Chinese + Christian

Hi readers, Gong Xi Fa Cai! Is this the correct pronunciation? I don’t know! Maybe yes, maybe no! I just want to say this to you who celebrate the Lunar New Year. For me, you are the real definition of Anti-Mainstream. Why? People are using Gregorian calendar, but you are still using the ancient calendar. You are the agent of changing. Dare to be different!

Me? I am Chinese too. Well, only ¼ of me is Chinese. So I don’t really celebrate this Lunar New Year. But this year is special. This year is year of fire monkey. The year of Chimcar! I love monkey. You can tell.

390Chimchar_DP_anime_5

Some people say that as a Christian, we are not allowed to celebrate the Chinese New Year. Why? Because we cannot follow God and follow Chinese tradition in the same time. We cannot serve two masters in the same time. Well, Jesus did follow Jewish tradition. So let us make this clear.

First, in Christianity, there is something similar with this celebration. People wear red. Older people give presents to the kids. Sounds like Christmas to me. So if Santa is real, he must be a Chinese.

Second, we actually can use this moment to do something good. Jesus always wants us to give our belonging to others. That’s the point of angpao! Well, if you don’t have anything to share, don’t worry. In Chinese language, ang means Red, pao means pack. So if someone asks you for angpao, give him a red envelope with anything in it (bible verse, motivational word, leaf, doesn’t matter).

Anyway, let us not worry about things like this. We know God allows us to have imlek holiday. Just use it. Have fun with it. Eat the pork! What goes into someone’s mouth does not defile them, but what comes out of their mouth, that is what defiles them

#ShareTheLove #ShareTheAngPao #Shalom1Jiwa

 

That’s International School

Hi readers. If you were wondering, where was me for these last 3 weeks? I was in my second practicum! Yey! I was being a student teacher in SPH Lippo Village Tangerang. The name is village, but it is so far away from the definition of “village.”

I was teaching Math for grade 6. Is it fun? Not really. But I have a lot of story to tell you.

When I was teaching, I gave this question to my students for an assignment. “Is it possible for a triangle to have 2 obtuse angle?” This was supposed to be easy, but I found an interesting answer.

“It cannot. I’ve tried it.”

I was confused how to grade this answer, but then I realized that she is just being innocent. If she killed a man, she’ll be like, “Oops…. Sorry….. I killed a man…. again.”

That’s actually an awesome answer. The others will answer based on their hypothesis of the theory. The others usually answer with, “because it will cause the total of the angle more than 180 degree” or “It wouldn’t be able to closed.” or else. In scientific method, after we make a hypothesis, we do experiment. In other word: We TRY it. So based on scientific method, that answer is way acceptable than the others.

Beside that answer, she provided a picture of her trial. She combined two obtuse angle and tried to have a triangle from those. Obviously she can’t make a triangle.

But Thomas Alva Edison  said,

I have not failed. I’ve just found 10,000 ways that won’t work.”

So what if this my little student is actually on her way to find a new invention in Math? What if actually with some proper formula, we can create a triangle with angles more than 180 degree. If it is possible, we can change the foundation of geometry and trigonometry. We change Math. We breaks the previous law and create a new law. Just like Einstein is completing what Newton have done, this invention can actually developing our knowledge and formula to conquer time-and-space continuum.

Another quote from Thomas Alva Edison:

“Our greatest weakness lies in giving up. The most certain way to succeed is always to try just one more time.”

The world was believing that earth is flat, but after Galileo, Christopher Colombus, and 9gag proof it, now we know that the earth is round. Why? They are not giving up. Now, I am feeling so guilty. My little heart says, “Should I ask her to try it 9,999 times more?” “Did I just kill her potential to be a new inventor?”

Sometimes, teacher thinks that this kind of answer is ridiculous and says this answer is wrong. This could stop student to think critically. Indonesia will never be better if people keep banning kid’s creativity. Indonesia need this kind of thinker. Right? But sadly, she is Korean.

Being a teacher is crucial. You hold the future of the nation in your hand. Educate the kids well! Don’t give up being a teacher, it is fun!

#ShareTheLove #Shalom1Jiwa

The Road Warrior

Hi readers, actually I want to make this article in English, but I know this will be a lot funnier in Bahasa Indonesia (maybe). So this is one disgusting thing that I found on my holiday.

Setuju gak sih kalau sekarang itu apa tontonannya itu gak sesuai sama siapa yang nonton? MKM kemaren baru aja pulang kampung dan akhirnya MKM ketemu adik MKM yang sekian lama gak ketemu. MKM punya dua adik, satunya SMP satunya SD. Dan kemaren secara ajaib mereka bisa duduk rapi dengan akur di depan TV, nonton bareng. Karena biasanya mereka itu brutal banget kayak kucing mau kawin tau gak sih? Cakar-cakaran… “eh jangan-jangan… kalian ini saudaraan, kalian gak boleh kawin!”

Melihat kejadian itu, MKM menangis. Bukan karena mereka tiba-tiba akur, tapi karena mereka itu lagi nonton sinetron! Dan mereka itu dengan polosnya bilang, “Kak, ayo sini… nonton bareng…” rasanya kita di sini semua setuju kalo gak ada sinetron Indonesia yang mendidik. Jadi perasaan MKM waktu itu kayak lagi ditawarin narkoba ama adik sendiri tau gak? “Kak, ayooo pake ini…”

Akhirnya dengan terpaksa MKM nonton sinetron mereka itu. Sambil tutup mata, “Tidak!! Apa yang kutonton ini ya Tuhan!!! Ampuni Aku ya Tuhan!!! Aku kotor!!!!”

Jadi, judul sinetron ini adalah “Anak Jalanan.” Judulnya anak jalanan, tapi adegan mereka kebanyakan di dalam rumah. Gimana  bisa kalian disebut anak jalanan, kalo kalian jarang ke turun jalan? Jangan-jangan, rumahnya yang di tengah jalan. Jadi ini ada jalan nih, “jalannya lancer nih gak macet…. Eits… ada rumah…”

Mestinya ceritanya itu tentang geng motor. Tapi geng motor apa yang di rumah mulu? Jangan-jangan ini geng motor homeschooling.

RCTI berharap apa sih bikin sinetron begini? Ini seakan-akan pesan terselubung: “Ayo generasi penerus bangsa! Ayo ikut geng motor! Geng motor itu baik!” Jadi kalo sekarang jalanan macet, banyak motor berkeliaran, jangan salahin ahok, jangan salahin jokowi, jangan salahin obama. Salahin RCTI!

Selamatkan generasi masa depan kita dari sinetron gak guna!

#ShareTheLove

Come Back is Real!

Hi readers, actually I don’t know whether I using the title right or not. But this sentence is quite popular here.

MKM is back!!!! Laugh to the world!!!

I just finished my holiday and I got a bunch of experiences. I learnt a lot of things, from the corruption in education field, religion tolerance, whats going on with Indonesian TVs, etc. One thing in common: People are sucks. They are theoretically educated, but wont educate. three strong power that can move people to do anything: Emotion, Money, Dick.

We need to admit it! our generation is broken. it seems like there is no hope for this generation.

But there is hope.

Let us be the hope. For this year, MKM will really concern with this hashtag: #ShareTheLove. The world needs love. To be able to defeat people’s stupidity, the world needs to teach them with love. I invite all of you to share your love. Make others laugh with your love.

I will write about these in detail later. Ooops, maybe, after this, mostly my article will be in English. So brace yourself.

The world will hate you, but dont hate the world.

#ShareTheLove

When She Came Home for Christmas, I am Waiting

scene 5

“Udah sampe mana?” Tanya pria itu pada calon istrinya lewat telepon. “Masih jauh? Aku udah di terminal.”

Pria itu bernama Yudha, seorang pengusaha muda yang sedang mempersiapkan pernikahannya. Ia sedang menunggu calon istrinya yang baru saja selesai melakukan pelayanan sosial ke sebuah daerah. Ia berkata pada calon istrinya, “I love you.”

Pria itu menyudahi teleponnya. Ia kembali memasukkan handphonenya ke dalam saku celananya. Ia menatap arloji yang ada di tangan kirinya. Ia bergumam, “Masih lama ya…” Ia sangat tidak sabar. Kakinya mengetuk-ngetuk tanah.

Hari sudah sangat malam. Hampir tidak ada siapa-siapa di terminal yang besar itu. Semua kios sudah tutup. Para supir dan kuli panggul sudah banyak yang pulang. Beberapa lampu sudah dimatikan. Suasana menjadi cukup mencekam.

Yudha berusaha mencari tempat duduk. Ia duduk di sebuah bangku. Di sebelah kanannya, duduk seorang pria tua berkemeja lusuh. Yang dilakukan pria ini sejak tadi hanyalah menatap jalur bus masuk dengan tatapan penuh harap. Sesekali pria tua ini memejamkan matanya seakan berdoa pada Yang Kuasa agar ia menemukan apa yang ia cari.

Namun Yudha tak peduli. Ia duduk dan membuka handphonenya. Ada foto calon istrinya di sana. Yudha sangat menyayanginya. Namun sebuah luapan emosi tak tertahankan tiba-tiba merasuk dan memaksa Yudha menengadah ke atas sambil berkata, “Buat apa sih kamu jauh-jauh ke sana? Bener-bener nyusahin ya!”

Seruan Yudha membuat pria tua di sebelahnya menghentikan lamunannya dan menoleh pada Yudha. Ia tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya. Setelah itu ia kembali menatap tempat yang sebelumnya.

Yudha yang merasa tidak enak, spontan berkata, “Maaf pak.”

Pria tua itu tanpa menoleh pada Yudha menjawab, “Minta maaflah pada dirimu sendiri dan pada Tuhan karena kau kurang bersyukur, nak.”

Sekejap memori Yudha teringat pada kata-kata calon istrinya.

 

“Kamu ini kurang bersyukur, Yudha.”

“Aku bukan kurang bersyukur! Aku justru mau peduli padamu, Ratna! Untuk apa kau pergi pelayanan jauh-jauh? Bahaya! Mending kamu cari pekerjaan di sini!”

“Apa salahnya memberi diri untuk Tuhan dan sesama? Lagipula, untuk apa aku kerja kalau ujung-ujungnya aku memilih untuk menjadi ibu rumah tangga untukmu?”

Yudha tidak bisa menjawab apa-apa.

 

Yudha semakin penasaran pada pria tua itu. Ia bertanya, “Bapak tidak pulang?”

“Saya menunggu.” Jawab pria itu halus. Sekali lagi tanpa memandang Yudha.

Yudha berusaha menerka apa arti jawaban itu. Ia bertanya sekali lagi, “Ehm… Bapak punya toko di sini? Atau kerja? Atau…”

Namun kali ini pria itu hanya tersenyum.

Yudha sedikit kebingungan, tetapi ia tidak menyerah. Ia mengulurkan tangannya sambil berkata, “Saya Yudha pak. Bapak?”

Pria tua itu menjawab, “Orang-orang sini akrab memanggil saya, Win.” Ia menoleh pada Yudha, menjabat tangannya, sambil berkata, “Lain kali, kau harus lebih bijaksana nak.”

Teguran itu masih belum bisa dicerna oleh Yudha. Tujuan Yudha hanya satu, mencairkan suasana sambil menunggu datangnya calon istri. Yudha berusaha mengangkat topik, “Win itu kalau dalam bahasa Inggris, artinya…”

“Menang. Victory! Am I right, kiddo?” Jawab pria itu. Yudha tersentak kaget. Pria itu tersenyum sambil berkata, “Ah. Bahasa Inggrisku juga tidak sejelek itu, nak.”

Kini Yudha benar-benar tersipu malu. Tetapi Yudha tidak berhenti di situ. Gengsinya yang tinggi membuatnya tetap tenang. Ia berkata, “Wah, bahasa Inggris bapak bagus juga.”

“Saya dulu juga orang terpelajar sama sepertimu, nak. Tetapi nanti semakin tua, kau akan semakin sadar bahwa percuma kau mengerti semua tanpa…”

“Tanpa?”

“Cinta.” Pak Win menoleh pada Yudha sejenak sambil berkata, “Cinta yang membuat kita sanggup melakukan segalanya.”

“Ehm… Saya makin tidak mengerti.”

Setelah itu, Pak Win mulai menceritakan kisahnya.

 

Dulu sekali, mungkin sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu, Win muda pergi ke terminal yang sama. Menunggu, tetapi kali ini ia menunggu bus yang akan menjemputnya. Mulai hari itu, ia akan meninggalkan kampung halamannya dan merantau ke kota.

Ia duduk di tempat yang sama seperti tempat dia hari ini duduk. Waktu itu, lengkap dengan ransel dan koper. Ia sendiri, tak diantar oleh siapapun. Ibunya telah tiada. Adiknya satu-satunya ada di tempat ayahnya. Ayahnya sedang terbaring kaku karena sakit. Ia pergi, adalah petuah ayahnya. Berat hatinya untuk meninggalkan keluarganya, namun itulah pesan dari ayahnya.

Win muda masih meyakinkan diri sendiri saat seorang wanita muda datang dan duduk di sebelahnya. Wanita muda itu sama-sama membawa koper dan ransel. Berawal dari sebuah senyuman sederhana, pertemuan mereka berubahmenjadi sebuah obrolan yang menyenangkan.

“Oh kamu mau ke sana juga?” Tanya Win muda.

“Iya. Kuliah.” Jawab wanita berpakaian merah muda itu.

Gelak tawa mereka membuat Win lupa akan beban pikirannya. Karena satu senyuman, bahagia memenuhi hati Win. Iya. Ini jatuh cinta pada pandangan pertama. Satu hal yang pasti, nanti di kota, wanita inilah yang akan sering ia kunjungi. Belum pernah ia jumpai kenyamanan seperti ini.

Ia masih di tengah-tengah surga dunia itu sampai ia mendengar suara derap langkah kaki. “KAK WIN!”

Raut muka bahagia Win muda berubah menjadi panik. Ia menoleh pada adiknya yang sedang berlari. Ia pun menghampiri adiknya, “Ada apa dik?”

Dengan nafas terengal-engal sang adik mulai berkata-kata, “Kak, Ayah… ayah sudah…”

Win muda tahu kata-kata apa yang selanjutnya akan keluar. Ia segera berlari mengambil barang-barangnya. Tak kuasa ia menatap mata wanita muda itu. Ia berlari bersama adiknya pulang ke rumah.

Hari itu adalah hari pertama dan terakhir Win bertemu cintanya. Setelah hari itu, Win tak pernah pergi ke kota. Win tetap di kampung halamannya, mengurus adiknya. Win tak pernah bertemu lagi dengan wanita muda itu. Namun wajah dan pakaian merah mudanya tetap teringat di hati Win. Sejak hari itu, setiap libur natal, Win pergi ke terminal untuk menunggu wanitanya. Berharap ia akan pulang untuk natal.

 

“Lalu apa Pak Win sudah bertemu dia?” Tanya Yudha. Win hanya menggeleng halus.

Wajah Win berubah menjadi lebih penuh harap. Sebuah bus datang ke terminal itu. Bus itu berhenti. Penumpang keluar satu per satu. Sekejap Yudha ingat kalau dia juga sedang menunggu seseorang.

Akhirnya, calon istri Yudha keluar. Yudha berlari menyusulnya. Ia membantu sang calon istri mengeluarkan koper dari bus. Mereka berpelukan, lalu mereka berjalan ke arah pintu keluar.

Yudha berhenti sejenak. Yudha menoleh ke belakang. Kini Win berada di dekat bus itu, menanti seseorang untuk keluar. Ia mengamati satu per satu penumpang yang keluar. Sampai akhirnya tinggal satu penumpang yang masih ada di dalam bus.

Dari dalam bus, terdengar suara wanita tua berkata, “Aduh kopernya ini berat.”

Win tanpa pikir panjang langsung masuk ke dalam bus itu. Di hadapannya kini ada wanita berpakaian merah muda. Wanita itu berkata, “Tolong ini mas..” Win berjalan pelan ke arahnya, mengambil kopernya dan membawanya turun.

Setelah turun dari bus, Win berteriak pada temannya yang sedang tidur di atas becak, “Jon! Becak Jon!” Tukang becak itu langsung berlari ke arah Win. Ia mengambil koper yang berat itu, lalu berkata pada wanita itu, “Mari bu, saya antar.”

Bus itu berlalu, becak itu pergi, Win kembali duduk di kursinya, menatap arah yang sama. Yudha menatap wajah calon istrinya, membelai rambutnya, lalu ia berkata, “Aku bersyukur sudah ketemu kamu.”

Mereka pergi dari terminal itu. Meninggalkan Win dan harapan akan penantiannya.

 

Ilustrasi oleh: Celine A. – Instagram: @sei_nyaan

Ayo cepat difollow, keburu kena Internet positif tuh instanya.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 747 other followers