Medhok Bukan Dosa

MKM punya kakak kelas. Cantik kayak anggota JKT 48. Tapi begitu dia ngomong, jadi mirip kakang mbakyu Malang. Ada penekanan pada huruf T, G, D dan huruf-huruf tertentu yang lain. Ternyata medhok (logat jawa).

Kesalahan orang jawa yang lama di ibu kota adalah mencoba bahasa lo-gua. Itu geli. Kalian ngomong “gua” itu jadi “ghua.” Gak pantes. Kenapa kalian harus terpengaruh dengan budaya Jakarta? Kenapa gak kalian yang jadi trendsetter? Kan keren kalo ada anak Jakarta yang manggil temennya bukan pake “elo” tapi pake “kowe.”

Keren sekali bila supir angkot di Ibu kota saling memaki, bukan dengan “Woi! Anj*ng lo!” tapi, “Woi! As* kowe!” Supir angkot akan tetap kasar, walaupun ada stiker “Berkah Dalem” (Damai Bersamamu) di kaca belakangnya. Trust me, i am a blogger.

Banyak orang jawa yang malu karena mereka medhok. Saat orang jawa kumpul dan ngobrol dengan banyak orang yang bukan jawa, situasinya mirip dengan saat semua teman-temanmu lagi pegang dan main Ipad, tapi kamu main tamagochi.

Apa salahnya main tamagochi? Apa salahnya medhok? Sering kali kita orang jawa diejek karena kita medhok. Dibilang udik, kampungan, ndeso; gak masalah, enjoy aja, mereka cuma iri karena mereka gak bisa niruin cara bicara kita. Bahasa jawa punya medhok yang khas, yang kamu harus latihan selama berbulan-bulan untuk menguasai teknik medhok. Ya, teknik yang akhirnya bikin mulut kita sering muncrat.

Kita harus bangga jadi orang jawa. Medhok jawa dijadikan panutan bagi anak-anak alay. Gara-gara orang jawa kalo bilang I jadi E, dan selalu ada penekanan khusus pada hruf T, dan U jadi O; maka anak alay mengubah kata gitu jadi getho. Tapi orang jawa tidak pernah pake bahasa itu. Orang jawa kalo bilang “gitu”, bilangnya “ngono.”

Kenapa harus malu kalo medhok? Medhok itu membuat kamu jadi aman terhadap alay. Bahasa alay gak ada yang medhok. Jadi saat kamu mau ikutan pake bahasa alay, teman-temanmu yang alay akan menjauhi kamu. Akhirnya jiwamu terselamatkan dan kembali ke jalan yang benar.

Medhok itu bukan dosa. Nanti waktu kita mati, kita ditanya, “Siapa namamu?” Kita jawab, “Budhi.” Malaikatnya gak akan bilang, “Yah medhok, kamu gak boleh masuk surga, bahasamu gak terdaftar di surga.”

Lestarikanlah budayamu sendiri. Mulailah dengan mencintai bahasamu, bukan malu menggunakannya. MKM medhok dan MKM bangga.

Tags: , , , ,

2 responses to “Medhok Bukan Dosa”

  1. Winner says :

    Koncomu ndek kono medok kabeh a dit? medok bahasa sana

  2. dityamkm says :

    ya. lu gua lu gua gitu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: