Cara Ngupil ala MKM

Upil adalah debu yang terhirup melalui hidung. Debu tersebut tersaring oleh rambut hidung lalu bercampur dengan lendir dan akhirnya mengeras. Melihat dari komposisinya, upil bukanlah sesuatu yang haram. Upil hanyalah korban dari diskriminasi masyarakat.Upil yang tak bersalah, akhirnya menjadi barang yang najis bagi masyarakat.

Seperti yang MKM tekankan pada paragraf pertama, upil bukanlah sesuatu yang haram. Maka ngupil pun sebenarnya bukanlah sebuah dosa. Ngupil hanyalah sarana untuk membuat tubuh semakin bersih. Namun ngupil terlanjur menjadi hal yang tabu bagi masyarakat.

Ngupil dibutuhkan oleh tubuh. Sama seperti gatal yang butuh digaruk, hidung kita juga butuh sensasi ngupil. Bayangkan bila seminggu saja kita tidak ngupil, apa yang terjadi pada hidung kita? Akan sepenuh apa hidung kita? Hidung kita akan sesak oleh kotoran. Lalu kotoran itu akan menutup lubang hidung kita. Lalu kotoran itu mengeras dan permanen tidak bisa dikeluarkan. Lalu kotoran itu membusuk dan membuat kita terkenan kanker hidung. Lalu hidung kita terpaksa diamputasi (lalu kita akan jadi seperti voldemort).

Semua orang di dunia ini butuh ngupil. MKM butuh ngupil. Kamu butuh ngupil. Jokowi butuh ngupil. Eyang Subur juga butuh ngupil. Setiap orang punya cara ngupilnya sendiri-sendiri. Kurang lebih beginilah cara ngupil MKM:

1. Mulailah Dengan Sopan

Bagi sebagian besar masyarakat, ngupil masih dipandang tidak sopan. Dan susahnya, setiap daerah punya cara “sopan”nya sendiri-sendiri untuk ngupil. Ada yang bilang kalo ngupil, tangan dan hidungnya harus ditutupi (tapi kan sama aja, toh kita juga akhirnya tau kalo kamu itu ngupil). Ada yang bilang, kalo ngupil harus menghadap belakang (tapi kalo kita ngobrol sama orang gak liat mukanya kan juga gak sopan). Jadi kamu harus mencari jalan tengah antara kebutuhan ngupilmu dan norma yang berlaku.

Agar kamu tidak dibenci dan tidak terjadi konflik di antara kamu dan yang melihat aksi ngupilmu, katakanlah dengan polos (wajah tanpa dosa) bahwa kamu butuh ngupil sebelum kamu memulai ngupil. Katakan pada mereka, “Saya butuh ngupil. Segera. Sebelum saya mulai, apakah ngupil saya ini akan mengganggu? Bila iya, bagaimana cara saya agar saya tidak mengganggu anda/kalian?” Tunggu jawaban mereka. Lalu coba sesuaikan diri dengan adat mereka.

2. Gunakan Jari Telunjuk

Ngupil yang paling baik adalah menggunakan jari telunjuk. Kenapa? Karena jari telunjuk adalah jari yang paling sensitif di antara jari-jari lain. Bentuknya yang panjang dan letaknya yang longgar membuat dia mampu bergerak aktif di dalam hidung. Jari telunjuk juga cukup kuat untuk mengambil upil yang menempel kuat.

Jangan pernah ngupil menggunakan ibu jari. Ukurannya yang terlalu besar akan membuat lubang hidungmu membesar (ntar jadi kayak babi). Bila ukuran lubang hidung terlalu besar, itu akan memudahkan debu untuk masuk ke dalam hidung. Dan itu membuat anda untuk ngupil lagi. Jadi dengan siklus seperti itu, ngupil menggunakan ibu jari akan membuat kita ketergantungan terhadap ngupil.

3. Selesaikan Secara Jantan

Selesaikan apa yang sudah kamu mulai. Jangan berhenti ngupil sebelum semua upil terambil. Pastikan hidungmu benar-benar bersih. Pastikan ngupilmu sudah tuntas. Jangan seperti orang lagi beli motor, nyicil. Jangan ngupil sebentar, trus beberapa saat kemudian ngupil lagi. Itu buang-buang energi.

Ngupil selama mungkin sebersih mungkin sampai kamu puas. Pastikan saat kamu ngupil tak ada upil yang tersisa. Kalau tersisa dan kelihatan oleh orang lain, itu akan mengurangi level “keren”mu. Gak “keren” kalo kamu udah fitness tiap hari, badan udah six-pack, baju udah modis, rambut udah oke, hidung ada upil yang masih “nyantol”. Jadi, nikmati ngupilmu sampai hidungmu bersih.

4. Gunakan Upil Sebijak Mungkin

Kadang kita tak tahu harus diapakan “hasil pancingan” kita ini. Dan tidak salah bahwa buang upil sembarangan itu membuat lingkungan menjadi kotor. Jadi, sebagai warga Negara yang baik, kita harus bisa membuat upil kita bermanfaat. Hal ini bisa dimulai dengan membawa sebuah plastik kecil ke mana-mana dengan label: tempat upil. Di plastik itulah kita menyimpan upil-upil kita. Saat kita sudah menemukan tempat yang tepat untuk membuang upil, baru kita buang.

Menurut blog yang gak jelas yang pernah MKM baca, upil kita ternyata bisa dimanfaatkan oleh serangga (entah untuk apa). Daripada membuang upil sembarangan, lemparkan saja upilmu ke tempat yang banyak serangganya (hutan, tempat sampah, pot bunga, atau pojokan kamar). Atau bila kamu punya teman yang mengidap neurosis (atau kelainan jiwa lain yang memungkinkan), kasih aja upil-upil yang sudah kamu kumpulkan padanya. Bagi kita mungkin hanyalah upil, namun bagi dia upil kita bagaikan snack yang sangat enak.

Anyway, ngupil itu enak. Ngupil itu bukan dosa. Ini ngupilku. Kamu?

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: