Cerpen – Novelis

Namaku Adit, pria yang secara kebetulan hasil karangannya melejit di pasaran. Seminggu yang lalu, novel yang kuciptakan semasa aku SMA akhirnya difilmkan. Hal ini membuatku terkenal selama beberapa minggu ini.

Sejak lima belas menit yang lalu, orang-orang tak henti-hentinya menghampiri aku untuk meminta tanda tangan. Hampir semua mengatakan kata-kata yang sama, “Aku penggemar beratmu.” Memang aku senang dengan kata-kata itu, tapi bukan orang-orang itu yang kunantikan di kafe ini.

Tak terasa cappuccino yang kupesan sudah dingin. Daripada terbuang, kuhabiskan saja sekali teguk. Setelah tegukan terakhir sudah berada di kerongkongan, seorang wanita berbaju rapi menghampiriku. Sebelum ia menyebutkan sepatah kata, aku berkata, “Dari OWN Journal?”

Wanita itu langsung duduk di depanku sambil berkata, “Ya. Saya Sania dari OWN Journal.” Ia menjabat tanganku. “Apakah insting liar yang dimiliki Ken juga ada padamu Pak Adit?”

Aku tersenyum dan menjawab, “Pertama, jangan panggil aku pak. Aku tidak setua itu dan dari pengamatanku aku yakin umur kita tidak jauh berbeda. Kedua, semua keahlian yang dimiliki Ken berasal dari keahlianku sendiri.”

Wanita itu mengambil recorder dari tas birunya. Setelah mengaktifkan mode merekam, wanita itu menanyaiku lagi, “Semua?”

“Ken yang mana dulu? Aku sudah menciptakan banyak Ken. Kebetulan saja ini satu minggu setelah Ken dalam ‘The Case’ booming.”

Wanita itu tertawa, “Hahaha. Saya tahu ehm..”

“Adit.”

“Haha. Saya tahu Adit. Tapi kita simpan dulu pembicaraan tentang Ken. Sebelumnya, bagaimana perasaan anda ketika tahu bahwa film ‘The Case’ booming.”

Aku mendorong tubuhku sehingga lebih dekat pada meja. Aku berkata, “Jika aku berkata tidak senang, maka aku bohong. Aku ikut dalam proses pembuatannya dan itu sesuai dengan yang kubayangkan saat aku membuat novelnya. Namun jujur aku tidak peduli apakah film itu akan booming atau tidak. Sebab bagiku yang terpenting aku sudah mengekspresikan semuanya di film itu.”

“Jika kita baca, semua novel atau cerpen atau cerbung yang anda ciptakan selalu ada nama Ken di sana. Dan selalu akhir ceritanya adalah Ken tak pernah bisa bersatu dengan wanita bernama Farah. Apakah kekecewaan ini yang ingin anda ekspresikan?”

Aku tertawa sejenak, “Hahahaha. Ya memang kekecewaan yang ingin kuungkapkan, tapi bukan kekecewaan karena dicampakkan oleh wanita. Yang ingin kuungkapkan adalah kekecewaan karena sampai hari ini aku belum menjumpai Farah dalam kehidupan nyata.”

“Jadi Ken adalah perumpamaan diri anda dalam tulisan anda?”

“Ya. Tepat sekali. Seluruh pribadi Ken adalah cerminan dari pribadiku begitu juga dengan hobi, kebiasaan, dan keahliannya.”

Wanita berkulit putih itu tampak kagum. Ia berkata, “Benarkah? Bisa anda tunjukkan pada saya salah satunya? Kemampuan membaca karakter yang dimiliki Ken dalam ‘The Case’ misalnya.”

Aku menghela nafas. Aku mengamati wanita yang mempunyai senyum lucu itu. Setelah beberapa saat aku mengamati, aku berkata, “Sania ya. Kamu sebenarnya adalah orang yang tidak suka keadaan yang terlalu formal. Kamu itu cerewet dan asyik diajak bercerita. Sayangnya kamu pemalu.”

Ia terkejut dan bertanya, “Tahu dari mana?”

“Kamu membawa jaket berwarna biru, itu menjelaskan banyak hal. Kamu tidak percaya diri dengan mengenakan baju resmi seperti yang kau pakai sekarang, maka dari itu kamu mengenakan jaket untuk menutupinya. Dan tampak kamu sangat nyaman dengan jaket itu, dibuktikan dengan tas kamu yang juga berwarna biru. Kamu pasti memilih warna itu agar sesuai.

Pemilihan warna yang sesuai dan pekerjaanmu sebagai wartawan membuatku yakin bahwa kamu adalah orang yang perfeksionis dan kritis. Memang biasanya orang seperti itu cenderung cerewet. Orang yang cerewet dan serba ingin tahu seperti kamu akan asyik diajak bercerita, apalagi jika kamu berada di lingkungan jurnalis.”

“Lalu kesimpulan pemalu itu dapat dari mana?”

“Saat aku mengamati wajahmu, kamu langsung mengalihkan mata ke arah yang lain. Dan setelah kuikuti arah matamu, rupanya mata penuh tanya itu menuju pada cangkir bekas cappuccinoku. Dan kamu belum pesan apa-apa semenjak kamu duduk di sini.” Aku langsung mengangkat tangan dan berseru, “Pelayan.”

Wanita itu menggerakkan tangannya seakan ingin mencegahku. Tetapi pelayan yang cekatan segera menghampiriku. Aku berkata pada pelayan berbaju merah itu, “Aku pesan cappuccino satu lagi. Sania mau pesan?”

Dengan wajah memerah ia berkata, “Cappuccino juga saja.”

“Ya kan? Pemalu.”

Ia tersenyum, “Kuakui kehebatanmu Adit. Lalu yang menjadi pertanyaan adalah, siapa Farah itu sebenarnya? Apakah sebuah kenangan dari masa lalu yang tidak bisa hilang?”

“Memang dari masa lalu dan tidak bisa hilang, tetapi bukan kenangan. Farah muncul di mimpiku.”

“Mimpi?”

“Ya. Mimpi. Gambaran tentang Farah pernah sekali muncul di mimpiku. Aku bermimpi aku akan bersanding dengan wanita seperti itu.”

“Aku mulai bisa mengerti. Pertanyaan selanjutnya, seperti yang kita semua tahu bahwa jalan cerita yang anda ciptakan adalah jalan cerita yang sulit ditebak. Bagaimana cara anda mencari ide untuk jalan cerita yang anda ciptakan itu?”

“Cara termudah untuk membuat sebuah cerita yang tidak bisa ditebak adalah berpikirlah dengan cara yang berbeda dengan cara berpikir yang ada di dunia ini. Dengan kata lain, ciptakanlah dunia sendiri.”

“Maksudnya? Bisa diperjelas?”

“Masuklah dalam kehampaan. Maka kau akan bebas menciptakan dunia sendiri. Kau bebas menciptakan jalan pikiran sendiri untuk setiap tokohnya. Setiap tokoh memiliki hasrat yang berbeda untuk meraih akhir cerita. Saat kau biarkan tokoh-tokoh yang kau ciptakan itu beradu, maka terciptalah sebuah mahakarya kisah yang tidak bisa dipredikisi hasil akhirnya.”

“Lalu bagaimana cara anda masuk dalam kehampaan tersebut?”

“Aku sudah masuk. Lihatlah betapa hampanya hidupku. Hanya ada rutinitas dan gaji tetap. Tidak ada keinginan untuk lebih kaya. Tidak ada keinginan untuk membahagiakan siapapun termasuk diri sendiri. Dari kehampaan inilah kuciptakan sebuah dunia yang kompleks.”

Sesaat kemudian cappuccino pesanan kami datang. Sania mengambil cangkirnya dan meminum sedikit cappuccino itu. Setelah itu ia bertanya lagi, “Tampaknya saya sudah mendapatkan satu halaman dari wawancara ini. Sebelum saya menutup wawancara ini, adakah yang mau disampaikan pada pembaca?”

“Ada. Jangan pernah takut menghasilkan karya seni. Sebab seni tak pernah mengkhianati penciptanya.”

Ia mematikan recordernya dan berkata, “Terima kasih Adit. Karena kata-kata anda, saya sadar betapa saya juga lari dari kehampaan saya.”

“Tidak. Kamu tidak akan pernah bisa lari dari kehampaan. Jika kelihatannya kamu lari, itu berarti kamu sedang menikmati kehampaan itu.”

“Anda orang baik.”

“Boleh sekarang aku yang bertanya?”

“Ya. Silahkan. Sambil saya menghabiskan cappuccino ini.”

“OWN Journal terbit setiap hari minggu dan ini masih hari selasa. Akankah ada masalah bila kamu tetap di sini sampai satu jam lagi?”

“Untuk apa?”

“Ini sudah waktunya makan siang. Yakin kamu tidak mau pesan makan sekalian?”

Ia tampak bingung. Maka aku merogoh sakuku dan berkata, “Baiklah begini saja.” Aku menunjukkan sebuah koin padanya. “Angka, berarti kamu di sini. Garuda, terserah kamu mau ke mana.”

Aku memutar koin itu di atas meja. Kami berdua melihat koin itu dengan seksama. Sampai akhirnya koin itu menunjukkan lambang Negara Indonesia, Garuda Pancasila.

Ia meminum cappuccinonya dan menatap aku. Ia berkata, “Aku tetap di sini. Kamu yang bayar ya.”

Aku tertawa, “Hahaha. Wujud aslinya akhirnya terlihat. Iya. Hasil dari penjualan film itu terlalu banyak untuk pria sederhana sepertiku.”

Aku hanya ingin bercerita bahwa wujud Farah yang kulihat dalam mimpi, ia berjaket biru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: