Episode 4 – A Little Girl Named Miss GR

Buat yang baca judulnya pasti berkata dalam hati, “Miss GR? cie… pasti ada hubungannya ama Miss GR yang biasanya dipost.” Pingin tahu hubungannya bagaimana? Baca dulu ceritanya! This is it, The Monkeyman episode 4: A Little Girl Named GR

 

“Hiaaa…..” Kyta memaksakan kakinya yang sudah kelelahan untuk berlari. Walaupun kali ini, ia tidak yakin untuk apa ia lari. Namun kakinya mengisyaratkan untuk tetap melangkah, menjauhi tempat pertama ia dijatuhkan.

Mungkin ini efek dari bertemu gadis kecil itu. Ini pertama kalinya Kyta bertemu dengan wanita seumurannya. Walau gadis itu berumur lebih tua dari Kyta, namun sifat mutan Kyta membuat pertumbuhannya lebih cepat daripada manusia biasa. Bisa dibilang umur mereka sekarang tidak jauh berbeda.

Sedangkan gadis kecil itu masih terbujur kaku di tempatnya dijatuhkan. Ini juga pertama kali dalam hidupnya melihat seekor kera yang bisa bicara. Ketakutannya semakin menjadi. Ia berkata dalam hati, “Sial, aku terjebak di tempat yang aneh bersama seekor makhluk aneh. Tidak bisakah hari ini menjadi hari yang lebih buruk?”

Gadis itu mengamati sekelilingnya. Rupanya ia dijatuhkan di tengah-tengah sebuah perempatan. Ia menatap jalan yang ada di hadapannya. Ke sanalah si manusia kera berlari secara tiba-tiba setelah melihat dirinya. Di kanan-kiri jalan itu terdapat gedung-gedung yang sudah hancur dan ditinggalkan. Namun kondisinya masih lebih baik daripada bangunan yang ada di sebelah kirinya.

Selagi gadis itu masih melamun, si manusia kera tampak sedang berlari dari jalan sebelah kanan. Setelah sampai di tengah perempatan, ia menjatuhkan diri dan berkata, “Ini sudah ketiga kalinya! Mengapa aku selalu kembali ke tempat ini?”

“Kera ini memang bodoh.” Ujar gadis itu dalam hati. Seketika itu, keheningan tercipta di antara mereka.

 

Sementara di tempat lain, Vincent tampak kebingungan. Ia berjalan tak tentu arah dalam ruangannya sendiri sambil menunggu hasil pencarian para mecha-police yang sedang menelusuri Metropolis.

Dari samping, Krouger membawakan coklat panas kesukaan Vincent sambil berkata, “Kau menemukannya?”

“Belum.” Kata Vincent sambil memegangi kepalanya.

Krouger tersenyum, “Huh. Dunia tidak hanya seluas Metropolis, Vincent.”

Vincent terkejut, “Jangan bilang! Death Cities?”

“Tidak ada salahnya kan mencari di sana juga. Aku tahu kau bisa mencari anak itu di Death Cities dalam waktu kurang dari 1 jam.” Ia menepuk pundak Vincent, “Saat memperbaiki monitor utama, aku menyadari sesuatu yang aneh. Aku tahu rencanamu Vincent.”

 

Kini Kyta makin liar. Setelah beberapa menit yang lalu bunyi perut keroncongan mereka berhasil memecah keheningan. Kyta berlari memutari perempatan itu sambil melompat lompat. Lalu ia berhenti. Ia menyadari sesuatu yang barusan ia lihat. Ia terduduk dan menengok ke kiri.

Pandangannya semakin fokus. Sepanjang hidupnya di Metropolis, ia tak pernah melihat alat itu. Kyta hanya mendengar cerita bahwa di dunia sebelumnya alat seperti yang ia lihat begitu banyak tersebar. Berbentuk balok raksasa yang terbuat dari logam yang dilapisi ruang hampa udara yang berisi makanan, vending machine.

Kyta berlari menuju alat itu. Ia memandangi makanan yang terpajang di vending machine. Vending machine itu berdiri kokoh walaupun lapisan catnya sudah luntur. Beruntungnya, vending machine itu berhasil mengawetkan makanan paling digemari oleh remaja pada waktu itu. Ya, makanan yang sering diberikan Jacques pada Kyta. Coklat.

Kyta memandangi bungkusan coklat itu sambil ditemani suara perutnya yang keroncongan. Suara itu menyulut otak Kyta untuk mengirimkan rangsang pada otot agar bekerja lebih kuat dari biasanya. Kyta memasukkan tangannya ke tempat di mana semestinya coklat itu keluar. Namun katupnya tertutup, bersamaan dengan matinya mesin itu. Kini mesin itu hanya balok raksasa dengan ruang hampa untuk menjaga suhu di dalamnya. Mesin itu tak bisa dimasuki apapun.

Kyta yang putus asa mulai memukul-mukul mesin itu. Sedangkan gadis kecil itu masih terduduk dan melihat Kyta dari kejauhan. Ia melihat seekor manusia kera yang sedang menendang-nendang sebuah vending machine. Kyta yang mulai kelelahan akhirnya terjatuh dan terlentang di jalanan yang panas.

Namun Kyta belum menyerah untuk mengambil coklat itu. Mata Kyta tak berhenti melakukan observasi. Sebuah bangunan yang hampir hancur seakan mengundang Kyta untuk masuk ke dalamnya. Kyta membaca palang yang sudah hampir hancur di atas pintunya, “Nnnn…..T…… sepertinya hilang satu atau dua huruf. Lalu U…….. terserah! Aku masuk!”

Kyta berlari mengikuti instingnya untuk masuk ke bangunan itu. Dalam bangunan sederhana itu, Kyta menjumpai barang-barang antik dari dunia sebelumnya. Banyak benda yang tidak dikenali oleh Kyta. Namun Kyta akhirnya menemukan satu benda yang ia tahu dan ia yakin akan berguna. “Benda ini…. Sama seperti milik paman N.K.”

Ia mengambil benda itu dan membawanya keluar. Ia segera membawanya ke depan vending machine dan memukul-mukulkannya ke mesin itu. Sambil tidak berhenti memukul ia berseru, “Sial! Bagaimana cara memakai benda ini?”

Seketika itu juga satu bagian dari benda itu lepas. Kyta hanya termangu. Lalu ia berkata, “Oh. Rupanya harus dilepas dulu.” Ia melihat benda yang dipegangnya sekali lagi. “Ini baru benda milik paman N.K.” Sampai saat itu pun Kyta masih belum tahu bila benda yang dipeganya adalah sebuah katana.

 

“Apa yang akan kau lakukan sekarang nak? Membunuhku?” Kata Krouger pada Vincent. “ Walau aku tahu rencanamu, aku tak akan mengatakannya pada siapapun. Dan aku tak akan berusaha menghalangimu.”

Vincent sejenak mengalihkan pandangannya yang serius ke arah monitor utama menuju wajah Krouger. Lalu Krouger melanjutkan perkataanya, “Aku tak peduli bila aku harus mati. Toh aku juga sudah tua. Hanya masalah waktu…..”

Selagi Krouger berbicara, sebuah bunyi terdengar dari monitor utama. Vincent menghadap monitor utama sambil berkata, “Ketemu!” segera ia memasukkan perintah pada monitor itu. Lalu ia berkata pada Krouger, “Aku tak mungkin membunuhmu. Bagaimanapun juga, kau adalah ayahku sekarang. Dan kau tidak bisa menghalangiku dalam rencanaku.” Ia mengangkat lengan kirinya yang terbuat dari mesin. “Kontrolnya ada di sini.”

Vincent meninggalkan monitor utama dan duduk di kursinya. Sejenak ia meminum coklat yang sudah mulai dingin itu. Ia berkata dalam hati, “Semoga robot itu bisa membawanya dengan selamat.”

 

Kaca vending machine yang tebal itu sudah mulai retak. Dan berkat ayunan katana yang dilakukan Kyta sejak tadi, retakannya makin luas dan dalam. Kyta mengayunkan katananya sekali lagi. “Kraak…” kaca itu pecah dengan lubang yang hanya sebesar genggaman tangan tepat di hadapan coklat yang diincar Kyta sejak tadi.

Segera Kyta mengambil coklat itu dan membukanya. Ia mengangkat coklat itu dan berusaha memasukkannya ke mulutnya. Naun gerakan tangannya terhenti melihat seorang gadis yang menatapnya sejak tadi dengan penuh tanya. Ia mengambil beberapa buah coklat lagi di tangannya dan berjalan ke arah gadis itu.

Setelah mereka berdua berhadap-hadapan, Kyta duduk di depan gadis itu, menyodorkan coklat yang sudah terbuka sambil berkata, “Makanlah. Ini untukmu.” Gadis itu langsung mengambil coklat yang sudah mulai lembek itu dan memakannya.

Kyta bertanya, “Kau ini wanita kan?” gadis itu langsung tersedak. Ia merasa itu adalah pertanyaan bodoh sampai-sampai tak tahu harus menjawab apa. Ini pertama kalinya seekor hewan berbicara padanya. Dan pertama kalinya seseorang bertanya seperti itu padanya. Menyadari bahwa gadis itu kebingungan, Kyta berkata lagi, “Ini pertama kalinya aku melihat wanita yang masih muda. Yang setiap hari kulihat adalah wanita tua yang mengerikan dan membawa pisau ke mana-mana. Apa setiap wanita juga membawa pisau ke mana-mana? Kau membawa pisau?”

 

Di sebuah pesawat, seorang pilot tiba-tiba bersin. “Acchoo…. Ada yang sedang membicarakanku.”

Di belakangnya, duduk seorang pemuda. Pemuda itu berkata, “Tidak mungkin miss Hawk. Semua orang yang mengenalmu kini sudah mati.” Pemuda itu menyelesaikan kalimatnya dengan menangis.

Wanita itu marah dan berseru, “Diam Chad! Kita pasti bisa menemukan mereka. Mereka tidak mati! Mereka hanya dibuang ke Death Cities. Beruntunglah aku dan kamu bisa kabur dengan pesawat ini.”

Chad memandangi sepasang tonfa yang dipeluknya dari tadi. Tonfa itu ia temukan di sebuah atap di Metropolis. Ia berkata dalam hati, “Kyta, semuanya… kalian di mana?”

 

Gadis itu tertawa terbahak-bahak. Kyta merasa lega, sebab sebelumnya ia takut pada gadis itu. Kyta langsung memberikan tangannya sambil berkata, “Aku Kyta. Kamu?”

Gadis itu menjabat tangan Kyta sambil berkata, “Grafiti, Grafiti Ruppert.”

Kyta memiringkan kepalanya dan berkata, “Nama yang aneh.”

Gadis itu langsung berseru, “Ini nama pemberian ibuku!”

Kyta menjawab, “Bagaimana bila aku memanggilmu GR? itu akan menutupi bagian namamu yang aneh. Nama asli paman N.K juga aneh, dan kami tidak memanggilnya dengan nama aslinya. Berapa umurmu?”

“Terserah! Aku lima belas tahun.”

“Kau lebih tua dari aku. Aku masih tujuh tahun. Namun kata paman Jacques, pertumbuhanku dua kali lebih cepat dari manusia, berarti aku sekarang empat belas tahun. Tetap saja kau lebih tua! Karena kau lebih tua, aku akan memanggilmu dengan awalan Miss. Bagaimana? Miss GR?”

Gadis itu tersenyum sambil berkata, “Kau ini aneh ya?”

Kyta hanya bisa tersenyum sambil melanjutkan memakan coklat. Mereka menghabiskan beberapa bungkus coklat bersama-sama. Saat itu, suasana menjadi lebih tenang. Mereka tidak tahu bahwa beberapa saat setelah itu, semua akan berubah. Sebuah robot dari kejauhan mendekati mereka berdua. Robot itu hanya punya satu tujuan: menangkap Miss GR.

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: