#PPL_Challenge Day 23 – After School

Hi readers. Hari ini pertama kalinya MKM nemenin anak after. Apa itu after? After adalah bahasa keren sekolah ini buat bilang tambahan pelajaran seusai sekolah. Jadi anak mengajukan diri ke guru buat dapet after, trus pulang sekolah ketemu guru itu buat diajarin.

Nah, kali ini MKM dapet satu murid yang susah banget buat ngerti matematika. Jadi MKM harus ngajarinnya super lambat. Bahas 5 soal abis satu jam. Tapi gak apa-apa. MKM bahagia kog.

Masalahnya adalah, sering kita jadi guru itu kebagi jadi dua ekstrim: satu ekstrim yang udah judge anak gak akan bisa ngerti mau brapa kali after pun. Satu ekstrim lagi adalah yang terlalu optimis sama pelajarannya dan yakin after sekali anaknya langsung sanggup ikut olimpiade.

Kesimpulannya: Manusia itu berdosa, manusia suatu saat akan mengecewakan. Baik itu kita maupun mereka.

Tapi guru dilatih untuk punya ketabahan sekuat vibranium. Seru itu lihat guru-guru baru yang penuh semangat. Dan biasanya yang guru senior melihat mereka dengan sinis, “Haha… sampai kapan mereka bisa bertahan?” Pengalaman jadi guru yang meningkat biasanya berbading terbalik dengan ketabahan dan semangat. Somehow biasanya makin tua gurunya makin doyan marah. Ya gak sih?

Satu hal yang mau MKM tekankan. Masa muda biasanya penuh dengan idealisme, lalu itu hilang terbawa arus. Kalau sudah tua kita makin capek mempertahankan idealisme kita. Hal itu salah. Makin tua harus makin radikal. Makin tua harus makin memberi lebih pada masyarakat. Kita tidak boleh terbawa arus begitu saja.

Selamatkan generasi muda Indonesia. Salam pramuka.

#PPL_Challenge Day 22 – Jam Kosong

Hi readers. Siapa yang dulu waktu SMA seneng banget kalo ada jam kosong? AH. dulu MKM juga bahagia kog ada jam kosong. Bisa main sepuasnya, tidur, atau minimal lari ke perpustakaan pinjem buku puisi trus cari jendela sambil belagak Rangga.

Memang istilah guru gak senang liat murid senang itu setengahnya benar. Terutama di hal jam kosong. Murid mah enak, nganggur. Lah guru? Adanya jam kosong pasti disebabkan karena hal-hal tertentu yang tak terelakkan. Karena hal-hal begini, pembelajaran jadi tidak sesuai rencana. Harus banyak penyesuaian sana-sini. Revisi ini itu. Kan capek.

Oke, guru biasanya menyiasati jam kosong dengan memberi tugas. Biar bisa kecicil materinya. boro-boro dikerjain ama siswa, bukunya dibuka aja enggak.

Next time gaes, kalo kalian ada jam kosong, coba pikirkan perasaan gurumu. Coba mulai hari ini kalau gurumu ngasih tugas, dikerjain. Itung-itung amal baik buat dia.

Hari ini MKM cuma ada dua kelas. Kelas yang lain harus dibatalkan karena ada seminar wajib sekolah. Apakah MKM senang karena tidak harus bertemu murid? tidak. MKM harus menemani mentor membuat beberapa penyesuaian jadwal. Gak ada waktu leha-leha. Ada pun dipake buat panik, “Aduh.. ini materi kekejar gak ya…”

Well. Jadi guru emang capek gaes. Gajinya dikit. Mending jualan tahu bulat.

#PPL_Challenge Day 21 – Capek Mata

Hi readers, hal yang menyebalkan saat jadi guru itu banyak. Salah satunya: ngoreksi. Kita gak bisa jadi guru tanpa ngoreksi. Koreksian itu akan selalu numpuk. Nyelesaikan koreksian itu bikin capek mata.

Kenapa? gini gaes. Anak-anak zaman sekarang itu kreatif. Bukan berarti pinter, tapi kreatif aja bikin kesalahan. Tiap jawaban itu salahnya bisa beda jauh. Apalagi kalo matematika, kamu kudu ngoreksi sedetil mungkin langkah mereka. Padahal gak semua orang nulisnya rapi. Ada anak yang kerja matematika itu kayak TTS. kadang mendatar kadang menurun.

MKM sampai pada titik capek mata. Ini udah yang trauma pegang laptop and liat angka. Itulah salah satu alasan MKM gak bisa nulis panjang.

Cerita hari ini: MKM lagi capek banget ngoreksi di tengah-tengah kelas. Akhirnya MKM memutuskan untuk naruh koreksian sejenak buat ngobrol ama murid. Eh malah ditanya matematika.

Sepinter-pinternya kamu ama matematika, pasti bakal capek mata. Secinta-cintanya kamu sama orang, pasti akan bosen juga.

Tak ada yang abadi, tidak juga bau kaos kaki, ataupun sarapanmu pagi tadi, karena sudah jadi…. nutrisi.

#PPL_Challenge Day 20 – Bikin bangga teman-temanmu

Hi readers. Seperti biasa. Refleksi yang hari jumat itu biasanya berbobot. Jadi tadi ada pembicara, Jendral TNI bernama Gatot Nurmayanto. Anak-anak suka ketuker, “Gua tadi bilang mama, sekolah bakal kedatengan Gatot Subroto.” “Gatot Subroto kan nama jalan?!” “Gatot yang itu udah mati.” Ya begitulah anak SMA, paling pejabat negara yang mereka ingat namanya cuma Jokowi, Ahok, dan John Cena.

Terlepas dari siapa Gatot ini sebenarnya, apa yang dikatakan pak Gatot tadi pagi sungguh menyayat hati. Well, indirectly begitu. Gini, dia kasih contoh2 pemuda yang bikin bangga Indonesia, dan salah satunya muncullah foto Himawan Wicaksono, pemenang olimpiade fisika tingkat internasional. FYI, Hima ini temen MKM.

And I was like so proud of him and said to my students, “Itu temen bapak!” Sampai akhirnya MKM sadar satu hal. Apakah Hima juga sebangga ini sama MKM?

Dan ternyata gak cuma Hima, banyak temen-temen MKM yang udah sukses meraih mimpinya. Bekerja sesuai Passionnya. Udah cukup keren buat MKM banggakan. Tapi apakah MKM juga cukup layak dibanggakan oleh mereka?

Tidak. MKM gak membanggakan sama sekali. MKM lagi ngerasa nyampah banget.

Saat krisis begini MKM biasanya melakukan dua hal. Menyalahkan keadaan dan menyukuri yang ada. Masalahnya dua hal itu berdampak pada MKM gak melakukan apa-apa untuk mengubah keadaan diri sendiri. Dan MKM sadar kalau MKM gak bisa begini terus.

Sahabat MKM waktu SMA, sebut saja tante dempal, berkata, “semua orang punya prosesnya masing-masing dan kamu gak boleh iri.” Keren kan quotenya untuk ukuran tante-tante. Tapi gaes. Poin pentingnya, proses MKM masih kurang keras dan nyentrik dibanding yang lain. proses gak pernah membohongi hasil. Maka MKM harus berjuang lebih keras lagi.

Disiplin diri perlu, tetapi tentara yang dibiarkan nganggur seumur hidup akan berbeda dengan pemuda yang lahir di medan perang.

Ah. Ini dia secuplik refleksi berguna. Kalau lebih banyak faedah lagi nanti blog ini bisa ngalahin official sitenya vatican.

Thanks guys, happy weekend. Bikin bangga teman-temanmu

#PPL_Challenge Day 19 – Drop Out

Hi readers. Hari ini MKM ikut rapat guru (sok penting sekaleee). Ya ngikut-ngikut aja jadi pendengar yang baik.  Rapat yang membahas tentang sistem, modul, dan kurikulum itu berjalan lancar hingga muncul sebuah pertanyaan, “Gimana anak-anak bapak ibu? Ada masalah?”

Seorang guru menjawab, “Baru minggu kedua, saya sudah mendapatkan anak yang mencontek.”

Hati MKM yang penuh dengan tanda tanya segera kepo. Dalam hati bertanya, siapa, mengapa, bagaimana. Tapi tidak dengan kepala department yang memimpin rapat.

“Wah. D.O itu.” Katanya.

Enak banget lo ngeluarin anak. Ya bener sih anak ini nyontek dan aturan peraturan sekolah bilang gitu. Tapi ya… MKM kaget aja. Mungkin ada trauma juga temen MKM tiba-tiba kena DO dari kampus. Well, pokoknya itu kalo anaknya ada, dia pasti sakit jantung. Untung siswa gak boleh ikut rapat guru.

Memang rupanya alasan mengapa siswa dilarang ikut rapat guru tidak lain dan tidak bukan adalah masalah kesehatan. Selain info-info yang memicu serangan jantung, rapat guru pun membosankan. Guru yang rapat aja bosen, apalagi murid. Yang seperti ini bisa memperlambat laju darah dan menyebabkan darah rendah. Jadi kalo ada temen-temen yang pingsan saat upacara, pasti hari sebelumnya mereka ikutan rapat guru secara diam-diam.

Ya begitulah. Akhirnya blog ini kembali memberikan informasi-informasi yang sangat membangun.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 963 other followers