Episode 6 – Chaser

Sebuah kendaraan tanpa roda melayang dengan pelan di jalan yang lurus. Di kendaraan berwarna hitam itu terdapat satu makhluk yang dari tadi memandang ke arah bawah. Dengan alat yang ada di matanya, ia berusaha mencari jejak ban di tengah-tengah jalan yang sudah hancur. Ia bersama kendaraannya berjalan pelan karena jejak yang susah dibaca.

Setelah beberapa puluh meter, ia berhenti. Ia bergumam, “Jejaknya berhenti di sini…..” Lalu ia melihat sekeliling, “Dengan tidak wajar.”

Ia mematikan alat yang menyerupai kaca mata itu. Pandangannya mulai normal. Di sebelah kanannya ia melihat ada sebuah kendaraan.yang tergeletak dengan tidak wajar. Ia berjalan kea rah kendaraan itu. Ia membaca tulisan yang ada di bagian depan. “Vespa.” Ia kembali menyalakan alat yang ada di matanya. Ia melihat roda yang ada pada kendaraan itu.

“Cocok.” Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. “Mereka pasti tidak jauh dari sini.”

 

“Sudah. Aku tak kuat lagi.” Grafiti menghentikan usahanya untuk menyeret Kyta lebih jauh. Kini mereka berada di sebuah bangunan. Bangunan itu tampak seperti sebuah kantor. Kini mereka berada di salah satu ruang kerja. Grafiti meletakkan tubuh Kyta di belakang sebuah meja.

Grafiti mengambil nafas panjang. Tubuh kecilnya kelelahan setelah menyeret tubuh Kyta yang cukup besar untuk jarak yang jauh. Helaan nafasnya makin tak teratur. Ia tak bisa melakukan apa-apa. Ia melipat kakinya. Ia bergumam, “Vincent, aku takut.”

 

Sementara itu, di belahan dunia yang lain ledakan kembali terjadi. Sebuah robot yang rusak menyebabkan bumi kembali harus mendapat luka. Vincent, sang perancang robot, tak mengerti siapa yang bisa merusak robot buatannya. Yang ia yakini, itu bukanlah Kyta si manusia kera. Dan memang benar, perusak yang kali ini bukanlah Kyta. Seorang pria yang menggunakan syal warna hitam di lehernya dan sebuah kacamata pada matanya, orang itulah yang mampu merusakkan robot itu.

Dari kejauhan, pria berbadan tinggi itu menikmati ledakan yang baru saja ia ciptakan. Tangan kirinya menahan syalnya agar tidak menghalangi mulut. Ia bergumam sendiri, “Hawk, semoga kau melihat ini.”

 

Grafiti makin ketakutan. Langkah kaki yang tadi hanya samar-samar terdengar, kini makin keras. Grafiti mencengkram kakinya dengan erat. Keringatnya menetes dengan deras. Berulang kali ia menoleh ke arah Kyta, berharap monyet itu bangun. Namun Kyta masih tak sadarkan diri dengan wajah penuh kesakitan.

Kini bukan hanya suara ketukan kaki, namun juga cahaya kecil yang berusaha mencari sesuatu. Cahaya itu makin terang. “Ia mendekat!” gumam Grafiti dalam hati. Matanya mulai meneteskan air mata. Saat cahaya itu sudah semakin dekat, Grafiti yang panik langsung memeluk Kyta sambil berteriak, “Kyta!”

“Jangan bergerak!” Teriak seorang wanita pada Grafiti. “Menjauh dari monyet itu nona.”

Grafiti melepaskan pelukannya dan mundur sedikit. Wanita itu mengarahkan senjatanya pada Grafiti. Seorang pria dari belakang wanita itu langsung berlari menuju Kyta. Ia terduduk di hadapan Kyta dan berusaha menyadarkan Kyta, “Kyta. Kau dengar aku? Kyta!”

Si wanita berkata, “Percuma Chad! Ia tak sadarkan diri.” Ia mengambil sesuatu dari saku belakang celananya, lalu melemparkan benda berbentuk tabung itu pada Chad. “Suntikkan itu pada Kyta.”

“Apa ini Miss Hawk?”

“Percayalah padaku, aku dulu pakarnya obat. Itu akan membuatnya berlari.”

Chad menyuntikkan tabung itu ke lengan Kyta. Perhatian mereka bertiga kini teralih pada Kyta. Setelah tabung itu dilepas dari lengan Kyta, perlahan Kyta mulai membuka matanya. Mulutnya terbuka seakan ingin mengatakan sesuatu.

Suara lirih mengalir dari mulut Kyta, “Tia…..”

Chad menyela, “Kyta, jangan habiskan energimu untuk bicara. Istirahatlah sebentar…”

“Tiara….” Suara Kyta masih lemah.

“Sudahlah! Kau ini!”

Kyta langsung berteriak, “Tiarap sekarang!”

Serempak mereka berempat tiarap. Benarlah, sebuah peluru melesat tepat di mana kepala Kyta tadi berada. Seseorang dari kejauhan telah menembakkannya. Namun ruangan itu gelap, tak satu pun dari mereka berempat yang sanggup melihat sang penembak.

Hawk tidak menyerah, ia menodongkan senjatanya ke arah peluru berasal. Matanya berusaha mencari keberadaan sang penembak. Namun matanya tidak menyadari apapun.

Kyta mulai mendapatkan nafasnya kembali. Mata mereka berempat tak mampu menemukan sosok sang penembak. Namun penciuman Kyta mampu mengikuti pergerakannya. Tangan Kyta menunjuk ke arah kiri. Hawk menembakkan senjatanya ke arah yang ditunjukkan Kyta. Sekilas terlihat sosok sang penembak, namun sosok itu kembali hilang.

Hawk berkata, “Kita harus pergi dari sini.”

Chad menyela, “Bagaimana caranya? Kita sedang diserang oleh orang yang tak terlihat”

Kyta yang mulai bisa bicara berkata, “Chad, berikan senjataku. Aku tahu kau membawanya. Bawa gadis itu pergi dari sini. Hanya aku yang bisa melawan penyerang kita yang satu ini.”

Chad berkata, “Tapi Kyta, kondisimu….”

“Aku tidak tahu suntikan apa yang kalian berikan padaku. Namun kini aku merasa sangat sehat.” Kyta menoleh ke arah Hawk, “Miss Hawk, mari kita lakukan ‘hal itu’ lagi.”

Hawk menjawab, “Huh. Hanya itu caranya kan?” Hawk menoleh ke arah Chad, “Berikan tonfa itu Chad. Percayalah padanya.”

Chad  melemparkan tonfa yang berada di tasnya pada Kyta. Kyta menangkapnya dan langsung mengambil posisi kuda-kuda. Kyta mengalihkan pandangannya pada Grafiti, “Miss GR, lari!”

Mereka bertiga berlari menuju sebuah pintu yang ada di hadapan mereka. Sementara itu, Kyta berlari ke arah yang berbeda. Kyta mengejar sesuatu yang sulit terlihat. Namun semakin dekat, apa yang Kyta cari makin terlihat. Sebuah sosok hitam dan menggenggam sebuah senjata. Sosok itu mengarahkan senjatanya pada tiga orang yang sedang berlari menuju pintu. Sebelum senjata ditembakkan, Kyta memukul tangan sosok itu hingga senjata itu terjatuh.

Kyta berseru, “Lari! Biar aku yang menghadapinya!”

Tiga orang itu berlari. Kini mereka berhasil keluar dari ruangan itu. Namun Kyta masih berada di dalam ruangan itu bersama dengan seseorang yang kini bersiap untuk memukul Kyta. Kyta segera melompat ke belakang. Kyta berhasil menghindari pukulannya.

Kyta berkata, “Kamu siapa?”

Sosok itu menunjukkan gejala yang aneh. Kyta ketakutan melihat kulit sosok itu yang berubah perlahan dari hitam menjadi biru. “Awalnya aku percaya bahwa tak ada mutan lain selain kami. Namun setelah penyeranganmu di pusat keamanan, aku jadi ingin sekali bertemu kamu. Kyta, The Monkeyman.”

Kini wajah sosok itu terlihat jelas. Seluruh kulitnya menjadi biru. Wajahnya bukan wajah manusia. Seperti yang ia katakan, ia juga mutan. Wajahnya menyerupai seekor bunglon. Matanya pun besar. Kulitnya yang bersisik dan mengkilap membuat penampilannya makin menakutkan. Ia membuka mulutnya dan terjulurlah lidah yang kecil dan panjang.

“Namaku Ian. Bila kau The Monkeyman, biarkan aku menyebut diriku The Charmeleon Boy.”

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: