Episode 5 – An Explosion

“Awas!!!!” Kyta berseru sambil menundukkan kepala Grafiti. Sebuah tembakan melesat ke arah mereka. Suasana yang menyenangkan seketika berubah menjadi menakutkan.

“Membawa dia pulang? Bagaimana caranya?” Tanya Krouger pada Vincent.
Vincent melipat telapak tangannya dan berkata“Cara paksa tentunya. Tanpa ia sadari, ia sudah berada di Metropolis.” Matanya terarah pada sebuah monitor. Monitor itu menunjukkan sebuah pemandangan dalam sudut pandang sebuah robot. Pemandangan itu berisi gedung-gedung yang sudah hampir hancur. Robot itu mendekati sebuah perempatan. Di perempatan itu tampak sesosok gadis kecil yang sedang memakan coklat ditemani dengan seekor kera yang bertubuh mirip manusia.

Tembakan itu meleset. Mata Kyta mencari ke mana peluru itu tertancap. Setelah menemukannya, Kyta menyadari bahwa itu adalah peluru pelumpuh yang setipe dengan yang mengenainya sebelum ini. Kyta segera bertanya pada Grafiti, “Miss G.R, kau tidak apa-apa?”
Grafiti tak sanggup menjawab. Jantungnya berdegup sangat kencang seiring dengan wajahnya yang berubah menjadi sangat pucat. Ini pertama kalinya sebuah peluru mengincar dirinya. Tangan kiri grafiti mencengkram dadanya seraya menenangkan jantungnya. Tangan kanannya memegangi kepalanya untuk mengurangi ketakutannya.
Namun semuanya sia-sia. Robot itu makin mendekat. Kyta memukulkan tangannya ke tanah. Lalu Kyta mengambil katananya dan berlari menuju robot itu.
“Heaaaa….!”
Teriakan Kyta menggema di telinga Grafiti. Kyta menggenggam katana dengan kedua tangannya. Sensor pada robot itu mengisyaratkan tanda bahaya. Robot itu dalam sekejap mengganti sasarannya. Matanya mulai diarahkan pada manusia kera yang berlari ke arahnya. Sekali lagi ia menembakkan peluru pelumpuh.
“Haah! Heeaaaa….!!”
Dengan katana yang sejak tadi dipegangnya dengan erat, Kyta berhasil menangkis peluru itu. Teriakannya makin keras. Katananya kini telah menghantam kepala robot itu. Namun seperti yang sudah diperkirakan Kyta, tak sedikitpun robot itu rusak. Bahkan lecet pun tidak. Robot ini terlalu kuat untuk katana yang sudah bertahun-tahun tak terpakai.
Kyta segera membuat pengamatan. Ia mencari titik kelemahan robot itu. “Di sana!” Kyta melihat bahwa satu bagian yang tak terlapisi besi adalah bagian leher yang hanya selebar sekitar 1 cm. Bagian itu dibuat longgar agar si robot dapat menengokkan kepalanya dengan cepat.
Belum sempat Kyta mundur si robot sudah menjulurkan lengannya yang mengandung arus listrik ke arah perut Kyta. Sengatan listrik yang cukup kuat memasuki tubuh Kyta. Kyta terjatuh. Ia tak bisa menggerakkan kakinya. Bahkan mulutnya pun terlalu kaku untuk mengaduh kesakitan.
Dari kejauhan, Grafiti menangis. Ia menghadap ke langit dan berseru, “Apa yang kau lakukan Ayah!? Vincent! Selamatkan aku!” Grafiti tidak bisa berbuat apa-apa.  Ia tahu bahwa robot itu dikirim untuk mencarinya, namun justru Kyta yang babak belur dihajar robot itu. Ia berseru, “Kyta! Lari dari sana! Bukan kamu yang ia cari, tapi aku! Pergi Kyta! Pergi!”
Kyta berdiri perlahan. Sang robot yang sudah menganggapnya lumpuh tidak mempedulikannya dan mulai berjalan pelan menuju Grafiti. Setelah tegak berdiri, Kyta mengacungkan jari tengahnya pada Grafiti. Tangan kirinya yang ia angkat itu mengeluarkan darah yang cukup banyak.
“Lalu aku harus meninggalkan wanita sendirian melawan robot tidak jelas ini?!” Seru Kyta.
Kyta membangkitkan kesadarannya dengan cara mengiris tangan kirinya dengan katana di tangan kanannya. Segera, dari belakang, Kyta mengayunkan katananya ke leher robot itu. Seketika itu juga, kepala robot itu terpisah dari tubuhnya. Robot itu berhenti bergerak.

“Apa yang terjadi!?” Vincent keheranan melihat monitor yang ia pandangi sejak tadi tiba-tiba tidak lagi mengirimkan gambar.
Krouger yang sejak tadi mengamati manusia setengah kera yang muncul di monitor bertanya, “Monyet itu, spesimen ayahmu kan?”
Vincent hanya mengangguk dan menjawab singkat, “Dan seorang Justice.”
Krouger tertawa, “Hahaha… dia dilindungi oleh buatan ayahmu sendiri.”
“Cukup! Bukan itu yang kutakutkan sekarang!” Vincent menoleh ke arah Krouger, “Grafiti akan mati dalam waktu sepuluh menit.”

“Lari anakku. Lari.”
“Siapa itu?” Sebuah suara memasuki kepala Kyta.
“Lari!”
Walaupun tidak yakin datang dari mana suara itu, Kyta berusaha mengikuti suara itu. Ia kembali masuk ke bangunan tua tempat ia menemukan katana. Ia menemukan sebuah kendaraan yang sering muncul di majalah lama yang dimiliki oleh Jacques. Sebuah kendaraan bermotor beroda dua. Kyta berusaha menaiki kendaraan itu.
Kyta ingat bagaimana Jacques mengajarkan untuk menyalakan mesin itu. “Tendang itu ke bawah!” Kyta mencoba menendang sekeras mungkin tongkat besi pendek yang ada di sebelah kiri kendaraan itu. Namun beberapa kali ia mencoba, tidak nyala juga.
“Oh iya! Kunci!” Segera Kyta membuat pengamatan. Ia mencari kunci dari kendaraan itu. Ia melihat tembok sebelah kirinya. Di sana tergantung beberapa kunci. Di atas kunci-kunci itu ada label-label yang melengkapinya. Akhirnya ia menemukan nama yang ia cari.
“Itu dia! Vespa!”
Ya. Setelah mengambil kunci dan memasukkan kunci itu pada Vespa, Kyta menyalakan mesin itu. Mesin berwarna biru itu pun menyala dengan suaranya yang khas. Kyta mengenakan helm yang ada di kursi belakang vespa itu. Helm berwarna hitam itu dilengkapi dengan sebuah goggle. Ia mengenakan juga goggle itu dengan benar.
Grafiti yang masih terkejut atas apa yang ia lihat hanya terbujur kaku di tempatnya. Sampai akhirnya Kyta keluar dari bangunan tua itu sambil membawa sebuah kendaraan. Kyta sampai di hadapan Grafiti. Ia melemparkan sebuah helm pada gadis itu. “Naik! Cepat!”
Tanpa pikir panjang, Grafiti naik ke kursi belakang vespa itu. Mereka pergi meninggalkan tempat itu. Jalan yang mereka tempuh hanya lurus. Tak berbelok sedikit pun. Lurus, hanya lurus dengan kecepatan paling maksimal dari kendaraan yang sudah mulai rusak itu.

Sekitar sepuluh menit kemudian, di sebuah perempatan, sebuah robot yang rusak meledak. Cadangan energi yang ia miliki sudah tak mampu menahan ledakan itu. Ledakannya sangat besar. Efek ledakannya masih bisa dirasakan dalam radius sepuluh kilometer. Bangunan tua, vending machine, dan semua yang tadi ada di sana kini rata dengan tanah.

“Kau kehilangan keseimbangan? Kau tak apa-apa Miss Hawk?”
“Itu sebuah ledakan Chad!”
“Kau tahu arahnya?”
“Sangat jelas! Kita ke sana. Pasti ada seseorang di sana.”

Seorang gadis berdiri. Ia baru saja terlempar dari sebuah vespa. Tubuhnya tidak begitu terluka karena ada seekor manusia setengah kera yang melindunginya. “Ledakan itu. Apa ayahku berusaha membunuhku?”
Sedangkan manusia kera itu sedang tak sadarkan diri di sebelahnya. Terbaring, terlentang, dan tertidur di tengah-tengah hembusan angin yang sangat kencang. Angin yang tidak alami karena disebabkan oleh ledakan besar yang baru saja mereka hindari.

“Mereka selamat. Tampaknya mereka menggunakan sebuah kendaraan untuk menghindari ledakan itu. Aku sedang mengikuti jejak ban mereka.
-Ian-”
Itulah teks yang baru saja diterima Vincent dari salah seorang bawahannya. Perjuangan Vincent memulangkan Grafiti belum berakhir.

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: