Archive | May 2013

MKM Bicara tentang PDKT

PDKT adalah singkatan paling absurd dalam bahasa Indonesia. Singkatan berfungsi untuk memperpendek suku kata dari kata yang panjang. Tapi PDKT tidak memenuhi faedah tersebut. PDKT (PenDeKaTan – tuh kan jumlah suku katanya gak berkurang), walaupun cara nyingkatnya maksa, tetep aja banyak yang pake singkatan ini.

Dan kenapa tiba2 MKM bahasa topik ini? Karena semenjak MKM jomblo (baru aja brapa minggu) udah banyak temen MKM yang bilang, “PDKT aja sama si itu.” atau “Buruan PDKT ama si anu… lumayan lo.” Lalu MKM menjawab, “Kalo emang lumayan, kenapa gak kamu aja yang PDKT?” lalu si teman berkata, “Kan aku cewe!”

Well, MKM bukan belum move on (udah kog udah). MKM juga bukan homo (MKM bajingan dan MKM bangga). MKM cuma lagi gak mau pacaran aja. Dan satu hal lagi yang membuat MKM gak mau. MKM bosen liat reaksi cewe saat masa PDKT.

Di mata MKM, menurut reaksinya saat di “PDKT” cewe dibedakan menjadi 2:

  1. Cewe PHP
    Kita mulai dari tipe yang paling nyebelin dulu. PHP. Pemberi Harapan Palsu. Tipe ini adalah tipe yang gak bisa jahat sama orang lain (walaupun pada akhirnya memberikan kejahatan yang sangat menyakitkan). Dia akan selalu baik sama semua cowo. Namun di saat kita sudah merasa cukup dekat, ia akan menolak kita dengan alasan “Kamu lebih cocok dijadiin temen.”
  2. Cewe Lesbi
    Cewe tipe ini sering dijumpai. Cewe yang tampaknya gak punya temen cowo satu pun (kalaupun ada pasti cowo itu agak melambai). Cewe ini pasti akan menolak segala bentuk PDKT yang ada. Dia gak akan bales SMS/Mention/BBM/chat/apapun dari cowo. Cewe2 macam ini biasa dijumpai dalam rupa paket hemat (kumpul bertiga-berlima sama cewe2 yang sama2 lesbi).

Dengan ini, cowo punya balasan buat cewe. kalo cewe bilang, “Cowo itu cuma ada 2. Kalo gak bajingan ya  homo.” Sekarang, cowo2 bisa bilang ke cewe, “Cewe cuma ada 2. Kalo gak PHP ya lesbi.” Jadi cewe2, yang manakah kalian?

MKM di SMA part 3 (R.I.P)

Sekarang, MKM akan bercerita tentang tahun terakhir MKM di SMA. Setelah lolos dengan nilai biologi yang mendekati gak naik, MKM harus menjalani kelas 12. Saat daftar kelas dipajang di papan pengumuman, MKM langsung melihatnya sambil berkata dalam hati, “Mana namaku?” Setelah menemukan nama MKM di kelas XII-A4, tangan MKM bergerak ke atas dan ke bawah sambil berkata dalam hati, “Mana Reaper, Bio boy, teman2?” Beberapa detik kemudian, hati kecil MKM berteriak, “GAK ADA!!!”

Rupanya guru2 memang sengaja memisahkan MKM dari kelompoknya agar kami berkembang (katanya sih, tapi menurut MKM itu biar kami gak ramai di kelas). Sedikit depresi, tapi biarlah, MKM bisa mencari teman2 baru. Segera setelah itu MKM mengamati nama2 itu satu per satu.

“Oh bakso babi.” Itulah yang terbayang saat harus satu kelas (lagi) dengan siswa yang cukup menyebalkan. Kenapa harus bakso babi (gak telo bakar atau kentang goreng aja)? Karena nama siswa itu ejaannya mirip dengan Cayen (menu di restoran cina yang berarti bakso babi). Dia gak pernah berbuat salah pada MKM. Tapi cara bicaranya yang ceplas-ceplos, tingkahnya yang agak sombong (dengan tatapan dingin dari matanya yang sipit), juga lehernya yang kayaknya gak bisa nunduk, membuat MKM, FB, Bio boy, dan banyak orang2 vector lain susah bergaul dengannya.

Dan masih banyak nama2 kriminal lain yang MKM lihat di papan itu. Ada nama gadis mungil cerewet (yang nantinya akan menjadi Mantan Teman Sebangku), Tante Dempal, Navri (pemilik jenggot paling eksotis se-SMA – bahkan guru2 kalah keren), Ucup (anak papua yang bisa survive di jawa walaupun susah ngomong Bahasa Indonesia), dan masih banyak lagi. Kelas preman ini dipimpin oleh Mr.W (anak baik2 yang pada akhirnya juga jadi bahan kalah2an anak kelas).

Wali kelas kami adalah seorang ibu2 (yang menyeramkan), kita sebut saja Mother. Kenapa harus Mother? (walau tatapannya penuh nafsu membunuh) Ia memperlakukan kami seperti anaknya sendiri. Ia berkata bahwa ia selalu mendoakan kami. Apalagi saat kami menakan kelas kami R.I.P (Rolas IPA Papat). Ia berkata, “Dulu kelas saya bernama DIE (Duabelas IPA Empat), kini R.I.P. Itu berarti saya sudah mati dua kali. Yah, nama ini akan menjadi alasan saya untuk mendoakan kalian.”

Mungkin bagi kelas2 lain, kelas kami adalah kelas Motherf*cker (kelas yang wali kelasnya seorang mother dan isinya para f*cker). Namun kami cuek. Kami sadar bahwa kelas kami bukanlah kelas preman. Kelas kami hanya berisi orang2 yang terlalu kreatif (sehingga sering mengacau di kelas) yang dikumpulkan dalam satu kelas agar berkembang (dan tidak mengganggu siswa lain). Dan terbukti, kelas kami tidak pernah kehabisan ide untuk acara apapun.

Hari-hari kami jalani bersama guru2 yang sibuk menceramahi kami agar lulus UN. Namun tidak bagi satu guru. Sebut saja bapak BH. Pengajar kimia (yang sepertinya bereksperimen untuk membuat parfumnya sendiri, sehingga baunya aneh) ini sangat percaya bahwa kami akan lulus UN. Jarang sekali ia memberikan kami “lecture” tentang ketekunan. Justru ia selalu membuat kami tertawa dengan cara mengajarnya yang aneh dan curhatannya tentang nasibnya yang hampir pensiun.

Banyak guru yang mengecap jelek kelas kami. Bahkan kelas kami dibilang kelas “childish” (oleh guru yang juga childish). Sebagai gantinya, guru2 mulai memberikan PR yang jumlahnya gak tau adat. Dan yang lebih menyebalkan, mereka tersenyum sambil berkata, “Dikerjakan ya.” (troll face)

Walau tersiksa, pada akhirnya kami dapat lulus 100%. Di saat2 akhir, MKM melihat twit dan status FB teman2 R.I.P. Ada yang sudah diterima di univ, ada yang masih mencari, ada juga yang tampaknya frustasi. Tak sabar MKM melihat 7 tahun lagi, apa yang terjadi pada preman2 ini. Tak sabar melihat kesuksesan kalian teman. R.I.P, sampai ketemu di masa depan!

MKM di SMA part 2 (Vector)

Lanjutan dari postingan sebelumnya. Akhirnya MKM naik kelas. SEBENARNYA, MKM pingin masuk kelas sosial, tetapi karena geografinya jelek, jadi gak bisa masuk. Lalu MKM berpindah ke kelas Bahasa, tapi karena bahasa Inggris MKM buruk, gak bisa juga. TERPAKSA, MKM masuk di IPA.

Banyak orang berebut masuk IPA, tapi MKM beda. Bagi MKM, masuk IPA itu gak seru. Orang2nya terlalu serius. Anak2 IPA tidak seseru dan senakal anak SOSIAL. Padahal bukan nilai 100 yang akan kita ceritakan pada anak kita nanti, tetapi apa aja yang udah kita lakukan di SMA. Namun Vector (Eleven Science Quator – XI-A4) tidak terlalu buruk. MKM masih bisa merasakan keseruan SMA.

Akhirnya MKM berteman dengan FB. Bersama FB, MKM menciptakan banyak hal absurd dan mewarnai kelas. Dan gara2 sebuah film berjudul English Movie Project, MKM dan FB jadi terkenal. Film ini menceritakan 3 siswa bodoh yang harus mengerjakan tugas membuat film bahasa inggris bersama dengan satu cewe PMS.

MKM juga berteman dengan Bio Boy. Bio Boy adalah “alat” SMA MKM untuk mendapatkan piala dalam olimpiade biologi. Bio Boy hampir tak punya waktu untuk teman2 (itu juga gara2 dia introvert). Entah bagaimana, MKM akhirnya bisa berteman dengan Bio Boy. Thanks padanya, Nilai Biologi MKM mencukupi untuk naik kelas.

Fakta lucunya, MKM masih harus sekelas dengan Miss Galau. Seorang cewe yang tipe MKM banget (tapi mudah galau). Dan akhirnya terjebak dalam cinta segitiga yang konyol dengan sahabat MKM, Reaper. Reaper sendiri adalah anak wushu yang agak saddist. Dia emang kuat, namun keterlaluan. Mungkin memang di rumah dia terbiasa mukul nyamuk pake kung fu. Walau demikian, sampai hari ini tiada dari kami yang berpacaran dengan Miss Galau.

Sekali lagi, kelas ini dipimpin oleh Dewa. Dewa memang figur pemimpin yang baik. Ia bagaikan ayah (yang ngidol banget ama Girlband korea). Walau terkadang kita jijik melihat tingkahnya dia ketika melihat girlband, namun dia bisa menyatukan kami.

Lewat kelas ini, MKM mendapatkan apa yang tidak pernah didapat saat di Sendal. Juara. Kelas kami mendapat cukup banyak gelar juara. Itu membuat kami punya alasan untuk sedikit sombong.

Setelah setahun berpetualang, harapan MKM untuk naik kelas satu kelas penuh pupus. FB gak naik. di hari itu pengumuman, MKM sedih. Sahabat MKM gak naik. Padahal MKM lebih gak niat daripada FB. namun itulah yang terjadi, mau apa lagi.

Satu hal yang MKM pelajari. Kegagalan bukan untuk diaratapi, tapi untuk dinikmati dan dijalani. Demi hari esok yang lebih baik. Jika tidak bertarung, tak dapat bertahan hidup! (kenapa jadi kamen rider?) Vector, kalian keren

MKM di SMA part 1(Sendal Crew)

Mumpung momennya masih anget (layaknya tai yang baru keluar), MKM pingin cerita tentang pengalaman MKM di SMA. Postingan ini membahas tentang tahun pertama MKM di SMA.

Tidak ada kesedihan sama sekali dalam benak MKM saat harus meninggalkan Kediri dan pergi ke Malang untuk menuntut ilmu (walaupun ilmu gak salah, tetep aja dituntut). Pertama kali MKM masuk ke SMA, MKM berpenampilan layaknya tentara (potongan rambut cepak, dan sok tegas). Namun bukan ditakuti, malah dapet panggilan penthol (bakso, diperkirakan karena kepala MKM yang bulat dan manis) dari temen2 kelas. Namun akhirnya panggilan itu sedikit menguntungkan MKM karena nama asli MKM (Adit) itu nama pasaran. (kalo gak salah itung) Ada 7 nama Adit di angkatan MKM. Ditambah lagi ada satu guru (yang sampai hari ini gak setuju kalo MKM mau jadi guru) yang namanya Adit juga.

Kelas MKM di X-8. Kami menamai kami Sendal Crew (Sepuluh No Delapan). Kelas kami kompak (karena hampir semua anak di kelas itu gak punya malu). Kami selalu aktif dalam setiap perlombaan sekolah (walaupun gak pernah menang).

Awalnya MKM hanya berteman dengan Kenthus. Kenthus adalah teman MKM dari SMP. Dari Kediri, hanya 2 orang yang masuk ke SMA MKM. Dan mengenaskannya, satu kelas. Namun akhirnya MKM bisa akrab dengan semua anggota kelas.

Kelas kami awalnya dipimpin oleh LN (Londho Ndeso), seorang keturunan Belanda yang berasal dari Mojokerto. Bahasa Jawanya yang medhok dan tingkahnya yang lucu berhasil membawa satu kelas menjadi kelas yang agak absurd dan berkesan.

Namun karena alasan yang rumit dan tidak bisa dijelaskan (walau gak serumit alasan orang cerai), si LN akhirnya diganti oleh Dewa (yang sekarang udah sekolah di luar negeri  https://themkm.wordpress.com/2013/03/01/mkm-ketemu-teman-lama/). Dengan pemikirannya yang lebih terarah dari LN, Dewa berhasil membawa kelas ini menuju kelas yang lebih kompak dari sebelumnya (walau kesan absurd gak akan bisa hilang).

Saat lomba paduan suara antar kelas, Sendal Crew berhasil membuat Eyang Ti (https://themkm.wordpress.com/2013/05/25/eyang-ti-nenek-mkm/) melatih kami dengan gratis. Latihan juga di rumah eyang ti. (Entah itu gak modal atau emang gak punya adat) Tapi kelas kami juga bisa lebih bersemangat karena Eyang Ti.

Sayangnya tidak semua dari kami naik kelas. AA (Anak Alay – cewe berjerawat yang selalu overacting kalau ada rangsangan) pindah sekolah karena takut gak naik. Padahal AA adalah aset berharga kami, Untuk pertama kalinya MKM melihat ada orang dari flores tapi putih. Begitu juga dengan LS (LoudSpeaker – Cewe pendek yang kalo terlanjut ketawa gak punya adat),  ia juga pergi karena takut gak naik. Pada akhirnya, Bunder (kawan MKM yang perut ama muka sama2 bulet) gak naik. Itu sangat menyedihkan. namun bagaimanapun juga, life must goes on. (seenggaknya itu kata2 mantan MKM, entah bener ato gak grammarnya)

Terlalu banyak pengalaman kecil nan berkesan yang MKM rasakan bersama Sendal Crew (sampai susah ngingetnya). Sendal Crew adalah salah satu pemegang kunci mengapa MKM bisa seperti sekarang. terima kasih teman. kalian berharga bagi MKM.

Eyang Ti (Nenek MKM)

kenapa tiba2 MKM bahas nenek2 di blog ini? Karena dia bukan nenek2 biasa. Janda berumur 64 tahun ini adalah orang yang selama 3 tahun satu rumah dengan MKM. Banyak pelajaran yang MKM dapatkan dari ibu2 unik ini.

Ia biasa dipanggil Eyang Ti. Entah sejak kapan. Namanya nggak ada unsur “Ti”nya. Eyang artinya Orang tuanya orang tua kita. Ti sebenarnya berasal dari kata Putri (dalam bahasa jawa artinya cewe). Eyang Putri. Disingkat, Eyang Ti.

Menyebalkan memang bila harus serumah dengan orang yang mudah panik. Menurut guru PKn MKM (yang hampir setiap ulangannya MKM selalu remidi), mudah kaget dan mudah panik adalah ciri2 orang desa. Ya, dua hal itu ada pada Eyang Ti (dia orang desa). Paranoidnya berlebihan. Dan karena itulah kami sering bertengkar. contoh:
Eyang Ti: “MKM, kita pergi sekarang. kamarmu dikunci!”
MKM: “Kan pintu rumah udah dikunci.”
Eyang Ti: “Takutnya kalo ada apa2.”
MKM: “Apa? Maling? mau nyolong apa dari kamarku? kolor? gak ada apa2.”

Ketakutannya berlebihan terhadap satu hal yang namanya “apa-apa”. Sebenarnya “apa-apa” ini apa? kenapa Eyang Ti begitu takut? pulang agak malem juga gitu, “MKM jangan malem2. ntar ada apa-apa lo.” Ini membuat MKM dilema, antara ikut takut, atau bingung. Sampai hari ini Eyang Ti gak mau kasih tau “apa-apa” itu apa.

Walaupun sikapnya menjengkelkan, namun Eyang Ti adalah guru segala umat (layaknya Ind*mie adalah makanan segala umat). Setiap kali MKM bertemu orang asing, dialog seperti ini sering terjadi:
Orang: “Cucunya Eyang Ti ya?”
MKM: “Iya. ada apa ya?”
Orang: “Iya. itu guru aku dulu.”
Peluang kejadian ini terjadi berbanding dengan MKM bertemu orang asing adalah 75%. Eyang Ti sendiri adalah guru olah vokal (yang katanya) udah ngajar di mana2.

Namun keahlian vokalnya ini justru merepotkan. MKM jadi gak bisa nyanyi2 gak jelas di rumah. Setiap kali MKM nyanyi di kamar (sambil liat cermin, pura2 konser), Eyang ti langsung masuk dan berkata, “MKM. Suara kamu fals, kamu salah ambil nafas.” (suara dalam hati=> eh suka2 MKM dong mau nafas salah atau bener. daripada gak nafas.)

Emang susah hidup dengan orang yang umurnya jauh berbeda. Kita gak akan pernah paham maksudnya apa. Entah faktor telinga atau emang kebiasaan, orang2 tua selalu bicara dengan nada dan volume yang tinggi. Ketika dia salah, selalu berkata, “Aku tau yang bener. Aku udah banyak makan garam kehidupan.” (suara dalam hati=> ya kalo gitu MKM udah ngabisin banyak gula kehidupan. makanya MKM selalu ceria)

Walaupun menyebalkan, Eyang Ti adalah satu figur penting dalam kehidupan MKM. terima kasih Eyang Ti.