Episode 7 – Ian, The Charmeleon Boy

Di dunia ini, ada sebuah ikatan yang tercipta dari ketidak sengajaan. Ikatan itu tercipta bukan karena hubungan darah. Ikatan itu tidak dipengaruhi oleh persamaan ras. Ras yang berbeda, dari darah yang berbeda, bahkan mungkin makhluk yang berbeda, dapat bersatu dalam satu ikatan. Keluarga.

 

“Mutan?” Kyta bertanya dengan wajah penuh harapan.

“Iya. Aku adalah mutan ciptaan….”

Belum selesai manusia bunglon itu berbicara, Kyta memeluk makhluk itu dengan erat. Seraya meneteskan sedikit air mata, Kyta berkata, “Lalu mengapa kau menyerangku?” Pelukan itu makin erat. “Bukankah mungkin hanya kita berdua mutan yang ada di dunia ini. Mengapa kita tidak jadi teman saja?”

“Teman?” Ian terdiam.

 

Sejenak dalam pikirannya, terlintas kata-kata dari seorang pria tua yang pernah menasihatinya, “Ian, bagi Vincent kau tak lebih dari sebuah eksperimen yang gagal.” Dan satu kalimat lain, “Jadilah teman yang baik untuknya.”

Lalu bayangan di otaknya berubah menjadi seorang pemuda dengan tangan kiri yang terbuat dari besi dan kabel yang berkata, “Aku yang menciptakanmu! Jadilah sesuatu yang berguna untukku!”

 

Kyta masih memeluk makhluk bersisik itu. Kyta berkata lagi, “Bahkan mungkin kita bisa jadi satu keluarga!”

“Keluarga?”

 

Dalam pikirannya, pria tua itu berkata lagi, “Vincent terluka karena satu-satunya keluarga miliknya direnggut oleh Justice. Dan itu terjadi di depan matanya sendiri.”

Beralih ke memori yang lain, pemuda berkacamata berkata padanya, “Ian, mulai hari ini kau akan membantuku mewujudkan cita-cita ayahku. Ayahku adalah satu-satunya keluargaku.”

 

Tersadar dari lamunannya, Ian mendorong Kyta seraya berkata, “Apa yang kau lakukan?”

Ian menodongkan senjatanya pada Kyta. Posisinya adalah posisi siap menembak. “Jangan halangi aku!” Kyta yang ketakutan oleh senjata itu mulai mundur mendekati jendela besar. Ian berkata lagi, “Kau tidak tahu apa-apa tentang keluarga! Bahkan mungkin kau tak punya!”

Telinga Kyta bereaksi karena mendengar sesuatu. Kyta tersenyum. Ia menegakkan tubuhnya, lalu berdiri sambil menggenggam erat tonfanya. Ia berkata, “Aku sudah punya. Dan aku bahagia karenanya.”

Ian berkata dalam hati, “Bahagia?”

Kyta memanfaatkan kelengahan Ian. Kyta menembakkan tonfanya pada jendela yang ada di belakangnya. Dari jendela yang pecah itu, tampak sebuah pesawat terbang rendah di samping jendela. Pintu pesawat itu terbuka dan ada sebuah tangga tali menggantung dari pintu itu. Angin berhembus dengan kencang melalui jendela itu. Debu memaksa Ian menutup matanya dengan lengannya.

Kyta berseru, “Mungkin tidak sekarang, tapi aku yakin bahwa kita bisa jadi keluarga suatu saat nanti.” Setelah menyelesaikan kalimatnya, Kyta melompat keluar dan naik ke pesawat itu. Sedangkan Ian mencoba mengejar Kyta namun terlambat. Kyta sudah pergi dan membawa Grafiti di pesawat itu.

 

Pria dengan syal belang warna hitam putih terduduk di dekat pintu gerbang sebuah kota. Penduduk kota itu menamai kota mereka Bunker City. Salju turun dengan lembut, namun tidak menghapus ketakutan yang berada di wajah pria itu. Dalam hatinya ia berbisik, “Raphael.”

Seorang wanita membawakannya coklat panas dan menepuk bahunya, “Ini untukmu.”

“Terima kasih.” Pandangan pria itu masih kosong.

Wanita itu menatapnya dengan halus. “Seluruh penduduk bertanya-tanya, itu tadi apa pak walikota?”

Beberapa saat sebelumnya, sebuah robot berbentuk tabung memasuki kota itu. Sang walikota yang mengenali benda itu langsung mengambil rocket launcher dan menembakkannya ke robot itu. Setelah peluru mengenai sang robot, ia mengarahkan pelurunya agar terbang ke atas. Robot itu melayang jauh dan hancur. Setelah di ketinggian cukup jauh, robot itu meledak dengan ledakan yang sangat kuat.

Wanita itu menyadarkan pria itu dengan sebuah guncangan seraya berkata, “Pak walikota?”

Pria itu merasa terganggu dan berkata, “Bukankah aku sudah memintamu untuk memanggilku dengan nama?”

“Maaf. Sebab semua orang di sini menghormatimu. Walaupun kau yang diselamatkan oleh mereka tujuh tahun lalu.” Wanita itu menghela nafas panjang. “Baiklah, kuulangi lagi pertanyaanku. Tadi itu apa? Lucius.”

 

“Kyta pegang tanganku.”

Kyta yang masih bergelantungan di tangga tali itu menggenggam erat tangan Chad. Kyta naik ke dalam pesawat dan berkata, “Akhirnya. Aku merindukan pesawat ini.”

Hawk dengan dingin berkata, “Jangan senang dulu Kyta. Kau harus menjelaskan siapa gadis itu.” Kyta langsung menatap Grafiti yang tertunduk di belakangnya. Grafiti tampak ketakutan.

Dengan maksud menenangkan Grafiti, Kyta menggenggam halus tangan Grafiti. Sambil menunjuk satu-satu, Kyta berkata, “Miss GR, yang mengemudi itu Miss Hawk, dan ini Chad. Semua, ini Miss GR.”

Chad dengan polos menjabat tangan Grafiti. “Aku Chad. Kalau boleh tahu, GR itu singkatan dari apa?”

Grafiti membalas jabat tangan itu dengan ramah dan menjawab, “GR itu karangan Kyta. Namaku Grafiti, Grafiti Ruppert.”

Hawk terkejut dan berseru, “Ruppert!?” Ia mengalihkan pandangan ke arah Kyta. “Kyta, kau tahu orang macam apa yang kau bawa?”

“Gadis biasa yang tidak bisa mencari makan sendiri?”

“Bukan hanya itu! Ia adalah anak dari Susan Ruppert, Presiden Metropolis. Ayahnya Gregory Ruppert, pemimpin Ruppert-tech Corporation. Dia sandera yang berharga.” Hawk tersenyum.

Senyumnya membuat seluruh pesawat ketakutan. Terutama Grafiti, ia menekuk lututnya sambil tetap berharap untuk diselamatkan. Chad berusaha mencairkan suasana dengan berkata, “Tapi Miss Hawk, ke mana kita akan pergi?”

“Saat kita mengejar Kyta, aku merasakan sebuah ledakan lain. Kita ke arah ledakan itu. Aku yakin ada seseorang di sana.”

 

Jauh dari pesawat itu, Ian mengendarai motornya dan mencoba meraih pesawatnya yang ia tinggalkan jauh dari sana. Ia bergumam, “Tunggulah Grafiti, aku akan menjemputmu.”

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: