik pembicaraan, “Toilet di sini bagus. Perawatannya baik. Gak kayak kota asal saya. Bandaranya jorok. banyak toiletnya udah gak keluar airnya….” Santa tetap berbicara panjang lebar. Siti terdiam sambil mengeluarkan senyum palsu.

“Ehm…” Siti mencoba menyela. “Santa gak jadi ke toilet?”

“HOHOHO…. Santa bisa tahan! Lebih penting menemani kamu kan? HOHOHO…..”

Pikir Siti, “Gak! Pergi aja sana!” Tetapi kata-kata itu tak bisa keluar karena Sang Santa kembali berkata-kata.

“Ini harus diperbaiki! Kalau dalam hal membersihkan toilet saja tidak becus, bagaimana mau menyediakan pelayanan yang maksimal? Indonesia tidak akan maju kalau orang………”

“Perhatian, perhatian!” Suara itu terdengar dari speaker yang ada di atas mereka. “Penumpang dengan kode penerbangan XXXX diharapkan menuju ke pintu dua.”

“HORE! YES! Ada alasan buat kabur dari orang aneh ini.” Pikir Siti. Siti pun berkata pada Sang Santa, “Wah! Itu pesawat saya! Saya duluan ya Santa!” Siti kembali berjalan cepat meninggalkan Santa. Siti berjalan sambil menggumam, “Akhirnya berangkat juga. Lama-lama di sini, aku bisa berubah jadi manusia salju!”

Siti pun sampai di pesawatnya. Ia menata barangnya, lalu duduk di kursinya, di tepi jendela. “Rumah, aku datang.” gumamnya sambil menatap jendela.

Saat ia berpaling, rupanya sudah ada orang yang duduk di sampingnya. Mereka saling memandang. Orang ini menyapa Siti, “Hai adek cantik!”

“TIDAAAAAK!!!!”

Perjalanan memakan waktu dua jam. Dalam kepulangan ini, Siti harus menderita kuping gatal dan nyeri pipi karena terlalu lama membuat senyum palsu.

Ilustrasi oleh: Celine A.  – instagram: @sei_nyaan

tolong instagram itu difollow, pelukisnya desperate followers.

Tags: , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: