Episode 3 – Death City

Buat yang ngikuti cerbung ini, MKM proudly presents: The Monkeyman Episode 3: Death City

 

 

“Hah… hah… hah…” Manusia kera itu berlari. Ia terus berlari. Ia melompati satu bangunan ke bangunan yang lain. energinya sudah mulai habis. Langkahnya mulai terhuyung-huyung. Namun ekornya tetap bersikeras menyeimbangkan tubuhnya.

Kakinya sudah enggan berjalan. Sejenak ia menyandarkan diri pada sebuah tembok. Ia terduduk, lalu menengadah ke atas. Ia memandang bulan purnama yang kuning dan cerah. Dalam hatinya ia berharap semua segera berakhir.

“Sial!” Insting hewannya kembali bekerja. Segera ia memiringkan kepalanya ke kanan. Benarlah, sebuah tembakan melesat ke kepalanya. Tembok yang hancur di sebelah kirinya melukiskan apa yang terjadi bila ia tidak menghindar. Dari kejauhan ia melihat sebuah pesawat yang mengejarnya.

Kyta kembali menegakkan kakinya. Ia condongkan badannya ke depan dan mulai berlari lagi. Dengan nafasnya yang terengal-engal, ia tiba di ujung jalannya. Di hadapannya sudah tidak terlihat atap yang dapat dilompati lagi. Sedangkan daratan masih 20 meter di bawahnya. Kyta tersudut. sedanDari gedung seberang yang berjarak sekitar 7 meter, tampak dua robot dan sebuah pesawat. Kedua robot itu tampak sudah mengunci senjata mereka ke arah Kyta. Kyta terdesak.

 

Seorang pemuda berkacamata yang tangan kirinya terbuat dari logam dan kabel memasuki sebuah ruangan. Di hadapannya, seorang pria yang cukup tua sedang memperbaiki sebuah monitor yang tampak rusak parah. Mereka sama-sama menggunakan setelan putih ala ilmuwan. Pria tua yang sadar akan kehadiran seorang cyborg di ruangan itu langsung meninggalkan pekerjaannya dan menyapa cyborg itu, “Vincent! Ke mana saja kamu?”

Cyborg yang memiliki nama Vincent Montiner itu menjawab, “Paman Krouger, mengapa paman di sini?”

Krouger berdiri, lalu menghampiri Vincent dan menjawab, “Bodoh!” Ia memukul kepala Vincent dengha halus. “Mecha-police sangat penting bagi Metropolis. Metropolis tidak boleh berlama-lama hidup tanpa mecha-police. Sedangkan ketika monitor utama dihancurkan dan mecha-police dalam keadaan lumpuh, kau menghilang! Maka aku dipanggil untuk segera memperbaiki monitor utama.”

Vincent terdiam. Karena rasa hormatnya pada Krouger yang sangat besar, ia tak berani menjawab. Krouger kembali berkata, “Apa yang kau lakukan pada Justice? Balas dendam? Lalu robot apa yang berkeliaran di Metropolis sekarang?”

Vincent yang merasa disalahkan membela dirinya, “Bukan balas dendam paman! Ini demi keamanan Metropolis. Demi menjalankan tugasku. Aku tahu bahwa Justice mengincar untuk menyerang monitor utama. Maka dari itu kubuat beberapa robot back up yang pusat kontrolnya ada padaku agar jika mecha-police lumpuh, aku bisa langsung menghabisi Justice.”

Vincent menunjuk tangan kirinya. Lalu ia menekan salah satu tombol di tangan kirinya. Seketika itu keluarlah sebuah proyeksi yang menampilkan posisi robot-robot back up itu. Lalu di sebelah kanan proyeksi itu terpampang perintah apa yang diberikan pada robot-robot itu. Tulisan itu berbunyi, “ATTACK.”

Krouger berseru, “Vincent! Segera ganti perintahmu. Kalau ketahuan bahwa kau membunuh seseorang di Metropolis, kau akan diasingkan ke Death City. Ingat peraturan itu!”

Vincent dengan lembut berkata, “Maaf. Aku terbawa suasana.” Ia segera mengganti perintah kerja robot-robot itu. Kini tulisan yang terpampang adalah, “CAPTURE.” Setelah itu Vincent menutup proyeksi itu.

Krouger berkata, “Kini, apakah kau tega membiarkan pria tua berumur hampir 70 tahun membungkuk sendirian untuk memperbaiki mesin ini?” Vincent pun membantu Krouger memperbaiki monitor utama.

 

Kurang lebih satu jam sebelum ini, mecha-police di seluruh Metropolis tak bergerak. Termasuk dua mecha-police yang berada di depan pintu kamar seorang gadis kecil. Gadis tersebut mencoba memukul-mukul mecha-police itu. “Sungguh tak bergerak!” ujarnya. Segera ia berlari meninggalkan kamarnya. Ia berlari, walau ia tak tahu akan ke mana.

 

Kyta yang tersudut akhirnya memberanikan diri untuk melawan robot-robot itu. Ia mengeluarkan kedua tonfanya. Ia menggumam, “Mungkin ini adalah kali terakhir aku menggunakan kalian. Sebelum itu, kalian akan kuberi nama. Mulai saat ini nama kalian adalah…” Kyta mengarahkan tonfanya ke arah kedua robot itu. Lalu dari ujung yang bisa mengeluarkan tembakan, keluarlah tekanan udara yang bertubi-tubi menuju robot-robot di seberang Kyta. Kyta melanjutkan kata-katanya, “Tonfa Gun! TonGun!!!!”

Sebuah tembakan melesat dari sebuah robot ke arah kepala Kyta. Namun tembakan Kyta berhasil membelah tembakan itu menjadi dua. Kini lantai di belakang Kyta terbakar di dua tempat yang berbeda, sebelah kanan dan kiri. Kyta semakin brutal, ia melangkahkan kakinya mendekati robot-robot itu. Sambil tetap menembak, ia berseru, “Aku Kyta!!!!”

 

Gadis kecil itu tersesat. Rupanya gedung ini terlalu besar bila hanya diisi manusia. namun semua robot di sana mati. Ia sampai di sebuah tempat yang penuh dengan pesawat. Ia mendekati salah satu pesawat. Pesawat itu tidak terlalu besar, namun cukup untuk menampuk selusin orang.

Pesawat itu memiliki sebuah lubang yang terbuka di bawahnya, tepat di antara roda belakangnya. Tanpa pikir panjang, gadis itu masuk ke dalam pesawat lewat lubang itu. Tak ada apa-apa di dalam pesawat itu. Hanya sebuah ruangan yang sempit. Gadis itu memutuskan untuk keluar dari situ.

Namun terlambat. Lubang itu kini tertutup. Terasa perlahan bahwa pesawat itu bergerak. Pesawat itu terbang. Tak ada yang tahu bahwa pesawat itu terbang sambil membawa seorang gadis kecil. Dan gadis kecil itu pun tak tahu ke mana pesawat ini akan membawanya.

 

Kyta tetap menembaki robot-robot itu. Walaupun Kyta tahu, sejak beberapa detik yang lalu, tampak robot-robot itu mengganti senjata mereka. Tanpa pikir panjang, Kyta meningkatkan frekuensi tembakannya. Ia tetap meneriakkan kata-kata yang terlintas di otaknya.

Robot-robot itu siap dengan senjata baru mereka. Mereka menembakkannya ke Kyta. Rupanya yang mereka tembakkan adalah gelombang listrik yang sudah difokuskan untuk mengenai Kyta. Kali ini, Kyta tak bisa menghindar. Ia berteriak kesakitan sejenak. Lalu ia menjatuhkan kedua tonfanya. Ia jatuh pingsan.

 

Setelah sekian lama menunggu, akhirnya lubang itu terbuka kembali. Namun ia belum mendapatkan kesempatan keluar. Lubang yang cukup sempit itu diisi penuh oleh lengan-lengan robot yang menjulur dari atap ruangan itu. Tak lama berselang, lengan-lengan itu menarik seekor makhluk aneh yang baru pertama kali dilihat oleh gadis itu. Dengan cepat lubang itu tertutup. Lengan-lengan itu menjatuhkan si makhluk aneh berbulu lebat itu tepat di atas katup lubang itu.

Dengan rasa penasaran yang tinggi gadis itu mendekati makhluk aneh itu. Makhluk itu menggunakan baju warna hitam, sama dengan baju yang ia pakai. Ia menyentuh bulunya yang halus. Sejenak ia lupa bahwa ia harus keluar dari pesawat itu.

 

“Vincent!” Seorang pria berpakaian rapi langsung mendobrak masuk dan memanggil Vincent.

Vincent yang terkejut menjawab, “Tuan Ruppert, ada apa?”

“Lihat apa yang telah kau perbuat!”

Krouger menyela, “Maaf tuan, Vincent sudah saya tegur, ia sudah menyesali….”

“Diam kau Krouger! Bukan itu yang kumaksud! Anakku….”

Vincent bertanya, “Ada apa dengan…..”

“Karena robot penjaganya mati, sekarang ia menghilang!”

 

Entah sudah berapa lama gadis itu menjadikan makhluk berekor itu mainan sementaranya. Sejak tadi ia memainkan jari dan ekor makhluk aneh itu. Selagi asyik bermain, lubang yang terletak tepat di bawah mereka terbuka. Mereka terjatuh.

Mereka kini berada di tempat yang tak pernah mereka lihat sebelumnya. Sedangkan pesawat yang menangkap mereka sudah menjauhi tempat itu. Di tempat itu hanya terlihat gedung-gedung yang sudah hancur. Suhunya sangat panas. Pandangan gadis itu mulai kabur.

Namun makhluk berwujud manusia setengah kera itu mulai mendapatkan kesadarannya kembali. Ia menatap gadis kecil yang ada di hadapannya. Ia terkejut, “Hah?!”

Gadis itu berteriak, “Aaaaaaaaaaa……!!!!!!”

Makhluk itu terkejut dan berteriak juga, “Aaaaaaaaa……!!!!!!?????”

Lalu mereka berteriak bersamaan, “Waaaaaaaaaaaa!!!!!!!”

Teriakan mereka adalah satu-satunya suara yang ada di sana. Tanpa mereka sadar, mereka kini berada di Death City.

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: