Gombal is Bullshit

Hi readers, tiap acara valentine (dan beberapa acara lain) tidak jarang MC akan mengeluarkan game yang namanya game ngegombal. Padahal gak ada korelasinya antara ngegombal sama kasih sayang. Ini sama kayak lomba makan kerupuk dan 17 agustus. gak ada korelasinya!

Masalahnya, ngegombal ini ada di mana-mana, dan kita sewaktu-waktu bisa disuruh ngegombalin cewe secara random. Gombal bagaikan menjadi skill wajib bangsa Indonesia. Takutnya, nanti kita bikin KTP, ada tes gombal dulu.

“Yak, data-data sudah lengkap, sekarang masnya gombalin saya dulu.”

“Tapi kan bapak cowo…”

“Udahlah mas, ini kepentingan data Negara.”

“Em… ya udah deh… Jadi saya ke sini karena saya butuh KTP pak. Bapak tau KTP pak?”

“Apa itu?”

“Kasih Tulus dan Pelukanmu…..”

“Yak. Gombalnya kurang bagus. Antre di sini lagi seminggu lagi ya mas..”

Kalo emang ini skill wajib, mestinya gombal masuk ke kurikulum. Ngegombal harus jadi bagian yang integral dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Dan ini harus masuk soal ujian nasional. Contoh soal:

Mengapa kita bisa tahu jika ayah lawan bicaranya adalah seorang petani?

a.Karena hati kita telah dicangkul
b.Karena hati kita telah ditanami bibit cinta
c.Karena hati kita telah diberi pupuk kompos
d.Karena mukanya kayak cacing tanah

Sebenernya dunia kita gak butuh kompetisi ngegombal. Why? Women don’t like bullshit. Women DO like shopping. So, what we need is shopping-partner competition. Women like to be accompanied for shopping (treated as well).

Gombal cuma butuh skill merangkai kata. Tapi nemenin cewe shopping, butuh banyak hal. Pertama kesabaran, sabar kalo dia milih barangnya lama. Kedua stamina, harus kuat fisik buat ngebawain barang belanjaan yang beratnya gak kalah sama berat dosa. Ditambah lagi, cewe suka muterin mall cuma buat beli barang di tempat pertama didatengin. Terakhir kemampuan matematis. Menit-menit awal, cowo kudu ngitung, kira-kira abis berapa buat belanjain cewe. Waktu proses pemilihan barang, cowo harus melakukan penyesuaian neraca antara jawaban, “kamu cantik kog pake itu” dengan fakta di lapangan bahwa harganya mahal. Di menit-menit akhir, cowo harus mulai menghitung, mau gak makan berapa hari?

Anyway, Love is sacrifice (I told you before). The more you sacrifice, the more you love. Like God sacrifice His own Son because He loves us. So, stop your bullshit. Show your love through your real sacrifice. (Well, become a shopping-partner is considered as sacrifice, I think.

#ShareTheLove #ShareThisBlog #Shalom1Jiwa

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: