Fight Racism!

Hi readers, beberapa hari yang lalu BEM UPH baru aja merayakan hari diversity. Bagaimana perayaannya? Biasa aja. Hampir gak kerasa. Cuma kerasa posternya doang. Sama kayak Indonesia, katanya udah merdeka, tapi sampe sekarang rakyat masih dijajah bangsa sendiri. But anyway, nice try BEM… Nice try….

MKM sendiri punya pengalaman tentang diversity di UPH. Sebelum MKM cerita, MKM kasih backgroundnya dulu ya. UPH itu Universitas Pelita Harapan, tempat MKM kuliah. Udah banyak artis yang masuk ke Universitas ini, tapi sedikit yang lulus dari sini.

UPH emang tempat orang kaya kuliah. Uang kuliahnya emang mahal. Dan itu setara sama kualitas. makanya ada guyonan jalanan bilang, “UPH: Uang Papa Habis, Universitas Penguras Harta.”

Di satu sisi, UPH bikin program beasiswa 100% buat calon guru. Nah, MKM salah satunya. MKM emang punya kecerdasan matematis yang luar biasa dan emang pingin jadi guru. Target MKM sendiri adalah biar bisa mengajar di sekolah Internasionalnya UPH. tetapi banyak temen MKM (sebagian besar) adalah orang-orang dari keluarga gak mampu dari daerah terpencil yang sengaja dididik oleh UPH untuk dikembalikan ke daerah-daerah dan akhirnya mencerdaskan kehidupan bangsa.

Nah, di sinilah muncul sebuah kesenjangan sosial. Yang anak beasiswa merasa gak layak bergaul sama anak regular. yang anak regular merasa awkward bergaul sama anak beasiswa, malah ada beberapa yang jijik. literally jijik… bahkan ada anak regular yang kalo ketemu anak beasiswa langsung nyebut, “pahit… pahit… pahit…”

Suatu hari, MKM pulang kuliah sore. MKM naik lift bersama dengan beberapa anak beasiswa lain. Lift masih bisa diisi 3 orang lagi. trus lift berhenti tepat di depan gerombolan anak regular. apa yang mereka lakukan? mereka benar-benar gak mau masuk. Bahkan satu temen mereka didorong-dorong biar masuk lift, dan si kampret ini teriak dengan lantang, “gak… gak mau!” Semua diam dan akhirnya lift tertutup dan turun. Keluar dari lift, beberapa teman MKM ngomongin si kampret yang tadi, “itu anak anjing banget sih… kalo emang jijik sama kita biasa aja dong… dikira kita gak jijik sama dia..?”

Nah, ini yang salah siapa? anak regular atau anak beasiswa? anak beasiswa lah…. kenapa tadi gak keluar aja dari lift terus gampar si kamret itu? kenapa harus ngomong dari belakang, pengecut?

MKM sih gak tersinggung sama perlakuan si kampret itu. MKM mikirnya emang si satu ini punya kelainan kayak claustrophobia atau schizophrenia yang membuat dia gak bisa deket sama orang banyak.

So, racism will still exist if we are not taking this seriously. I have some tips:

1. Berani Melawan

Kalo kamu dikatain orang, “Cina anj*ng..!” bales aja, “Ambon bangs*t!!!” atau kalo emang gak tau dia suku apa, “Apapun suku lo, BANGS*T!!!” kenapa? pertama, kepuasan pribadi. kedua, orang-orang di sekitarmu sadar kalo rasisme itu ada dan gak baik dan harus dihentikan. orang tua yang mendengar teriakanmu pun pasti langsung ngomong ke anaknya, “jangan tiru kakak itu ya nak…” gak perlu kalian bikin poster kebersamaan antar suku yang akhir-akhirnya cuma dipandang sebagai bullshit. Show the world the reality. You will die as a hero dude!

2. Jangan generalisasi

Do not judge anyone else by their race. Gak semua orang papua bego. Gak semua orang jawa ndeso. Gak semua orang cina kaya. Well, most of the do, but “almost is never enough” to judge someone right? hinaan di atas gak kalah jahat sama hinaan ini: “Muslim itu teroris.” kalian gak akan denger ini di Indonesia, karena di sini Muslim jadi mayoritas. Kalo emang kalian gak suka sama mereka, gak sukalah karena apa yang mereka lakukan, jangan gak suka sama sukunya. kasih tau mereka kalo mereka salah. Misal kamu liat ada orang dayak jalan sama kamu bau badannya dia gak enak. ya kasih tau, “Bang… badan lu bau banget… besok-besok pake deodoran kek.” Kalo orangnya tersinggung dan malah memaki kamu, lakukan tips nomor satu, “DAYAK ANJ*NG!

3. cari temen sebanyak mungkin

Kalo udah temen, kamu mau bilang apapun ke dia, dianya gak akan marah. Sering kan kita ngobrol, terus ada temen kita becanda tapi gak lucu, kita jadi sok rasis, “Apasih Nias! selera humor kampungmu serendah itu ya?” Dan gak ada yang tersinggung? why? karena kita tau itu becanda. kita tau kita teman. Kalo ada pertemanan yang tidak saling memaki, ada yang salah dengan pertemananmu.

4. belajar budaya daerah lain

Fungsinya apa? pertama, Setiap daerah pasti punya makian daerah. seperti Jawa dengan “janc*k” nya, atau kalimantan dengan “tike*” nya. Jujur aja, daerahmu pasti juga punya. kedua, kamu jadi bisa bedain dengan sekali liat dia suku apa. MKM berani bertaruh, dari antara pembaca pasti cuma sedikit yang bisa bedain orang ambon, orang flores, dan orang papua. jujur, MKM pun gak bisa. they are like the same. nah, dari dua fungsi di atas, kamu akhirnya bisa menerapkan tips nomor 1. Ketemu orang yang ngeselin, maki aja dia pake makian daerahnya dia. MKM jamin dia gak akan bales, dia malah akan terharu, “kamu ngingetin aku sama kampung halaman ku..” akhirnya kamu nambah temen baru (tips no 3). Dan kalo dia ngeselin, kamu bisa kasih tau salahnya dia di mana (tips no 2).

Jadi gimana guys? berani melawan rasisme? Inget, Indonesia baru bisa merdeka saat semua pemuda dari banyak suku berbeda berkumpul dan sepakat bahwa kita berbangsa satu, bangsa Indonesia.

#Shalom1Jiwa #ShareTheLove #DieRacist well,

Tags: , , , , , , , , , ,

Trackbacks / Pingbacks

  1. Ngomong dari belakang | MKM's World - 27 March 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: