Macam-macam -Zone

Kita sudah cukup akrab dengan Friendzone. Kita memandangnya sebagai hubungan yang nyesek. Tapi ternyata masih banyak yang lebih parah dari itu. Dalam artikel ini, MKM ingin menyadarkan pembaca bahwa masih banyak orang yang lebih tidak beruntung dari kalian.

Familyzone: Sebuah hubungan di mana kamu cuma dianggap kakak/adik oleh gebetanmu. Itu aja. Gak lebih.

Driverzone: Sebuah hubungan di mana kamu cuma dimanfaatin gebetanmu buat nganterin dia pulang/ke mall/ kerja kelompok. Itu aja. Gak lebih.

Priestzone: Sebuah hubungan di mana kamu didoain jadi biarawan sama gebetanmu karena kamu keliatan sering banget doa. Padahal isi doamu adalah biar bisa jadian ama dia.

Postmanzone: Sebuah hubungan di mana kamu cuma dimanfaatin buat titip salam ke temen gebetanmu yang kamu kenal. Sakitnya lagi, kalo tujuan salamnya itu adalah teman kamu yang disukai gebetanmu.

Smartzone: Jenis Hape. #ItuSmartPhone!

Smartzone: Sebuah hubungan di mana kamu cuma berguna buat gebetanmu saat ada tugas. Dia pasti nyari kamu buat minta diajarin atau buat minta contekan.

Ciyezone: Sebuah hubungan di mana kamu dan gebetan cuma jadi bahan ciye-ciyean di kelas. Itu aja. Gak lebih. Kalian gak pacaran.

Prototypezone: Sebuah hubungan di mana kamu cuma dijadikan contoh sama gebetanmu untuk pasangan idaman. Jadi, dia ngomong begini ke temennya “Eh itu lo.. si (nama kamu) itu…. dia udah baik, lucu, ganteng, pasti yang jadi pacarnya bahagia.” “Kamu suka sama dia?” “Ya enggak la…” Yup. Gak ada yang suka sama kamu. Kamu cuma contoh. Itu Aja. Gak lebih.

Artistzone: Sebuah hubungan di mana gebetanmu ngefans banget sama kamu karena kamu punya bakat unik. Tapi dia gak mau pacaran sama kamu. Cuma ngefans. Itu aja. Gak lebih.

Childzone: Sebuah hubungan di mana gebetanmu cuma nganggap kamu sebagai anak sendiri. Jadi bisa dipastikan bahwa kamu adalah pecinta tante-tante/om-om.

Grandchildzone: Sebuah hubungan di mana gebetanmu cuma nganggap kamu sebagai cucu sendiri. Jadi bisa dipastikan bahwa kamu adalah pecinta kakek-kakek/nenek-nenek.

Mario Teguh biasanya menutup kalimatnya dengan “Itu” atau “Itu dia” atau “Itu di sana.” Itu membuat dia terlihat pintar. MKM berusaha juga pada artikel ini untuk menutup kalimat dengan kata “Itu” tapi nampaknya MKM tetap dipandang sebagai penulis yang kurang pintar. tapi biarlah. semoga yang menjalani zone-zone di atas diberi ketabahan. Shalom Satu Jiwa

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: