MKM dan Seni Musik Klasik

MKM baru aja belajar sejarah. MKM baca buku sejarah yang bagus banget. Setelah MKM buka bukunya, ternyata isinya makanan. Ya udah, MKM jadinya makan. Ada nasi pra sejarah, ceker T-rex, disiram saus fossil (minyak bumi).

Tapi MKM terhitung di antara orang-orang yang suka sesuatu yang bersejarah. Contohnya, MKM suka banget music klasik. Makan yang paling enak itu kalo diiringi sama music klasik. Makannya pake garpu tala.

MKM suka banget nulis. Bahkan kalo nulis surat, tulisan MKM itu terpengaruh dengan music klasik. MKM kalo nulis surat di partitur. Tulisannya pake not balok.

Tidur juga enak kalo diiringi music klasik. Rasanya lebih syahdu. Kalo buat tidur, MKM suka diiringi sama lagu-lagunya Bach. Terus tidurnya dikelonin Mozart. #IniHoror

Jangan salah! Musik klasik barat emang keren. Tapi Indonesia juga punya music klasik yang gak kalah keren. Salah satunya adalah gamelan. Tapi Indonesia sangat tidak peduli dengan kebudayaannya. Buktinya, banyak orang Indonesia yang tahu kalo Canon itu lagu ciptaannya Mozart, tapi gak ada yang tahu siapa yang nyiptain lagu “Suwe Ora Jamu.”

Pasti ada aja pembaca sotoy yang jawab, “Aku tahu! Didi kempot!” MKM jawab, “Didi Kempot Mbahmu!” Saking kampretnya dia jawab lagi, “Maaf. Mbahku bukan Didi kempot. Mbahku Jumain.”

Tapi gamelan ini emang kesenian yang misterius. Konon katanya, tiap alat dalam gamelan itu ada “penunggu”nya. MKM gak percaya. Kenapa? Mayoritas alat dalam gamelan itu alat music pukul. Kalo pun ada penunggunya, penunggunya pasti gak betah, tiap hari digebukin melulu.

Kita mestinya bangga dengan gamelan. Negara eropa gak mungkin bisa punya gamelan. Kalo pun punya, “penunggu”nya gak kayak di Indonesia. Kalo Indonesia, biasanya sang penunggu ini berupa macan atau hewan mistis lainnya. Kalo di luar negeri, penunggunya pasti vampir. Terus akhirnya bukan nyanyi “suwe ora jamu” malah nyanyi “Thousand Years.”

Menurut blog gak jelas yang pernah MKM baca, musik klasik bila diperdengarkan pada bayi yang di dalam kandungan, nanti bayinya kalo lahir jadi pinter. Karena gamelan adalah music klasik juga, harus ada penelitian tentang efek memperdengarkan gamelan saat kehamilan kepada anak. Mungkin kalo selama 9 bulan penuh, janin diperdengarkan dengan gamelan, nanti keluarnya jadi jalangkung. Jalangkungnya nangis, nangisnya medhok.

Generasi sekarang itu anti banget sama gamelan. Katanya suaranya gak enak. Itu pasti kebawa sampe mereka jadi orang tua. Akhirnya menurun ke anaknya. Jadi waktu di kandungan, bayinya denger gamelan, bayinya meronta seakan berkata, “Keluarkan aku mama… sakit mama… tidak….”

Sejarah dan kebudayaan adalah hal yang penting untuk dilestarikan. Tapi janganlah kamu terjebak pada masa lalu. Move on nak, move on. Daripada stalking mantan, mending stalking TL @AditMKM. Gitu. Shalom Satu Jiwa!

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: